cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2018)" : 36 Documents clear
PENGARUH PERKUATAN MORTAR JAKET DENGAN VARIASI KONFIGURASI TULANGAN LONGITUDINAL BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMIBEBAN PUNCAK Pratama, Dodi Rajendra; Wijatmiko, Indradi; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom merupakan bagian terpenting suatu struktur bangunan yang berfungsi meneruskan dan menerima beban dari balok. Kolom retrofit kode A.1 dan A.2adalah kolom retrofit dengankonfigurasi tulangan longitudinal bambu sebanyak 4 buah ukuran 10 x 10 mm, dibandingkan dengan kolom retrofit kode B.1 dan B.2 adalah kolom retrofit dengan konfigurasi tulangan longitudinal bambu sebanyak  8 buah ukuran 10 x 5 mm. Hasil penelitian antara kolom kode A.1 dan B.1 menunjukkan bahwa jenis kolom A.1 dengan konfigurasi tulangan bambu 4 buah ukuran 10 x 10 mm memiliki peningkatan nilai gaya tekan maksimum yang sedikit lebih tinggi sebesar 11.08 % jika dibandingkan dengan kolom B.1. Sedangkan nilai kekakuan dan modulus elastisitas yang juga lebih tinggi jenis kolom A.1 yaitu sebesar 41.52 % dibandingkan jenis kolom B.1. Dan kolom A.1 memiliki nilai daktilitas yang  lebih efektif dibandingkan dengan kolom B.1, dimana kolom A.1 mengalami peningkatan daktilitas sebesar 21.75 % sedangkan kolom B.1 mengalami penurunan daktilitas sebesar 3.24 %. Sedangkan penelitian antara kolom kode A.2 dan B.2, dapat disimpulkan kolom retrofit A.2 lebih efektif dibanding kolom retrofit B.2. Karena efektifitas daktilitas A.2 lebih besar 15.85 % dibandingkan B.2, serta peningkatan gaya tekan maksimum kolom retrofit A.2 lebih tinggi dari B.2 yaitu sebesar 7.27 %. Peningkatan daktilitas kolom retrofit A.1 dan A.2 lebih tinggi dari pada kolom B.1 dan B.2 yang hanya ditinjau pada saat beban puncak, dimana dengan rasio tulangan bambu sama kolom retrofit A.1 dan A.2 memiliki dimensi yang lebih gemuk dibanding B.1 dan B.2 yang menyebabkan tulangan akan menjadi lebih kaku dan berdeformasi lebih baik pada saat dan hingga beban mencapai maksimum. Kata Kunci : Jaket mortar, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas.
PENGARUH PERKUATAN MORTAR JAKET DENGAN VARIASI JARAK SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMI BEBAN PUNCAK Jannah, Zulaika Nur; Wibowo, Ari; Remayanti, Christin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom merupakan elemen vertikal yang berfungsi meneruskan beban dari balok menuju podasi. Dibandingkan dengan balok, kerusakan pada kolom memiliki potensi lebih besar untuk menyebabkan keruntuhan pada struktur bangunan.Hasil penelitian antara variasi A.1 dan A.2 yang sama-sama dipasang tulangan utama 4 buah 10x10 mm menunjukkan bahwa jenis kolom A.1 dengan variasi jarak sengkang 7 cmmengalami peningkatan nilai gaya tekan maksimum yang lebih tinggi sebesar 16,74 % jika dibandingkan dengan kolom A.2. Sedangkan penelitian antara kolom retrofit B.1 dan B.2yang sama-sama dipasang tulangan utama 8 buah 10x5 mm, dapat disimpulkan kolom retrofit B.1 lebih efektif dibanding dengan kolom retrofit B.2. Karena kolom retrofit B.1 memiliki peningkatan gaya tekan maksimumyanglebih tinggi sebesar 12,74 % dari pada jenis kolom B.2. Untuk peningkatan kekakuan, dan modulus elastisitas, kolom B.1 juga memiliki peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan jenis kolom B.2 masing-masing 30,69 % dan 30,69 %. Sedangkan untuk daktilitasnya kolom B.1 dan B.2 sama-sama tidak menunjukan perbedaan yang signifikan antara kolom asli dan retrofitnya. Untuk kolom B.1 mengalami penurunan daktilitas 3,24 % dan B.2 mengalami kenaikan daktilitas sebesar 4,89 %. Berdasarkan hasil penelitian ini, kolom retrofit dengan variasi jarak sengkang 7 cm (kolom retrofit A.1 dan B.1)  lebih efektif dibandingkan dengan jarak sengkang 11 cm (kolom retrofit A.2 dan A.2). Hal ini dikarenakan semakin rapat jarak sengkang yang dipasang maka efek kekangan dari sengkang tersebut akan semakin besar pula, sehingga menyebabkan peningkatan gaya tekan dan daktilitas. Kata Kunci :Jaket beton, jaket mortar, efektivitas, gaya tekan, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas.
