cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Alamat Kantor Editor Jurnal Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Plasma Nutfah
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14104377     EISSN : 25491393     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by The Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. This peer-refereed journal covering the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation, of all kinds of genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes. Manuscripts submitted to this journal are those that have never been published in other journals. This journal is published in one volume of two issues per year (June and December). We invite authors to submit the manuscripts to this journal in English or Indonesian. Detail information about the journal, including author guidelines and manuscript template, is available on the website (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bpn). The manuscript should be submitted electronically through our submission system. Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. BPN Accredited by Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia (No. 21/E/KPTP/2018) for period of 2016-2020. This peer-refereed journal covers the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation related to genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes which has never been published in other Journal
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
Ketahanan Galur Isogenik IRBBN dan Galur Harapan Padi terhadap Patotipe Xanthomonas oryzae pv. oryzae Dominan pada Tanaman Padi di Indonesia Dini Yuliani; Untung Susanto; Sudir Sudir
Buletin Plasma Nutfah Vol 23, No 1 (2017): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v23n1.2017.p23-32

Abstract

Galur isogenik IRBB introduksi dari International Rice Research Institute (IRRI) telah diketahui gen ketahanannya dan dapat digunakan sebagai sumber ketahanan terhadap patotipe Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) dominan di Indonesia. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan galur isogenik dan galur harapan terhadap patotipe Xoo dominan di Indonesia, yaitu patotipe III, IV, dan VIII. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada musim kemarau (MK) 2012 dan musim hujan (MH) 2012/2013. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Faktorial Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tiga patotipe Xoo, yaitu patotipe III, IV, dan VIII, sedangkan faktor kedua yaitu materi yang diuji sebanyak 20 galur IRBB, 6 galur harapan padi, dan 6 varietas pembanding, yaitu Conde, Lusi, Logawa, Java 14, Angke, dan Inpari 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur isogenik IRBB 21, IRBB 50, dan IRBB 52 bereaksi tahan terhadap Xoo patotipe III, IV, dan VIII pada MK 2012. Pada MH 2012/2013 diperoleh lima galur isogenik IRBB 52, IRBB 53, IRBB 54, IRBB 56, dan IRBB 57 bereaksi tahan terhadap Xoo patotipe III, IV, dan VIII. Galur isogenik IRBB 52 konsisten tahan terhadap Xoo patotipe III, IV, dan VIII pada dua musim tanam. Oleh karena itu, galur tersebut dapat direkomendasikan untuk dijadikan tetua tahan untuk perakitan varietas tahan HDB.
Keragaman Plasma Nutfah Padi Gogo Lokal Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur Evert Y. Hosang; Yermias Bombo; Tony Basuki
Buletin Plasma Nutfah Vol 22, No 2 (2016): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v22n2.2016.p93-100

Abstract

Plasma nutfah padi gogo lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah pernah dikoleksi dan dievaluasi oleh tim peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor pada tahun 1997 yang berhasil mengoleksi 97 aksesi dari 19 kabupaten di NTT dan dilanjutkan dengan kegiatan koleksi dan karakterisasi oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT yang telah mengoleksi 61 aksesi tanaman padi gogo lokal NTT dari 11 kabupaten di NTT. Kabupaten Sumba Barat Daya adalah salah satu wilayah yang memiliki aksesi padi gogo yang terbanyak, yaitu sebanyak 20 aksesi dan telah dievaluasi berdasarkan Standard Evaluation System. Dari hasil karakterisasi ini disimpulkan bahwa terdapat variasi karakteristik agronomi dan fenotipe yang sangat besar antar aksesi padi gogo lokal tersebut. Karakter yang paling menunjukkan keragaman antar aksesi adalah bentuk panjang daun, permukaan daun, sudut daun bendera, warna pelepah daun, warna gabah, warna kulit ari, jumlah anakan produktif, dan produktivitas padi. Sementara berdasarkan kemiripan arakteristik yang dievaluasi, t padi lokal Sumba Barat Daya dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kemiripan tinggi (tingkat similarity >85%), kelompok kemiripan sedang (tingkat similarity antara 75–85%), dan kelompok kemiripan rendah (tingkat similarity <75%).
Keragaman Sumber Daya Genetik Tanaman Buah-buahan Eksotik di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau Yayu Zurriyati; Dahono Dahono
Buletin Plasma Nutfah Vol 22, No 1 (2016): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v22n1.2016.p11-20

