cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2017): April 2017" : 5 Documents clear
Pengaruh Pupuk Majemuk Berbentuk Granul dan Briket Terhadap Pertumbuhan, Produktivitas, dan Rendemen Tebu Supriyadi Supriyadi; Nunik Eka Diana; Djumali Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n1.2017.34-41

Abstract

Program intensifikasi tebu dalam rangka meningkatkan produksi dan hablur dapat dilakukan dengan penambahan hara tanah melalui aplikasi pupuk.  Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas  pupuk majemuk NPK (22% N:12% P2O5:12% K2O) berbentuk granul dan briket terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan rendemen tebu.  Penelitian dilakukan pada bulan November 2012-Oktober 2013 di Kebun Percobaan  Kalipare, Kabupaten Malang. Perlakuan meliputi (1) 600 kg/ha NPK granul (G1), (2) 700 kg/ha NPK granul (G2), (3) 800 kg/ha NPK granul (G3), (4) 1.000 kg/ha NPK granul (G4), (5)  600 kg/ha NPK granul (G5) + 300 kg/ha Ammonium Sulfat (AS), (6) 700 kg/ha NPK granul (G6) + 300 kg/ha AS, (7) 800 kg/ha NPK granul (G7) + 300 kg/ha AS, (8) 1.000 kg/ha NPK granul (G8) + 300 kg/ha AS, (9) 600 kg/ha NPK briket (B1), (10) 700 kg/ha NPK briket (B2), (11) 800 kg/ha NPK briket (B3), (12) 1000 kg/ha NPK briket (B4), (13) 600 kg/ha NPK briket (B5) + 300 kg/ha AS, (14) 700 kg/ha NPK briket (B6) + 300 kg/ha AS, (15) 800 kg/ha NPK briket (B7) + 300 kg/ha AS, (16)  1.000 kg/ha NPK briket (B8) + 300 kg/ha AS, (17) 600 kg/ha (N15, P15, K15) + 500 kg/ha AS (pembanding/aplikasi petani). Rancangan disusun secara acak kelompok dan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B8,  B6, B7, dan G8 menghasilkan pertumbuhan, produktivitas, rendemen, dan hasil hablur lebih tinggi dibanding dengan pembandingnya. Perlakuan B6 paling efisien dalam meningkatkan produktivitas (22,29 ton/ha), hasil hablur (2,03 ton/ha) dan keuntungan (Rp11.013.120,00/ha).The Influence of Granular and Briquette Compound Fertilizers on Growth, Productivity,and Sugar Content of SugarcaneIntensification program of sugarcane in order to increase production and sugar crystal can be done with the addition of soil nutrient through fertilizer application. This study aims to evaluate the effectiveness of NPK compound fertilizer (22% N:12% P2O5:12% K2O) in the form of granular and briquettes to growth, productivity, and sugar content. The research was conducted on November 2012–October 2013 at Kalipare Experiment Station, Malang. The treatments include (1) 600 kg/ha granule NPK (G1), (2) 700 kg/ha granule NPK (G2), (3) 800 kg/ha granule NPK (G3), (4) 1,000 kg/ha NPK granule (G6) + 300 kg/ha NPK granule (G5) + 300 kg/ha Ammonium Sulphate (US), (6) 700 kg/ha NPK granule (G6) + 300 kg / ha US, (7) 800 kg / ha NPK granule (G7) + 300 kg / ha US, (8) 1,000 kg / ha granule NPK (G8) + 300 kg/ha US, (9) 600 kg/ha NPK briquettes (B1), (10) 700 kg/ha NPK briquettes (B3), (12) 1.000 kg/ha NPK briquettes (B4), (13) 600 kg/ha NPK briquettes (B5) + 300 kg/ha US, (14) 700 kg/ha NPK briquette (B6) + 300 kg/ha US, (15) 800 kg/ha NPK briquette (B7) + 300 kg/ha US, (16) 1,000 kg/ha NPK briquettes (B8) + 300 kg/ha US, (17) 600 kg/ha (N15, P15, K15) + 500 kg/ha AS (famer’s application). The experiment was arranged design in randomized block design and repeated three times. The results showed that treatments B8, B6, B7, and G8 resulted in higher growth, productivity, and sugar production compared to farmer’s application. The treatment of B6 is the most efficient in increasing productivity (22.29 ton/ha), sugar production (2.03 ton/ha), and net profit (Rp11,013,120/ha).
Keragaan Karakter Morfologi, Stomata, dan Klorofil Enam Varietas Tembakau Lokal Tulungagung Fatkhur Rochman; Ruly Hamida
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n1.2017.15-22

