cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pembelajaran
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2017)" : 6 Documents clear
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI KELAS X DI SMA NEGERI 1 MANGGIS ., NI NYOMAN SUKARMINI ; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DR. I KOMANG SUDARMA, S.Pd., M.Pd
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.118 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.1888

Abstract

Penelitian ini merupakan quasi eksperimen dengan rancangan “non-equivalent pre-test post-test control group design.”. yang bertujuan untuk meneliti Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Ekonomi Kelas X Di SMA Negeri 1 Manggis.Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Manggis tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 180 orang yang terdistribusi dalam enam kelas dengan kemampuan yang homogen. Berdasarkan hasil random sampling diperoleh kelas XA sebagai kelas eksperimen dan XB sebagai kelas kontrol. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi motivasi berprestasi dan tes hasil belajar untuk pretest dan post test ekonomi. Penelitian ini menggunakan dua teknik analisis yaitu analisis deskriptif dan analisis kovarian. Berdasarkan hasil analisis data, maka temuannya adalah: (1) terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran langsung dengan nilai Fhitung diperoleh sebesar 7,123 dan Ftabel sebesar 3,92. Jika dibandingkan nilai Fhitung dengan Ftabel didapatkan bahwa Fhitung>Ftabel dengan taraf signifikansi (p) < 0,05. Hasil belajar kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berkualifikasi sangat tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 22,35 dan standar deviasi sebesar 4,57. Begitu juga untuk kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran langsung memiliki rata-rata hasil belajar sebesar 20,89 berkualifikasi tinggi. (2) Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dibandingkan dengan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran langsung, pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dengan nilai Fhitung sebesar 24,556 dengan signifikansi sebesar 0,000. (3) Terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan Motivasi Berprestasi terhadap hasil belajar siswa dengan nilai Fhitung(AB) = 18,331 dengan signifikansi sebesar 0,000 (p
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERHADAP HASIL BELAJAR IPA DAN RASA PERCAYA DIRI (SELF ESTEEM) PADA SISWA SMPN 6 AMLAPURA ., I KETUT SUARTIKA; ., PROF. DR. I WAYAN SANTYASA, M.Si.; ., DR. I WAYAN SUKRA WARPALA, S.PD.,M.Sc
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.103 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.1889

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran: 1) hasil belajar IPA dan rasa percaya diri (self esteem) antara siswa yang belajar dengan Model Kooperatif Jigsaw dengan siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran STAD, 2) hasil belajar IPA antara siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw dengan siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran STAD, 3) self esteem antara siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw dengan siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran Pembelajaran STAD. Eksperimen semu ini dilakukan dengan pre-test-post-test only control group design. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 6 Amlapura tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 5 kelas dengan jumlah siswa 131 orang. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik simple random sampling. Sampel yang terpilih adalah Kelas VII B sebagai kelompok eksperimen dengan perlakuan Model Kooperatif Jigsaw, dan Kelas VII A sebagai kelompok kontrol perlakuan Model Pembelajaran Kooperatif STAD. Data hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar yang telah divalidasi, sedangkan data rasa percaya diri siswa dikumpulkan dengan kuisioner self esteem siswa yang sudah divalidasi. Data hasil belajar awal dan sikap ilmiah awal dikumpulkan sebelum eksperimen, dan data hasil belajar dan sikap ilmiah dikumpulkan pada akhir perlakuan. Data dianalisis dengan statistik deskriptif dan Uji MANCOVA yang dilanjutkan dengan Uji LSD. Uji signifikansi dilakukan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Hasil belajar IPA dan self esteem siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif Jigsaw lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif STAD, 2) hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif Jigsaw lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif STAD, 3) Self esteem siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif Jigsaw lebih baik daripada siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif STAD. Kata Kunci : Model Kooperatif Jigsaw dan STAD, Hasil Belajar, Self Esteem The aim of the research was to describe and analysis the difference of: 1) student’s achievement and their self esteem between whom learned by cooperative Learning Model Jigsaw with student who learned by cooperative Learning Model STAD, 2) student’s achievement between student who learned by cooperative Learning Model Jigsaw with student who learned by cooperative Learning Model STAD, 2) self esteem between student who learned by cooperative Learning Model Jigsaw with student who learned by cooperative Learning Model STAD. This quasi experiment was conduvted by pretest-post test only control design. Population of this research was 5 classes of 7th grade student of SMP Negeri 6 Amlapura in the years 2015/2016 which consisted of 131 