Abstract

Indonesia memiliki sumber daya genetik (SDG) buah-buahan tropis yang sangat beragam. Tercatat lebih dari 400 jenis tanaman buah-buahan yang dapat dimakan terdapat di wilayah Indonesia. termasuk buah eksotik tropis. Saat ini sebagian besar SDG lokal tersebut belum terinventarisasi dan teridentifikasi dengan baik sehingga informasi yang didapatkan sangat terbatas. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan informasi tingkat keragaman, deskripsi morfologi, dan pemanfaatan SDG tanaman buah eksotik. Kegiatan dilaksanakan pada empat kecamatan di Kabupaten Bintan, yaitu Kecamatan Teluk Sebong, Teluk Bintan, Sri Kuala Lobam, dan Toapaya, Provinsi Kepulauan Riau dengan metode survei melibatkan 20 responden yang dipilih secara purposiverandom sampling dan observasi lapang. Tanaman buah eksotik diinventarisasi berasal dari lahan pekarangan dan lahan di luar pekarangan milik responden. Data yang dkumpulkan meliputi lokasi tempat ditemukannya SDG tanaman buah eksotik mencakup nama desa/dusun dan titik koordinat (LU/LS, BT/BB), jenis tanaman dan deskripsi morfologi utama. Data yang didapat selanjutnyaditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil kegiatan didapatkan tujuh jenis tanaman buah eksotik di Kabupaten Bintan, yaitu Buah rokam (Flacourtia rukam), namnam (Cynometra cauliflora), jeruk kunci (Citrus amblycarpa), sawo mangga (Pouteria caimito), lobi-lobi (Flacourtia inermis), durian daun (Durio zibethinus L.), dan jamblang (Syzigium cumini). Pemanfaatan buaheksotik lokal saat ini hanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar. Terdapat potensi pemanfaatan buah eksotik sebagai pangan fungsional atau menjadi buah olahan untuk peningkatan nilai tambah buah tersebut
Back Matter Bul PN Vol 22 No 2 Buletin Plasma Nutfah
Buletin Plasma Nutfah Vol 22, No 2 (2016): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v22n2.2016.p%p

Abstract

Penampilan Varietas Jagung Unggul Baru Bermutu Protein Tinggi di Jawa dan Bali Muhammad Azrai
Buletin Plasma Nutfah Vol 10, No 2 (2004): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v10n2.2004.p49-55

Abstract

AbstractStudy on the performance of two quality protein maize (QPM) varieties (Srikandi Putih-1 and Srikandi Kuning-1) plus two Indonesian open pollinated varieties (Bayu and Lamuru) was conducted at seven environments in Java and Bali. The experiments were arranged in a randomized block design with three replications. Each variety was grown in a four-row plot with 5 m length, 75cm apart and 25 cm within row spacing and one plant per hill. Observations were made on yield, biomass, plant height, ear height, flowering dates, yield components, plant and ear aspect, husk cover, diseases incidence of Puccinia polysora and Helminthossporium maydis, protein contains, lysine, and tryptophan-amino acids contains. In general, Srikandi Putih-1 and Srikandi Kuning-1 varieties had a good adaptations under all environments. They contained nearly twice the lysine and tryptophan-amino acids compared to Bayu and Lamuru varieties. Therefore, they have future prospect for the development of protein synthesis in humans and monogastric animals.AbstrakPenelitian penampilan varietas jagung unggul baru bermutu protein tinggi (Srikandi Putih-1 dan Srikandi Kuning-1) dan dua varietas unggul nasional (Bayu dan Lamuru) telah dilaksanakan pada tujuh lokasi di Jawa dan Bali pada tahun 2003 sampai 2004. Penelitian ditata dalam percobaan acak kelompok dengan tiga ulangan. Setiap varietas ditanam pada petakan empat baris, panjang 5 m, jarak antar baris 75 cm, jarak dalam barisan 25 cm, dan ditumbuhkan satu tanaman per rumpun. Pengamatan dilakukan terhadap hasil biji, biomas segar, tinggi tanaman, panjang tongkol, umur berbunga, komponen hasil, skor penampilan tanaman, penutupan kelobot, penyakit karat dan hawar daun, serta kandungan protein kasar, asam amino lisin, dan triptofan. Secara umum varietas Srikandi Putih-1 dan Srikandi Kuning-1 dapat beradaptasi baik pada semua lingkungan. Selain itu, kedua varietas tersebut mempunyai kandungan lisin dan triptofan hampir dua kali lipat dibandingkan dengan varietas Bayu dan Lamuru. Oleh karena itu, kedua varietas tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai sintesis protein pada ternak monogastrik dan manusia.
Konservasi Anggrek Spesies Alam Menggunakan Eksplan Biji pada Media Vacin & Went Suskandari Kartikaningrum; Dewi Pramanik; Minangsari Dewanti; Rudy Soehendi; M. Prama Yufdy
Buletin Plasma Nutfah Vol 23, No 2 (2017): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v23n2.2017.p109-118

