cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Iptek Tanaman Pangan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010" : 9 Documents clear
Pengelolaan Lahan Sawah dan Reorientasi Target Alih Teknologi Usahatani Padi di Jawa Sumarno Sumarno; U. G. Kartasasmita; Lukman Hakim
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemilik lahan tidak selalu harus melakukan pengelolaan usahatani padi sendiri, apabila memiliki kesempatan usaha di luar pertanian. Untuk memperoleh informasi perubahan status penguasaan lahan dan pengelolaan usahatani padi sawah di sentra produksi padi di Jawa dilakukan penelitian di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, pada tahun 2009, masing-masing mengambil sampel dua kabupaten sentra produksi padi sawah, di ketiga provinsi tersebut, yakni Karawang dan Subang di Jawa Barat, Klaten dan Boyolali di Jawa Tengah, dan Ngawi dan Pasuruan di Jawa Timur. Setiap kabupaten diwakili oleh dua kecamatan, dan di setiap kecamatan diwawancarai minimal dua kelompok tani responden. Luas pemilikan lahan sawah dari 70% petani responden di tiga provinsi tersebut berkisar antara 0,2-0,4 ha/RTP (rumah tangga petani), yang mengindikasikan kecilnya skala usahatani sebagian besar petani padi di Jawa. Sebanyak 45% petani pemilik lahan menyakapkan lahan sawahnya, dan 55% pemilik lahan berfungsi sebagai petani operator. Tingkat penyakapan lebih dari 50% pemilik lahan terdapat di Klaten dan Boyolali, tetapi hanya 15% di Subang. Di Karawang, Ngawi, dan Pasuruan, penyakapan lahan mencapai 40-48%. Alasan utama pemilik lahan menyakapkan lahan adalah kecilnya pendapatan usahatani padi yang diperoleh dari lahan sempit, sehingga petani pemilik lahan memilih usaha di bidang nonpertanian. Penyakap adalah petani penggarap tanpa lahan, yang memperoleh bagian 25-35% dari hasil panen bersih. Penguasaan teknologi oleh petani penyakap pada umumnya masih rendah, rata-rata 63%. Intensitas kontak antara petani penyakap dengan penyuluh pertanian pada umumnya rendah, informasi teknologi lebih sering diperoleh dari petugas sales atau petani tetangga. Oleh karena itu, penyuluhan perlu lebih memprioritaskan kepada petani penyakap dan petani yang memiliki lahan sempit, kurang dari 0,34 ha/RTP, yang merupakan bagian terbesar dari pelaku usahatani padi di Jawa. Masih rendahnya penguasaan teknologi oleh petani memberikan implikasi perlunya peningkatan penguasaan teknologi oleh penyuluh pertanian, dengan meningkatkan hubungan kerja fungsional yang lebih intensif antara penyuluh dengan peneliti. Penyakapan diperkirakan akan terus meningkat porsinya karena banyaknya petani yang tidak mempunyai lahan. Diperlukan ketentuan baku pembagian hasil panen yang saling menguntungkan antara pemilik lahan dan petani penyakap, dan secara keseluruhan perlu dibangun sistem insentif ekonomi bagi petani padi dalam sistem produksi pangan nasional.
Potensi Peningkatan Hasil Ubikayu melalui Stek Sambung (Mukibat) Budhi S. Radjit; Nila Prasetiaswati; Erliana Ginting
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budi daya ubikayu stek sambung (mukibat) telah lama dikenal, namun sejauh ini belum dikembangkan secara komersial oleh petani. Dengan meningkatnya permintaan ubikayu sebagai bahan baku bioetanol, maka cara ini mempunyai prospek yang baik dan mulai dikembangkan oleh beberapa pemerintah daerah dan petani, dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Hasil survei kelayakan usahatani menunjukkan belum ada teknologi baku untuk ubikayu stek sambung di tingkat petani. Meskipun demikian, penanaman ubikayu stek sambung mempunyai potensi hasil yang baik di Kabupaten Banyuwangi, Gunung Kidul, dan Lampung Tengah, masing-masing dapat mencapai 59,0 t, 72,0 t dan 59,8 t/ha dengan keuntungan Rp 23.450.000 (B/C ratio 2,6), Rp 8.027.000 (B/C ratio 1,3), dan Rp 22.315.000 (B/C ratio 2,1). Hasil percobaan di KP Genteng menunjukkan bahwa dengan stek sambung, klon Adira-4, UJ-5, Kaspro, dan lokal Dampit dapat memberi hasil 90,4-99,7 t/ha, sedangkan dengan stek biasa hanya 54,3-61,9 t/ha. Kadar pati ubikayu stek sambung lebih rendah dibanding stek biasa masing-masing 20,8% dan 22,5%, sedangkan kadar air dan kadar HCN umbi stek sambung cenderung lebih tinggi dibanding stek biasa. Kadar bahan kering dan kadar gula total relatif sama antara ubikayu stek sambung dengan stek biasa.
