cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015" : 5 Documents clear
Analisis Usaha Tani Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Hasil Peremajaan Supriyadi-Tirtosuprobo Supriyadi-Tirtosuprobo; Prima Diarini Riajaya
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.90-101

Abstract

Penelitian keragaan usaha tani jarak pagar hasil peremajaan dilakukan berdasarkan data yang terkumpul dari kegiatan peremajaan tanaman jarak pagar di Kebun Percobaan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur tahun 2012–2013 yang bertujuan untuk mengetahui komponen dan besarnya biaya, tingkat produktivitas usaha tani jarak pagar, dan harga pokok produk hasil peremajaan tanaman jarak pagar. Perlakuan yang dicoba meliputi: sistem tanam ulang (paket A), sambung samping (paket B), dan pangkas (paket C). Pada perlakuan paket B dan C ditanami tanaman sela kacang tanah kemudian ditumpang gilir dengan Crotalaria juncea L. setelah kacang tanah dipanen. Data usaha tani terdiri atas penggunaan sarana produksi, tenaga kerja, dan produksi dikumpulkan selama penelitian berjalan. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif dan usaha tani enterprise. Dalam tahun I paket A menyerap biaya relatif tinggi Rp23.580.000,00/ha dengan produksi biji 253,63 kg/ha menghasilkan harga pokok produk Rp92.970,00/kg. Total biaya ini berkurang pada paket B dan paket C menjadi Rp13.445.000,00/ha dan Rp11.005.000,00/ha dengan tingkat produktivitas 436,04 kg/ha dan 529,75 kg/ha dan menghasilkan harga pokok produk lebih rendah, masing-masing Rp12.120,00/kg dan Rp7.031,00/kg. Biaya produksi tahun II (2013) pada semua paket masing-masing turun 76%, 28%, dan 22%, diikuti menurunnya harga pokok produk menjadi Rp4.345,00/kg, Rp547,00/kg, dan Rp2.468,00/kg. Penanaman tanaman sela kacang tanah dalam perlakuan paket B dan paket C dapat membantu secara komplemen terhadap total biaya usaha tani. Selama dua tahun kegiatan, paket B secara konsisten berpotensi meningkatkan produktivitas, menurunkan harga pokok produk, dan efisiensi penggunaan biaya. Research on cost variability of physic nut rejuvenation was done based on data collected from physic nut re-juvenation in the Asembagus Experimental Station in, Situbondo, East Java during 2012–2013 to determine the components of production cost, productivity, and cost of product of physic nut rejuvenation. Three treat-ments of physic nut were tested, namely replanting system (package A), side grafting (package B), and pruning system (package C). Under physic nut stands on package B and C peanut crops were planted and relayed with Crotalaria after peanut harvest. Data collected were use of farm production components, labor, and production. Data were analysed using descriptive analyses and farming enterprise. Replanting system (package A) on physic nut absorbed the relatively high cost Rp23,580,000.00/ha with seed production 253,63 kg/ha resulted in product cost Rp92,970.00/kg. The total cost is reduced in package B and C to Rp13,445,000.00/ha and Rp11,005,000.00/ha with the seed productivity ware 436.04 kg/ha and 529.75 kg/ha, resulted in lower product cost Rp12,120.00/kg and Rp7,031.00/kg, respectively. The cost of production in the second year (2013) for all packages down 76%, 28%, and 22% respectively, followed by decline cost of products into Rp4,345.00/kg, Rp547.00/kg, and Rp2,468.00/kg respectively. Peanut crops under physic nut on package B and C over a period of year I and II resulted in farm receipts that can contribute and complement to the total cost of farming. During two years of activity, the package B consistently high potential to increase productivity, lower product cost, and efficiency of farming costs.
Varietas Unggul Tembakau Bondowoso Sri Yulaikah; Anik Herwati; Djajadi Djajadi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.102-113

