cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006" : 5 Documents clear
Pemupukan Rasional dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Kapas FITRININGDYAH TRI KADARWATI
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKPemupukan merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan dalam budidaya kapas karena kondisi lahan yang diperuntukkan tanaman kapas biasanya tidak subur bahkan cenderung marginal. Konsep pemupukan berimbang yang dipopulerkan tahun 1987 merupakan   upaya   untuk   menentukan   kebutuhan pupuk  dengan tepat. Pendekatan tersebut sebenarnya baik, tetapi dengan berjalannya waktu, konsep tersebut banyak   disalahartikan   menjadi   pemupukan   yang lengkap  jenisnya  dengan  jumlah  tertentu  sehingga dalam prakteknya sering berlebihan unsur tertentu dan ada  unsur lain yang tidak dipenuhi. Upaya untuk menentukan    pemupukan    yang    tepat    agar produktivitas tanaman tetap optimal dan pemborosan pupuk   dapat   dihindari,   diperkenalkan   konsep pemupukan   rasional.   Pemupukan   rasional   adalah memberikan   jenis   hara   yang   kurang   melalui pemupukan  dalam  dosis  yang    sesuai    dengan kebutuhan  tanaman dan  sesuai  dengan kemampuan tanah   menyediakan   unsur   hara   bagi   tanaman. Rekomendasi   pemupukan   kapas   pada   awalnya didekati melalui  percobaan-percobaan pemupukan lapang di lokasi pengembangan kapas yang hasilnya bersifat sangat spesifik sehingga kurang tepat untuk diekstrapolasikan. Dengan selalu berpindah-pindahnya lokasi pengembangan kapas maka metode tersebut menjadi kurang relevan.  Status hara tanah yang   diperoleh   dari   hasil   analisis   tanah,   dapat menggambarkan tingkat kemampuan tanah menyediakan hara  sehingga  dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan pupuk tanaman kapas yang rasional. Pemupukan rasional pada kapas adalah  untuk Nitrogen berdasarkan kadar  N-NO3tanah   dengan   batas   kritis20-25 ppm, untuk pemupukan P berdasarkan P tersedia dalam tanah (P-Olsen) dengan batas kritis 20 ppm P, sedangkan untuk pemupukan K berdasarkan pada K tersedia dalam tanah (K-dd) dengan batas kritis 150 ppm K.  Pupuk kandang, bokashi dan limbah pabrik (sipramin) dapat digunakan  sebagai  pupuk  organik  alternatif  pada tanaman kapas dan dapat meningkatkan kesuburan tanah.Kata Kunci: Kapas, Gossypium hirsutum, pemupukan, analisis tanah, pupuk anorganik,  pupuk organik ABSTRACT Rational fertilization to increase Cotton productivityAs cotton is mainly grown on marginal land or less fertile soil, farmers need to apply fertilizer. Balanced fertilization   principle   was   initiated   in 1987   and adopted as a method  to determine the dosage of fertilization.  In fact, this methode tends to exessive use in a certain element and less for others.  Rational use in fertilizer  is  needed  to  avoid  the  exessive  use  of fertilizer. This principle implies that it is necessary to supply nutrient based on crop nutrient requirement and soil’s ability to supply nutrients. Recommendation on   fertilization   is   determined   through   several experiments on different sites which is difficult to be extrapolated to other sites. This recommendation is no longer used as cotton areas did not  concentrate in a certaint part for a long period of time.  Nutrient condition in the soil indicates the status of soil fertility that   can   be   used   for   determination   of   nutrien requirement. Rational use in Nitrogen for cotton is determined based on Soil N-NO3  with critical level 20-25 ppm, critical level for soil phosphorus is ppm P; and critical  level  for  soil  potassium 150  is    K.    The application  of  farm  manure,  bokashi,  and  sugar industry waste could increase soil fertility and cotton production.Key Words: Cotton, Gossypium hirsutum, fertilization, soil analysis, unorganic fertilizer, organicfertilizer.
