cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
DINAMIKA PENGEMBANGAN SAPI PESISIR SEBAGAI SAPI LOKAL SUMATERA BARAT Hendri, Yanovi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapi pesisir merupakan sapi lokal asli Sumatera Barat yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengonversi pakan berkualitas rendah menjadi daging. Sifat-sifat unggul ini telah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani. Namun, dalam  beberapa tahun terakhir pengembangan sapi pesisir menghadapi masalah kemunduran produksi yang tercermin pada penurunan populasi dan produktivitas akibat minimnya daya dukung lingkungan, dan daya saing yang rendah terhadap sapi impor. Pada tahun 2011 populasi sapi pesisir tercatat 76.111 ekor, menurun tajam dibanding populasi tahun 2010 yang mencapai 93.881 ekor. Produktivitas sapi pesisir juga menurun 35% dibanding kondisi 25 tahun yang lalu. Padang penggembalaan yang terbatas menyebabkan konsumsi rumput berkurang sehingga  pertambahan bobot badan menurun 50 g/ekor/hari. Kondisi ini  menyebabkan minat peternak untuk memelihara sapi pesisir menurun dan beralih mengusahakan sapi impor yang memiliki keragaan produktivitas yang lebih tinggi. Hal ini dikhawatirkan akan memengaruhikelestarian sapi lokal ini di masa datang. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk melestarikan plasma nutfah sapi pesisir agar terhindar dari kepunahan. Pengembangan usaha peternakan modern dengan tetap memerhatikan kearifan lokal bisa menjadi salah satu upaya dalam menjaga kelestarian sapi lokal ini.
POTENSI PARASITOID HYMENOPTERA PEMBAWA PDV SEBAGAI AGENS BIOKONTROL HAMA Herlina, Lina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Parasitoid pembawa polydnavirus (PDV) adalah kelompok parasitoid dari famili Braconidae dan Ichneumonidae (ordo Hymenoptera) yang memiliki PDV sebagai simbion obligat dalam saluran reproduksi betinanya. PDV  termasuk dalam grup Polydnaviridae, suatu kelompok virus yang unik, bersifat persisten, dan terintegrasi secara stabil di dalam genom  parasitoid yang menjadi koleganya. PDV berperan dalam membantu mengatasi sistem respons pertahanan inang sehingga parasitisasi oleh parasitoid berhasil. Penelitian PDV pada parasitoid telah lama dilakukan di luar negeri. Identifikasi gen yang memengaruhi sistem imun inang maupun fisiologinya telah mengalami kemajuan yang luar biasa sehinggasangat berpotensi dalam meningkatkan peran parasitoid sebagai agens biokontrol hama. Peran kedua famili dari ordo Hymenoptera tersebut sangat besar sebagai musuh alami pengendali hama penting di Indonesia, namun penelitian terkait parasitoid pembawa PDV maupun PDV itu sendiri masih belum berkembang. Diharapkan, informasi tentang PDV ini akan menumbuhkan ketertarikan para peneliti untuk menggali potensi parasitoid pembawa PDV untuk direkayasa sebagai agens  biokontrol hama.
