cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007" : 5 Documents clear
Potensi Pengembangan Budidaya Artemisia annua L. di Indonesia GUSMAINI GUSMAINI; HERA NURHAYATI
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKArtemisia terbukti efektif mengatasi penyakit malaria yang mulai kebal terhadap pil kina.  Artemisia berasal dari daerah sub tropis (iklim temprate), dan dapat tumbuh baik di daerah tropis. Peluang pengembangan artemisia di Indonesia cukup besar. Beberapa wilayah memiliki lingkungan tumbuh yang sesuai bagi pertumbuhan artemisia dan klon lambat berbunga yang cocok tumbuh di Indonesia juga tersedia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya artemisia di Indonesia agar produksi dan kadar artemisininnya tinggi antara lain: (1) pemilihan lokasi atau wilayah yang sesuai, (2) pemilihan bahan tanaman yang tepat,, dan (3) memanipulasi agronomik seperti  pemangkasan,  pemupukan  anorganik  dan organik, naungan, dan mikroba.Kata kunci: Artemisia annua L., budidaya, artemisinin, pengembangan. ABSTRACTPotency of Artemisia annua Development in IndonesiaArtemisia as medicinal plant was proven can cure malaria disease more effective than quinine pill. Artemisia is introducted plant from sub tropical area but it can grow well in tropical area.  The potency to develop Artemisia in Indonesia is big since some areas have suitable agro ecology for Artemisia’s growth and the availability of delayed flowering clones which gan grow well in Indonesia. To obtain high yield and also high artemisinin content, some factors need attention in cultivating Artemisia in Indonesia: (1) selected locat-ion suitable for its growth, (2) selected plant material, and (3) manipulated agro climate environment such as prunning, application of organic and inorganic fertilizer, shading, and microbe application.Keywords: Artemisinin annua L., cultivation, artemi-sinin, development,
Strategi Pengembangan Agribisnis Kelapa (Cocos nucifera) untuk Meningkatkan Pendapatan Petani di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau SABARMAN DAMANIK
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

RINGKASANPengembangan agribisnis kelapa berperanan penting untuk peningkatan produktivitas dan sekaligus peningkatkan pendapatan petani. Saat ini kelapa sangat berperan dalam perekonomian sebagai penyedia lapangan tenaga kerja, bahan baku industri dalam negeri dan konsumsi langsung. Meskipun demikian, kebanyakan usahatani kelapa tidak terkait langsung dengan industri pengolahan, industri hilir, serta   industri   jasa,   dan   keuangan.   Akibatnya agribisnis kelapa tidak berhasil mendistribusikan nilai tambah, sehingga tidak dapat meningkatkan pendapatan petani. Faktor-faktor yang menyebabkan tidak berkembangnya sistem agribisnis kelapa di Indragiri Hilir, antara lain adalah: (1) sebagian besar teknologi belum dapat digunakan petani, 2) kurangnya diversifikasi produk kelapa.Strategi pengembangan sistem agribisnis kelapa di Indragiri Hilir, Riau, harus dilakukan melalui: (1) diversifikasi produk melalui pemanfaatan tempurung,sabut dan lidi  serta  minyak  murni (VCO),  sehingga  dapat merubah permintaan menjadi elastis untuk meningkatkan daya serap pasar, (2) program promosi pasar di pasar dunia baik melalui lembaga promosi propinsi Riau, dan (3) pemberdayaan petani melalui kelembagaan yang sudah ada seperti kelompok tani, dan koperasi.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera, agribisnis, pendapatan petani, diversifikasi produk. ABSTRACTStrategy for Coconut Agribusiness Development to Increase Farmers’ Income in Indragiri Hilir Distric, Riau ProvinceDevelopment of coconut agribusiness is important in increasing farmers income and urgent to increasing productivity and farmers income. Coconut has an important role on the economy of Indonesia as an providing job opportunity, raw material of internal country industry, and direct consumption most of coconut  production  not  related  to  the  processing industry, downstream industry, as well as service institution. As the consequences, coconut agribusiness fails to distribute addad value, and is not able to increase farmers income. Some factors influence agribusiness system in Indragiri Hilir: (1) most of the technology could not be adopted by the farmes and (2) less coconut product diversification.The strategy to develop coconut agribusiness in Indragiri Hilir: (1) product diversification to increase market absorption capacity, (2) promotion program of marketing on the world market, through embassy and other institutions, and (3) making eficient use of farmers in the existing organization such as farmers group cooperativws.Key words: Coconut, Cocos nucifera, agribusiness, farmers income, product diversification.