Upaya Pengendalian Hama Sexava spp. Secara Terpadu MICHELLIA DARWIS
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKSexava   spp  (Orthoptera:  Tettigonidae)  terdiri  dari beberapa   spesies,   merupakan   hama   utama   pada tanaman   kelapa.   Serangan   berat   hama   Sexava menyebabkan  pelepah  daun  menjadi  gundul  dan mematikan kelapa. Masalah hama Sexava spp kembali menarik perhatian melalui berita di media masa yang menyatakan   outbreak   serangan   Sexava   spp   pada Triwulan I tahun 2004  menimbulkan 13.000 ha areal kelapa   rusak   berat   di   Kabupaten   Sangihe   dan Kabupaten  Talaud.  Produktivitas  kelapa  menurun drastis 50%   lebih   dengan   rataan 0,4 -0,5   ton kopra/ha/th.  Teknologi pengendalian sudah cukup tersedia,  dan  secara  teoritis  peluang  hidup  hama Sexava spp hanya 14%, sisanya 86% sudah terkendali dengan   sendirinya.   Masih   terjadinya   outbreak serangan hama Sexava spp memberi gambaran bahwa keseimbangan   padat   populasi   dengan   berbagai komponen   pengendalian   belum   dapat   mengatasi serangan Sexava spp. Komponen pengendalian yang dapat   dilakukan   adalah   kultur   teknis,   mekanis, penggunaan   tanaman   sela,   pemanfaatan   agensia hayati, peraturan karantina, dan insektisida. Upaya pengendalian yang relatif baru dikembangkan adalah pemanfaatan agensia hayati cendawan entomophatogen ‘’Metabron’’ (Metarrhizium yang diisolasi dari Brontispa). Salah satu keuntungan agensia hayati adalah  dapat  berkembang  biak  dengan  sendirinya, persisten  dalam  waktu  yang  lama  pada  keadaan lingkungan yang kondusif. Diharapkan peranannya bukan hanya sebagai ‘’biological control’’ tetapi juga menjadi senjata biologi atau ‘’biological weapons’’, yang dapat   mencegah   outbreak   serangan Sexava  spp. Tingkat mortalitas yang disebabkan oleh Metabron sangat tinggi, dengan konsentrasi 5 x 105 konidia/µl efektif menyebabkan mortalitas sebesar 90,25% nimfa, dan   86,26% imago Sexava spp. Dalam upaya pengendalian hama Sexava spp, sebaiknya memanfaatkan semua komponen teknologi yang tersedia dan mengacu  pada  sistem  pengendalian hama  secara terpadu. Hasil kerja sama Balitka dengan COGENT, tiga  komponen teknologi yaitu; pemanfaatan benih unggul,   diversifikasi   produk, serta   pemanfaatan tanaman   sela   dan   ternak,  dapat meningkatkan pendapatan  dan  kesejahteraan  petani.  Untuk  mencegah outbreak hama Sexava spp., ketiga  komponen pengendalian  tersebut  dapat  diintegrasikan  dengan komponen pengendalian lainnya yang sudah tersedia, melalui  kerjasama dengan instansi lainnya.Kata Kunci: Kelapa, Cocos nucifera, hama, Sexava spp, outbreak, pengendalian terpadu. ABSTRACTControlling Sexava spp through integrated pest managementSexava spp consists of several species, is a major pest of coconut palm. Heavy infestation of this pest may cause serious damage on coconut leaves, and may kill the trees. It was reported that in the districts of Sangihe and Talaud, North Sulawesi, on the first quarter of 2004, approximately 13.000 ha of coconut farms were seriously attacked by Sexava spp. The productivity of small holders coconut farm decreased up to 0.4 - 0.5 ton  copra/ha/year.  Several  programs  to  control Sexava  were  carried out and the technology to control Sexava is available. Theoritically the life probability of Sexava spp  is only 14%, approximately 86% can be controlled automatically. To control Sexava spp., six methods have been introduced, namely : cultivation technology,    mechanical    system,    intercropping, biological control, quarantine system and insecticide application. The newest inovation on biological control was    using    entomophatogen    fungus    called; ‘’Metabron’’ (Metarrhizium isolated from Bronstispa). It is effective to control Sexava spp on coconut. One of the benefits   of   this   biological   agent   was   it   could automatically   and   continuously   grow   in   a   long periode,   in   a   good   treatment   and   condusive circumstance. Hopefully, the role of  Metabron was not only  as  biological  control,  but  also  as  biological weapon against Sexava spp pest. The mortality caused by Metabron was very high. At the concentration of 5 X 105  conidium/µl, effective  it was effective to cause 90,25% nymph mortality and 86,25% imago mortality. On the program of Sexava spp management all of technology   components   should   be   practiced   and suitable with integrated pest management system. In the joint program between Coconut Research Institute and  COGENT,  three  component  technologies  were applied, namely the use of resistant variety, product diversification, and intercrops plus animal husbandry. It was found that the treatments were able to increase farmers’ income and prosperity significantly. To solve the problem of Sexava spp in small holder coconut farms in Sangihe and Talaud, those three components should   be   integrated   with   other   components mentioned above. The intensive coordination amongst related institutions  are needed to make the program effetive and useful.Key Word: Coconut, Cocos nucifera L., pest,  Sexava spp, outbreak, integrated pest management.