STRATEGI PEMBANGUNAN PETERNAKAN BERKELANJUTAN DENGAN MEMANFAATKAN SUMBER DAYA LOKAL Bahri, Sjamsul; Tiesnamurti, Bess
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penduduk Indonesia pada tahun 2012 sekitar 235 juta orang dan diperkirakan akan menjadi 273 juta orang pada tahun 2025. Meningkatnya jumlah penduduk akan diikuti oleh meningkatnya kebutuhan pangan, termasuk pangan hewani. Sementara itu, luas lahan/daratan sebagai basis untuk memproduksi pangan tidak bertambah, bahkan cenderung berkurang karena konversi, abrasi, dan terendam akibat meningkatnya permukaan air laut sebagai dampak dari  pemanasan global dan perubahan iklim, serta kualitas sumber daya alam yang makin menurun. Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia  sangat rendah (sekitar 6 g/kapita/hari) dan diperkirakan akan meningkat tajam apabila pendapatan penduduk terus meningkat, yang diprediksi  mencapai US$13.000 pada tahun 2025 sesuai target MP3EI 2025. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah perlu menyiapkan strategi  pembangunan peternakan jangka menengah dan panjang secara berkelanjutan dengan memanfaatkan ketersediaan sumber daya lokal. Dalam hal ini, selain mengeksplorasi sumber daya genetik ternak yang efisien dalam penggunaan pakan, juga harus dapat memanfaatkan bahan pakan berupa produk samping tanaman maupun industri pertanian yang tidak bersaing dengan bahan pangan. Kebijakan ini harus didukungdengan inovasi teknologi yang telah dihasilkan maupun yang perlu dikembangkan. Peningkatan produktivitas dan produksi ternak secara berkelanjutan dengan pola seperti ini dapat menghemat sumber daya alam sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dalam rangka  mewujudkan konsep green economy.
PENGEMBANGAN SAPI POTONG BERBASIS INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Utomo, Bambang Ngaji; Widjaja, Ermin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri perkebunan kelapa sawit menyimpan potensi sumber dayapakan yang besar untuk pengembangan ternak ruminansia khususnyasapi. Integrasi sapi dengan kelapa sawit memunculkan tigakegiatan terpadu sekaligus, yaitu 1) industri pakan ternak berbasishasil samping perkebunan kelapa sawit, 2) usaha perkembangbiakansapi (cow calf operation), dan 3) penggemukan sapi potong.Potensi sumber daya pakan dari industri kelapa sawit meliputi daundan pelepah kelapa sawit sebagai sumber serat dan hasil sampingpabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) seperti solid sawit/lumpursawit dan bungkil inti sawit sebagai sumber protein. Inovasiteknologi Badan Litbang Pertanian pemanfaatan bahan pakan dariindustri sawit telah tersedia dan dapat diterapkan pengguna dilapangan. Usaha sapi potong dengan pola integrasi sawit-sapimenguntungkan dan berpeluang dikembangkan. Demikian pulapenggemukan sapi potong di dekat PKS memiliki prospek yangbaik sehingga dapat diterapkan di lokasi lain. Kegiatan ini dapatmembuka peluang usaha bagi karyawan kebun dan pabrik kelapasawit melalui koperasi. Pengembangan ternak berbasis industrikelapa sawit meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternakmaupun tanaman kelapa sawit. Namun, penerapannya masih terbatassehingga memerlukan dukungan dan komitmen dari berbagaipihak, yaitu petani, pengusaha/investor, perbankan, peneliti, sertapemerintah daerah dan pusat. Sosialisasi kepada pelaku usahaperkebunan kelapa sawit harus dilakukan pada level pengambilkeputusan agar ada pemahaman yang benar tentang integrasi sawitsapidan model pengembangannya.
PERKEMBANGAN PENELITIAN PEMBENTUKAN GALUR MANDUL JANTAN PADA PERAKITAN PADI HIBRIDA Munarso, Yuniati Pieter
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perakitan padi hibrida merupakan salah satu alternatif dalampenyediaan varietas unggul baru padi. Pembentukan hibrida padapadi melibatkan galur mandul jantan (GMJ atau galur A), galurpelestari atau galur B, dan galur pemulih kesuburan atau galur R.Pengembangan padi hibrida di Indonesia pada awalnya menggunakanGMJ yang diintroduksi dari China dan IRRI. Meskipunmemperoleh beberapa GMJ dengan kemandulan tepung sari yangtinggi (highly sterile), GMJ tersebut masih memiliki kelemahan,antara lain tingkat persilangan alaminya sangat rendah, dayagabungnya kurang baik, serta potensi heterosisnya belum cukuptinggi (< 15%). Penelitian lebih lanjut memperoleh sejumlah GMJdengan sifat kemandulan tepung sari yang lebih mantap dan stabil,serta memiliki beberapa kelebihan, antara tingkat persilangan yanglebih baik serta lebih tahan terhadap hama penyakit utama. Upayaperbaikan galur pelestari juga dilakukan untuk memperbaiki GMJ.Pemanfaatan teknik inkonvensional melalui kultur antera masihdalam tahap awal program pemuliaan padi.