Prospek dan Strategi Pengembangan Pala di Maluku SJAHRUL BUSTAMAN
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPala Banda (Myristica fragrans Houtt) adalah komoditas utama pada program revitalisasi perkebunan Provinsi Maluku dan merupakan tanaman asli daerah. Di tahun 2005 produksi pala rakyat 1998 ton pada luas lahan 1948 Ha, sedangkan perusahaan perkebunan menghasilkan 2357 ton dari luas areal 10.128 Ha, dengan harga biji pada kualitas terbaik Rp 30.000/kg dan fuli Rp 50.000/kg. Dari hasil kajian Agro Ekologi Zona (AEZ) Maluku, luas lahan   yang   masih   tersedia   untuk   pengembangan tanaman perkebunan termasuk pala sebesar 871.656 Ha yang tersebar pada lima kabupaten. Tanaman pala yang ada saat ini bibitnya berasal dari biji sehingga masalah sex ratio untuk menghasilkan buah masih ditemukan. Komposisi tanaman pala rakyat terdiri dari (1) Tanaman  Belum   Menghasilkan (TBM)   sebanyak 27,85%; (2) Tanaman  Menghasilkan  (TM)  44,74%  dan  Tanaman Tua/Rusak (TTR)27,40%. Dalam usaha pengembangan pala,  ketersediaan  teknologi  budidaya  tanaman  dan pasca panen telah ada  di Badan Litbang Pertanian, sedangkan dukungan dana dan kebijakan diharapkan dari  pemerintah  daerah  guna  memulihkan  kondisi tanaman. Di sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas, mutu biji dan fuli pala   melalui   kegiatan   ekstensifikasi,   intensifikasi, rehabilitasi, peremajaan, serta pengendalian hama dan penyakit pala. Sedangkan di sektor hilir, kebijakan lebih  diarahkan  kepada  peningkatan  nilai  tambah dalam   bentuk   hasil   olahan   untuk   industri   dan panganan.   Propinsi   Maluku   terdiri   dari   wilayah kepulauan,  sehingga  strategi  pengembangan  usaha pala untuk kegiatan agribisnis dibagi atas wilayah pengembangan I, II dan III.Kata kunci:  Pala,  Myristica  fragrant,  pengembangan, Maluku. ABSTRACTProspect and Development Strategy of Nutmeg Development In MalukuBanda’s Nutmeg (Myristica fragrant Houtt) is the main commodity of the estate crop revitalization program in Maluku Province, which is native to the region. In year 2005 the total area of the small holder nutmeg crop is about 1948 ha with the total production of about 1998 tons. While the total estate nutmeg crop covers about 10.128 ha with the total production of about 2357 tons. The price of nutmeg seed is about Rp 30.000 / kg and the price of fuli is Rp.50.000 /kg. According to the survey carried out by the BPTP Maluku, the total land which is still available for the development of estate crop including nutmeg is around 871.656 ha, spread over five Regencies (Kabupaten). The existing nutmeg plants is generally come from seedlings, therefore the sex ratio in producing nutmeg fruits is still a major constraint. The composition of small holder nutmeg plantation consists of; (i) Not yet producing (young plants) counts about 27,85% (ii) Productive plants of about 44,74% and (iii) Old plants of about 27,40%. Both cultivation and post harvest technology for nutmeg plantation are available in the Agency for Agriculture Research and Development (Badan Litbang Pertanian). The  regional  authority  should  be  convinced  the necessity of supporting plant rehabilitation in order to produce good quality nutmeg and in turn as the regional income source. In the cultivation sector, the policy is to increase productivity of fruit and fuli quality which is implemented through rehabilitation, intensification, replantation, pests and disease control. In the upstream sector, the policy is directed to improve the added value of post harvest in terms of products for industrial materials and food production. The province of Maluku consists of  several islands, therefore  the  strategy  of  the  nutmeg  agribusiness development is divided into  regional development I, II and III.Key words: Nutmeg, Myristica fragrans, development, Maluku