Varietas Unggul Jagung Bermutu Protein Tinggi H.G., M. Yasin; Syuryawati, Syuryawati; Kasim, Firdaus
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung berkualitas protein tinggi (QPM: Quality Protein Maize) adalah jenis jagung khusus yang mengandung dua asam amino penting yakni lisin dan triptofan yang lebih tinggi sekitar dua kali jagung biasa. Ditemukan oleh Linn Bates pada tahun 1962, kini jagung QPM dimanfaatkan meningkatkan kesehatan tubuh dan kualitas pakan. Varietas QPM yang pertama kali dilepas di Indonesia adalah Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1 dengan produktivitas 7,0 t/ha. Lisin dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, membantu serapan kalsium dan keseimbangan tubuh agar tidak berlemak, dapat menghasilkan antibodi, hormon, enzim, dan dapat mencegah penyakit cold sore dari virus herpes. Triptofan berperan dalam perkembangan otak anak balita, membantu proses autostimulasi pada perkembangan anak agar menjadi cerdas. Lisin dan triptofan tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus disuplai dalam bentuk makanan. Balitsereal telah menyebarkan benih jagung QPM kelas BS (breeder seeds) untuk luasan 718 ha sejak pelepasan Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1. Pemulia jagung Balitserteal kini dapat mengkonversi jagung biasa (non-QPM) menjadi jagung QPM dengan metode silang balik (back cross), melalui introgresi gen o-2 dari materi jagung QPM ke jagung biasa sebagai penerima gen o-2. Setelah tiga generasi silang balik (BC3F2)dapat dihasilkan varietas QPM. Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian disarankan membantu pengembangan dan penyebaran jagung QPM, dengan cara diolah agar menarik dan disenangi dalam bentuk seperti roti, biskuit atau sereal. Di Meksiko jagung QPM biji putih dibuat sebagai makanan khas yang disebut tortila, chips, dan chitos. Program perakitan hibrida Balitsereal telah menghasilkan calon hibrida silang tunggal yakni (1) Mr4QxMr14Q, (2) MSQ.K1C0.14-4-2-1xMr14Q, dan (3) CML161xCML165. Ketiga hibrida silang tunggal tersebut mempunyai produktivitas 10 t/ha dengan kandungan lisin dan triptofan lebih tinggi dibanding hibrida biasa Bima-1 dan Bisi-2, kenaikan lisin mencapai 86,2% dan triptofan 140%. Target pengembangan jagung QPM diarahkan pada wilayah teridentifikasi rawan (defisiensi) protein seperti Timor, Flores, dan Sumba di NTT, Sumbawa di NTB, serta Kalimantan Tengah, Maluku, dan sebagian besar Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan bagian selatan (Selayar, Sinjai, dan Gowa). Manfaat lain dari jagung QPM adalah untuk meningkatkan kualitas pakan.