Abstract

Tembakau di Kabupaten Bondowoso diolah dalam bentuk rajangan dan digunakan sebagai pengisi (filler) dalam blending industri pabrik rokok. Areal penanaman tembakau tiap tahun berkisar antara 7.000–9.000 ha, dengan total produksi per tahun berkisar antara 6.000–8.000 ton. Permasalahan yang ada adalah terbatasnya varietas unggul yang telah dilepas. Eksplorasi telah dilakukan pada tahun 2008, dan m endapatkan 6 aksesi. Uji multilokasi 6 aksesi yaitu Somporis 1, Serumpung, Marakot, Somporis ah, Somporis lokal, dan Somporis ch dilakukan di 2–3 lokasi pada tahun 2009 sampai 2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memilih kultivar yang memiliki penampilan terbaik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Somporis 1 dan Somporis ch merupakan kultivar yang unggul berdasarkan indeks penampilan. Produktivitas Somporis 1 se-besar 0,94 ton/ha, indeks mutu 70,73, dan warna kuning tua (cemerlang). Sedang Somporis ch produktivi-tas 0,73 ton/ha, indeks mutu 71,8, dan sangat aromatis. Kedua kultivar tersebut dapat direkomendasikan sebagai varietas yang unggul dan legal di Bondowoso. Tobacco which was planted in Bondowoso Regency, East Java is processed as air-dried-sliced tobacco and is used as filler in cigarette blending. Tobacco planting area is about 7,000–9,000 ha per year with total pro-duction is about 6,000–8,000 tons. The problem was on Bondowoso tobacco is a shortage availability of superior varieties. The exploration of Bondowoso tobacco was started in 2008 and found six cultivars i.e. Somporis 1, Serumpung, Marakot, Somporis ah, local Somporis, and Somporis ch. Multilocation trials of the six cultivars at 2–3 sites were conducted from 2009–2011. The objective of this research was to select the superior Bondowoso tobacco cultivars. Result showed that Somporis 1 and Somporis ch were the superior varieties based on performance index parameters. Somporis 1 had yield 0.94 tons/ha, quality index 70.73, and dark yellow colour (bright). The yield of Somporis ch were 0.73 tons/ha, it’s quality index 71.8, and very aromatic. These cultivars might be recomended as legalized superior varieties tobacco in Bondowoso.
Ecobiology of Bacterial Wilt of Physic Nut in Indonesia Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.114-122