person. Sample of the research determined by simple random sampling technique towards already matched class. The sample that has been choosen was VII B class as experiment group which was learned using cooperative Learning Model Jigsaw, and VIII A class as control group which was learned using cooperative Learning Model STAD.Dependent variable that is analyzed is student’s learning achievement and self esteem. Student’s learning achievement data took by student’s learning achievement test that already been validated, meanwhile student’s self esteem data took by student’s self esteem questionaire that already been validated. The data of prior achivement and prior students’ self esteem were collected befor intervention and the data of students’ achievement and their self esteem were coleccted after treatment. All of the data were analysed descriptively and MANCOVA test and continued by LSD test. To test the research hyphothesis, the 5% of significance different was used. The research findings show that: 1) student’s achievement and their self esteem between whom learned by cooperative Learning Model Jigsaw was better than student’s who learned by cooperative Learning Model STAD, 2) student’s achievement between student who learned by cooperative Learning Model Jigsaw was better than student who learned by cooperative Learning Model STAD, 3) self esteem between student who learned by cooperative Learning Model Jigsaw was better than student who learned by cooperative Learning Model STAD, 3). keyword : Jigsaw learning model and STAD learning model, students’ achievement, students’ self esteem.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR IPA KELAS VII SISWA SMP NEGERI 3 SIDEMEN ., DEWA AYU MADE MAHAYUNI; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DR. I WAYAN SUKRA WARPALA, S.PD.,M.Sc
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.721 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.1913

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan: 1) motivasi belajar dan hasil belajar IPA secara bersama-sama antara siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation berbantuan Video (GIV), Group Investigation (GI) dan Konvensional (PK). 2) motivasi belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif GIV, GI dan PK, 3) hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif GIV, GI dan PK. Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimen dengan rancangan Non Equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah empat kelas siswa kelas VII SMP Negeri 3 Sidemen. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik Group Random Sampling dan terpilih tiga kelas sebagai sampel. Sampel yang terpilih adalah kelas VIIA sebagai kelompok eksprimen yang belajar menggunakan model pembelajaran GIV, kelas VIIB sebagai kelompok eksperimen yang belajar menggunakan model GI dan kelas VIIC sebagai kelompok eksperimen yang belajar dengan model PK. Pengumpulan data menggunakan 2 jenis tes, yaitu tes motivasi belajar dikumpulkan dengan kuisioner motivasi belajar yang sudah divalidasi dan tes hasil belajar IPA dikumpulkan dengan menggunakan tes hasil belajar yang telah divalidasi. Data dkumpulkan pada akhir perlakuan untuk selanjutnya dianalisis dengan statistik deskriptif dan Uji MANCOVA dengan skor pre-tes motivasi belajar dan hasil belajar awal sebagai kovariat kemudian dilanjutan dengan uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar IPA antara siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe GIV, GI dan PK. (2) terdapat perbedaan motivasi belajar yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model GIv, GI dan PK. (3) terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe GIV, GI dan PK.Kata Kunci : model pembelajaran, motivasi belajar, hasil belajar IPA. The aim of the research was to describe and analyze the differences of: 1) learning motivation and learning achievement of natural science altogether between students who learned with Group Investigation Model added with Video (GIV), Group Investigation only (GI) and students who learned by Conventional Model (PK); 2) learning motivation between student who learned with Group Investigation Model added with Video (GIV), Group Investigation only (GI) and students who learned by Conventional Model (PK); 3) learning achievement of natural science between students who learned with Group Investigation Model added with Video (GIV), Group Investigation only (GI) and students who learned by Conventional Model (PK).This research was belonged to quasi experiment with pretest-post test only control design research. The research population were four classes of 7th grade Junior High School of SMP Negeri 3 Sidemen in the academic 2015/2016. By using Group Random Rampling, there were three classes taken as the samples of the study. The sample was class VIIA which was treated as the experimental group using GIV. Class VIIB as experimental group using GI only. Whereas class VIIC as control group treated with PK. The data were collected using two types of tests: learning motivation test collected through the students learning motivation questionnaire that was already validated and achievement test of natural science which was collected through validated achievement test. The data was collected at the end of treatment and then it was analyzed descriptively and with MANCOVA test with the pre-test learning achievement scores and pre-learning achievement as covariat and then continued with LSD test. The test of null hypothesis was carried out with the significance of 5%. The result of research indicated that: 1) There was a significant difference of learning motivation and the achievement of natural science between the students who learned using GIV, GI only and PK; 2) There was a significance difference of learning motivation between the group of students taught with GIV, GI only and PK; 3) There was a significance difference of learning achievement of natural science between the students taught with GIV, GI only and PK.keyword : Learning Model, Learning Motivation, Natural Science Achievement.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 RENDANG ., NI MADE RUMITHI; ., PROF. DR. I WAYAN SANTYASA, M.Si.; ., DR. I WAYAN SUKRA WARPALA, S.PD.,M.Sc