Penyediaan Ubijalar yang Sesuai untuk Diversifikasi Pangan Pokok Zuraida, Nani
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubijalar sebagai bahan pangan pokok alternatif relatif mudah diproduksi. Penggunaannya sebagai bahan divertifikasi pangan pokok di masyarakat terhambat oleh faktor psikologis, yang memposisikan ubijalar sebagai pangan murah bagi masyarakat lapisan bawah. Di negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, ubijalar memiliki status yang tinggi sebagai alternatif pangan pokok menggantikan kentang. Pemasyarakatan ubijalar sebagai pengganti nasi (beras) di Indonesia harus dilakukan dengan menaikkan citra dan gengsi ubijalar di masyarakat. Makanan olahan seperti mashed sweetpotato, baked sweetpotato, fried sweet potato with sesame seed and honey, sweet potato pie dessert, dan vacuum fried sweet potato snack sangat mungkin dipromosikan kepada masyarakat lapisan atas dan menengah, yang berfungsi menggantikan pangan nasi (beras). Varietas dan klon ubijalar yang sesuai untuk produk pengolahan tersebut telah tersedia. Diperlukan sosialisasi dan contoh tindakan oleh pejabat secara konsisten, agar divertifikasi pangan menggunakan ubijalar dapat terlaksana, dan dimulai dari masyarakat lapisan atas dan menengah.
Evaluasi Penerapan Sistem Pengelolaan Tanaman Jagung secara Terpadu pada Lahan Sawah Tadah Hujan Margaretha Sadipun Lalu; Zubachtirodin Zubachtirodin
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi penerapan sistem pengelolaan tanaman jagung secara terpadu pada lahan sawah tadah hujan dilaksanakan di Desa Mandalle, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Penanaman pertama pada tahun 2005 seluas 3 ha, bertambah masing-masing menjadi 10 ha,15 ha, dan 20 ha pada tahun 2006, 2007 dan 2008. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (purposive sampling) pada 25 orang petani yang terlibat dalam penelitian PTT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pendapatan petani setelah menerapkan teknologi produksi jagung melalui sistem pengelolaan tanaman jagung secara terpadu (PTT Jagung) pada lahan sawah tadah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan PTT jagung pada lahan sawah tadah hujan, petani dapat meningkatkan penerimaan usahataninya sebesar 213%. Komponen teknologi PTT yang secara nyata teradopsi adalah varietas, penyiapan lahan (TOT + herbisida), pembuatan drainase, pengairan, penyiangan (herbisida) dan alat pemipil jagung. Teknologi jarak tanam (75 cm x 40 cm, dua biji/lubang atau 75 cm x 20 cm, satu biji/lubang tidak teradopsi. Sistem kelembagaan sosial-ekonomi jagung telah terbentuk seperti sistem sewa lahan, kelompok tani jagung, sistem sewa alat pemipil dan pemasaran jagung.
Sukun sebagai Sumber Pangan Alternatif Substitusi Beras Yati Supriati
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi pangan ke depan, khususnya beras, diperkirakan menurun akibat degradasi kualitas lingkungan, termasuk berkurangnya sumber daya air dan lahan subur. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat menyadari pentingnya pengembangan tanaman selain padi sebagai sumber pangan yang andal dan berkesinambungan demi terjaminnya ketersediaan pangan nasional. Sukun (Astocarpus astilis) merupakan tanaman tahunan yang secara historis tersebar di Polinesia, Pasifik, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai sumber pangan. Mudah beradaptasi pada agroekositem dataran rendah dan tinggi, sukun juga mudah dikembangkan dalam skala luas tanpa membangun jaringan irigasi yang sangat mahal, sehingga biaya produksinya lebih murah. Karbohidrat yang terkandung dalam 100 g tepung sukun setara dengan 100 g beras. Oleh karena itu, sukun sebagai substitusi beras yang saat ini sudah mencapai 130 kg/kapita/tahun dapat diatasi dengan memproduksi 108 kg tepung sukun/kapita/tahun. Mengingat ketersediaan lahan yang makin terbatas maka tingkat substitusi disarankan pada taraf 10% dengan melakukan penanaman sukun secara polikultur yang disisipkan pada kebun buah-buahan atau lahan pekarangan. Bibit sukun dalam jumlah banyak untuk pengembangan skala luas di berbagai wilayah, dapat disediakan melalui perbanyakan dengan teknik kultur jaringan. Sinkronisasi antara kebutuhan dan kapasitas produksi bibit secara massal melalui teknik kultur jaringan menjadi prasyarat tercapainya komitmen, dan konsistensi program pengembangan sukun sebagai sumber pangan alterntif pengganti beras. Investasi penanaman sukun sebagai sumber pangan, selain biayanya relatif murah, caranya juga sederhana dan memiliki nilai efisiensi yang tinggi mengingat tanaman ini dapat memberikan hasil dalam jangka panjang, tanpa memerlukan perawatan khusus dan intensif. Untuk mendorong minat masyarakat meng-konsumsi produk sukun diperlukan sosialisasi secara terus-menerus tentang manfaat, kegunaan, dan teknologi pengolahan sukun menjadi bentuk pangan yang lebih modern dan menarik. Tanaman sukun juga memberikan kontribusi penting dalam pelestarian fungsi hutan rakyat dan memperbaiki iklim mikro di sekitarnya.