Kesiapan Teknologi Mendukung Pertanian Organik Tanaman Obat: Kasus Jahe (Zingiber Officinale Rosc.) ROSITA SMD
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

ABSTRAKPertanian organik semakin mendapat perhatian masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang, khususnya mereka yang sangat memperhatikan kualitas kesehatan, baik kesehatan manusia maupun lingkungan. Hal tersebut mengindikasikan adanya potensi pasar yang perlu dimanfaatkan  secara  optimal. Pertanian organik di Indonesia sampai saat ini belum  secara  maksimal direalisasikan, namun beberapa tanaman hortikultura seperti sayuran organik sudah mulai diproduksi dan dipasarkan di dalam negeri, meskipun masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Selain pasar domestik, pangsa pasar dunia akan produk organik setiap tahun terus meningkat, tidak saja untuk pangan tetapi juga produk kesehatan yang berbasis herbal. Jahe merupakan salah satu tanaman obat dengan pangsa pasar  cukup  menjanjikan,  terutama  untuk  tujuan ekspor sebagai bahan baku makanan dan minuman. Selain itu, sebagai salah satu bahan baku industri obat herbal, suplemen makanan dan minuman kesehatan, jahe yang dihasilkan melalui sistem pertanian organik, akan memberikan nilai tambah yang cukup signifikan. Oleh karena itu, kesiapan teknologi untuk mendukung produksi jahe organik perlu dikaji. Untuk menyiapkan teknologi  budidaya  pertanian  organik  jahe  harus diperhatikan unsur-unsur sebagai berikut : (a) sumber daya lahan, (b) benih, (c) pemupukan, (d) pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara terpadu, (e) zona pembatas, dan (f) pola tanam. Sedangkan unsur-unsur yang perlu difokuskan pemecahannya yaitu: a) ketersediaan benih jahe organik yang bermutu, b) teknologi pengendalian OPT, dan c) mencari pola tanam jahe dengan tanaman lain yang bersifat sinergis.Kata Kunci : Jahe, Zingiber officinale Rosc, teknologi, pertanian organik ABSTRACTTechnology to support organic farming on medicinal plant: Case of ginger (Zingiber officinale Rosc.)Interest on organic farming have been raised either within developed or developing countries, especiallyto whom it might has a concern on human being and enviroment healths. Those circumstances indicate that there are potential market to be exploited. Organic farming  in  Indonesia  had  not  been  appropriately implemented. However, some horticultural products such as organic vegetable have been produced and marketed locally, though in a limited numbers and volume.  Except  for  domestic  market,  increase  on demand for organic products in global market are arisen  within  years.  Those  included  the  organic products for food and neutraceutical. Ginger is one of medicinal crops with a good market demand, especially to be exported as a raw material for food and drink supplement industries. Instead for herbal medicine, food and drink supplement industries, the needs on  organic product of ginger would be significantly  arisen  its  economic  value.  Therefore, available technology supporting organic farming on ginger should be identify. Important factors to be concerned in organic farming on ginger are: (a) land use, (b) seeds, (c) fertilizers, (d) integrated control on pest and disease management, (e) buffer zone, and (f) cropping systems. Whereas the problems to be solved are: a) the availability of organic ginger seeds with high quality, b) technology on pest and disease control management, c) synergism cropping system within ginger and others crops.Key Words: Ginger, Zingiber officinale Rosc, technology, organic farming
Potensi Sektor Pertanian Sebagai Penghasil dan Pengguna Energi Terbarukan BAMBANG PRASTOWO
Perspektif Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v6n2.2007.%p

Abstract

