cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 98 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016)" : 98 Documents clear
ANALISIS KUAT GESER STRUKTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN LUBANG HOLLOW CORE PADA TENGAH PENAMPANG BALOK Pambudi, Aji Kukuh; Dewi, Sri Murni; Simatupang, Roland Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.06 KB)

Abstract

Balok yang dilubangi dan diberi styrofoam akan memiliki berat yang lebih ringan. Maka dari itu penelitian ini berfungsi untuk mendapatkan balok yang memiliki berat  yang  lebih  ringan  dari  yang  sewajarnya  yaitu  dengan  cara  memberi perlakuan  terhadap balok yang dilubangi secara horizontal pada badan  balok. Pengujian dilakukan untuk mencari beban maksimum yang dapat diterima oleh balok. Untuk mengukur berat sendiri digunakan timbangan berkapasitas maksimal 300 kg. Kemudian load shell berfungsi untuk mengetahui beban  maksimum  yang  terjadi.  Balok  beton  bertulang  normal  sebagai  balok kontrol memiliki berat volume sebesar 2038,7 kg/m3 dan mampu menahan beban maksimum   rata – rata sebesar   5725 kg. Pada balok beton bertulang dengan lubang  hollow core ukuran 5 x 10 x 60 cm memiliki berat volume sebesar 2000 kg/m3  dan mampu menahan beban   maksimum sebesar   rata – rata 5475   kg dengan persentase pengurangan pada berat volume terhadap balok kontrol sebesar 1,9 % dan persentase pengurangan kekuatan geser   sebesar 4,37 %. Pada balok beton bertulang dengan lubang hollow  core ukuran 7 x 10 x 60 cm dan 9 x 10 x 60 cm yang memiliki berat volume rata – rata masing-masing sebesar 1922,4 kg/m3  dan   1911,5 kg/m3. Balok ini mampu menahan beban maksimum   rata – rata sebesar 4800 kg untuk balok dengan lubang hollow core ukuran 7 x 10 x 60 cm dan 4850 kg untuk balok dengan  lubang hollow core ukuran 9 x 10 x 60 cm. Persentase pengurangan berat volume terhadap balok kontrol masing - masing sebesar  5,7% dan  6,2% . Untuk persentase pengurangan  kekuatan geser masing – masing sebesar 16,16% dan 15,28%. Dengan demikian dapat dilihat bahwa pengaruh pengurangan volume beton pada balok beton bertulang dengan lubang hollow core dapat mengurangi kekuatan balok untuk menahan kuat geser yang terjadi. Kata kunci : kuat geser, Lubang Hollow Core, balok
PENGARUH PENINGKATAN KOMPOSISI MORTAR TERHADAP KEKUATAN STRUKTUR DINDING BATA MERAH LOKAL Refandi, Ricky; Zacoeb, Achfas; Susanti, Lilya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1859.098 KB)

Abstract

Masonry atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut pasangan dinding bata merupakan material bangunan yang istimewa dan special. Dinding bata merah banyak digunakan karena memiliki beberapa keunggulan seperti rendahnya kemungkinan adanya ereksi, rendahnya rangkak susut, flesksibel, tahan api, cepat dikerjakan, dan ekonomis. Dinding bata merah merupakan material komposit yang tersusun atas bata merah sebagai unit utama dan mortar.Dalam struktur dinding bata merah ini dibutuhkan suatu struktur dengan kekuatan maksimal yang dipengaruhi material susunan yang telah disebutkan diatas.Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh peningkatan komposisi mortar terhadap kekuatan struktur dinding bata merah lokal.Adapun kinerja dinding bata merah ini ditinjau berdasarkan pemberian beban aksial arah vertikal dengan tiga variasi model dinding.Dari hasil penelitian ini, didapatkan kekuatan maksimum dinding untuk masing-masing model dengan perbedaan komposisi mortar dan perbedaan mutu bata merah lokal. Penggunaaan mortar dengan perbandingan 1 (PC) : 3 (PP) dengan bata Gondanglegi pada model dinding 1 (bata disusun horisontal) memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan model dinding 2 (bata disusun vertikal) dan model dinding 3 (bata disusun diagonal). Dalam penelitian juga terlihat perbedaan prosentase kenaikan kekuatan model dinding 1. Model dinding 1 yang menggunakan bata Gondanglegi dengan komposisi mortar 1 (PC) : 10 (PP) ke 1 (PC) : 3 (PP) sebesar 61,045%, yang diikuti dengan kenaikan prosentase kekuatan mortar sebesar 79,167%. Sedangkan untuk model dinding 1 yang menggunakan bata Turen sebesar 44,091% dengan prosentase kenaikan mortar sebesar 78,261%. Kata kunci: kuat tekan, dinding bata, bata merah lokal, komposisi mortar, beban uniaksial  
PERENCANAAN ALTERNATIF BANGUNAN KOMPOSIT GEDUNG B PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI DAN ILMU KOMPUTER (TAHAP 1) UNIVERSITAS BRAWIJAYA BERDASARAKAN SNI 1729-2015 Pratsiwi, Dyah Ayu; Wibowo, Ari; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.88 KB)