PENGARUH MORTAR JACKET RETROFIT DENGAN VARIASI JARAK SENGKANG BAMBU PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMI KERUNTUHAN AKSIAL Harijanto, Griffin Septian; Wibowo, Ari; Wijatmiko, Indradi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya bangunan beton yang mengalami keruntuhan menarik perhatian peneliti untuk mengatasinya dengan cara kolom retrofit. Penelitian kali ini meneliti tentang Mortar Jacketing yang merupakan modifikasi dari Concrete Jacketing. Mortar Jacketing adalah metode perkuatan kolom dengan cara penambahan beton baru yang menyelimuti kolom beton yang sudah ada menggunakan tulangan dan campuran mortar. Tulangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu petung untuk tulangan longitudinal dan bambu apus untuk tulangan transversal. Digunakan tulangan bambu karena bambu merupakan material terbaharui sehingga akan menciptakan bangunan yang ramah lingkungan (green building) dan juga pembangunan berkelanjutan (sustainable building). Penelitian ini menitikberatkan pada karakteristik kuat tekan maksimum, kekakuan, modulus elastisitas, dan daktilitas. Variabel yang akan dibandingkan pada penelitian ini yaitu jarak sengkang bambu yang berbeda pada rasio tulangan transversal yang sama yaitu 1,23. Dipakai 2 variasi jarak sengkang bambu, yaitu 7 cm dan 11 cm. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa kolom retrofit dengan jarak tulangan transversal yang semakin rapat memiliki efektivitas yang lebih baik. Kata Kunci :concrete jacketing, mortar jacketing, jarak tulangan transversal
PENGARUH KONFIGURASI TULANGAN BAMBU DARI PERKUATAN MORTAR JAKET PADA KOLOM BETON BERTULANG YANG MENGALAMI KERUNTUHAN AKSIAL Suryo, Benediktus Rendy Diopasca; Wijatmiko, Indradi; Remayanti, Christin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolom merupakan komponen utama pada sebuah bangunan karena berfungsi sebagai penyalur beban dari balok ke elevasi yang lebih rendah hingga ke pondasi, Pada penelitian ini akan dibahas perkuatan kolom dengan metode mortar jacketing. Kolom retrofit kode A3 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 4 buah ukuran 10 x 10 mm dengan jarak antar tulangan transversal 7cm, kolomretrofit kode B3 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 8 buah berukuran 10 x 5 mm dengan jarak antar tulangan transversal 7 cm, kolom retrofit kode A4 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 4 buah berukuran 10 x10 mm dengan jarak antar tulangan transversal 11 cm, dan kolom retrofit kodeB4 menggunakan tulangan longitudinal bambu sebanyak 8 buah berukuran 10 x 5 mm dengan jarak tulangan transversal 11 cm. Kolom retrofit A3 memiliki nilai kekakuan menurun 14,3% dari kolom asli, nilai daktilitas meningkat 92,4% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 14,3% dari kolom asli, dan kuat beban aksial meningkat 2,1% dari kolom asli. Kolom retrofit B3 memiliki nilai kekakuan menurun 26,7% dari kolom asli, nilai daktilitas meningkat 116,9% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 26,7% dari kolom asli, kuat beban aksial menurun 17,7% dari kolom asli. Kolom retrofit A4 memiliki nilai kekakuan menurun 22,3% dari kolom asli, nilai daktilitas meningkat 105,9% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 22,3% dari kolom asli, kuat beban aksial menurun 17,6% dari kolom asli. Kolom retrofit B4 memiliki nilai kekakuan menurun 26,3% dari kolom asli, nilai daktilitas  meningkat 46,88% dari kolom asli, modulus elastisitas menurun 26,3% dari kolom asli, hal ini juga disebabkan karena kolom retrofit bertulangan longitudinal 8 buah 10x5mm kelangsingan tulangannya lebih besar sehingga lebih mudah mengalami tekuk. . Kata Kunci : mortar jacketing, efektivitas, kuat beban aksial, kekakuan, modulus elastisitas, daktilitas.