RINGKASANPerkembangan kebutuhan energi dunia yang dinamis di tengah semakin terbatasnya cadangan energi fosil serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup, menyebabkan perhatian terhadap energi terbarukan semakin meningkat, terutama pada sumber-sumber energi terbarukan di sektor pertanian seperti komoditi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan. Secara lebih sempit lagi, diungkapkan komoditas-komoditas utamanya,  yaitu padi, jagung, ubikayu, kelapa, kelapa sawit, tebu, jarak pagar, sagu serta ternak besar (sapi/kotoran  sapi). Potensi bioenergi asal residu biomassa tanaman dari sektor  pertanian (tanpa  industri  kayu  kehutanan, jagung) adalah sekitar 441,1 juta GJ. Pada kondisi sama pada tahun 2000 diperhitungan sekitar 430 juta GJ, atau  sekitar 470 juta  GJ jika residu industri kayu dimasukkan.  Jika  diperhitungkan  tersedianya  bio-energi dari hasil pokok komoditas pertanian (nira, gula, minyaknya dll), maka diperkirakan Indonesia dapat menyediakan bioenergi secara potensial sejumlah 360,99 juta GJ, sehingga jumlah totalnya sekitar 802,09 juta GJ. Sebagai perbandingan,  nilai tersebut kira-kira setara dengan pengoperasian terus menerus lebih dari 25 ribu unit pembangkit listrik tenaga energi terbarukan skala menengah ukuran 10 MW yang saat ini sedang dikampanyekan. Sektor pertanian selain sebagai penghasil energi terbarukan sekaligus merupakan pengguna potensial. Perhitungan keseimbangan antara produksi dan penggunaan energi terbarukan di sektor pertanian,  perlu dikaji secara terus menerus, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang energi dan pertanian. Evaluasi ini akan  bermanfaat  untuk  menilai efisiensi kegiatan agribisnis di Indonesia dari segi peningkatan produktivitas pertanian nasional dan pelestarian lingkungan melalui energi terbarukan.Kata kunci: Pertanian, potensi, energi terbarukan, bio-energi. ABSTRACTPotency of Agrriculture Sector as the Producer and the User of Renewble EnergyDevelopment of a dynamic world energy consumption within the limitation of fossil energy reserve as well as the  awareness  on  the  environmental  conservation evoke the increase of interest on a renewable energy, especially   a   renewable   energy   resources   from agriculture sector such as food crops, horticulture, estate commodities and animal husbandry. To be more specific,  the  main  commodities  are  paddy,  maize, cassava, coconut, palm oil, sugarcane, Jatropha curcas, sago, and large livestock (Cow/Cow  waste). The potency of bio-energy derived from plant biomass residue of agriculture sector (without wood industry, maize) is around 441.1 GJ.  At the same condition, in 2000, it is estimated roughly 430 million GJ or just about 470 million GJ if the residue of wood industry is included.  Estimated that if the availability of bio-energy derived from the main production of agriculture commodity is calculated, so that Indonesia could  provide  bio-energy  potentially  amounted  to 360.99 million GJ, therefore, the total amount would be around 802.09 million GJ. In contrast, the value is approximately equal to the continuous operating of more than 25 thousand units of electric power of renewable energy power for middle scale of 10 MW which is now being campaign. Agriculture sector is not only plays the role as the producer of a renewable energy, but also forms as a potential user. Alongside technology development of energy and agriculture sectors, the equivalent estimation between the production and the usage of renewable energy in agricultural sector need to be studied continuously. This evaluation is useful to analyze the efficiency of agribusiness activities in Indonesia based on the improvement of national agriculture productivity and environmental conservation through renewable energy.Key words: Agriculture, potency, renewable energy, bioenergy

Page 1 of 1 | Total Record : 5