Abstract

Bangunan tinggi harus didesain sebagai bangunan tahan gempa menggunakan sistem struktur dan komponen material yang kuat. Selain itu diharapkan bangunan gedung direncanakan dengan kekuatan yang tinggi, penampang yang efisien, beban  batas layan yang memenuhi persyaratan keamanan dan kenyamanan. Perencanaan  struktur ini menggunakan sistem rangka pemikul momen dengan komponen struktur komposit. Konsep perencanaan menggunakan metode DFBK (desain faktor beban dan ketahanan) dan metode DAM (direct analysis method). Didapatkan balok komposit berupa material baja profil WF dengan pelat beton setebal 12 cm, sedangkan  untuk kolom  komposit berupa  material baja profil WF yang diselubungi beton bertulang.  Sebagai transfer gaya dan kekuatan dibutuhkan  penghubung geser stud headed anchor. Untuk sambungan balok-kolom dan balok anak-induk digunakan sambungan las sedangkan sambungan antar kolom dan sambungan antar kolom  menggunakan baut. Sehingga dapat disimpulkan, didapatkan beberapa keuntungan yaitu berat struktur gedung dapat lebih kecil, berat baja dapat diperkecil, penampang yang digunakan dapat semakin kecil, dan kekakuan pelat lantai meningkat sehingga sangat efisien sebagai alternatif perencanaan gedung bertingkat.   Kata Kunci: DAM,DFBK , gaya gempa, komposit, SRPM.  
UJI KUAT TEKAN BATA MERAH MENGGUNAKAN MORTAR PASIR KWARSA Rahman, Hilman Aulia; ., Wisnumurti; Zacoeb, Achfas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.758 KB)

Abstract

Batu bata merah merupakan salah satu unsur bangunan yang banyak digunakan di Indonesia, oleh karena itu penting untuk mengetahui seberapa besar kekuatan dari batu bata merah.  Ada banyak metode pengujian kuat tekan batu bata merah yang bisa digunakan, sehingga menimbulkan perbedaan hasil kuat tekan batu bata dari tiap metode pengujian. Pada penelitian ini dilakukan proses pengujian batu bata merah dari tiap metode pengujian.  Metode pengujian yang dipakai yaitu SNI dan ASTM dengan model benda uji untuk SNI sebanyak 4 model (Kubus, SNI 6 mm, SNI 1 cm, SNI 2 cm), sedangkan untuk metode ASTM model yang diuji hanya satu sesuai dengan keteapan yang terncantuk di ASTM C67.  Untuk proses pengujian yang mengacu pada SNI permukaan benda uji diberi beban hingga mencapai beban maksimum dengan kecepatan 2 Kg/cm2/det.  Sedangkan untuk metode ASTM benda uji diberi beban hingga mencapai beban maksimum dengan kecepatan 907,125 Kg/menit.  Hasil kuat tekan metode SNI maupun ASTM didapat dari beban tekan tertinggi dibagi bidang yang dibebani.  Jenis batu bata merah yang digunakan pada penelitian ini adalah batu bata merah produksi Gondanglegi dan batu bata merah produksi Turen. Hasil proses pengujian menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara model benda uji yang mengacu ASTM dan model benda uji yang mengacu pada SNI, dimana model benda uji yang mengacu pada ASTM mempunyai kuat tekan rata-rata sebesar 62,002 Kg/cm2 untuk Gondanglegi dan 60,596 Kg/cm2 untuk Turen, sedangkan untuk rata-rata kuat tekan terbesar yang mengacu pada metode SNI yaitu model SNI 2 cm untuk Gondanglegi dengan kuat tekan sebesar 21,604 Kg/cm2 dan model SNI 1 cm untuk Turen dengan kuat tekan sebesar 24,014 Kg/cm2. Kata Kunci : batu bata merah, kuat tekan, SNI, ASTM.  
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN SUDUT KEMIRINGAN LERENG TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR RC 85% DENGAN PERKUATAN GEOGRID Nizar, Faisal; Rachmansyah, Arief; Munawir, As’ad
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.232 KB)