Abstract

Budi daya jarak pagar (Jatropha curcas) dengan sistem monokultur pada hamparan yang luas telah menim -bulkan ledakan suatu penyakit. Layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit utama jarak pagar dan ditemukan di beberapa daerah pengembangan. Gejala yang terlihat pada tanaman yang terinfeksi adalah layu dan daun menguning sebelum waktunya atau daun layu tanpa adanya perubahan warna dan masih melekat di batang. Jaringan pembuluh berubah warna kecokelatan. Akar utama dan sekunder busuk berwarna cokelat kehitaman. Pada tanaman yang terinfeksi cukup berat, daun-daunya akan gugur, bagian batang menjadi cokelat, dan akhirnya tanaman mati. Berdasar reaksi oksi-dasi sumber gula, biovar R. solanacearum yang diisolasi dari tanaman jarak pagar dari Malang, Jawa Timur mirip dengan biovar 5, sedangkan yang dari Pati, Jawa Tengah, berbeda dengan biovar standar yang ada. Bakteri ini menginfeksi tomat, cabai merah, dan terong, tetapi tidak menginfeksi tembakau ataupun jagung. Observasi lapangan untuk mengetahui perkembangan layu bakteri pada tanaman jarak pagar dan penyebar-annya menunjukkan bahwa fluktuasi kejadian penyakit berkorelasi positif dengan curah hujan. Streptomycin sulfat atau kombinasi beberapa jenis antagonis merupakan cara pengendalian yang baik. Selain itu, mengoleskan CaCO3 pada luka akibat pemangkasan dapat mencegah penyakit berkembang lebih lanjut. Arah pene-litian ke depan untuk pengendalian penyakit ini adalah pengendalian terpadu yang menitik-beratkan kepada pertanian dan lingkungan yang keberlanjutan, misalnya penambahan antagonis, mikroorganisme berguna, bahan organik, serta pemupukan seimbang. Growing physic nut (Jatropha curcas) under monoculture system in large areas has generated disease out-break. Bacterial wilt caused by Ralstonia solanacearum is one of the major diseases found in several regions. The symptom of the infected plant is wilting and premature leaf yellowing or leaves wilting without changing colour and still attaching to the stem. The vascular tissues show a brown discoloration. The primary and secondary roots may become brown to black. Severe infection causes leaves of diseased plant to fall, the stem to become brown and eventually death. Based on oxidation reaction of sugar source the biovar of R. solanacearum isolated from physic nut in Malang (East Java) was similar to biovar 5, but isolate from Pati, Central Java was different from the standard biovar. The pathogen infected tomato, red chili, and egg plant but not tobacco or maize. A field observation to determine the development of bacterial wilt in physic nut and its spread pattern demonstrated that disease fluctuation incidence was positively correlated to rainfall. Streptomycin sulphate or combination of antagonists gave a good disease control. Furthermore, smearing CaCO3 on wound caused by prunning could prevent disease development. The best control measure is inte-gration of several control measures which encourage sustainable agriculture and environment, including the addition of antagonists, effective microorganism, organic matter, and balanced fertilizer. 
Keragaman Karakter Morfologi Plasma Nutfah Wijen (Sesamum indicum L.) Rully Dyah Purwati; Tantri Dyah Ayu Anggraini; Hadi Sudarmo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.69-78

Abstract

Usaha pengembangan wijen saat ini banyak diminati petani terutama untuk lahan-lahan sawah sesudah padi. Untuk itu diperlukan varietas wijen yang berumur genjah sehingga sesuai dengan pola tanam di lahan tersebut. Untuk merakit varietas diperlukan keragaman genetik yang dicerminkan oleh keragaman karakter morfologi, sehingga perlu dilakukan karakterisasi plasma nutfah. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi karakter morfologi plasma nutfah wijen. Karakterisasi dilaksanakan di KP Karangploso, Malang yang terletak di ketinggian 515 m dpl. dengan curah hujan 1.500 mm/tahun, dan jenis tanah Gleymosol Gleik/Inceptisol, mulai bulan Maret sampai dengan Agustus 2012. Pada penelitian ini digunakan 35 aksesi. Penanaman wijen dilakukan pada 12 Maret 2012, masing-masing aksesi ditanam dalam satu baris pada petak berukuran 1 m x 5 m dengan jarak tanam 25 cm, satu tanaman per lubang. Hasil karakterisasi morfologi menunjukkan bahwa keragaman morfologi yang tinggi ditunjukkan oleh karakter kuantitatif yaitu panjang petiol, lebar daun, rasio panjang : lebar daun, dan jumlah cabang dengan nilai masing-masing KK 27,49%;39,43%; 40,79%; dan 49,59%. Semua karakter kualitatif menunjukkan adanya keragaman morfologi kecuali tipe pertumbuhan, tanda ‘v’ pada korola bagian dalam, dan warna kapsul. Pengelompokan plasma nutfah menghasilkan keragaman yang tinggi; pada tingkat kemiripan 36,06% koleksi plasma nutfah wijen terbagi menjadi dua kelompok besar dan pada tingkat kemiripan 57,37% terbagi menjadi sembilan kelompok. Development of sesame is directed to rice field after rice has been harvested, and thus requires early ma-turing varieties which are suitable for cropping system in these areas. The genetic diversity of sesame germ-plasm is reflected by the diversity of agromorpho-logical characters, therefore collection of sesame germ-plasm have to be characterised. The objective of this research was to collect information of morphological characters of sesame germplasm. Characterization activities was held in Karangploso Experimental Station, Malang which is laid on 515 above sea level, rainfall 1,500 mm/year, and soil type Gley-mocol Gleik/Incepticol, from March to August 2012. Sesame accessions were planted on 12 March 2012, each accession was planted in a row in 1 m x 5 m plot size, with 25 cm plant spacing, and one plant per hole. Fertilizer used was 45 kg N + 36 kg P 2O5 + 30 kg K2O. Characterization of quantitative morphological characters resulted in high diversity of pe-tiole length, leaf width, leaf length : width ratio, and number of branches characters, each character had CV value 27.49%; 39.43%; 40.79%; and 49.59%. Diversity was observed for all quali-tative morphological characters, except plant growth type, ‘v’ mark of inner side of corolla, and seed coat color. Clustering showed that sesame germplasm had high genetic diversity ; sesame germplasm is divided into two large groups on 36.06% similarity level, whereas based on 57.37% similarity, sesame germplasm is divided into nine groups.
Keuntungan Petani Tebu Rakyat Melalui Kemitraan di Kabupaten Jember Endah Kurnia Lestari; Akhmad Fauzi; M. Parulian Hutagaol; Aceng Hidayat
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v7n2.2015.79-89