Abstract

Konservasi anggrek spesies alam merupakan langkah penting untuk menghindari kepunahan akibat rusaknya habitat alamnya. Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan tumbuh biji anggrek spesies alam pada media Vacin dan Went (VW) dan menentukan jenis anggrek spesies yang telah berhasil dikonservasi melalui biji. Anggrek spesies alam yang digunakan sebanyak 46 spesies yang berasal dari 18 genus anggrek, yakni Phalaenopsis, Dendrobium, Vanda, Ascocentrum, Paphiopedilum, Rhyncostilis, Neofinetia, Epidendrum, Arachnis, Dimorphosis, Phaius, Spathogottis, Trichoglottis, Arundina, Cymbidium, Renanthera, Armodorum, dan Gramathophylum. Polinasi bunga anggrek dilakukan dengan metode selfing maupun sibling. Buah dipanen saat warna buah berubah menjadi kuning kehijauan dan/atau tekstur buah menjadi lebih lunak. Selanjutnya, sebelum kultur biji, buah disterilkan dan biji disebar pada media VW. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa buah anggrek hasil polinasi mengalami kemasakan antara 34-280 hari setelah polinasi. Biji hasil selfing dari 41 anggrek spesies (dari 46) dapat berkecambah pada media VW dengan umur berkecambah berkisar antara 10-69 hari setelah sebar. Sebanyak 19 anggrek spesies alam mampu membentuk protokorm di atas 70% dan semua protokorm mampu membentuk planlet. Selanjutnya, 19 spesies dapat diaklimatisasi dengan kisaran waktu antara 272-552 hari setelah terbentuk protokorm, Sebanyak 16 spesies belum dapat diaklimatisasi karena planlet yang masih kecil, sedang 6 spesies tidak tumbuh. Arundina graminifolia merupakan anggrek yang paling cepat membentuk protokorm dan Grammatophylum sp. merupakan anggrek yang paling lama membentuk protokorm. Biji Ascocentrum aurantiacum, Aerides odorata, Phalaenopsis luddemanniana, P. violacea, dan Cymbidium finlaysonianum tidak mampu membentuk protokorm. Dari penelitian ini diketahui bahwa media VW dapat digunakan untuk konservasi anggrek spesies alam melalui perbanyakan dengan menggunakan biji.
Isolasi Bakteri Penghasil Enzim Protease Alkalin Termostabil Alina Akhdiya
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 2 (2003): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n2.2003.p38-44