Abstract

Lereng merupakan salah satu lahan terbuka yang beresiko tinggi dan tidak stabil sehingga banyak kelongsoran yang terjadi. Namun, kelongsoran dapat diantisipasi dengan mengaplikasikan perkuatan geogrid pada lereng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari variasi kemiringan sudut kemiringan lereng dan lebar pondasi yang paling optimum untuk daya dukung tanah yang diperkuat menggunakan geogrid. Penelitian ini digunakan 2 lapisan perkuatan geogrid, rasio jarak pondasi dari tepi lereng sebesar 2B, 3 variasi lebar pondasi sebesar 4cm, 6cm dan 8cm dan 3 variasi sudut kemiringan lereng sebesar 46o, 51o, 56o. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa peningkatan daya dukung maksimum terjadi pada saat pondasi dengan lebar 4cm dan sudut kemiringan lereng 46o. Kata Kunci: Lebar, Sudut, Geogrid, Pondasi, Lereng
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN JUMLAH LAPIS PERKUATAN GEOGRID TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI MENERUS PADA PEMODELAN LERENG PASIR DENGAN KEMIRINGAN 46O Rahman, Zulfikar Purnama; Munawir, As'ad; ., Harimurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.478 KB)

Abstract

Longsor sering kerap terjadi, yang utamanya sering terjadi pada daerah dataran tinngi dan lembah. Dengan kondisi seperti ini, cukup banyak masyarakat khususnya yang berada pada dataran tinggi membuat pemukiman di lembah maupun di lereng yang sewaktu-waktu dapat terjadi kelongsoran. Untuk mencegah kelongsoran yang akan terjadi yaitu perlu digunakan perkuatan pada tanah, contohnya yaitu dengan perkuatan geogrid. Penelitian dilakukan dengan menggunakan uji model lereng pada tanah pasir dengan kepadatan relatif 85%. Variasi yang digunakan yaitu variasi lebar pondasi antara lain 4 cm, 6cm dan 8 cm dan variasi jumlah lapis perkuatan geogrid yaitu antara lain 1 lapis, 2 lapis dan 3 lapis. Dalam penelitian ini, lereng terbentuk dalam 7 lapis tanah dengan tinggi pada setiap lapisan yaitu 10 cm. Berdasarkan pada penelitian ini didapatkan hasil yaitu bertambahnya jumlah lapis perkuatan geogrid lebih dominan daripada bertambahnya lebar pondasi terhadap peningkatan daya dukung pada lereng. Kata kunci :daya dukung, lereng, geogrid, variasi lebar pondasi, variasi jumlah lapis perkuatan geogrid.
PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN DAN JUMLAH LAPISAN PERKUATAN GEOGRID PADA LERENG PASIR RC 85% TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH DENGAN PONDASI MENERUS Rabbani, Rani; Munawir, As’ad; ., Harimurti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.43 KB)