Persepsi Petani dan Identifikasi Faktor Penentu Pengembangan dan Adopsi Varietas Padi Hibrida Ade Ruskandar
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padi hibrida potensial dikembangkan untuk mendukung upaya peningkatan dan pemantapan produksi padi nasional yang sudah levelling off. Namun pengembangan dan adopsi inovasi teknologi padi hibrida oleh petani tidak mudah dan hingga saat ini masih lambat. Pada umumnya petani selalu ingin melihat, mengetahui, dan membuktikan sendiri keunggulan varietas padi hibrida dibandingkan dengan varietas inbrida yang mereka tanam. Untuk itu dilakukan telaahan dan penelitian di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada MT 2008. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi petani dan mengidentifikasi faktor penentu yang berperan dalam adopsi dan keberhasilan usahatani padi hibrida.Beberapa hasil penting dari penelitian ini adalah: (a) responden di kedua wilayah umumnya menyatakan padi hibrida hingga saat ini belum berkembang karena petani belum yakin dan belum melihat secara nyata kelebihan padi hibrida, (b) tingkat adopsi padi hibrida ditentukan oleh produktivitas, harga benih, ketahanan terhadap hama dan penyakit, pemasaran, dan kualitas giling, (c) kenyataan di lapangan belum menunjukkan keunggulan padi hibrida yang sesungguhnya dan bahkan padi hibrida mempunyai beberapa kelemahan seperti lebih rentan terhadap beberapa OPT, mutu giling yang kurang bagus, dan (d) di lain pihak, pengetahuan responden terhadap padi hibrida cukup memadai dan merupakan salah satu faktor pendukung untuk proses adopsi padi hibrida di masa yang akan datang.
Lecanicillium lecanii sebagai Bioinsektisida untuk Pengendalian Telur Hama Kepik Coklat pada Kedelai Yusmani Prayogo
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepik coklat (Riptortus linearis) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai yang sangat penting karena mampu menurunkan hasil hingga 80%. Aplikasi pestisida hanya dapat membunuh stadia nimfa dan imago, sedangkan stadia telur masih bertahan dan berkembang sehingga populasi kepik coklat di lapangan masih sulit dikendalikan. Lecanicillium lecanii merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang bersifat ovisidal terhadap telur kepik coklat dan cukup efektif untuk mengendalikan hama ini pada stadia telur. Kelebihan cendawan tersebut adalah mampu menginfeksi seluruh stadia kepik coklat, mulai dari telur, nimfa, hingga imago. Telur kepik coklat merupakan stadia yang prospektif jika dikendalikan dengan cendawan L. lecanii dibandingkan dengan stadia nimfa maupun imago, karena telur tidak bergerak sehingga suspensi konidia yang diaplikasikan mudah mengenai sasaran. Cara memperoleh isolat L. lecanii virulen dapat dilakukan melalui isolasi dari serangga yang terinfeksi, dari dalam tanah, dan menggunakan metode pengumpanan serangga (insect baiting). Efikasi L. lecanii dipengaruhi oleh virulensi isolat, kerapatan konidia yang diaplikasikan, umur telur setelah diletakkan imago, dan sumber isolat cendawan. Cendawan L. lecanii mudah ditumbuhkan pada berbagai jenis media alami seperti beras, jagung, biji kacang-kacangan termasuk kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah. Pada umur 21 hari setelah ditumbuhkan pada media alami, koloni cendawan sudah cukup untuk memproduksi konidia yang dapat digunakan sebagai organ infektif pengendalian hama sasaran. Biakan cendawan harus dicampur dengan air untuk merontokkan konidia yang