cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2015): April 2015" : 6 Documents clear
Sungai sebagai Transmisi Ritual Urban Kesuburan melalui Pertunjukan Wayang Topeng Robby Hidajat
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1264

Abstract

Sungai pada saat ini sudah mulai tidak mendapatkan perhatian masyarakat terutamadalam masyarakat urban, kebersihannya sudah tidak ada yang bersedia menjaga.Sampah dan cairan deterjen menjadi bahan yang mengotori kebersihan. Akibatnyaair menjadi tidak lagi bersih, membawa bibit penyakit, dan mengakibatkan bencanabanjir. Sungai bagi masyarakat desa di Malang pada waktu yang lampau memilikiarti penting, seperti tempat tertentu di antara bilik-bilik mandi yang disebutbelik terdapat pundhen desa tempat roh nenek moyang bersemayam. Keyakinanmasyarakat desa di Malang itu dikaji dengan teori strukturalisme-simbolis denganmenggunakan data wawancara dan observasi partisipatoris. Teknik analisismenggunakan interpretasi. Penemuannya adalah relasi yang kuat antara sungai,gunung, dan desa: (1) sungai adalah transmisi pemujaan kesuburan dari dewagunung, (2) sungai menjadi manifestasi sih langgeng (cinta abadi), anugerah singnguripi (yang menghidupi), dan (3) sungai diyakini sebagai wujud tirta pawitrasari; air kehidupan. Ritual urban pemujaan terhadap kesuburan adalah anugerahkehidupan yang diekspresikan melalui media seni pertunjukan Wayang Topeng.The River as a Transmission of Fertility Ritual through the Performing ArtsMedia of Wayang Topeng. Nowadays, the rivers are starting not to get any intentionfrom our society; nobody is willing to keep them clean. Garbage and detergent liquidhave become the contaminated materials for them. As a result for that matter, waterhas not been clean anymore, has carried germs, and has lead to floods. Long time ago,rivers for villagers in Malang had its significant value, like a certain place in the showercubicles called ‘belik’, there was a ‘pundhen desa’ where ancestral spirits dwelled. The villagers’ belief in Malang is analyzed with a symbolic - structuralism theory using the data of interviews and participatory observation. The interpretation is used as theanalysis technique. The finding of the research is that there is a strong relation amongrivers, mountains, and villages: (1) the river is the transmission of fertility worship of themountain Gods, (2) the river becomes the manifestation of ‘sih langgeng’ which meansthe eternal love, the blessing of the almighty support ‘sing nguripi’, and (3) the river isbelieved to be a form of ‘tirta pawitra sari’; the water of life. The worship of fertilityritual is the blessing of life that is expressed through the performing arts media of Wayangtopeng.
Deformasi Wajah Karakter Kartun Berbasis Klaster Titik Fitur Gerak Samuel Gandang Gunanto; Matahari Bhakti Nendya; Mochamad Hariadi; Eko Mulyanto Yuniarno
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1269

Abstract

Pendekatan tradisional animasi ekspresi wajah sangat tergantung pada animatordalam pembuatan gerakan kunci dan rangkaian gerakan ekspresi wajah.Problematika yang sering dijumpai adalah penggunaan kerangka dan gerakan wajahyang sama untuk model yang berbeda membutuhkan waktu yang lama dikarenakankompleksitas ekspresi wajah manusia. Pendekatan simulasi kulit wajah dan ototpada praktiknya masih memerlukan intervensi animator untuk pengaturan kulitwajah terhadap tulang/tengkorak kepala dan konfigurasi sambungan otot gerakdi wajah. Hal ini menyebabkan produksi animasi wajah untuk satu wajah tidakdapat digunakan ulang secara langsung untuk wajah lainnya karena kekhususannyatersebut. Oleh karena itu, proses pengamatan perubahan bentuk ekspresi wajahdengan adanya area bobot pada model wajah 3D menggunakan pendekatanklaster di titik fitur gerak mempunyai peran penting untuk mengidentifikasi prosespenyesuaian bentuk wajah yang berlainan dan variasi pengaruh gerakan pada wajahkarakter kartun.Cartoon Character Face Deformation Based on Motion Feature-Point Cluster.The traditional approach animated facial expression is highly dependent on animatorto create key of movement and continuity the motion of facial expressions. The problemsfrequently encountered is the use of the skeleton and the same facial movements fordifferent models takes a long time because of the complexity on human facial expressions.Simulation approach to facial skin and muscles in practice still requires interventionanimators to control the facial skin to bone/skull and connection configuration in facialmuscle movement. This leads to the production of facial animation for one face can’tbe reused directly to the other face model because of their specialization. Therefore, theobservation of deformation facial expressions with weights area on a 3D face model usingmotion feature-point cluster approach have an important role to identify the adjustmentprocess on different facial shapes, and variations of movement on cartoon character face.
Perkembangan dan Perubahan Tepak Kendang Jaipongan Suwanda dalam Masyarakat Urban Asep Saepudin
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1265