POTENSI PENGEMBANGAN TANAMAN KEDELAI DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT ., Marwoto; Taufiq, A.; ., Suyamto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi kedelai perlu ditingkatkan karena produksi nasional barumampu memenuhi 35−40% dari kebutuhan dalam negeri. Salah satuupaya untuk meningkatkan produksi kedelai adalah mengembangkankedelai pada perkebunan kelapa sawit. Luas perkebunan kelapasawit terus meningkat dari 4,15 juta ha pada tahun 2000 menjadi8,04 juta ha dan pada tahun 2010, terutama di Sumatera danKalimantan. Perkebunan kelapa sawit umumnya terdapat di lahankering dan lahan kering masam dengan tanah podsolik. Introduksibudi daya kedelai di perkebunan kelapa sawit perlu memperhitungkankesesuaian varietas kedelai dengan tingkat naungan tajuk kelapasawit, serta peningkatan kesuburan tanah melalui ameliorasi dengankapur (dolomit atau kalsit) dan/atau bahan organik dan pemupukanhara N, P, dan K. Teknologi produksi kedelai di lahan kering masampodsolik melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu(PTT) telah tersedia, meliputi varietas unggul dan teknologi budidaya spesifik lokasi. Penerapan teknologi tersebut dapat meningkatkanproduktivitas kedelai sekitar 2 t/ha. Teknologi PTT kedelaidapat dikembangkan pada area kelapa sawit dengan menggunakanvarietas kedelai toleran naungan seperti Wilis.
POTENSI PENGEMBANGAN JAGUNG DAN SORGUM SEBAGAI SUMBER PANGAN FUNGSIONAL ., Suarni; Subagio, Herman
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung dan sorgum merupakan serealia penting karena selain sebagai sumber karbohidrat, juga kaya akan komponen pangan fungsional. Berbagai  antioksidan, unsur mineral terutama Fe, serat makanan, oligosakarida, -glukan yang merupakan komponen karbohidrat non-starch  polysaccharides (NSP) terkandung dalam biji jagung dan sorgum yang potensial sebagai sumber pangan fungsional. Jagung mengandung lemak  esensial omega 3 dan 6, lisin, dan triptofan tinggi (QPM). Sementara sorgum mengandung tanin dan asam pitat yang memiliki efek negatif maupun positif bagi kesehatan. Sifat antioksidan tanin lebih tinggi dibanding vitamin E dan C, demikian juga antosianin sorgum lebih stabil. Kedua komoditas pangantersebut mempunyai kesamaan dan kelebihan dalam kandungan komponen pangan fungsional. Selama ini, diversifikasi pangan berbasis jagung dan sorgum hanya sebatas sumber karbohidrat, tetapi ke depan dapat menjadi komponen pangan fungsional. Peluang pasar pangan fungsional di Indonesia makin terbuka seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan yang mengarah hidup sehat.