Abstract

Program kredit tebu rakyat melalui kemitraan terutama upaya untuk meningkatkan produksi tebu dengan penyediaan kredit untuk sarana produksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keuntungan pro-duksi tebu rakyat dengan bantuan kredit dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan produksi tebu. Penelitian ini menggunakan data selama satu musim tanam 2013/2014. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive, dengan kriteria (1) petani tebu rakyat yang memperoleh kredit KKP-E; (2) luasan lahan >1,0 ha dan jumlah sampel ditentukan secara quota sampling sebanyak 30 orang. Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data produksi dan pendapatan petani, didukung dengan data sekunder. Statistik deskriptif seperti rata-rata, standar deviasi, nilai minimum, dan maksimum digunakan dalam analisis data. Analisis benefit dan cost digunakan untuk menghitung keuntungan, sementara analisis regresi linier berganda digunakan dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keuntungan rata-rata per hektar sebesar Rp12.400.000,00. Variabel luas lahan, rendemen, umur, pendidikan, biaya pupuk per hektar, dan biaya tenaga kerja per hektar secara signifikan (p<0,01) mempengaruhi keuntungan petani tebu rakyat kredit di daerah penelitian. Hal ini memberikan gambaran bahwa petani tebu yang mengakses kredit KKP-E untuk pinjaman permodalan dalam usaha tani berupa sarana produksinya dapat meningkatkan produksi dan berdampak terhadap keuntungan produksi tebu per hektar. Financial aid for smallholder sugarcane farmers through partnership program is mainly for production means.  This research is aimed to determine the farmers’ profit of one hectare sugarcane production and to explain factors that affect the profit.  This study used data of 2013/2014 sugarcane planting season.  Samplings were taken purposively with criteria: (1) the farmers received KKP-E credit scheme, (2) the land ownership was >1.0 ha, and the number of samples were determined using quota sampling for 30 farmers. Structured questioners were used to collect data on production and income of the farmers, which were also supported by secondary data. Description statistics such as means, standard deviation, minimum, and maximum values were used for data analyses.  Benefit and cost analysis were used to calculate the profits, while the multiple linear regression analysis is used to identify the factors that affect the profit per hectare. The results showed that favorable circumstances with the average profit per hectare were Rp12,400,000.00. The variables: land area, yield, farmers’ age and education, the cost of fertilizer and labor per hectare affected significantly (p<0.01) to the farmers profit. This study showed that farmers who have access to KKP-E credit scheme for loan capital in the form of farm production facilities could increase production and had impact on profit.

Page 1 of 1 | Total Record : 5