Abstract

AbstractIn the effort of obtaining indigenous alkaline thermosteble protease producing bacteria, 17 different soil samples collected from slaughterhouses, fish ponds along the Nusa Tenggara, and spoiled milk disposal sites in Boyolali (Central Java) for microbial isolation. Out of the 1004 colonies obtained, 29 isolates showed proteolytic index &#8805;3.00. Enzymatic assay on these isolates resulted in two isolates (BYL-15 and BYL-28) with highest crude enzyme activity, this activity was also higher than that achieved by the standard bacteria (Bacillus firmus NRRL B-1107). After 36 hours of incubation, crude enzyme activity and specific activity of isolate BYL-15 were 106.45 U/ml filtrate and 5069.04 U/mg protein, respectively (at 50&deg;C and pH 10.5). Whereas for isolate BYL-28 the crude enzyme activity and specific activity were 100.00 U/ml filtrate and 5,263.15 U/mg protein, respectively. The activity of these two isolates were about 10 times higher than that of the B. firmus (11.259 U/ml filtrate), whereas their specific activities were about 40 times than that of B. firmus (119.78 U/mg protein). Further studies showed that the proteolytic activity of these two isolates were still increased when assayed at 60&deg;C, and more than one peak of activity were obtained when assayed at different pH values (8.5-12). Based on microscopic observations, these two isolates showed cell morphology characteristics of Actinomycetes. AbstrakDalam upaya menggali galur-galur bakteri penghasil enzim protease alkalin termostabil asli Indonesia, telah dilakukan isolasi mikroorganisme dari 17 contoh tanah yang diambil dari beberapa rumah pemotongan hewan dan tambak di Nusa Tenggara, serta tempat pembuangan susu rusak di Boyolali (Jawa Tengah). Dari 1004 isolat yang diperoleh, 29 di antaranya memiliki indeks proteolitik &#8805;3,00. Pengukuran terhadap aktivitas enzim isolat-isolat tersebut menghasilkan isolat BYL- 15 dan BYL-28 yang memiliki aktivitas enzim kasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan bakteri pembanding (Bacillus firmus NRRL B-1107). Aktivitas enzim kasar dan aktivitas spesifik isolat BYL-15 setelah 36 jam berturut-turut adalah 106,45 U/ml filtrat biakan dan 5069,04 U/mg pada suhu 50&deg;C dan pH 10,5. Aktivitas enzim kasar dan aktivitas spesifik isolat BYL-28 adalah 100,00 U/ml filtrat biakan dan 5263,15 U/mg pada kondisi yang sama. Nilai aktivitas enzim kedua isolat tersebut &plusmn;10 kali lebih besar daripada B. firmus (11,259 U/ml filtrat), sedangkan aktivitas spesifiknya 40 kali lebih besar daripada B. firmus (119,78 U/mg protein). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa aktivitas enzim kasar kedua isolat tersebut masih terlihat meningkat pada suhu 60&deg;C dan memiliki lebih dari satu puncak aktivitas pada beberapa pH yang dicoba (8,5-12,0). Berdasarkan ciri-ciri morfologi yang diperoleh dari pengamatan mikroskopis, kedua isolat tersebut termasuk anggota Actinomycetes.
Skrining Marka ISSR untuk Autentikasi Pegagan (Centella asiatica [L.] Urb.) Dyah Subositi; Harto Widodo; Nita Supriyati
Buletin Plasma Nutfah Vol 22, No 1 (2016): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v22n1.2016.p49-54

Abstract

Pegagan (Centella asiatica) merupakan salah satu tumbuhan obat populer yang digunakan sebagai bahan baku obat tradsional dan industri kosmetik. Pegagan seringkali dipalsukan atau keliru dengan puser bumi (Hydrocotyle verticillata) yang mempunyai nama lokal sama &ldquo;pegagan&rdquo;. Identifikasi morfologi dan marker senyawa kimia yang digunakan untuk autentikasi tumbuhan obat mempunyai kelemahan karena dipengaruhi oleh umur tumbuhan, fisiologi dan kondisi lingkungan.Penanda molekular merupakan salah satu metode yang dapat dipercaya untuk identifikasi dan autentikasi tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk skrining primer ISSR untuk autentikasi pegagan (C. asiatica). Tahap pertama yaitu isolasi DNA pegagan, puser bumi dan campuran keduanya. Sebanyak 30 primer ISSR digunakan untuk amplifikasi dan skrining awal pada pegagan dan puser bumi. Total 164 fragmen DNA terampifikasi, 128 diantaranya polimorfik (78%). Empat primer mampu membedakan pegagan dan puser bumi. Primer (GA)8CTT menghasilkan satu fragmen spesifik yang jelas pada pegagan dan satu fragmen spesifik pada puser bumi dihasilkan dari primer (AG)8T.Primer (CT)8G dan (GT)6CC masing-masing menghasilkan 4 fragmen spesifik pada pegagan dan puser bumi. Pegagan (C. asiatica) dan puser bumi (Hydrocotyle verticillata) dapat dibedakan dengan amplifikasi menggunakan primer ISSR terpilih.
Penyaringan Galur Kedelai terhadap Penyakit Karat Daun Isolat Arjasari di Rumah Kaca Budi Santosa
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 1 (2003): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n1.2003.p26-32

