cover
Contact Name
Dr. Wening Udasmoro, M.Hum, DEA
Contact Email
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
jurnalpoetika.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
Post-graduate program of literature of the Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Poetika: Jurnal Ilmu Sastra
Core Subject : Humanities, Art,
POETIKA: Jurnal Ilmu Sastra publishes academic articles within the scope of literary criticism (limited to poem, prose, drama, oral tradition, and philology). The articles cover the form of a result on specific analysis; academic reports; closed reading; and the application of certain theories to enrich literary study.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2021): Issue 1" : 7 Documents clear
POWER RELATIONS ON FEMALE BODY IN SENO GUMIRA AJIDARMA’S SHORT STORY Sulistya Ningtyas
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.56477

Abstract

This study explored the practice of power relations and the panopticon as a disciplinary mechanism in Seno Gumira Ajidarma’s Istana Tembok Bolong short story. ‘Istana tembok bolong’ in this literary work refers to a place near a train station that is separated from the outside area by a perforated wall, which turns to be a palace for the lower class of society occupying the space. By using Foucauldian analysis, this study examined the case of ‘selling matches’ as the central issue of the story being discussed. This phenomenon that occurred in Yogyakarta in the 1970s became the media of the manifestation of power over street prostitutes. The results showed that power relations operate as a means to control the body, particularly female bodies. This is because female bodies become commodities as a result of capitalism. However, in a certain situation, these street prostitutes can also hold power in a way how their bodies are enjoyed. Besides, social norms outside the palace function as a panopticon that makes the inhabitants have self-awareness as they feel constantly monitored. Penelitian ini mengeksplorasi praktik relasi kuasa dan panoptikon sebagai mekanisme pendisiplinan dalam cerita pendek Istana Tembok Bolong karya Seno Gumira Ajidarma. ‘Istana tembok bolong’ dalam karya sastra ini merujuk pada sebuah tempat di dekat stasiun kereta api yang terpisahkan dari area luarnya oleh dinding yang berlubang, yang dianggap sebagai istana oleh masyarakat kelas bawah yang menempati ruang tersebut. Dengan menggunakan analisis Foucauldian, penelitian ini melihat fenomena ‘jual korek api’, yang merupakan isu utama dari cerita yang dibahas di sini. Fenomena yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 1970-an tersebut menjadi media perwujudan kuasa terhadap pekerja seks jalanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi kuasa beroperasi sebagai alat untuk mengendalikan tubuh, terutama tubuh perempuan. Hal ini karena tubuh perempuan menjadi komoditas sebagai akibat dari kapitalisme. Namun, dalam situasi tertentu, pekerja seks jalanan tersebut juga dapat memegang kekuasaan terkait bagaimana tubuh mereka dinikmati. Selain itu, norma-norma sosial di luar istana berfungsi sebagai panoptikon yang membuat penghuninya memiliki kesadaran diri karena mereka merasa terus-menerus diawasi.
THE REPRESENTATION OF INDONESIAN WOMEN IN CONTEMPORARY TRAVEL WRITING: A STUDY OF DISCOURSE ON GENDER AND TRAVEL WRITING Akmal Jaya; Mochamad Rizqi Adhi Pratama
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.60700