Abstract

Tulisan ini membahas perkembangan tepak kendang jaipongan karya Suwanda dilihat dari kontinuitas dan perubahannya terutama yang terjadi dalam masyarakat urban. Metode deskriptif analisis dengan pendekatan sejarah digunakan untuk mengungkap berbagai fenomena tepak kendang jaipongan, yaitu hadirnya notasi yang dibuat oleh para pengendang dan perubahan tepak kendang jaipongan dalam struktur, tempo, dinamika, embat, motif, serta fungsi. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tepak kendang jaipongan karya Suwanda pada perkembangannya ditanggapi secara kreatif oleh para pengendang melalui kreativitasnya. Oleh karena itu, terdapat perbedaan motif tepak kendang antara hasil rekaman Suwanda di dalam kaset dengan fakta di lapangan ketika digunakan oleh para pengendang. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan dan kepunahan beragam tepak kendang jaipongan karya Suwanda di masyarakat.The Development and Changes of Suwanda’s Tepak Kendang Jaipongan in UrbanSociety. This paper discusses the development of Suwanda’s tepak kendang jaipongan,drumming strokes of jaipongan, seen from its continuity and changes, particularly forwhat has been found in urban society. The descriptive analysis method with historicalapproach is used to explore any various kind of phenomenon of drumming strokes ofjaipongan, among others are the presence of jaipongan notation created by the drummersas well as the changes in the structure of drumming strokes of jaipongan, tempo,dynamics, embat, motifs, and function. Based on the analysis it can be concluded that theSuwanda’s drumming strokes of jaipongan in its progress has been creatively respondedby the drummers through their creativity. Therefore, there is a significant differencebetween the motives of Suwanda’s drumming strokes recorded on tape with the facts oflive performance when they are used by the drummers. This led to the change and the extinction of various Suwanda’s jaipongan drumming strokes in the community.
Penciptaan Tari Manggala Kridha sebagai Media Pembentukan Karakter bagi Anak Supriyanti Supriyanti; D. Suharto
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1266

Abstract

enciptaan tari anak ini didasarkan dari rasa keprihatinan ketika melihat prosespembelajaran tari anak dengan materi ajar kurang sesuai dengan dunia bermain anakanak.Berbagaikasus privattari anak atau lomba tari tingkat prasekolah dasar seringdijumpaipenggunaan materi tari orang remaja.Keberadaanekspresiseni pentingbagipembentukan karakter sejak dini, sehingga anak mampu mengembangkan idekreatifdan inovatifyang bersifat kritis dan produktif.Esensi pendidikan menarimenyangkutaspek kognitif,afektif,dan psikomotorik. Formatkoreografianaktentuharusmempertimbangkantingkat usia, terutamatingkat kematangan emosidanketerampilannya agar tari itu mampu membentuk kualitas kepribadiananak.Prosespenciptaan TariManggalaKridha dengan tema memfokuskan pada figurprajuritsebagai orang yang memiliki keberanian dan kepatuhan dalam menjalankantugasnegara sehingga ketika mati dalam pertempurania menjadi seorang pahlawan.Idegarapan TariManggalaKridha diilhami dari sosok keberanian dan kepatuhanseorangprajurit pembela bangsa dan negara.Secarasimbolis, gerak-gerak yangdisusunsebenarnya merupakandialog gerak sepertisikap dan gerak langkah tegap, menyerang,gerak menangkis, gerak menghindar.Musiktari dalam komposisi tariini bersumber pada karawitan tradisi gaya Yogyakartayang dikembangkan menurut kebutuhangarapan tari dengan berbagai macam interpretasigarap permainan.Tarian inidapat ditarikan oleh pria maupun wanita. Penariberjumlah ganjil 11 - 15 orangataukelompok terdiridari anak-anak usia 4-6 tahun, yaitu usia anak yang hidupdalamdunia bermain.The Dance Creation of Manggala Kridha as the Revealing Media of the Character Building for Children. The research on the creation of children dance is based on a big concern while seeing the learning process of children dances with inappropriate teaching materials in accordance to the realm of children’s play. A variety cases of found in children dance private course or dance competitions in the pre-elementary school level is commonly found for which the purpose of dance materials is addressed to teenagers. Therefore, the presence of the art expression is necessary for building the character since childhood, so children can develop their creative and innovative idea critically and productively. The essence of dance education involves the aspects of cognitive, affective, and psychomotorics. The format of children choreography should obviously consider the age level of participants, particularly the level of emotional and skill maturity so that the dance itself can build the quality of children’s personality. The creation process of Manggala Kridha dance with its theme mainly focuses on the soldier figure as person which has bravery and compliance in doing the nation task, so as he died in the battle he becomes a hero. The creation idea of Manggala Kridha dance is mainly inspired by a braving and compliance figure. Symbolically, the created movements are basically as movement dialogues like the firm attitude and sturdy steps, attaching, parrying, and eschewing. The source of dance music for the children dance composition of “Manggala Kridha” is the traditional gamelan of Yogyakarta which is developed based on the needs of dance composition with sort of its interpretation. This dance can be performed either by man or woman. Particularly, the dancers might be odd numbers, more or less around 11-15 dancers or groups consisting of a 4 to 6-year old children, who are still in the realm of children’s play.
Strange Encounter: Depicting An “Other” Reality for Young Readers YOU Chengcheng
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1267