Abstract

Lereng yang tidak stabil berbahaya terhadap lingkungan di sekitarnya karena dapat menyebabkan terjadinya longsor. Untuk mencegah hal tersebut, perlu dilakukan upaya perkuatan tanah pada lereng. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan material geosintetik seperti geotekstil dan geogrid. Penggunaan geosintetik sudah banyak diaplikasikan kedalam berbagai macam-macam konstruksi seperti dam, jalan, dinding penahan, dan khususnya konstruksi lereng.Untuk penelitian ini, delakukan uji model fisik dengan perkuatan geogrid. Variasi yang diteliti adalah sudut kemiringan lereng sebesar 46°, 51°, 56° dan jumlah lapisan perkuatan geogrid sebanyak 1, 2, 3 lapisan.Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa semakin kecil sudut kemiringan lereng maka akan semakin besar nilai daya dukungnya dan semakin banyak jumlah lapisan perkuatan geogrid maka akan semakin besar pula nilai daya dukungnya. Dari hasil analisis BCIu menunjukkan bahwa peningkatan daya dukung terbesar terletak pada sudut kemiringan 46° denganjumlah lapisan perkuatan geogrid sebanyak 3 lapisan. Sehingga pada penelitian ini tidak ditemukan variasi perkuatan geogrid yang paling optimum. Kata kunci : daya dukung, lereng pasir, perkuatan geogrid, variasi sudut kemiringan, variasi lapisan perkuatan.
PENGARUH SUDUT KEMIRINGAN DAN JARAK PONDASI KE TEPI LERENG TERHADAP DAYA DUKUNG PASIR DENGAN NILAI RC 85% DENGAN MENGGUNAKAN GEOGRID I, Arrizal Rizki; ., Suroso; Munawir, As’ad
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.465 KB)

Abstract

Daya dukung merupakan faktor utama dalam perencanaan pondasi. Pada lereng, daya dukung merupakan masalah yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena pada kondisi tertentu, daya dukung pada lereng cenderung buruk sehingga rawan untuk terjadi longsor. Oleh karena itu dibutuhkan suatu metode untuk meningkatkan daya dukung pada lereng. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan memasang perkuatan geogrid pada lereng. Pemasangan geogrid ini bertujuan untuk meningkatkan kuat tarik tanah sehingga daya dukung dapat ditingkatkan. Di sisi lain kemiringan dan jarak pondasi ke tepi lereng merupakan faktor yang cukup berpengaruh terhadap daya dukung lereng sehingga perlu untuk dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui pada sudut dan jarak pondasi ke tepi lereng berapakah perkuatan geogrid efektif untuk digunakan.Pada penelitian ini, metode untuk mengetahui besarnya peningkatan daya dukung adalah dengan membandingkan nilai daya dukung antara lereng yang dipasang perkuatan geogrid dengan daya dukung lereng tanpa perkuatan. Dari situ, kemudian akan diketahui berapa besarnya peningkatan daya dukung untuk setiap variasi sudut kemiringan dan jarak pondasi ke tepi lereng. Sehingga dapat disimpulkan pada sudut kemiringan dan jarak pondasi ke tepi lereng berapakah perkuatan geogrid efektif untuk digunakan. Yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah besarnya peningkatan daya dukung berbanding lurus terhadap jarak pondasi ke tepi lereng dan berbanding terbalik terhadap sudut kemiringan lereng. Jadi semakin besar jarak pondasi ke tepi lereng maka besarnya peningkatan daya dukung akan semakin besar, sebaliknya semakin besar sudut kemiringan lereng maka besarnya peningkatan daya dukung akan semakin kecil. Jadinya peningkatan daya dukung yang paling besar terjadi ketika sudut kemiringan 460 dan jarak pondasi ke tepi lereng tiga kali lebar pondasi. Belum ditemukan pada sudut kemiringan dan jarak pondasi ke tepi lereng berapakah peningkatan yang terjadi mencapai titik maksimum dikarenakan grafik yang didapat menunjukkan peningkatan daya dukung yang terjadi terus mengalami peningkatan seiring dengan mengecilnya sudut kemiringan dan membesarnya jarak pondasi ke tepi lereng. Kata kunci : daya dukung, lereng, pondasi, lereng, geogrid, sudut kemiringan lereng, jarak pondasi ke tepi lereng.
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN JUMLAH LAPIS PERKUATAN GEOGRID PADA LERENG PASIR 56o DENGAN JARAK PONDASI KE TEPI LERENG SAMA DENGAN LEBAR PONDASI DAN RC 85% Purwowaskito, Danu; Munawir, As'ad; Suryo, Eko Andi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.566 KB)