Abstract

AbstractSo for, soybean inprovement for rust resistant has not taken location in to account so that the oftimum yield has never been attained, in Indonesia soybean grown in wide sauge of envisowaments, sokese in each location different straints of rust is found. Therefore, the breeding strategy should aim as developing specific location cultivars rsisteant to soybean rust. This study was aimed at indetifying soybean lines/cultivars resistant to rush. Fifty lines/cultivars were screened for thees resistance againts rust isolat predominant in Arjasari, Bandung, in the greenhouse of the Indonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research Institute. Discase severity was scored using combined methods of INTSOY and IWGSR. Based on the discase intensity observed, these were sevo lines 5X45(2)(25)A(39) and 14X9(5) showed moderate resistant, while the rest of the lines were moderately susceptible and susceptible. Line 14X9(5) was the least infected (46.1%) while Ringgit was the most infected (96.7%).AbstrakSampai saat ini varietas unggul kedelai tahan penyakit karat dikembangkan tanpa mempertimbangkan lokasi sehingga sulit dicapai hasil optimal. Di Indonesia, areal penanaman memiliki kondisi lingkungan yang beragam. Isolat jamur karat di suatu lokasi berbeda dengan lokasi lainnya, sehingga perlu dikembangkan varietas unggul yang spesifik lokasi. Penelitian pendahuluan ini bertujuan untuk mendapatkan galur yang tahan terhadap penyakit karat. Penyaringan 50 galur/varietas kedelai dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Isolat yang digunakan berasal dari Arjasari Kabupaten Bandung. Parameter yang diamati adalah intensitas penularan penyakit karat. Pengamatan berdasarkan kombinasi metode INTSOY dengan IWGSR dapat digunakan untuk mengetahui penularan penyakit karat daun pada kedelai di rumah kaca. Dari penelitian ini terdapat dua galur yang agak tahan, yaitu 5X45(2)(25)A(39) dan 14X9(5), sedangkan 48 galur lainnya termasuk rentan dan agak rentan. Intensitas penularan penyakit pada galur 14X9(5) adalah yang terendah (46,1%), sedangkan tingkat penularan tertinggi pada varietas Ringgit (96,7%).
Keragaan Galur-galur Green Super Rice pada Kondisi Sawah Tadah Hujan saat Musim Kemarau di Kabupaten Pati Untung Susanto; Ali Imamudiin; MY Samaullah; Satoto Satoto; Ali Jamil; Jauhar Ali
Buletin Plasma Nutfah Vol 23, No 1 (2017): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v23n1.2017.p41-50

Abstract

Green Super Rice (GSR) adalah tanaman padi yang dirancang untuk memiliki daya hasil tinggi, toleran terhadap cekaman biotik dan abiotik, serta efisien pemupukan dan air. GSR diharapkan memiliki daya adaptasi dan hasil yang baik pada kondisi sawah tadah hujan. Evaluasi galur-galur padi GSR pada lahan tadah hujan telah dilakukan di Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah pada MK 2014. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok 2 ulangan dengan perlakuan 30 galur padi GSR dan empat varietas pembanding. Galur-galur GSR yang dievaluasi merupakan galur hasil seleksi di Indramayu pada musim sebelumnya. Varietas pembanding yang digunakan adalah Inpari 13, Inpari 10, Inpari 23, dan Situ Bagendit. Bibit umur 21 hari setelah sebar dari setiap galur dan varietas pembanding ditanam 1–3 bibit per lubang pada plot berukuran 2 m x 5 m dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pengairan bergantung pada turunnya hujan dan pompa air dari embung penampung air hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur yang diuji memiliki perbedaan nyata dan sangat berbeda nyata pada karakter agronomi yang diamati. Galur GSR yang beradaptasi relatif baik di sawah tadah hujan Kabupaten Pati pada musim kemarau adalah HHZ2–SKI-2–7–0Kr-JK-IND (4,09 t/ha) yang memiliki hasil nyata lebih tinggi daripada cek terbaik Situ Bagendit (3,04 t/ha), dan HHZ4–SKI-5–4–0Kr-JK-IND (3,91 t/ha) serta Zhonghua1–SKI-1–IND (3,85 t/ha) yang memiliki hasil nyata lebih tinggi daripada cek terbaik kedua, yaitu Inpari 13 (2,88 t/ha). Galur-galur GSR tersebut prospektif untuk diuji lebih lanjut karena memiliki daya hasil yang tinggi dan memiliki karakteristik agronomis sesuai dengan preferensi petani di Indonesia. Faktor keunggulan daya hasil galur-galur GSR yang teridentifikasi dalam percobaan ini diduga didukung oleh karakter jumlah gabah isi/malai, jumlah anakan, dan umur yang relatif genjah. Galur-galur GSR yang diuji memiliki kemiripan relatif tinggi (50%).