Abstract

Tembakau lokal tulungagung merupakan salah satu jenis tembakau yang  memiliki peran penting dalam industri rokok kretek di Indonesia. Beberapa varietas tembakau telah banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Tulungagung, tetapi tingkat heterogenitas tanaman cukup tinggi, baik secara morfologi maupun anatomi. Stomata merupakan salah satu bagian struktur daun yang sering digunakan dalam klasifikasi taksonomi sehingga informasi keragaman sifat morfologi, stomata dan kadar klorofil dapat dimanfaatkan pemulia tanaman untuk melakukan perakitan varietas baru dengan produktivitas sesuai dengan kebutuhan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari keragaan sifat morfologi, stomata, dan kadar klorofil serta produktivitas tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, pada bulan April sampai Oktober 2015.  Bahan penelitian terdiri atas 6 varietas tembakau yang sudah lama berkembang di Tulungagung, yaitu varietas Rejeb Arang, Rejeb Kerep, Gagang Sidi, Gagang Jembrak, Gagang Ijo, dan Rejeb Jae. Tiap-tiap varietas ditanam pada petak berukuran 12 m x 4,50 m dengan jarak tanam 60 cm x 90 cm (100 tanaman/petak).  Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 varietas tembakau yang diteliti mempunyai bentuk morfologi yang beragam. Varietas Rejeb arang memiliki nilai tertinggi pada karakter tinggi tanaman, jumlah daun, dan pajang daun, sehingga dapat menunjang produktivitas tanaman.  Tipe stomata Rejeb Arang adalah Amphibraci-parasitik, Rejeb Kereb dan Gagang Jae Diasitik, Gagang Sidi dan Gagang Ijo bertipe Anisositik sedangkan Gagang Jembrak bertipe Laerositik.  Kerapatan stomata tertinggi pada Gagang Jae (44,87/mm2) dan kadar klorofil tertinggi pada varietas Rejeb Arang (34,85 unit).Performance of Morphological, Stomata, and Chlorophyll Characters of Six Tulungagung Local Tobacco Variety Tulungagung tobacco is one type of tobacco that has an important role in the cigarette industry in Indonesia. Some varieties of tobacco have been cultivated in Tulungagung, but the heterogeneity degree of the plant is quite high, so that the information of diversity of morphology, stomata and chlorophyll can be utilized to carry out the assembly of new varieties with productivity in accordance to customer needs. The aim of research is study  the morphological properties, stomata, chlorophyll content, and crop productivity. This research was conducted in the village of Kendalbulur, District Boyolangu, Tulungagung, from April to October 2015. The research material consisted of six varieties of tobacco has long been developing in Tulungagung, ie Rejeb Arang, Rejeb Kerep, Gagang Sidi, Gagang Jembrak, Gagang Ijo, and Rejeb Jae. Each variety was grown on plots sized 12 m x 4.50 m with plant spacing of 60 cm x 90 cm (100 plants/plot). This study used a randomized complete block design with three replications. The results showed that six varieties of tobacco studied have varying morphology. Varieties Rejeb charcoal has the highest value on plant height, leaf number, and leaf length, so that could support the productivity of the plant. Stomata type of Rejeb Arang is Amphibraci-parasitic, Rejeb Kereb and Rejeb Jae are Diasitic, Gagang Sidi and Gadang Ijo are Anisositic; Gagang Jembrak is Laerositik. The highest chlorophyll content was in Rejeb Arang varieties (34.85 units).
Efektivitas Vaksin Carna-5 (Cucumber Mosaic Virus Associated RNA-5) terhadap Infeksi Cucumber Mosaic Virus (CMV) pada Tanaman Tembakau Cerutu (Nicotiana tabacum L.) Cece Suhara; Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n1.2017.24-34