terbentuk, selanjutnya ditambahkan bahan perekat untuk melindungi viabilitas cendawan di lapangan. Pengendalian telur kepik coklat dianjurkan pada telur yang baru diletakkan imago (0-2 hari) menggunakan kerapatan konidia L. lecanii 108/ml. Pada varietas Wilis, kondisi tersebut di lapangan umumnya terjadi pada tanaman yang berumur di atas 35 hari setelah tanam (HST). Aplikasi cendawan L. lecanii tidak berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup serangga predator di pertanaman kedelai, khususnya Oxyopes javanus Thorell. Fakta ini ditunjukkan oleh aplikasi suspensi konidia L. lecanii yang diaplikasikan tidak mematikan imago predator hingga 30 hari setelah aplikasi. O. javanus merupakan salah satu predator yang mempunyai kemampuan predasi cukup tinggi dalam memangsa beberapa jenis hama utama kedelai, terutama kepik coklat. Ditinjau dari beberapa kelebihan dan keunggulan, L. lecanii prospektif dikembangkan sebagai bioinsektisida dalam komponen pengelolaan hama terpadu (PHT), khususnya kepik coklat pada kedelai.
Kelayakan Ekonomi dan Respon Petani terhadap Pengembangan Teknologi Produksi Kacang Hijau di Lahan Sawah Tadah Hujan Nila Prasetiaswati; Budhi S. Radjit
Iptek Tanaman Pangan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Tanaman Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budi daya kacang hijau belum menerapkan teknik baku dan cenderung masih tradisional (sederhana). Percobaan dilaksanakan di Desa Megonten dan Tempuran, Kabupaten Demak, pada musim kemarau (bulan Juni-September), 2007 dan 2008, bertujuan mengevaluasi kelayakan ekonomis dan respon petani terhadap penerapan teknologi produksi kacang hijau. Dua perlakuan disusun secara berpasangan, pertama adalah teknologi baku yang terdiri atas varietas Vima I, jarak tanam teratur, pengendalian hama intensif, penyiangan (herbisida dan manual), dan pemberian pupuk daun. Perlakuan kedua adalah teknologi tradisional, varietas lokal. Ukuran petak percobaan 3 ha untuk setiap perlakuan, diikuti oleh 15 petani koperator sebagai ulangan. Tanaman tumbuh tanpa irigasi.Respon petani dianalisis menggunakan metode analisis faktor terhadap variabel komponen teknologi, yaitu pengelolaan lahan, varietas unggul Vima I, jarak tanam, pupuk daun, herbisida, dan panen pada masak fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi baku cukup layak dikembangkan di lahan sawah Vertisol, tanpa pengairan. Hasil biji tertinggi diperoleh dari teknologi baku, yaitu 1,92 t/ha dan 1,72 t/ha, sedangkan cara tradisional hanya menghasilkan 0,26 t/ha dan 1,02 t/ha. Rendahnya hasil dari penerapan teknologi tradisional disebabkan oleh serangan hama penggerek polong (Maruca testulalis). Meningkatnya hasil biji dengan menggunakan teknologi baku, diikuti oleh tingginya keuntungan yang diperoleh yaitu sebesar Rp 8.594.000/ha. Kelayakan usahatani masing-masing dengan B/C ratio 2,9 dan 2,4. Keuntungan teknologi tradisional apabila tidak terjadi serangan hama mencapai Rp 3.136.666 (B/C ratio 1,0). Komponen teknologi varietas unggul Vima I, pengelolaan lahan (babat jerami digunakan sebagai mulsa), dan pupuk daun termasuk faktor utama yang menjadi pilihan petani untuk diadopsi. Faktor pertimbangan kedua terdiri atas jarak tanam teratur, penggunaan herbisida dan pengendalian hama penyakit. Faktor pertimbangan ketiga adalah panen kacang hijau pada stadia masak fisiologis. Sosialisasi teknologi ke petani perlu dilakukan untuk mempercepat adopsi teknologi.

Page 1 of 1 | Total Record : 9