Abstract

This research aims to examine the representation of Indonesian women in contemporary travel writings. The rise of globalization has challenged the domination of discourses that tend to place Indonesian women in the subordinate position. However, the challenge does not warrant a symmetrical relation between genders, as it sometimes blurs the relation as a result of clashes between discourses. This study, then, provides an overview of how discourses have shaped the representation of Indonesian women by revealing images that appear explicitly and implicitly in travel stories. Using the Foucauldian discourse analysis approach allowed the writers to exclude subjects, objects, and meanings to discover a comprehensive web of image construction. This research found that Indonesian women’s representation is stuck in an ambiguous position as it strives to be an independent individual subject. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan representasi perempuan Indonesia melalui cerita perjalanan kontemporer. Pada dasarnya, globalisasi telah menantang kuasa hegemoni wacana yang cenderung menempatkan perempuan Indonesia pada posisi kedua. Akan tetapi, hal tersebut tidak menjamin kesetaraan antara hubungan gender, melainkan terkadang menjadikannya semakin kabur sebagai konsekuensi adanya pertentangan antar wacana. Kajian ini memberikan gambaran bagaimana wacana membentuk representasi perempuan Indonesia dengan menunjukkan citra-citra yang hadir secara eksplisit maupun implisit dalam cerita perjalanan. Dengan menggunakan pendekatan analisis Foucauldian memberikan sebuah kemungkinan kepada kita untuk memisahkan antara subjek, objek dan makna dan untuk menemukan jaring-jaring konstruksi citra yang komprehensif. Penelitian ini menemukan bahwa representasi perempuan Indonesia terjebak dalam posisi yang ambigu yang tampaknya mencoba untuk hadir sebagai subjek independen.
MYTH AND FOLKLORE EMBODIMENT IN THE FEMALE PROTAGONISTS OF CONTEMPORARY FICTIONS: A READING OF THE SHIVA TRILOGY AND BULBBUL PRASADITA L RAVEENDRAN
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.60734

Abstract

The collective consciousness of a community is tremendously shaped by myths and folktales passed on from generation to generation. With the publication of Joseph Campbell's book The Hero with a Thousand Faces, the idea of the hero and his journey took a giant leap, allowing the commoner's life narratives to be equated with the mythical journey. This study analyzes how mythology is demythified and symbolically represented in two of India's famous narratives, a novel series Shiva Trilogy by Amish Tripathi and an “over-the-top” (OTT) film Bulbbul by Anvita Dutt. The objects of this research are Indian mythological narratives about Goddess Shakti and her various manifestations — Durga, Kali, Sati, and Parvati — whose respective nature and purpose differ vastly from one another. Through the qualitative research method, the paper shows that the reader/viewer has well-received the interweaving of myth with contemporary fiction. It has given way to a change in diegesis, from the predominantly male-hero-focused outline to a female-driven narrative. The myth-bound heroines thus represent the power to break the shackles of patriarchy and normative culture, allowing an area for women to radicalize themselves through bold actions. Kesadaran kolektif suatu komunitas sangat bergantung pada mitos dan cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan diterbitkannya  The Hero with a Thousand Faces karya Joseph Campbell, gagasan tentang pahlawan dan perjalanannya memungkinkan narasi kehidupan orang biasa untuk disejajarkan dengan perjalanan mitos. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mitologi didemistifikasi dan secara simbolis direpresentasikan dalam dua narasi terkenal India, yakni serial novel Shiva Trilogy karya Amish Tripathi dan film “over-the-top” (OTT) Bulbbul karya Anvita Dutt.  Objek penelitian ini adalah narasi mitologi India tentang Dewi Shakti dan berbagai manifestasinya — Durga, Kali, Sati, dan Parvati — yang sifat dan tujuannya masing-masing sangat berbeda satu sama lain.  Melalui metode penelitian kualitatif, ditemukan; 1) pembaca/pemirsa telah menerima dengan baik jalinan mitos dengan fiksi kontemporer; 2) memberi jalan pada perubahan diegesis, dari garis besar yang berfokus pada pahlawan pria menjadi narasi yang digerakkan oleh wanita; 3) para tokoh wanita yang terikat mitos, mematahkan belenggu patriarki dan budaya normatif, memungkinkan area bagi perempuan untuk meradikalisasi diri mereka sendiri melalui tindakan yang berani.
NON-AMERICAN BLACK WOMEN’S EMPOWERMENT: A FOURTH-WAVE FEMINISM STUDY ON CHIMAMANDA NGOZI ADICHIE’S AMERICANAH Maria Ardianti Kurnia Sari; Nur Saktiningrum
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.61193