Abstract

Penyakit Mosaik yang disebabkan oleh Cucumber Mosaic Virus (CMV) menimbulkan kerugian baik produksi maupun kualitas daun tembakau. Pengendalian virus secara kimiawi sampai saat ini belum dapat dilaksanakan, kecuali pengendalian serangga vektornya.  Salah satu alternatifnya adalah penggunaan satelit CMV (Carna-5) sebagai pengendali hayati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas Carna-5 dalam menghambat perkembangan CMV pada tembakau cerutu. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) pada bulan Juni–November tahun 2011. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial diulang tiga kali. Perlakuan terdiri atas Faktor I: Cara aplikasi vaksin (A1 : menggunakan kompresor dan sprayer; A2 : menggunakan sprayer otomatis). Faktor II: 6 konsentrasi vaksin , yaitu (1) D1 : Tanpa vaksin tanpa diinokulasi CMV; (2) D2 : Tanpa divaksin + inokulasi CMV; (3) D3 : divaksin dengan Carna-5 10% tanpa inokulasi CMV; (4) D4 : 5 divaksin dengan Carna-5 5% + inokulasi CMV (5) D5 : divaksin dengan Carna-5 10% + inokulasi CMV, dan (6) D6 : divaksin dengan Carna-5 15% + inokulasi CMV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara aplikasi vaksin Carna-5 tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan.  Vaksin Carna-5 tidak mem-pengaruhi pertumbuhan tanaman, namun mampu menurunkan tingkat kejadian maupun keparahan penyakit.  Daya hambat tertinggi (64,69%) terhadap perkembangan CMV diperoleh pada perlakuan D6.  Effectiveness of Carna-5 (Cucumber MosaicVirus Associate RNA-5 ) Vaccine on Cucumber Mosaic Virus(CMV) on Cigar Tobacco (Nicotiana tabacum L.)Mosaic disease caused by Cucumber Mosaic Virus (CMV) causes losses in tobacco leaf production and quality. Chemical method vaccine to control CMV. The study has been conducted in Field Experimental Station for Phytopathology of  Indonesian Sweetener and Fibre Crops Research Institute from June–November 2011. There were two factors arranged in Factorial Completely randomized with three replicates.  First factor was vaccine aplication method, ie: A1 : Using a compressor and sprayer; A2 : Using an automatic sprayer.  The second factor is six levels of vaccine concentration ie.: (1) D1 : without vaccine + plant was not inoculated by CMV; (2) D2 : without vaccine and plant was inoculated by CMV; (3) D3 : vaccinated with 10% Carna-5 + plant was not inoculated by CMV; (4) D4 : vaccinated with 5% Carna-5 + plant was inoculated by CMV; (5) D5 : vaccinated with 10% Carna-5 + plant was inoculated by CMV; dan (6) D6 : vaccinated with 15% + plant was inoculated by CMV.  Results showed that application methods of Carna-5 did not significantly affect all parameter of observations. Carna-5 did not affect the growth of tobacco plant, but suppressed disease incidence and disease severity caused by CMV.  Concentration of 15% was also gave highest productive leaf. The highest inhibition (64,69%) was caused by vaccine 15 g/100 ml BF.
Pengaruh Komposisi Media Terhadap Induksi Tunas dan Akar Lima Genotipe Tanaman Agave Pada Kultur In Vitro Aprilia Ridhawati; Tantri Dyah Ayu Anggraeni; Rully Dyah Purwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n1.2017.1-9