Identifikasi Faktor Penyebab Lambannya Alih Teknologi Pada Usahatani Tembakau Virginia di Kabupaten Bojonegoro MUKANI MUKANI
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKAlih teknologi  merupakan tolok ukur keberhasilan suatu   lembaga   penelitian.   Karena   alih   teknologi mencerminkan  manfaat  keberadaan  suatu  lembaga penelitian dan sekaligus dapat memperoleh umpan balik   dari   pengguna   untuk   perbaikan   teknologi. Teknologi tembakau virginia Bojonegoro mulai dari teknologi  benih  sampai  dengan  pasca  panen  telah tersedia. Penerapan teknologi anjuran pada program Intensifikasi   Tembakau   Virginia                 (ITV) mampu meningkatkan produksi 2.529 kg/ha dan pendapatan Rp 260.297/ha. Demikian juga penelitian penerapan di lahan petani dapat meningkatkan produksi sebesar 932 kg   diikuti   kenaikan   pendapatan   sebesar   Rp 205.588/ha. Namun demikian alih teknologi masih lamban,   karena   teknologi   tersebut   tidak   mampu mengurangi   resiko   kegagalan   yang   disebabkan kelebihan air maupun kekeringan. Sebagian besar areal tembakau virginia adalah sawah tadah hujan. Peluang kegagalan   karena   kekurangan   dan   kelebihan   air masing-masing 37% dan 42%. Pengembalian jerami padi   sebagai   mulsa   tanaman   tembakau   memberi harapan untuk mengurangi resiko kegagalan.Kata kunci : Tembakau, Nicotiana tabacum, usahatani, tembakau virginia, alih teknologi, JawaTimur. ABSTRACTIdentification of Factors Affecting Slow Technology Transfer of Virginia Tobacco Farming in Bojonegoro DistrictTransfer of technology represents an indicator of the success of a research institute. Because it can express the benefit of the research institute and at the same time it can give feed back from the consumers to the research  institute  to  improve  the  technology.  The technology of virginia tobacco of  Bojonegoro from seeds to post harvest are available. Application of recommended technology at Intensification of Virginia Tobacco program could increase the tobacco product and  earnings  per  ha  each  of 2.529  kg  and  Rp 260.297/ha. And so do the application of research technology on farmer farm could increase the tobacco product equal to 932 kg/ha  followed by the increase of earnings equal to Rp 205.588/ha. However, the transfer of technology was still  low, because it could not reduce the failure due to dryness and excessive water. Returning dried rice stalks as the mulch for tobacco plantation was promising to lessen the risk.Key words : Tobacco, Nicotiana tabacum, technology transfer, farming, virginia tobacco, East Java.
Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama NURINDAH NURINDAH
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKPengelolaan agroekosistem dalam pengendalian hama, merupakan salah satu metode dalam Pengendalian Hama   Terpadu (PHT)   yang   diterapkan   dengan pendekatan ekologi.  Penerapan metode ini dilakukan setelah   dipahami   faktor-faktor   penyebab   suatu agroekosistem menjadi rentan terhadap eksplosi hama, dan   dikembangkan   metode-metode   yang   dapat meningkatkan   ketahanan   agroekosistem   tersebut terhadap   eksplosi   hama.   Prinsip   utama   dalam pengelolaan agroekosistem untuk pengendalian hama adalah menciptakan keseimbangan antara herbivora dan musuh alaminya melalui peningkatan keragaman hayati. Peningkatan keragaman vegetasi dan penambahan biomassa, dapat meningkatkan keragam-an hayati dalam suatu agroekosistem.  Peningkatan keragaman  vegetasi  dilakukan  melalui  pola  tanam polikultur   dengan   pengaturan   agronomis   yang optimal.  Penambahan  biomassa  dilakukan  dengan mengaplikasikan mulsa, penambahan pupuk hijau dan pupuk kandang.  Kedua metode ini ditujukan untuk mendapatkan produktivitas lahan yang optimal dan berkelanjutan.Kata kunci: Kapas, Gossypium hyrsutum, Pengendalian Hama Terpadu, pengelolaan agro-ekosistem, keragaman hayati. ABSTRACTAgroecosystem management for Pest ControlAgroecosystem  management  is  an  Integrated  Pest Management (IPM) with ecological approaches.  This method can be applied when the factors that make the agro ecosystem become vulnerable to pest outbreak are known. The main  agroecosystem management for pest management is to create the balance between herbivores and their natural enemies by increasing biodiversity, enhancing vegetations and biomasses. Increasing  vegetation diversity can be done by adopting poly culture systems, optimizing agronomic arrangements.  Increasing biomasses can be done by applying mulch, green manures, and cattle manures. Both  methods  are  aimed  to  obtain  optimal  land productivity and sustainability.Key words: Cotton,  Gossypium hirsutum, Integrated Pest Management, agroecosystem management,  biodiversity
Pengelolaan Ekosistem Untuk Pengendalian Hama Lada LABA, I WAYAN; TRISAWA, IWA MARA
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKHama merupakan salah satu kendala produksi lada di Indonesia.  Serangan hama terjadi sejak tanaman masih di pembibitan hingga produktif di lapangan.  Hama menyerang   berbagai   bagian   tanaman   antara   lain bunga, buah, pucuk, cabang, dan batang. Di Indonesia dikenal tiga hama yang menyerang pertanaman lada yaitu  penggerek batang (Lophobaris piperis Marsh.), pengisap buah (Dasynus piperis China) dan pengisap bunga (Diconocoris hewetti (Dist.)).  Populasi penggerek batang selalu ada di lapangan pada berbagai stadia (telur, larva, pupa, dan dewasa), sedangkan pengisap bunga dan buah populasinya  ditemukan pada musim bunga  dan  buah.  Pengendalian  hama  lada  pada umumnya petani menggunakan insektisida sintetik. Alternatif   lain   yang   dapat   digunakan   untuk mengendalikan   hama   lada   adalah   pengelolaan ekosistem, sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan musuh alami antara lain parasitoid. Untuk meningkatkan  populasi  parasitoid  dapat  dilakukan konservasi   musuh   alami   melalui   tanaman   sela, tanaman  penutup  tanah  atau  penyiangan  terbatas. Tanaman  sela  yang  dapat  digunakan  antara  lain Arachis sp.,  Orthosiphon sp. Ocimum sp. dan  Coffea sp.Kata kunci: Lada, Piper nigrum, hama, bioekologi, pengendalian, ekosistem ABSTRACTEcosystem Management for Controlling Black Pepper PestPest is one of the obstacles of black pepper production in Indonesia.  The pest attacks all parts of the plant such as inflorescens, fruits, shoots, branches and stems at nursery as well as in the field. In Indonesia black pepper was infested by 3 species of pests, namely stem borer,  Lophobaris  piperis  Marsh,  pepper  berry  bug, Dasynus piperis China and lace bug, Diconocoris hewetti (Dist.).  The population of stem borers always presents in the field with different stages (egg, larvae, pupa and adult), while lace bug and pepper berry bug are found in the field during flowering and fruit stages. Control of black pepper pests by farmers is usually using syntetic pesticide. Other alternative to manage black pepper  pest  namely  ecosystem  management  and natural enemy such as parasitoid.  To increase the natural enemy population can be done by natural enemie   conservation   through   cover   crops,   mix cropping and limited weeding. Arachis sp., Orthosiphon sp., Ocimum sp. and Coffea sp. plants can be used in cropping system with black pepper.Key Words: Black pepper, Piper nigrum, pest, bioecology, management, ecosystem

Page 1 of 1 | Total Record : 5