Abstract

Racial issues have been a big problem in the United States of America since the slavery era. Although racism still exists in its society, many people are still migrating to America. For example, non-American Black women go there to try their luck to get a better education, a better job, and a better standard of living. However, some of them experience racism and gender inequality at work, as well as everywhere else in American society. Nevertheless, these experiences of racism and inequality may well be what motivates them to gain empowerment and gender equality. The qualitative method is used in this research. The primary source is a novel by Chimamanda Ngozi Adichie titled Americanah (2013). The secondary sources to support this analysis are books, journals, articles, videos, and current news related to the issues. Post-nationalist studies by John Rowe, transnationalism studies by Steven Vertovec, fourth-wave feminism ideas from Nikola Rivers and Prudence Chamberlain, and Black women’s empowerment studies by Sheila Radford-Hill and Patricia Hill Collins are used to analyze the data. The results of this research are: first, there are measures taken by non-American Black women to gain empowerment in the US, which begin with their aspirations to obtain acceptance in society. Second, the redefinition of gender equality through education, employment, and social changes leads to the acceptance of non-American Black women in society. The acceptance and empowerment become evidence of gender equality in education, employment, and social life. Isu rasisme menjadi salah satu masalah besar di Amerika Serikat sejak masa perbudakan. Meskipun rasisme masih terjadi, tetapi tidak sedikit imigran yang datang dan menetap. Wanita kulit hitam dari luar Amerika datang untuk mendapat pendidikan, pekerjaan, dan hidup layak. Tetapi, tidak sedikit mendapatkan rasisme dan ketidaksetaraan gender di dalam dan masyarakat. Dengan demikian, rasisme dan ketidaksetaraan memotivasi wanita kulit hitam non-Amerika untuk memperoleh pemberdayaan dan kesetaraan gender. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Sumber pertama, novel karya Chimamanda Ngozi Adichie berjudul Americanah (2013). Sumber kedua untuk mendukung analisis diambil dari beberapa buku, jurnal, artikel, video, dan berita yang berhubungan dengan isu yang dibahas. Beberapa teori yang digunakan untuk menganalisis, yakni teori pos-nasionalis dari John Rowe, transnasionalisme dari Steven Vertovec, feminisme gelombang keempat dari Nikola Rivers dan Prudence Chamberlain, dan pemberdayaan perempuan berkulit hitam dari Sheila Radford-Hill dan Patricia Hill Collins. Berdasarkan hasil analisa, pertama, pemberdayaan wanita kulit hitam non-Amerika dimulai dari perjuangan mereka untuk mendapatkan pemberdayaan dari masyarakat. Proses perjuangan dan keberanian yang menuntun mereka untuk bisa beradaptasi dengan situasi di Amerika. Kedua, mendefinisikan kesetaraan gender dalam dunia pendidikan, pekerjaan, dan perubahan sosial. Beberapa dampak pemberdayaan menjadi bukti pencapaian kesetaraan gender dalam dunia pendidikan, pekerjaan, dan perubahan kehidupan sosial.
WOMEN’S LIBERTY IN RELIGIOUS DISCOURSE (NAWĀL AL-SA’DĀWĪ’S FANTASY IN ZĪNAH) Yulia Nasrul Latifi
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.61327