Abstract

Agave (Agave sisalana Perrine) merupakan tanaman penghasil serat alam. Pengembangan agave terkendala penyediaan bahan tanam bermutu. Teknik kultur jaringan dapat menghasilkan benih agave dalam jumlah banyak dengan kualitas yang seragam. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan komposisi media terbaik dalam induksi tunas dan akar lima genotipe agave pada kultur in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balittas dari bulan Juli 2015 sampai Juni 2016. Sumber eksplan adalah tunas aseptik agave genotipe Balittas 10, Balittas 12, Balittas 13, Balittas 14, dan H-11648 dari kultur in vitro. Rancangan penelitian yang digunakan rancangan acak lengkap faktorial (dua faktor, tiga ulangan). Faktor I adalah komposisi media dan faktor II adalah genotipe. Komposisi media induksi tunas: M1 (MS + BAP 0,5 mg/l + IBA 0,5 mg/l); M2 (MS + BAP 1 mg/l + IBA 0,5 mg/l), dan M3 (MS + BAP 1,5 mg/l + IBA 0,5 mg/l). Komposisi media perakaran: M1 (MS + arang aktif 2 g/l); M2 (MS + arang aktif 2 g/l + IBA 0,5 mg/l); M3 (MS + arang aktif 2 g/l + IBA 1 g/l); M4 (MS + arang aktif 2 g/l + NAA 0,5 mg/l), dan M5 (MS + arang aktif 2 g/l + NAA 1 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan komposisi media induksi tunas menghasilkan jumlah tunas (1,09–1,33) dan kecepatan induksi (4 minngu) yang tidak berbeda nyata. Komposisi media induksi akar yang terbaik adalah media M4 (MS + arang aktif 2 g/l + NAA 0,5 mg/l) dengan jumlah akar 4,53. Genotipe Balittas 14 menghasilkan jumlah tunas dan jumlah akar yang paling tinggi dibandingkan genotipe lain (1,56 tunas dan 4,59 akar). The Effect of Media Composition on The Induction of Shoot and Roots and of Five Agave Clones on In Vitro CultureAgave (Agave sisalana Perrine) is a plant that producenaturalfibre. Agave cultivation for commercial use is still limited by the availability of good plant materials. In vitro culture technique can produce  a large amount of plant material with same quality in relatively short time. The study aimed to obtain a suitable medium composition for in vitro shoot multiplication and root induction for five agave genotypes. The experiment was conducted from July 2015 to June 2016 in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Sweetener and Fibre Crops Research Institute. Explant source derived from aseptic shoot of agave genotypesBalittas 10, 12, 13, 14, andH-11648 in in vitro ISFCRI germplasm collection. The experiment was arranged in factorial complete random design (two factors: media composition, genotype, and  three replication). Shoot induction media: M1 (MS + BAP 0.5 mg/l + IBA 0.5 mg/l); M2 (MS + BAP 1 mg/l + IBA 0.5 mg/l);and M3 (MS + BAP 1.5 mg/l + IBA 0.5 mg/l). Root induction media: M1 (MS + active carbon(AC) 2 g/l); M2 (MS + AC2 g/l + IBA 0,5 mg/l); M3 (MS + AC 2 g/l + IBA 1 g/l); M4 (MS + AC 2 g/l + NAA 0,5 mg/l);and M5 (MS + AC 2 g/l + NAA 1 mg/l). The results showed that the shoot induction media compositions were not differ significantly on shoot numbers (1.09–1.33) and time for shoot induction (4 weeks). The best composition medium of root induction was M4 (MS + AC 2 g/l + NAA 0.5 mg/l), that yielded 4.53 root numbers. Balittas 14 genotype yielded the highest shoot and root numbers (1,56 shoot numbers and 4.59 root numbers).
N2O Emissions from Rainfed Sugarcane Plantation Anggri Hervani; Rina Kartikawati; Miranti Ariani; Prihasto Setyanto
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 9, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v9n1.2017.10-14

Abstract

Expansion of sugarcane areal to support enhancement production and fulfilment target of self-sufficiency for national sugar should be conducted to see environment impact, particularly related to greenhouse gases emission. The objective of this study was to figure out N2O emission from conventional sugarcane plantation by farmer in rainfed area. The observation of N2O gas was carried out in sugarcane plantation in Sidomukti Village, Jaken District, Pati, Central Java. Sampling of N2O gas was conducted by close chamber method. The study showed that maximum fluxes of sugarcane plantation before and after fertilizer application are 4.011 and 223 µg N2O m-2 day-1. Meanwhile, after fertilizer application the maximum and minimum fluxes of N2O are 6.408 and 25 µg N2O m -2 day-1. N2O emission from sugarcane plantation recorded in rainfed area as 4.21 ± 2.53 kg N2O ha-1 year-1 with potential of global warming number as 1.31 ton CO2-e per hectar per year.Emisi N2O dari Pertanaman Tebu di Lahan Tadah HujanPerluasan areal tanam tebu untuk mendukung peningkatan produksi dan pemenuhan target swasembada gula nasional sudah dianggap perlu untuk melihat dampak lingkungan khususnya mengenai evaluasi emisi gas rumah kaca dari pertanaman tebu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui emisi gas N2O dari sistem pertanaman tebu secara konvensional petani di lahan tadah hujan. Pengamatan gas N2O dilakukan pada lahan perkebunan tebu di desa Sidomukti Kecamatan Jaken Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Pengambilan sampel N2O menggunakan metode sungkup tertutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks maksimum pada pertanaman tebu sebelum pemupukan sebesar 4,011 µg N2O m -2 hari-1 dan fluks minimum sebesar 223 µg N2O m -2 hari-1, sedangkan fluks maksimum setelah pemupukan sebesar 6,408 µg N2O m -2 hari-1 dan fluks minimum sebesar 25 µg N2O m -2 hari-1. Emisi N2O pertanaman tebu sebesar 4.21 ± 2.53 kg N2O ha-1tahun-1 dengan nilai potensi pemanasan global sebesar 1.31 ton CO2-e per hektar per tahun.

Page 1 of 1 | Total Record : 5