Analisis Perilaku Abutment dengan Wing Wall pada Jembatan dalam Menahan Beban Tumbukan (Collision) Akibat Gempa Juniarty, Elliana; Setyowulan, Desy; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seluruh beban yang bekerja pada struktur atas jembatan sebagian besar ditumpu oleh abutment. Saat terjadi gempa, beban yang ditahan abutment menjadi semakin besar. Banyak keruntuhan jembatan saat gempa akibat kegagalan abutment. Kegagalan abutment yang umunya terjadi saat gempa berupa keretakan pada abutment dan berpindahnya atau bergesernya abutment. Abutment yang direncanakan berupa dinding parapet dari abutment. Dinding parapet direncanakan memiliki wing wall dikedua sisinya. Studi analisis ini menggunakan program software ABAQUS CAE 6.11 student edition. Perilaku abutment yang akan dilihat dari hasil analisis ini berupa, tegangan-regangan, defleksi horizontal, pola retak dan momen lentur yang terjadi akibat beban gempa. Selain itu, hasil dari studi analisis ini akan dibandingkan dengan studi analisis abutment tanpa wing wall dan hasil studi eksperimental. Data material yang digunakan pada studi analisis ini merupakan data pendekatan terhadap hasil uji tekan beton dan true stress – true strain uji tarik studi eksperimental. Dari hasil perbandingan perilaku abutment dengan wing wall dan abutment tanpa wing wall dapat disimpulkan bahwa wing wall memberikan efek yang cukup signifikan. Adanya wing wall pada struktur abutment membuat abutment menjadi lebih kaku, sehingga defleksi horizontal yang terjadi lebih kecil daripada abutment tanpa wing wall. Tegangan yang terjadi pada abutment dengan wing wall lebih besar dengan nilai regangan lebih kecil dibandingkan dengan abutment tanpa wing wall. Keretakan terbesar yang terjadi tidak hanya pada badan abutment akan tetapi keretakan terbesar juga terjadi pada titik pertemuan wing wall dengan badan abutment.Beban yang bekerja pada studi analisis ini hanya berupa beban gempa dan beban gravitasi, maka dari itu diperlukannya penilitian lebih lanjut dengan adanya perhitungan dari aspek – aspek lain yang mempengaruhi abutment. Kata kunci: Abutment, ABAQUS, Beban tumbukan, wing wall.
Analisis Perilaku Abutment tanpa Wing Wall Pada Jembatan dalam Menahan Beban Tumbukan (Collision) akibat Gempa Ikhsan, Erika Ainun Zakinah; Setyowulan, Desy; Susanti, Lilya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abutment merupakan struktur bawah jembatan yang mempunyai peranan penting dari suatu jembatan karena beban-beban dari  struktur atas jembatan langsung ditumpu oleh abutment.  Saat terjadi gempa, beban yang ditahan abutment menjadi semakin besar. Salah satu keruntuhan abutment disebabkan karena adanya beban tumbukan dari gelagar atas jembatan akibat gempa. Untuk menghindari kejadian tersebut, dibutuhkannya studi analisis dengan adanya beban gempa yang akan terjadi. Studi analisis ini menggunakan program software ABAQUS CAE 6.14student edition. Perilaku abutment yang akan dilihat dari hasil analisis ini berupa, tegangan-regangan, defleksi horizontal, pola retak dan momen lentur yang terjadi akibat beban gempa. Selain itu, hasil dari studi analisis ini akan dibandingkan dengan studi analisis abutment tanpa wing wall dan hasil studi eksperimental. Data material yang digunakan pada studi analisis ini merupakan data pendekatan terhadap hasil uji tekan beton yangdilakukan di labolatorium dengan kurva hognestad serta parameter damage lainnya dan true stress – true strainuntuk uji tarik baja dari labolatorium. Tegangan yang terjadi pada dinding parapet dengan lebih besar dibandingkan nilai tegangan yang dilakukan di labolatorium. Keretakan terbesar pada saat mencapai kapasistas maksimum parapet wall yaitu pada beban 3,5 ton dengan defleksi 8 cm. Kata Kunci :Abutment, Parapet, Gempa, Tegangan, Regangan, Pola retak, Defleksi, Momen Lentur
STUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU ABUTMENT TANPA WING WALL DAN DENGAN WING WALL TERHADAP DEFLEKSI HORIZONTAL DAN MOMEN LENTUR PADA JEMBATAN DALAM MENAHAN BEBAN TUMBUKAN (COLLISION)AKIBAT GEMPA N., Faiq Putra; Wijaya, Ming Narto; Susanti, Lilya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abutment merupakan salah satu struktur utama dari suatu jembatan. Abutment menjadi salah satu struktur dalam jembatan yang menopang seluruh beban lantai, serta beban lain yang diatasnya. Oleh karena itu, dalam suatu jembatan pembuatan abutment menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena jika abutment dari suatu jembatan lemah maka semua sistem struktur yang ada di atasnya pun berisiko untuk mengalami kegagalan. Seiring perkembangan konstruksi kebutuhan akan pembangunan jembatan baru pun semakin meningkat. Pada penelitian ini dibuat 2 jenis benda uji abutment yaitu abutment tanpa wing wall dan abutment dengan wing wall, dimana masing-masing dibuat 3 benda uji. Benda uji abutment tanpa wing wall dibuat dengan ukuran parapet wall 600 x 100 x 500 mm, sedangkan untuk abutment dengan wing wall  mempunyai ukuran sama dengan abutment tanpa wing wall akan tetapi ditambahkan wing dengan ukuran 100 x 200 x 500 mm pada masing-masing ujung parapet wall. Abutment tanpa wing wall dan abutment dengan wing wall dibuat dengan tulangan utama baja Ø8 mm dan sengkang Ø6 mm. Pengujian abutment dilakukan dengan menggunakan alat load cell dan LVDT untuk memperoleh  nilai defleksi.Hasil penelitian ini diperoleh nilai defleksi maksimum pada benda uji abutment tanpa wing wall 2 sebesar 42,14 mm dengan beban maksimum sebesar 2350 kg dan abutment tanpa wing wall 3 sebesar 41,53 mm dengan beban maksimum sebesar 2350 kg. Sedangkan nilai defleksi pada benda uji abutment dengan wing wall 2 sebesar 27,705 mm dengan beban maksimum sebesar 2950 kg dan abutment dengan wing wall 3 sebesar 23,87 mm dengan beban maksimum sebesar 3100 kg. Namun pada benda uji abutment dengan wing wall sendiri pada pengujian ini tidak mencapai beban atau gaya tekan maksimum dikarenakan alat pengujian yang tidak memenuhi. Kata Kunci : Defleksi, Momen Lentur, Abutment, Beban Gempa.
STUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU ABUTMENT DENGAN WING WALL DAN TANPAWING WALL TERHADAP POLA RETAK DAN TEGANGAN REGANGAN PADA JEMBATAN DALAM MENAHAN BEBAN TUMBUKAN (COLLISION) AKIBAT GEMPA Laksono, Rizal Adhit; Susanti, Lilya; Wijaya, Ming Narto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abutment adalahbagiandaristrukturbangunanbawahjembatan yang mempengaruhistrukturjembatanitusendiri, Pada strukturbangunandiatasnya.Penelitian ini dibuat dua jenis benda uji abutment, yaitu abutment dengan wing wall (W) dan abutment tanpa wing wall (TW). Jumlah benda uji untuk penelitian ini adalah sebanyak enam benda uji, Benda uji abutment dilakukan pengujian pembebanan secara horizontal dengan beban merata pada parapet wall abutment dengan menggunakan alat hydraulic jack, load cell 10 ton, dan strain gauge pada tulangan baja dan beton pada titik yang sudah ditentukan kemudian dihubungkan pada alat strain meter untuk memperoleh nilai tegangan regangan dan penyebaran daerah pola retak dari benda uji abutment.Hasil penelitian ini, dapat menunjukkan bahwa benda uji abutment dengan wing wall  (W) mempunyai nilai tegangan yang tinggi dan regangan yang lebih kecil dibandingkan dengan benda uji abutment tanpa wing wall baik baja maupun beton, dengan beban maksimum pada abutment dengan wing wall 2 (W2) sebesar 2950 Kg sedangkan pada abutment tanpa wing wall 2 (TW2) sebesar 2350 Kg. Penyebaran daerah retak benda uji abutment dengan wing wall terlihat lebih sedikit yaitu sampai retak ke 9 (R9), sedangkan benda uji tanpa wing wall sampai retak ke 19 (R19) dengan beban maksimum . Selain itu retak ke 1 (R1) yang terjadi pada benda uji abutment dengan wing wall membutuhkan beban yang lebih besar yaitu pada beban 1200 Kg sampai dengan 1900 Kg, sedangkan benda uji abutment tanpa wing wall pada beban 700 Kg sampai dengan 850 Kg. Namun pada penelitian ini, benda uji abutment dengan wing wall 1 (W1) dan abutment tanpa wing wall 1 (TW1) tidak dilakukan analisis, karena benda uji yang terlalu kuat dengan keterbatasan alat pengujian yang tersedia menyebabkan terjadinya penyimpangan data. Kata Kunci : abutment, jembatan, beban gempa, tegangan regangan, pola retak.
UJI TARIK DAN PENGARUH VARIASI PELAPIS TERHADAP UJI KUAT LEKAT BAMBU PILIN DENGAN KULIT Adi, Satrio Wibowo; Nuralinah, Devi; Simatupang, R. Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton memiliki daya tekan yang besar namun memiliki daya tarik yang lemah sehingga perlu diberi tulangan pada beton. Tulangan baja cenderung memiliki harga yangcukupmahaluntukdigunakanmakaperluadanyaalternatifpengganti tulangan baja. Olehkarenaitupadapenelitianinidigunakanlah tulangan bambu pilin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai beban tarik pada bambu dan mengetahui bagaimana nilai kuat lekat pada bambu setelah diberi variasi pelapis. Variasi pelapis bertujuan untuk memperbaiki lekatan bambu terhadap beton. Variasi pelapis pada penelitian ini digunakan pelapis vernis, sikadur dan tanpa pelapis. Bambu tanpa buku/ruas memiliki tegangan tarik bambu lebih besar dibanding tegangan tarik bambu dengan buku/ruas.Keruntuhan pada pengujian kuat lekat ini adalah kegagalan tarik. Kerusakan terjadi dikarenakan bambu pilin mengikat pada beton sehingga ketika benda uji dikenakan beban, bambu masih tertahan pada beton mengakibatkan bambu terputus pada pilinannya.Olehkarenaitupelapistidakterbuktimeningkatkankuatlekatpadabambu. Penggunaan bahan pelapis pada bambu berpengaruh secara signifikan terhadap kuat tarik antara bambu dengan beton berdasarkan uji statistik ANOVA. Namuntidakberpengaruhsecarasignifikanpadaperbandinganantarapelapissikadurdanvernis. Kata kunci :BambuPilin, Sikadur , Vernis , UjiTarik, Uji Pullout, KuatTarik, KuatLekat
ANALISIS POTENSI LIKUIFAKSI AKIBAT GEMPA BUMI MENGGUNAKAN DATA (CONE PENETRATION TEST) DI WONOANTI KABUPATEN PACITAN Dwi Krisna, Septiyan Candra Dwi; ., Harimurti; Suryo, Eko Andi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gempa bumi dapat menyebabkan tidak hanya korban jiwa, kerugian materi, namun juga kerusakan pada bangunan.Salah satu daerah yang rawan terkena bencana gempa adalah Kabupaten Pacitan yang terletak di Provinsi Jawa Timur.Kerusakan bangunan akibat gempa yang terjadi seperti keretakan pada dinding, keruntuhan struktur bangunan utama disebabkan tidak hanya karena gaya dinamis yang mengguncang namun juga dapat disebabkan oleh respon tanah yang berada di bawah bangunan tersebut. Hasil penelitian untuk memperoleh nilai Safety Factor dari perbandingan antara Cyclic Resistant Ratio (CRR) dengan Cyclic Stress Ration (CSR) berdasarkan gempa yang terjadi dengan magnitude 4,3 SR dan PGA 44,99 gal yang terjadi relatif besar dari 1, sehingga pada setiap kedalaman manapun tidak berpotensi untuk terjadi likuifaksi. Perhitungan potensi likuifaksi di Pacitan juga dilakukan dengan kemungkinan terjadi peristiwa gempa besar dengan magnitude 6,2 SR yang menghasilkan PGA 164,44 gal pada saat kedalaman sama 10 km dan episenter 33 km menghasilkan zona-zona likuifaksi pada kedalaman lapisan tanah yang bervariasi antara 0,4 meter hingga 5,6 meter. Analisis dilakukan dengan meperpendek kedalaman gempa yang terjadi menjadi 5 km sehingga menghasilkan zona likuifaksi pada kedalaman yang bervariasi antara 0,4 meter hingga 6,4 meter. Kata Kunci: Peak Ground Acceleration(PGA), Likuifaksi, CPT, CSR, CRR.  

Page 3 of 4 | Total Record : 36