Abstract

Untuk mengatasi kelongsoran pada lereng, dapat dilakukan berbagai cara untuk memperkuat lereng.  Lereng yang memiliki daya dukung rendah dapat diperkuat dengan geogrid.  Penambahan geogrid inilah yang memungkinkan untuk membangun bangunan di atas lereng.  Berbagai macam penelitian dibutuhkan karena banyaknya faktor yang mempengaruhi kekuatan dari lereng menerima beban. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap 12 model lereng.  Model yang dibuat berupa lereng pasir dengan ketinggian 70 cm.  Pengujian ini dilakukan pada box ukuran 115 × 100 × 100 cm.  Pembebanan disalurkan melalui pondasi, tipe pondasi yang digunakan adalah pondasi menerus.  Kepadatan model direncanakan, dengan nilai RC 85%.  Sudut kemiringan dalam model lereng yang diuji sebesar 56o.  Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah daya dukung lereng dari variasi banyaknya lapisan geogrid yang dipakai (n), variasi lebar pondasi dan jarak tepi lereng (d/B=1).  Dari data yang ada dibandingkan antara lereng tanpa geogrid dengan lereng perkuatan geogrid, variasi jumlah perkuatan, daya dukung maksimum, variasi lebar podasi dan jarak tepi lereng dari semua model lereng yang dibuat. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa semakin lebar pondasi dan semakin jauh jarak ke tepi lereng akan menghasilkaan beban yang semakin besar.  Sedangkan untuk lereng jumlah perkuatan geogrid, semakin banyak lapisan geogrid yang dipasang pada lereng akan menghasilkan beban dan daya dukung lereng yang tinggi.  Nilai BCRu paling besar dalam penelitian ini diperoleh pada variasi d=B = 4 cm dan n = 3 cm.  Dari peningkatan antar variabel semua model, menunjukkan bahwa penambahan jumlah lapisan geogrid memiliki kontribusi besar.  Sedangkan untuk penambahan lebar pondasi dan jarak tepi lereng, kontribusinya lebih kecil dari pada penambahan jumlah lapisan geogrid. Kata kunci : lereng, geogrid, daya dukung, pondasi menerus, pasir
PENGARUH LEBAR PONDASI DAN JUMLAH LAPISAN GEOGRID TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (RC) 85% Afifuddin, Annas; Munawir, As’ad; Rachmansyah, Arief
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.253 KB)

Abstract

Penggunaan Geogrid untuk meningkatkan daya dukung tanah telah berkembang pesat utamanya dalam bidang geoteknik. Penggunaan Geogriddapatmeningkatkankemampuanagar dapatdigunakannyapondasidangkalsebagaigantipenggunaanpondasidalam yang relatifmahal. Dibandingkonstruksipondasipadatanahdatar, pondasidangkal yang diletakkandekatlerengdandibebani di atasnyamenghasilkanpengurangandayadukungultimitnya. Berbagai penelitian telah dilakukan terhadap lereng pasir yang diberi perkuatan Geogrid untuk mengevaluasi keunggulannya. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadappemodelan fisik lereng pasiryang diberi perkuatan Geogrid. Parameter-parameter yang diuji dalam penelitian ini antara variasi lebar pondasi yang digunakan yaitu 4,6, dan 8 cm serta variasi jumlah lapisan perkuatan Geogrid yaitu 1,2,3 lapisan. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah dapat diketahui bahwa nilai daya dukung semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah lapis perkuatan Geogrid yang digunakan. Sedangkan kenaikan besar lebar pondasi satu lereng tidak sebanding dengan kenaikan nilai daya dukung pondasi tersebut. Berdasarkan analisis Bearing Capacity Improvement (BCI)dapat diketahui rasio peningkatan daya dukung terbesar terdapat pada lebar pondasi terkecil yang digunakan, yaitu sebesar 4 cm dan jumlah lapisan paling banyak, yaitu sebanyak 3 lapisan. Kata kunci:Geogrid, dayadukung, lerengpasir, lebarpondasi, Lapisan Geogrid, BCI.

Page 4 of 10 | Total Record : 98