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.789 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.1994

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar biologi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen menggunakan desain non equivalence pretest-posttest control group designe. Variabel bebas dalam penelitian ini model pembelajaran, yang dipilah menjadi dua level, yaitu model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional. Motivasi berprestasi sebagai variabel moderator, juga dipilah menjadi dua level, yaitu motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah. Sebagai variabel terikat dalam penelitian ini berupa prestasi belajar biologi. Kuisioner motivasi berprestasi digunakan untuk mengukur tingkat motivasi berprestasi siswa, sedangkan tes prestasi belajar biologi digunakan untuk mengukur prestasi belajar biologi siswa. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kovarians (ANACOVA) faktorial 2×2 dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing berbeda secara signifikan dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Model inkuiri terbimbing lebih unggul dibandingkan dengan model konvensional. (2) Terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar biologi pada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan prestasi belajar biologi siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. Siswa dengan motivasi berprestasi tinggi lebih unggul dibandingkan dengan siswa motivasi berprestasi rendah. (3) Terdapat pengaruh interaktif yang signifikan antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi baik model inkuiri terbimbing maupun model konvensional berinteraksi kuat dengan motivasi berprestasi tinggi terhadap pencapaian prestasi belajar . I.PENDAHULUAN Memasuki abad ke 21 Sistem Pendidikan Nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Salah satu harapan besar bagi negeri ini agar bisa bangkit dari keterpurukan kualitas pendidik dalam semua aspek dan jenjang pendidikan adalah Lembaga pendidikan. Kualitas pendidikan tersebut sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas dan terampil agar bisa bersaing secara terbuka di era global. Dalam era informasi dan globalisasi saat ini persaingan untuk memperoleh kesempatan terbaik dalam berbagai hal, tidak hanya terjadi secara lokal maupun nasional, melainkan juga dalam sekala yang lebih luas dan terbuka hingga menembus batas teritorial negara. Persaingan tersebut sudah tentu berbasis pada SDM yang baik. Dengan demikian upaya untuk meningkatkan mutu SDM Indonesia agar memiliki kemampuan untuk memenangkan berbagai persaingan perlu terus ditumbuh kembangkan. SDM yang diperkirakan mampu memenuhi tantangan di atas yakni mereka yang antara lain memiliki kemampuan berpikir secara kritis, logis, sistematis, dan kreatif sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara mandiri dengan penuh rasa percaya diri. Pembelajaran sains atau IPA pada jenjang pendidikan menengah dalam kaitannya dengan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bertujuan agar siswa menguasai kompetensi sains (IPA). Kompetensi merupakan pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai dasar yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Sains (IPA) sebagai ilmu memiliki dua demensi yaitu sains sebagai produk dan sains sebagai proses. Tujuan pembelajaran IPA atau sains di sekolah (SMA) adalah untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri sesuai dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 melalui proses inkuiri ilmiah (BSNP, 2006). Biologi merupakan salah satu cabang ilmu sains mengkaji segala sesuatu tentang makhluk hidup.Kegiatan pembelajaran biologi selain sebagai suatu proses penemuan, diharapkan juga dapat mengubah tingkah laku, baik tingkah laku yang berkenaan dengan aspek afektif, kognitif, dan psikomotor (Trianto, 2011: 135). Dalam praktik pelaksanaan pembelajaran biologi pada tingkat SMA, masih banyak adanya kendala-kendala. Motivasi belajar dan prestasi belajar masih dibawah standar. Sebagian besar siswa cenderung beranggapan bahwa belajar biologi semata-mata hanya merupakan hapalan dan tidak bermakna sehingga siswa tidak termotivasi dalam belajar (Trisna Dewi, 2015: 2). Hasil observasi empirik di lapangan mengidentifikasikan pembelajaran Biologi melalui penemuan konsep kurang melibatkan peran aktif siswa, karena proses pembelajaran Biologi kurang memberdayakan siswa. Pelaksanaan pembelajaran masih cenderung bersifat konvensional yang didominasi dengan metode ceramah dan tanya jawab. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional sebagai satu-satunya model pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Biologi. Model yang biasa digunakan adalah metode ceramah, sehingga mengalami kesulitan dalam proses pengorganisasian terhadap pemecahan permasalahan yang ada dan sebagian besar siswa belajar hanya dengan hafalan yang berakibat belajar kurang bermakna dan hasil belajar Biologi yang rendah (dibawah batas KKM mata pelajaran Biologi). Oleh karena itu pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan IPA. Untuk meningkatkan proses pembelajaran guru seyognya berwawasan luas, mempunyai kreatifitas tinggi, ketrampilan metodelogi yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, mau melakukan inovasi pembelajaran, mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik guru seyognya terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh guru dalam pembelajaran adalah mendesain pembelajaran yang kreatif, inovatif, bermakna dan menyenangkan. Pembelajaran Biologi merupakan suatu proses penemuan dan menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung dengan mengembangkan keterampilan proses sains. Berpijak pada kenyataan tersebut, perlu dicari alternatif pembelajaran Biologi berbasis keterampilan proses sains. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah satu model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains, yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa (student centered learning). Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dalam pembelajaran Biologi sangat efektif untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa melalui kegiatan penemuan. Keaktifan siswa untuk belajar ini mengakibatkan siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahmatsyah dan Simamora (2011) yang menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara pengguasaan ketrampilan proses sains melalui pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa. Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor eksternal adalah model pembelajaran yang digunakan, sedangkan salah satu internal yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran adalah motivasi berprestasi dalam diri siswa. Adanya motivasi berprestasi memberikan dorongan pada diri siswa untuk mencapai sukses dan menghindari kegagalan yang menimbulkan kecenderungan perilaku dengan berpedoman pada standar keunggulan yang telah ditetapkan (Nasir, et al., 2015). Pembelajaran yang berpusat pada siswa salah satu cirinya adalah pembelajaran yang dirancang guru dengan menciptakan situasi pembelajaran yang lebih banyak melibatkan siswa, sehingga siswa memperoleh banyak pengalaman dari hasil temuannya sendiri maka dapat berakibat ingatan siswa mengenai apa yang dipelajarinya akan bertahan lebih lama dan pengetahuan akan lebih luas, di samping itu juga menumbuhkan sifat kreatif pada diri siswa. Prestasi belajar dapat dipandang sebagai suatu kemampuan yang dimiliki oleh siswa sehingga dapat diukur dan hasil pengukurannya berupa skor atau angka yang merupakan gambaran dari hasil proses pembelajaran. Seseorang dikatakan belajar apabila dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang menyebabkan suatu perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Penelitian sebelumnya yang telah membuktikan keefektifan inkuiri terbimbing dalam pembelajaran Biologi dilaporkan oleh Surkirmarwati et al (2013), bahwa inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kreativitas dan motivasi berprestasi siswa. Susanti (2014) melaporkan bahwa inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar biologi, dan Suardiantini (2014) menyatakan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan minat belajar biologi siswa. Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan dalam latar belakang, maka peneliti mengajukan beberapa permasalahan yang menyangkut bagaimanapengauh penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 1 Rendang. Rumusan masalahnya adalah sebagai berikut. 1) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional? 2) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah? 3) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar biologi sebagai akibat pengaruh interaktif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar biologi siswa? Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) Mendeskrifsikan perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. 2) Mendeskrifsikan perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. 3) Mendeskrifsikan perbedaan prestasi belajar sebagai akibat dari pengaruh interaktif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi siswa terhadap prestasi belajar biologi. Penelitian ini mempunyai manfaat secara teoretis untuk mengkaji model pembelajaran inkuiri terbimbing dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa, sehingga diharapkan hasil penelitian ini memperkaya kasanah pengetahuan di bidang pembelajaran. Secara praktis penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam hal prestasi belajar, khususnya mata pelajaran biologi di SMA Negeri 1 Rendang. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran bagi guru-guru bilogi untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan keterampilan proses sains. Bagi siswa penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan pengeatahuan secara bermakna sehingga dapat dijadikan bekal dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. II. METODE PENELITIAN Rancangan penelitian yang digunakan adalah non-equivaence pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah 8 kelas X SMA Negeri 1 Rendang Tahun Pelajaran 2015/2016, pada masing-masing kelas terdapat 30 orang siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik random sederhana, untuk memilih 4 kelas sampel. Empat kelas yang terpilih sebagai sampel dirandom kembali untuk menetapkan dua kelas sebagai kelompok eksperimen yaitu kelas XC dan XG, dua kelas sebgai kelompok kontrol yaitu kelas XF dan XG. Di awal penelitian sampel penelitian diberikan pretest secara keseluruhan setelah itu baru diberkan perlakuan bagi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, selanjutnya baru diadakan posttest untuk mengukur prestasi belajar biologi siswa. Penelitian ini menyelidiki pengaruh dua variabel bebas terhadap satu variabel terikat dan satu variabel moderator. Variabel bebas dalam peneltian ini adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional. Sebagai variabel moderator adalah motivasi berprestasi, yang dipilah menjadi dua level yaitu motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah.Variabel terikat yang diteliti dalam penelitian ini adalah prestasi belajar biologi siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan rincian kegiatan pada setiap tahap sebgai berikut. 1) Orientasi dan observasi terhadap rancangan danpelaksanaan belajar mengajar dikelas. 2) Menyusun instrumen berupa tes prestasi belajar. 3) Melakukan uji coba instrumen yang meliputi uji daya beda butir, tingkat kesukaran butir, dan reliabilitas tes. 4) Menyusun perangkat pembelajaran ( menyusun RPP dengan model inkuiri terbimbing dilengkapi dengan LKS dan model pembelajaran konvensional). 5) Implementasi perangkata pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional pada masing-masing kelompok kelas sampel yang terpilih dalam penelitian ini. 6) Evaluasi terhadap prestasi belajar biologi baik untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dalam penelitian ini, perlakuan diberikan oleh peneliti sendiri (guru bidang studi biologi) yang memiliki kualifikasi pendidikan sarjana S1 biologi. Perlakuan antara kelompok esperimen dan kelompok kontrol sama, kecuali model pembelajaran yang digunakan berbeda antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada akhir penelitian kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan tes akhir (posttest) yang sama, yaitu tes pilihan ganda diperluas untuk mengukur prestasi belajar biologi siswa. Instrumen penelitian berupa tes motivasi berprestasi dan tes prestasi belajar dikembangkan oleh peneliti. Sebelum instrumen ini digunakan maka dilakukan uji instrumen untuk mengetahui kualitas dari instrumen tersebut. uji instrumen yang dilakukan antara lain: uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda. Pada penelitian ini diajukan tiga hipotesis yang diklasifikasikan menjadi hipotesis pengaruh utama meurut model pembelajaran dan hipotesis pengaruh interaktif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi. Pengujian hipotesis dijabarkan menjadi pengujian hipotesis nol (H0) melawan hipotesis alternative (H1). Untuk pengujian hipotesis digunakan uji F melalui ANACOVA dua jalur. Kriteria pengujian adalah jika Fhitung ≥ Ftabel, maka H0 ditolak berarti signifikan. III.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Nilai rata-rata awal dari prestasi belajar siswa yang belajar dengan model inkuiri terbimbing adalah M = 68,150 dengan SD = 8,341, sedangkan siswa yang belajar dengan model konvensional M = 63, 800 dengan SD = 9,533 Nilai rata-rata prestasi belajar akhir eksperimen untuk kelompok inkuiri terbimbing adalah M = 69,400 dengan SD = 8,682, sedangkan siswa yang belajar dengan model konvensional M = 65,750 dengan SD = 9,391. Data motivasi berprestasi siswa untuk kelompok model inkuiri terbimbing adalah M = 67,77 dengan standar deviasi = 3,926, sedangkan untuk kelompok model konvensional M 66,05 dengan SD = 5,03. Uji asumsi yang harus dipenuhi dalam ANACOVA adalah data terdistribusi normal, varian dalam kelompok homogen, dan bemtuk regresi linier. Bertitik tolak dari kriteria pengujian hipotesis yang telah diuraikan diatas, diperoleh hasil uji hipotesis secra keseluruhan dengan menggunakan analisis kovarian faktorial 2×2 seperti yang disajikan pada Tabel 3.2 Tabel 3.2 Rangkuman Hasil Analisis Kovarian ( ANACOVA) faktorial 2× 2 Source Type III Sum of Square Df Mean Square F Sig Corrected Model 6436,895a 4 1609,224 432,734 0,000 Intercept 21,258 1 21,258 5,716 0,019 Z 1673,195 1 1673,195 449,936 0,000 A 40,032 1 40,032 10,765 0,002 B 40,222 1 40,222 10,816 0,002 A * B 17,091 1 17,091 4,596 0,035 Error 278 75 3,719 Total 370676,000 80 Corected Total 6715,800 79 Berdasarkan Tabel 3.2 tampak bahwa nilai tes prestasi belajar awal (pretest) adalah Zhitung = 449,36 dengan p = 0,000 pada taraf signifikan 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel =3,96. Dengan demikian terdapat perbedaan secara signifikan prestasi belajar awal (pretest) siswa dengan prestasi belajar akhir (posttest) siswa. Nilai F(A) hitung = 10,765 dengan p = 0.02 dan Ftabel = 3,96 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel. Oleh karena itu H0 ditolak dan H1 diterima. dengan demikian perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini mengindikasikan terdapat perbedaan secara signifikan prestasi belajar biologi siswa antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh memperlihatkan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah M = 69,40 dengan SD 8,682 sedangkan nilai rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional adalah M = 65,75, dengan SD = 9,391 Dengan demikian prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan prestasi belajar biologi yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran dengan model pembelajaran inquiri terbimbing, siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen, diskusi, mengemukakan gagasan lama atau baru untuk membangun pengetahuan-pengetahuan dalam pikirannya. Siswa belajar diawali melalui pertanyaan-pertanyaan atau hipotesa-hipotesa yang diberikan guru dan untuk menjawab pertanyaan/permasalahan atau juga hipotesa siswa merancang percobaan dan melakukan percobaan dan dari percobaan siswa mendapatkan atau menemukan pengetahuan untuk menguji pengetahuannya, guru memberi petunjuk tentang sumber-sumber belajar atau kajian pustaka dan siswa melakukan analisis sumber-sumber belajar atau kajian pustaka serta menghubungkannya dengan hasil percobaannya tersebut, dan melalui membaca atau melalui kajian pustaka dengan penalarannya siswa menyusun struktur kognitifnya untuk membentuk pengetahuan yang baru. Jadi intinya siswa sendiri menemukan konsepnya sendiri melalui proses bimbingan oleh guru, sehingga konsep yang ditemukan diberikan penguatan sehingga akan tersimpan dalam memori jangka panjang siswa (Trisna Dewi, 2015) Pada model pembelajaran konvensional pemebelajaran lebih berpusat pada guru, dimana guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran sehingga siswa menjadi pasif, kurang kreatif, dan tidak mampu mengembangkan ide-ide atau gagasan yang dimilikinya (Rarici, 2013). Berdasarkan Tabel 3.2 Tampak bahwa nilai F(B) hitung = 10,8176 dengan p = 0,02 dan Ftabel = 3,96 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil ini menunjukkan Fhitung =10,8176 > Ftabel=3,96, dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima berarti terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar biologi pada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan prestasi belajar biologi pada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. dapat dilihat dari nilai rata-rata prestasi belajar biologi yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi adalah M = 74,98 dengan SD 4,2205, sedangkan nilai rata-rata prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah adalah 60,175 dengan SD = 5,663 Dengan demikian motivasi berprestasi berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi siswa temuan ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukimarwati, et al (2013) yang menyatakan motivasi berprestasi memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan hasil analisis kovarian faktorial 2×2 didapat F AB hitung = 4,596 dan F AB tabel = 3,96. Karena F AB hitung > F AB tabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi dalam pencapaian prestasi belajar. Berdasarkan hasil statistik rerata dengan dengan bantuan SPSS 17,0 Windows untuk prestasi belajar biologi diperoleh profil interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi, disajikan pada Gambar 3.1 Esensi dari pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pertanyaan-pertanyaan tidak hanya membantu guru dalam menentukan apa ayang sudah diketahui siswa tetapi juga mendorong siswa lebih banyak belajar . Pertanyaan merupakan dasar bagi pembelajaran inkuiri terbimbing atau pembelajaran Kontruktivis (Carin,1997). Berkaitan dengan pertanyaan, Lawson (dalam Trisna Dewi, 2015) menyatakan bahwa agar guru-guru berhasil dalam pembelajaran mereka hendaknya menggunakan model inkuiri untuk membimbing siswa dan memberi arah dalam melakukan investigasi dan berfikir. Penelitian yang dilakukan oleh Marheni, et al (2014) dengan judul Studi komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran inkuiri bebas terhadap hasil belajar dan keterampilan proses sains siswa pada pemebelajaran sains SMP. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri bebas. Penelitian yang dilakukan oleh Rizal (2014) dengan judul Pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing dengan multirepresentasi terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep siswa SMP. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dan penguasaan konsep IPA siswa dalam pembelajaran inkuiri terbimbing dengan multirepresentasi. Penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2014) dengan judul Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar sains biologi siswa kelas VIII SMPN 1 Ngawen. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. IV. PENUTUP Berdasarkan hasil pengujian hipotesis seperti yang telah diuraikan dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut. Pertama, terdapat perbedaan prestasi belajar bilogi siswa antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mengikuiti model pembelajaran konvensional dengan nilai FA = 10,765 dan taraf signifikansi p < 0,05. Model inkuiri terbimbing lebih unggul dibandingkan dengan model konvensional dalam pencapaian prestasi belajar. Kedua terdapat perbedan prestasi belajar biologi siswa antara sisw yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah yang mengikuti model pembelajaran konvensional dengan nilai FB = 10,816 dan taraf signifikansi p < 0,05. Dalam pencapaian prestasi belajar siswa dengan Motivasi berprestasi tinggi lebih unggul dibandingkan dengan siswa motivasi berprestasi rendah. Ketiga Terdapat pengaruh interkaif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi dengan nilai F AB = 4,596 dan taraf signifinasi p < 0,05. Interaksi baik model inkuiri terbimbing maupun model konvensional berinteraksi kuat dengan motivasi berprestasi tinggi terhadap pencapaian prestasi belajar . Berdasarkan temuan-temuan dan simpulan dalam penelitian ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. 1) Model pembelajaran inkuiri terbimbing perlu diperkenalkan pada guru bidang studi sebagai model alternatif melalui kegiatan-kegiatan seminar, pelatihan-pelatihan maupun dalam pertemuan MGMP. 2) Kepada rekan-rekan guru khususnya yang mengajar bidan studi biologi, disarankan untuk mencoba mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri terbimbing, karena berdasarkan hasil penelitian model pembelajaran ini telah terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar biologi menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. 3) Sedangkan untuk siswa yang memilki motivasi berprestasi rendah, perlu diadakan pelatihan-pelatihan untuk dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa.. DARTAR PUSTAK Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). 2006. Standar isi dan standar kompetensi lulusan tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah (Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 22 dan 23 Tahun 2006). Jakarta: PT Bina Tama Raya Marheni, N. P., Muderawan, I W., & Tika, I N. 2014. Studi komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran inkuiri bebas terhadap hasil belajar dan keterampilan proses sains siswa pada pembelajaran sains SMP. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. 4.Tersedia pada download. portalgaruda. org/article.php? Diakses 15 September 2015. Susanti. 2014. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar sains biologi siswa kelas VIII SMPN 1 Ngawen. Skripsi. (tidak diterbitkan) Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tersedia pada digilib.uin.suka.ac.id/11051/ Diakses 15 September 2015. Suardiantini, N. P. N. 2014. Pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiri) divariasikan dengan media mind mapping terhadap minat belajar biologi siswa kelas VII SMP PGRI 4 Denpasar tahun pelajaran 2013/2014. Sripsi. (tidak diterbitkan). Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maha Saraswati Denpasar. Tersedia pada unmas-library.ac.id/ .../skripsi-url.pd... Diakses pada 15 September 2015. Sukimarwati, J., Sunarno, W., & Sugiyarto. 2013. Pembelajaran biologi dengan guided inquiry model menggunakan LKS terbimbing dan LKS bebas termodifikasi ditinjau dari kreativitasdan motivasi berprestasi siswa, Jurnal Inkuiri. 2(2): 154-162. Tersedia pada http:// jurna.fkip.uns.ac.id/ index.php/ sains. Diakses 15 September 2015. Simamora, A. H. 2012. Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Singaraja. Tesis (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha Trisna Dewi, I. A. N. 2015. Komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dan group investigation (GI) untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar biologi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Susut Bangli. Tesis (tidak diterbitkan). Program Pascasarjana UNDIKSHA. Kata Kunci : Kata Kunci: Model Pembelajaran, Motivasi Berprestasi, Prestasi Belajar Biologi The aim this research is to describe the influence of learning model and prestated motivation toward biologi learning prestation. This research is experiment research which use non equivalence pretest-posttest control group designe. Free variable in this research is learning model, is classified into two levels, those are consulting inquiry learning model which is treated to the experiment group and convensional learning model which is treated to the control group, how ever prestated motivation as moderator variable, is also classified in to two levels those are high prestated motivation and low prestitation. Quisioneer instreument of prestated motivation is used to measure the students prestated motivation level, but pretest of biologi learning is used to measure prestation of the students biologi learning. This analysis data by using covarians analysis (ANACOVA) factorial 2 ×2 and continued with Tukey examination. The result of the research showed that (1) commonly, the prestation of the student learning biologi who joined consulting inquiry learning model is defferent significantly with the students who joined convensional learning model, (Fobserved = 10,765; p < 0,05. The consulting inquiry model is better than convensional model, (2) the is differentiat significantly between the prestation of the students learning biologi who as high prestated motivation to the prestation of the student learning biologi who has low prestated motivation, with (Fobserved = 10,816; p < 0,05). The students who have high prestated motivation are better than the students who have low prestated motivation, (3) there is interactively influence significantly between learning model and prestated motivation toward the students prestated learning, (FAB observed = 4,596; p < 0,05. So that the interaction occurred between the students who have high prestated motivation by learning on consulting inquiry learning model are better than the student who learn on convensional model. and the interaction occurred between the students who have low prestated motivation by learning on consulting inquiry learning model are better than the student who learn on convensional model.keyword : Key word: Learning model, Prestated Motivation, Biologi Learning Prestation
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 ABANG ., KD ARYA UTAMA JAYA; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DRA. NI NYOMAN PARWATI, M.Pd
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.402 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.1887

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar matematika dan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan pretest-posttest non-equivalent control group design. Sampel penelitian adalah dua kelas VIII di SMP Negeri 2 Abang tahun pelajaran 2015/2016 yang ditentukan dengan teknik random sampling. Data penelitian ini adalah data prestasi belajar dan keterampilan berpikir kritis. Masing-masing data dikumpulkan dengan tes,serta dianalisis dengan uji MANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan prestasi belajar matematika dan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran konvensional.Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Masalah, Prestasi Belajar, dan Keterampilan Berpikir Kritis The purpose of this study was to describe the differences in mathematics achievement and skills of critical thinking among students who learn by applying problem based learning and student learning by applying conventional learning model. This research is quasi experiment with pretest - posttest non - equivalent control group design. Samples are two classes VIII in SMP Negeri 2 Abang in the academic year 2015/2016 which was determined by random sampling technique. This research data is data learning achievement and critical thinking skills. Each of data collected by the test, and analyzed with MANCOVA. The results showed there are differences in mathematics achievement and skills of critical thinking among students who learn by applying problem based learning and student learning by applying conventional learning model.keyword : Problem Based Learning, Achievement Learning and Skills Critical Thinking
Pengembangan Modul Sejarah Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Semester Genap di SMK Negeri 1 Singaraja ., AYU GDE CHRISNA UDAYANIE; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DR. I MADE TEGEH, S.Pd.,M.Pd
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.25 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.2008

Abstract

Penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan produk berupa modul sejarah kontekstual untuk siswa kelas X semester genap di SMK Negeri 1 Singaraja yang teruji kelayakan dan keunggulannya untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran sejarah. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (research and development), dengan model pengembangan yang dipilih adalah model pengembangan Santyasa. Langkah-langkah pengembangannya adalah 1) analisis tujuan dan karakteristik bidang studi; 2) analisis sumber belajar; 3) analisis karakteristik pebelajar; 4) menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran; 5) menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran; 6) menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran; 7) menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran; dan 8) pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Validasi draft modul mencakup 1) uji ahli isi dan media pembelajaran; 2) uji ahli desain pembelajaran; 3) uji siswa perorangan; 4) uji siswa kelompok kecil; dan 4) uji lapangan. Hasil review dari ahli isi dan ahli media menyatakan bahwa sejarah kontekstual yang dikembangkan sudah sesuai. Hasil uji ahli desain pembelajaran dengan persentase 93,26% terletak pada kualifikasi sangat baik. Hasil uji siswa perorangan sebesar 90,86% terletak pada kualifikasi sangat baik. Hasil uji kelompok kecil sebesar 85,37% terletak pada kualifikasi baik. Hasil tanggapan pendidik untuk uji lapangan dengan persentase 92,85% terletak pada kualifikasi sangat baik. Hasil persentase keseluruhan peserta didik untuk uji lapangan sebesar 86,42% terletak pada kualifikasi baik. Hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t memberikan hasil Signifikansi sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05. Nilai rata-rata posttest (Mean = 89,2000) lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pretest (Mean=43,0667) Kata Kunci : pengembangan, model pengembangan Santyasa, modul sejarah kontekstual, hasil belajar sejarah This development research aimed to produce the development of contextual history module change model in tenth grade of second semester students at SMK Negeri 1 Singaraja in which the feasibility and advantages had been tested to improve learning achievements in learning history. The research of design used was the research and development method. The chosen of the design development was Santyasa model. The Development steps were as follows.1) analysis goals and characteristics of the study area, 2) analysis of learning resources, 3) analysis of the characteristics of learners; 4) establish learning objectives and content of learning; 5) determine the organization of learning content strategy; 6) establish a strategy delivery of learning content; 7) determine the learning management strategies, and 8) the development of learning outcomes measurement procedures. Validation module draft covered : 1) the content expert test and learning media, 2) the instructional design experts test, 3) individual student test, 4) a small group of students test, and 4) field test. The results of the expert review of content and media stated that contextual history module change model had been developed accordingly. The results of design experts the percentage of 93,26% is located in a very good qualification. The results to individual students by 90,86% is located in a very good qualification. The results to small groups of 85,37% is located in a good qualification. The results of the response of educators to the percentage of 92,85% is located in a very good qualification. The result of the overall percentage of students for field testing by 86,42% is located in a good qualification. The results of calculations using the t-test significance field of 0,001 is smaller than 0,05. The average value after learning (mean =89,2000) was higher than before the study (mean = 43,0667)keyword : development, Santyasa model, contextual history module, history learning achievement

Page 1 of 1 | Total Record : 6