Abstract

The objective of this research is to reveal Nawāl al-Sa’dāwī’s fantasy and to find out why she builds a fantasy of women’s autonomy in religious discourse as depicted in her latest novel, Zīnah. This study focuses on the concept of fantasy in Žižek's theory of subjectivity, which sees fantasy as a screen covering the lacks and inconsistencies of the shackling Symbolic. Fantasy is also an estuary of meaning that confirms the existence of a divided and dialectical subject that continues to move in search of self-fulfillment. The research method is  hermeneutic, namely by interpreting the actions and fantasies of al-Sa’dāwī' as a subject. The analysis shows that al-Sa’dāwī’s fantasy is her realization of a transcendental humanist religious discourse which gives women full autonomy, internally and externally. Zīnah, the main character in the novel, is a symbol of this autonomy. Internally, Zīnah has been set free from the patriarchal shackles of religious discourses. Externally, Zīnah is able to change the structure and create a new humanist, transcendental, and progressive structure in religious discourse to liberate human beings. Zīnah is al-Sa’dāwī’s fantasy to cover up the lacks of The Symbolic, the estuary of meaning, and confirmation of her existence as a divided and dialectical subject. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan fantasi Nawāl al-Sa’dāwī dan mengapa Nawāl al-Sa’dāwī membangun fantasi otonomi perempuan dalam wacana agama yang tergambar dalam novel terakhirnya, Zīnah. Penelitian ini memfokuskan pada Fantasi yang ada dalam teori subjektivitas Žižek. Fantasi adalah layar yang menutupi kekurangan dan inkonsistensi dalam the symbolic yang membelenggu. Fantasi juga muara makna yang mengukuhkan eksistensi subjek yang terbelah dan berdialektik yang terus bergerak untuk mencari pemenuhan diri. Metode penelitian adalah hermeneutik dengan cara menafsirkan tindakan dan fantasi Nawāl al-Sa’dāwī sebagai subjek. Hasil analisisnya, fantasi Nawāl al-Sa’dāwī adalah terwujudnya wacana agama humanis transendental yang memberikan otonomi penuh perempuan, internal dan eksternal. Tokoh Zīnah adalah simbolisasi otonomi tersebut. Secara internal, Zīnah telah terbebas dari belenggu patriarki wacana agama. Secara eksternal, Zīnah mampu mengubah struktur dan membuat struktur baru yang humanis, transendental, dan progresif dalam wacana agama untuk membebaskan manusia. Zīnah adalah fantasi Nawāl al-Sa’dāwī untuk menutupi kekurangan the symbolic, muara makna, dan pengukuhan eksistensinya sebagai subjek yang terbelah dan berdialektika.
DEATH AS THE “REAL”: A PSYCHOANALYTIC READING OF MATTHEW ARNOLD’S YOUTH AND CALM Alexei Wahyudiputra
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.63325

Abstract

Matthew Arnold was one of the poets who paid special attention to youth and the dynamics of youth culture in the Victorian era. Living in an era that stimulated modern times, Arnold produced writings that can be classified as historical records, although not factual, of society's reactions to the fundamental social and cultural changes of the time. The literary arena was particularly affected, as the Victorian era marked the beginning for poets and artists alike to shed the romantic spirit that they had breathed into their works and adapt to the technological and industrial realities around them. This article explores Matthew Arnold's poem entitled “Youth and Calm”. The poem explores a stream of consciousness that contemplates “the youth" and their dreams. This study aims to uncover the meaning of the poem based on its textual composition without correlating it with Arnold's other works. Using theoretical phenomenology tools to dissect language phenomena and the Freudo-Lacanian method in interpreting the theme, this study led to the revelation that the poem talks of “death” as a symbolically repressed object. Matthew Arnold merupakan salah satu penulis puisi yang menaruh atensi lebih pada pemuda dan juga dinamika kebudayaan muda-mudi pada era Victoria. Hidup di dalam yang era mendasari kultur modern, Arnold menghasilkan karya-karya yang dapat diklasifikasikan sebagai catatan historis, meskipun tidak faktual secara absolut, terkait reaksi masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial dan kultural yang begitu mendasar di kala itu. Terlebih dalam arena literatur, kehadiran era Victorian merupakan awal penanda bagi penyair dan produser seni lainnya untuk mulai menanggalkan jiwa romantisme yang mereka hembuskan pada tiap karya dan beralih pada realita teknologi dan industri di sekitar mereka. Dalam artikel ini, puisi Matthew Arnold yang ditelaah secara mendalam berjudul “Youth and Calm”. Puisi tersebut mengeksplorasi arus pemikiran yang berisikan kontemplasi terhadap figur “pemuda” dan apa yang mereka impikan. Penulisan ini bertujuan untuk menggali makna puisi berdasarkan komposisi tekstualnya dan tanpa menghubungkannya dengan karya Arnold lainnya.  Menggunakan paradigma fenomenologi untuk membedah struktur kebahasaan serta Freudo-Lacanian dalam menginterpretasi tema menghasilkan sebuah makna bahwa “Death” atau kematian merupakan objek yang secara simbolis dipendam oleh subjek youth yang dibahas pada puisi ini.
BUILDING IDENTITY IN GLOBAL REALITY: A POSTCOLONIAL STUDY ON RAJAA ALSANEA'S BANAT AR-RIYADH Hindun Ichsan
POETIKA Vol 9, No 1 (2021): Issue 1
Publisher : Literary Studies, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/poetika.v9i1.63956

Abstract

This study aims to examine the novel Banaat ar-Riyadh (Girls of Riyadh) from the perspective of globalization using a postcolonial approach. This novel was written by Rajaa Alsanea, a Riyadhi girl who moved to the United States of America and then published her novel in Lebanon. The novel was written in the form of a series of electronic mails sent by four young Riyadhi girls who discuss the contestation between traditional Saudi Arabian norms and American norms.  Fittingly, this study uses postcolonial theory, with the theoretical framework of globalization as a basis for investigating the aspects identified in the theory, such as mimicry, inferiority, and hybridity, and applies deductive qualitative method from a globalization perspective. The results of this study indicate the influence of American culture on the lives of Saudi Arabians. The influence of American culture is obtained through Saudi people, both men and women, who study and work in the United States. It is the relationship between Arab culture and American culture that influences the Arab way of thinking, which leads to certain behavioral changes. Some Arabs, previously compliant to their traditional values, display behavorial changes that are inspired by Americans, especially American women. Arab women who are supposed to constantly obey state rules, want changes which they adopt from American culture. Penelitian ini bertujuan meneliti novel Banaat ar-Riyadh dari perspektif globalisasi dengan mengambil pendekatan poskolonial. Novel ini ditulis oleh Rajaa Alsanea, seorang gadis Riyadh yang pindah ke Amerika Serikat lalu menerbitkan novelnya di Lebanon. Novel ini berbentuk rangkaian surat elektronik yang dikirimkan oleh empat sekawan gadis-gadis Riyadh yang membicarakan kontestasi antara norma-norma tradisional Arab Saudi dengan norma-norma Amerika Serikat. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan teori poskolonial, serta globalisasi  sebagai landasan untuk melihat aspek-aspek yang dikemukakan dalam teori tersebut, yaitu mimikri, inferioritas, dan hibriditas, dengan metode deduktif kualitatif yang ditempatkan dalam perspektif globalisasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh budaya Amerika pada tata kehidupan sebagian orang Arab Saudi. Pengaruh budaya Amerika itu diperoleh melalui orang-orang Arab Saudi, baik laki-laki maupun perempuan, yang menempuh studi dan bekerja di Amerika. Keterhubungan antara budaya Arab dengan budaya Amerika inilah yang memengaruhi pemikiran orang Arab, yang kemudian berdampak pada perubahan perilaku. Orang Arab yang semula berpegang teguh pada aturan-aturan tradisi kemudian menginginkan perubahan-perubahan yang mengarah pada pada perilaku orang Amerika yang mereka lihat, terutama pada perempuan. Perempuan Arab, yang diharuskan patuh pada aturan-aturan yang dibuat oleh negara, menginginkan perubahan-perubahan dengan mengadopsi budaya Amerika.

Page 1 of 1 | Total Record : 7