Abstract

This article explores fantastic encounters between humans and non-humans inChinese and Japanese Children’s literature. Naoko Awa’s collection of short storiesThe Fox’s Window and Other Stories is closely read to elucidate narrative features ofwhat I call as “strange encounter”, the magic realistic human-animal encounter inChinese and Japanese cultural context. Chinese supernatural literature and culturaltradition of yaoguai, which have been assimilated into Japanese culture (Japaneseyōkai), are referred to throughout my discussion.  Todorov’s approach to thefantastic, Judith Zeitlin’s study of Strange Tales of Liaozhai Studio, and RosemaryJackson’s study of fantasy are drawn upon to illuminate the meaning of encountersbetween men and animals. I argue that magic realism as a relatively new genrefor young readers, not only reflects the author’s individual creative experienceof the fantastic but also partakes in the sense of an “other” reality that resonatesthroughout a cultural community.Perjumpaan Ganjil: Gambaran suatu Realitas “Liyan” bagi Pembaca Muda.Artikel ini membahas perjumpaan fantastis antara ‘manusia’ dan ‘non-manusia’ didalam sastra anak Cina dan Jepang. Antologi cerita pendek karangan Naoko Awa TheFox’s Window and Other Stories akan dikupas untuk memaparkan fitur naratif yangdisebut sebagai ‘perjumpaan aneh’ (strange encounter), perjumpaan magis-realis antaramanusia dengan binatang dalam konteks kebudayaan Cina dan Jepang. Karya sastrasupernatural Cina dan keberadaan yaoguai yang telah diasimilasi dalam kebudayaanJepang (disebut youkai) menjadi sebuah referensi penting dalam artikel ini. Pendekatanfantasi dari Todorov, studi Judith Zeitlin tentang Strange Tales of Liaozhai Studio,dan studi fantasi dari Rosemary Jackson digunakan untuk memperjelas arti dariperjumpaan antara manusia dan binatang. Magis-realis sebagai sesuatu yang baru bagi pembaca muda tidak hanya merefleksikan pengalaman kreatif pribadi sang pengarang akan fantasi, tetapi juga berperan dalam pembentukan realitas “liyan” dalam sebuahkomunitas budaya.
Mengapa Selalu Harus Perempuan: Suatu Konstruksi Urban Pemenjaraan Seksual Hingga Hegemoni Maskulinitas dalam Film Soekarno Bambang Aris Kartika
Journal of Urban Society's Arts Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v2i1.1268

Abstract

Film Soekarno karya Hanung Bramantyo menghadirkan suatu deksripsi tentangfakta-fakta historis terkait dengan perempuan Indonesia yang dikomodifikasimenjadi teks-teks naratif dan visual film. Wujud representasi dari komodifikasifakta historis perempuan Indonesia, ditampilkan dalam konstruk urban mengenaivisualisasi ketidakadilan gender dalam praktik-praktik politik seksual, kekerasanseksual, kekerasan psikis, hingga pemenjaraan seksual yang diakibatkan olehhegemoni kolonialisme fasisme Jepang melalui praktik perbudakan seksual (jugunianfu) dan tokoh Soekarno terhadap diri tokoh Inggit Ganarsih. Makna-maknasimbolik dari unsur naratif dan visualisasi yang dihadirkan dalam film Soekarnomerupakan suatu strategi kebudayaan dan politik media untuk menjadikan filmsebagai media historical memory dan collective memory bagi masyarakat Indonesiauntuk melawan lupa dari deskripsi narasi besar sejarah bangsa dan negara Indonesia,khususnya terhadap sejarah perempuan Indonesia.Why Women Should Always Be: From the Sexual Restraint to the Hegemony ofMasculinity in the Soekarno Film. Soekarno Film presented by Hanung Bramantyois a description of historical facts which are related to Indonesian women and whichare then commodified into texts and visual narrative films. The representation formof the commodification of historical facts of Indonesian women is showed in thevisualization of gender inequality through the practices of sexual politics, sexual violence,and psychological violence until sexual restraint caused by the hegemony of Japanesecolonialism through the practice of sexual slavery (jugun ianfu), and the attitude ofSoekarno figure which appears to Inggit Ganarsih figure. The symbolic meanings of thenarrative and visualization elements which are presented in the film of Soekarno arethe strategy of culture and media politics to make the film as the medium of historicalmemory and collective memory for the Indonesian people to fight against the forgetting ofa narrative description of the history of Indonesia, especially to the history of Indonesianwomen.

Page 1 of 1 | Total Record : 6