PERBAIKAN MUTU PENGOLAHAN NENAS DENGAN TEKNOLOGI OLAH MINIMAL DAN PELUANG APLIKASINYA DI INDONESIA Harnanik, Sri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsumen saat ini cenderung menghendaki buah olahan dengan sensori seperti buah segar, mudah penyajiannya, dan menyehatkan. Para peneliti telah mengembangkan teknologi alternatif dari pengolahan nenas secara termal konvensional dengan teknologi olah minimal. Tulisan ini mengulas kandungan dan nutrisi buah nenas, faktor-faktor penyebab kerusakan nenas, dan teknologi olah minimal yang telah diuji coba untuk pengolahan dan pengawetan buah nenas serta peluang pengembangannya di  Indonesia. Pengawetan nenas dapat dilakukan dengan teknologi olah minimal. Teknologi olah minimal seperti refrigerasi dan MAP tidak menurunkan mutu sensori dan nutrisi pada produk olahan, namun umur simpan produk lebih singkat dibanding metode termal serta lebih rumit penerapan maupun pengontrolannya. Teknologi olah minimal buah nenas dengan membran dan UV berpeluang menjadi alternatif teknologi pasteurisasi dan sterilisasi jus nenas yang selama ini dilakukan dengan teknologi panas tinggi. Aplikasi teknologi olah minimal dapat dilakukan oleh industri skala kecil-menengah maupun industri besar, dengan didukung pengetahuan teknis yang memadai serta ketersediaan peralatan yang mudah diterapkan dan harga yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri maupun manca negara.
GREENHOUSE GAS EMISSIONS AND LAND USE ISSUES RELATED TO THE USE OF BIOENERGY IN INDONESIA Sarwani, Muhrizal; Nurida, Neneng Laela; Agus, Fahmuddin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biofuel use is intended to address the ever-increasing demand for and scarcer supply of fossil fuels. The recent Indonesia government policy of imposing 10% mixing of biodiesel into petroleum-based diesel affirms the more important biofuel role in the near future. Palm oil, methane from palm oil mill effluent (POME) and animal wastes are the most prospective agricultural-based biofuels. The production and use of palm oil is interlinked with land use and land use change (LULUC), while the use of methane from POME and animal wastes can contribute in reducing emissions. The current European Union (EU) and the potential United States (US) markets are imposing biodiesels’ green house gas (GHG) emission reduction standards (ERS) of 35% and 20%, respectively relative to the emissions of petroleum-based diesel based on using the lifecycle analysis (LCA). EU market will increase the ERS to 50% starting1 January 2017, which make it more challenging to reach. Despite controversies in the methods and assumptions of GHG emission reduction assessment using LCA, the probability of passing ERS increases as the development of oil palm plantation avoid as much as possible the use of peatland and natural forests. At present, there is no national ERS for bioenergy, but Indonesia should be cautious with the rapid expansion of oil palm plantation on existing agricultural lands, as it threatens food security. Focusing more on increasing palm oil yield, reducing pressure on existing agricultural lands for oil palm expansion and prioritizing the development on low carbon stock lands such as grass- and shrublands on mineral soils will be the way forward in addressing land scarcity, food security, GHG emissions and other environmental problems. Other forms of bioenergy source, such as biochar, promise to a lesser extent GHGemission reduction, and its versatility also requires consideration of its use as a soil ameliorant.
NILAI INDEKS GLIKEMIK PRODUK PANGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA Arif, Abdullah bin; Budiyanto, Agus; ., Hoerudin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telahberdampak terhadap peningkatan penyakit degeneratif, seperti diabetesmelitus (DM) dan hipertensi. DM ditandai dengan kadar glukosadarah melebihi nilai normal dan gangguan metabolisme insulin. Indeksglikemik (IG) merupakan suatu ukuran untuk mengklasifikasikanpangan berdasarkan pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosadarah. Nilai IG produk pangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antaralain kadar serat pangan, kadar amilosa dan amilopektin, kadar lemakdan protein, daya cerna pati, dan cara pengolahan. Semakin tinggi nilai/kadar serat pangan total, rasio amilosa/amilopektin, serta lemak danprotein, maka nilai IG semakin rendah. Sementara itu, daya cerna patiyang tinggi menyebabkan nilai IG yang tinggi. Cara pengolahan produkpangan dapat menurunkan atau menaikkan nilai IG produk pangantersebut. Pemahaman terhadap nilai IG bahan pangan sangat pentingkarena dapat menjadi landasan ilmiah dalam memilih jenis, bentukasupan, dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi sesuai responsglikemik seseorang.

Page 3 of 27 | Total Record : 261


Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue