cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2009): April 2009" : 8 Documents clear
Potensi Arang Hayati “Biochar” sebagai Komponen Teknologi Perbaikan Produktivitas Lahan Pertanian Anischan Gani
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanasan global akibat meningkatnya emisi CO2 dan gas rumah kaca lainnya ke atmosfer mengkhawatirkan masyarakat dunia akhir-akhir ini. Penambatan karbon dalam tanah pertanian melalui perbaikan praktek pengelolaan telah diidentifikasi sebagai salah satu opsi untuk mengurangi emisi CO2. Keuntungan penggunaan bahan organik sebagai pembenah tanah bersifat jangka pendek, terutama di daerah tropis, karena cepatnya proses dekomposisi, dan biasanya mengalami mineralisasi menjadi CO2. Karena itu penambahan bahan organik ke tanah harus setiap tahun untuk mempertahankan produktivitas. Biochar atau arang hayati dapat mengatasi keterbatasan tersebut dan menyediakan opsi bagi pengelolaan tanah. Kenyataannya, biochar telah dimanfaatkan secara tradisional oleh sebagian petani di pedesaan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan, biochar berpotensi untuk memperbaiki kesuburan tanah. Manfaat biochar terletak pada dua sifat utamanya, yaitu mempunyai afinitas tinggi terhadap hara dan persisten dalam tanah. Kedua sifat ini dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa masalah penting pertanian akhir-akhir ini, seperti kerusakan tanah dan keamanan pangan, polusi air oleh agrokimia, dan perubahan iklim. Di banyak negara maju dan berkembang, biochar telah menjadi tumpuan bagi keberlanjutan sistem usahatani dan sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim global karena sifatnya yang karbon-negatif. Indonesia sebagai negara yang ikut meratifikasi pengurangan dampak perubahan iklim global tentu berkepentingan dalam penggunaan biochar. Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman, penggunaan biochar juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan pertanian. Di Indonesia, pemanfaatan biochar dalam skala luas adalah hal yang relatif baru. Oleh karena itu, pemerintah berperan penting dalam memberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat luas, terutama petani, akan pentingnya biochar sebagai pembenah tanah guna mendukung keberlanjutan pertanian mendatang.
Strategi Pengendalian Hama Kedelai dalam Era Perubahan Iklim Global Marwoto Marwoto; S. W. Indiati
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah dalam proses produksi kedelai di Indonesia adalah gangguanhama. Serangan hama pada tanaman kedelai dapat menurunkan hasil sampai80%. Tanaman kedelaimerupakan inang berbagai insekta, terbukti dari banyaknya hama yang menyerang, terdiri atas hama dalam tanah, lalat bibit, ulat daun, hama penggerek batang, dan hama polong kedelai. Pemanasan global mengubah karakteristik iklim global, regional dan lokal, dan berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan dan ekobiologi sektor pertanian. Salah satu dampak perubahan iklim global adalah meningkatnya populasi hama. Tanaman kedelai mempunyai kompleksitas hama. Dengan meningkatnya suhu di bumi diperkirakan akan berakibat pada dinamika populasi hama. Hama kedelai yang populasinya diperkirakan meningkat akibat kenaikkan suhu udara antara lain adalah a) lalat bibit kacang (Ophiomyia phaseoli), b) kutu daun (Bemisia tabaci), Aphis spp dan Empoasca spp., c) ulat daun (Spodoptera litura), d) perusak polong (Etiella spp dan Riptortus linearis). Meningkatnya populasi hama pada tanaman berarti akan mengancam produksi kedelai. Upaya untuk mengatasi meningkatnya populasi hama akibat dampak pemanasan global antara lain optimalisasi berlangsungnya pengendalian alami dan pengendalian fisik dan mekanik dengan menerapkan teknik bercocok tanam. Prinsip mengatasi masalah hama kedelai dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) tetap relevan.
Pengelolaan Lahan Kering Masam untuk Budi Daya Kedelai Sudaryono Sudaryono
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan kering masam Ultisol yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua menjadi tumpuan pengembangan kedelai. Kondisi lahan kering Ultisol harus diperbaiki agar memiliki tingkat kesesuaian dan kesuburan yang layak untuk pengembangan kedelai. Inti masalah pada tanah Ultisol adalah: (1) Al yang dapat dipertukarkan (Aldd) dan kejenuhan Al tanah tinggi sehingga menjadi racun dan menghambat ketersediaan P karena fiksasi (Al-P) sehingga P tidak tersedia untuk tanaman; (2) kadar besi (Fe) tinggi, potensial menjadi racun dan memfiksasi P (Fe-P) sehingga ketersediaan P rendah tersedia; (3) kadar bahan organik umumnya rendah, menyebabkan daya sangga (buffering capacity) tanah rendah. Tanaman kedelai tidak dapat tumbuh optimal pada Ultisol yang memiliki kemasaman tinggi (pH tanah < 4,5) dan kejenuhan Aldd > 20%. Untuk pemecahan masalah keracunan Al dan Fe pada Ultisol umumnya memakai amelioran tanah dengan bahan baku mineral seperti kapur pertanian (kalsit atau CaCO3, kapur tohor atau CaOH), dolomit maupun zeolit. Detoksifikasi Al dan Fe pada Ultisol dengan pupuk organik belum banyak dikerjakan sehingga membuka topik penelitian selanjutnya. Penggunaan pupuk organik, khususnya limbah pabrik tapioka dan pupuk kandang terfermentasi, memiliki arti penting untuk budi daya kedelai di lahan kering masam. Kesuburan tanah ideal untuk lahan kering masam dapat diwujudkan melalui tindakan manipulatif pengelolaan lahan, baik bersifat fisik-mekanik, maupun kimia, hayati, dan konservasi. Tindakan praktis yang disarankan adalah (1) perbaikan kesuburan fisik melalui penyiapan lahan untuk mencapai kondisi solum tanah cukup dalam (40-50 cm), struktur tanah gembur, daya simpan lengas meningkat, (2) perbaikan kesuburan kimia melalui ameliorasi tanah (zeolit, dolomit, kapur, amelioran organik), pemupukan organik dan anorganik (NPK, dan hara mikro), (3) perbaikan kesuburan hayati dengan pupuk hayati yang mengandung mikroba tanah terutama bakteri pelarut fosfat, mikoriza,dan bakteri penambat N nonsimbiotik, dan (4) pengaturan pola tanam atau rotasi tanaman yang lebih produktif.
Karakter Padi sebagai Penciri Varietas dan Hubungannya dengan Sertifikasi Benih Mohamad Yamin Samaullah; Aan A. Darajat
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan varietas yang memiliki sifat-sifat unggul sesuai target pengembangan produk merupakan teknologi andalan yang secara luas digunakan oleh petani. Penggunaan varietas yang demikian relatif murah dan memiliki kompatibilitas yang tinggi dengan teknologi maju lainnya. Saat ini program perbaikan varietas padi diarahkan untuk menghasilkan varietas yang berdaya hasil lebih tinggi, tahan hama dan penyakit, bermutu giling dan mutu tanak yang baik, serta beradaptasi baik pada agroekosistem tertentu. Proses pembentukan galur calon varietas unggul membutuhkan waktu paling sedikit lima tahun. Dalam pengembangannya, suatu calon varietas unggul harapan dapat dibedakan dari varietas unggul lainnya. Oleh sebab itu, sejumlah karakter agromorfologi tanaman perlu dipilih sebagai pembeda satu varietas dengan varietas lainnya, termasuk aspek produktivitas. Penciri tersebut sangat penting untuk diidentifikasi karena terkait dengan perbanyakan benih bersertifikat yang memerlukan kriteria pembeda antara varietas yang penampilannya hampir mirip.
Menyikapi Perkembangan Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan Achmad M. Fagi
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan bioteknologi pada bidang pertanian terbukti bermanfaat, tetapi masih mengundang isu kontroversial di Indonesia. Penelitian bioteknologi dengan teknik tinggi yang menghasilkan tanaman transgenik masih diperdebatkan, karena belum ada bukti tanaman transgenik menguntungkan atau merugikan. Beberapa negara di dunia menerapkan permissive policy, tetapi ada pula yang menganut precautionary policy berkenaan dengan pengembangan tanaman transgenik dan penggunaan produknya. Indonesia tergolong negara yang menerapkan precautionary policy, tetapi tetap melakukan penelitian tanaman transgenik. Lembaga-lembaga penelitian bioteknologi, termasuk Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) telah menghasilkan teknologi dari penelitian bioteknologi terapan. Melalui serangkaian kerja sama internasional, pelatihan, pengadaan peralatan dan penelitian, BB Biogen mampu melakukan penelitian bioteknologi pertanian dengan teknik tinggi. Kemampuan BB Biogen untuk membuat tanaman transgenik perlu diteruskan, karena kebergantungan untuk memperoleh gen-gen unggul dari lembaga penelitian bioteknologi internasional akan menjadi perangkap yang merugikan dalam jangka panjang. Tanaman padi perlu mendapat prioritas pertama, diikuti oleh jagung, khususnya dalam penelitian pemuliaan. Pada tanaman padi, bioteknologi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pemuliaan. Balai penelitian komoditas sebagai pengguna hasil penelitian bioteknologi dalam pemuliaan tanaman, seharusnya dilibatkan dalam memformulasi prioritas penelitian bioteknologi.
Status Ubi Jalar sebagai Bahan Diversifikasi Pangan Sumber Karbohidrat Nani Zuraida
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar menghasilkan karbohidrat yang lebih efisien dibandingkan dengan padi, dengan biaya produksi yang lebih murah, lebih mudah, dan risiko kegagalan panen yang lebih kecil. Produktivitas nasional ubi jalar hingga saat ini masih rendah, 10-11 t/ha umbi segar. Di sentra produksi, petani mampu memanen ubi jalar 35 t/ha umbi segar. Rendahnya produktivitas nasional ubi jalar diperkirakan karena rendahnya estimasi (under estimate) dan disarankan untuk dilakukan verifikasi dan validasi data. Usaha produksi ubi jalar pada umumnya dilakukan secara komersial. Areal dan wilayah produksi yang relatif rendah tanpa fasilitasi dan bantuan Pemerintah, mengindikasikan bahwa usahatani ubi jalar cukup kompetitif terhadap palawija lain dan menguntungkan secara ekonomis. Ubi jalar sebagai bahan pangan mengandung kalori, vitamin, dan mineral cukup tinggi. Produk olahan ubi jalar sebagai pangan sangat beragam, memungkinkan untuk memperbesar porsi penggunaannya sebagai pangan substitusi. Diperlukan peningkatan citra ubi jalar ssebagai makanan bermartabat tinggi, tidak lagi diposisikan sebagai makanan lapisan masyarakat bawah. Di Amerika Serikat, Eropa, dan Asutralia, ubi jalar justru menjadi makanan istimewa. Ekspor ubi jalar goreng ke Jepang dari Indonesia secara kontinu dalam jumlah yang besar menunjukkan bahwa masyarakat Jepang mengapresiasi ubi jalar sebagai makanan yang layak.Adanya kesadaran masyarakat Indonesia untuk tidak merasa malu mengonsumsi ubi jalar dipastikan akan meningkatkan permintaan ubi jalar dan diversifikasi bahan pangan nasional.
Pengayaan Kandungan Bahan Organik Tanah Mendukung Keberlanjutan Sistem Produksi Padi Sawah Sumarno Sumarno; Unang G. Kartasasmita; Djuber Pasaribu
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi budi daya padi, yang berlaku sejak tahun 1970-an mengabaikan penggunaan bahan organik sebagai pembentuk kesuburan tanah sawah dan petani menjadi bergantung sepenuhnya pada pupuk anorganik. Kandungan bahan organik tanah sawah menurun hingga mencapai batas kritis, yang oleh segolongan masyarakat direspon dengan teknologi hanya menggunakan masukan organik dan menolak digunakannya pupuk anorganik. Pada sistem ekologi alamiah yang seimbang dan berkelanjutan, daur ulang unsur karbon dan hara tanah lainnya terjadi secara tertutup in situ. Namun hal ini tidak sepenuhnya dapat dijadikan acuan sistem produksi pertanian berkelanjutan. Dalam sistem produksi pertanian berkelanjutan, selain aspek kelestarian dan mutu sumber daya dan lingkungan, mempersyaratkan aspek ekonomi, sosial dan kecukupan pangan keluarga, masyarakat dan seluruh warga bangsa, sehingga mengharuskan diperolehnya hasil panen yang optimal, yang berakibat terjadinya ekspor (pengeluaran) senyawa karbon dan hara lain dari ekologi lahan sawah. Sistem produksi berkelanjutan pada lahan sawah, diperoleh dengan menyediakan hara tanaman secara optimal yang berasal dari bahan organik dan pupuk anorganik. Bahan organik dalam tanah membangun kesuburan tanah secara fisik, kimiawi dan biologis, yang tidak dapat digantikan oleh sarana produksi lain. Saran kebijakan untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah meliputi memasukkan bahan organik sebagai bagian integral anjuran dosis pupuk; penggalakan kegiatan penyuluhan untuk pemahaman dan penyadaran petani akan pentingnya bahan organik sebagai pembentuk dan pemelihara kesuburan tanah, pembuatan peraturan daerah tentang larangan pembakaran jerami; pemberian insentif industri pengolahan limbah organik menjadi kompos; pembuatan ketentuan baku-mutu produk kompos; pengaitan tindakan pengayaan kandungan bahan organik tanah dengan kesempatan petani untuk dapat membeli pupuk anorganik bersubsidi; dan perlombaan antarhamparan lahan sawah dengan insentif hadiah. Disarankan untuk dicanangkan Gerakan Nasional Pengayaan Kandungan Bahan Organik Tanah Sawah (PBOT) selama lima tahun (2010-2015) guna mencapai kandungan bahan organik tanah lebih dari 1,5% dan tidak perlu mempermasalahkan kontroversi teknologi pertanian non-organik atau organik, karena pengembalian bahan organik ke dalam tanah memang merupakan bagian integral dari teknologi maju. Sumber hara berasal dari bahan organik bersifat komplementer dengan pupuk anorganik dalam penyediaan hara tanaman secara optimal bagi diperolehnya produksi padi yang optimal-ekonomis dan berkelanjutan.
Populasi dan Jarak Tanam Ubi Kayu dan Aneka Tanaman Kacang dalam Pola Tumpangsari Astanto Kasno
Iptek Tanaman Pangan Vol 4, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aneka tanaman kacang tidak memiliki wilayah atau lahan khusus dan sulit dikembangkan pada kawasan yang didominasi oleh komoditas tertentu, misalnya tanaman ubi kayu.Agar aneka kacang dapat ditanam dan berkembang di kawasan tersebut, maka teknik tanam ganda, baik tumpangsari, tumpangurut, maupun tumpang gilir merupakan pilihan strategis. Tanaman ubi kayu dan aneka kacang yang tergolong tanaman C3 yang lebih toleran terhadap intensitas cahaya rendah dan kedua jenis tanaman tersebut memiliki umur panen yang berbeda dapat menjadi kombinasi yang serasi dan menguntungkan asal pemilihan varietas diikuti oleh rekayasa lingkungan yang sesuai (ruang, waktu, dan teknik produksi). Ubi kayu yang tumbuh tegak, tidak bercabang/lambat bercabang dan tumbuh agak vigorus merupakan karakteristik penting dalam sistem tanam ganda. Tipe tegak, umur genjah, dan toleran naungan merupakan karakteristik penting aneka tanaman kacang dalam sistem tanam ganda. Ubi kayu varietas Malang 4 dan Adira 4; kedelai varietas Argopuro dan Wilis; kacang tanah varietas Bison dan kacang hijau varietas Kutilang memiliki karakterstik demikian. Dengan penataan tanaman ubi kayu baris tunggal atau baris ganda dengan populasi yang sama dengan tanaman tunggal (10.000 tanaman/ha) tersedia lorong tanaman yang dapat ditanami aneka tanaman kacang dua hingga tiga kali, bergantung pada pola hujan/tipe iklim. Bila diikuti dengan teknologi produksi yang intensif, hasil ubi kayu dan aneka kacang mencapai sekitar 90% dari hasil yang dicapai oleh masing-masing.

Page 1 of 1 | Total Record : 8