cover
Contact Name
M. Agus Burhan
Contact Email
urbansocietysart@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
urbansocietysart@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Urban Society´s Arts
ISSN : 23552131     EISSN : 2355214X     DOI : -
Journal of Urban Society's Art ( Junal Seni masyarakat Urban) memuat hasil-hasil penelitian dan penciptaan seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat perkotaan yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Seni masyarakat urban merupakan manifestasi seni yang dihadirkan melalui media-media seni rupa, seni pertunjukan, dan seni media rekam yang erat dengan problematika kehidupan yang terjadi dalam keseharian masyarakat, serta bisa menjadi simbol yang menarik dan menjadi elemenpenting yang menjadi ciri khas dari (1) pusat kota, (2) kawasan pinggiran kota, (3) kawasan permukiman, (4) sepanjang jalur yang menghubungkan antar lingkungan, (5) elemen yang membatasi dua kawasan yang berbeda, seperti jalan, sungai, jalan tol, dan gunung, (6) kawasan simpul atau strategis tempat bertemunya berbabgai aktivitas, seperti stasiun, jembatan, pasar, taman, dan ruang publik lain.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2020): October 2020" : 6 Documents clear
Designing Marine-Park-Inspired Batik Patterns and Their Application on Masks as Pangandaran Tourism Souvenirs during Covid-19 Pandemic Husen Hendriyana; Komarudin Kudya; ASM Atamtajani
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.4502

Abstract

Pangandaran is known as one of the tourist destinations in West Java Province with its beautiful natural marine charm. The charm of the beauty of Pangandaran beach and its surroundings attracts tourists’ attention and reaches 4,044,204 visitors in 2018. Pangandaran has 21 beach tourist destinations. Therefore, souvenirs become one of the aspects that strongly complement tourism in Pangandaran, a tourism souvenir. This study aims to produce innovative products of featured art supporting tourism by raising the iconic potential of natural resources and artisan resources from the local community. This article is one of the results of the applied research in the type of practice-based research focusing on the creative industry of craft art (batik) products that support tourism through eco-design and eco-tourism approaches. In its application, this study uses the design thinking method, with the results in the form of a prototype of mask product for tourism souvenir with marine park pattern application. Corak Batik Taman Laut dan Aplikasinya pada Topeng Sebagai Cinderamata Wisata Pangandaran Saat Pandemi Covid-19. Pangandaran dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Provinsi Jawa Barat dengan pesona alam bahari yang indah. Pesona keindahan pantai Pangandaran dan sekitarnya menarik perhatian wisatawan dan mencapai 4.044.204 pengunjung pada 2018. Pangandaran memiliki 21 destinasi wisata pantai. Oleh karena itu, cinderamata menjadi salah satu aspek yang sangat melengkapi pariwisata di Pangandaran yaitu cinderamata pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk-produk inovatif seni unggulan pendukung pariwisata dengan mengangkat potensi ikonik sumberdaya alam dan sumberdaya pengrajin dari masyarakat sekitar. Artikel ini merupakan salah satu hasil penelitian terapan pada jenis penelitian berbasis praktik yang berfokus pada industri kreatif produk seni kriya (batik) yang mendukung pariwisata melalui pendekatan eko- desain dan ekowisata. Dalam aplikasinya, penelitian ini menggunakan metode design thinking, dengan hasil berupa prototipe produk topeng cinderamata pariwisata dengan penerapan pola taman laut.
The Creative Industry Based on the Customary and Cultural Tourism: Art Performance Activities through Bina Nagari in Gurun Panjang, Pesisir Selatan Nerosti - Nerosti
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.4504

Abstract

This article provides information about the Community Service Program of the Assisted Nagari (PPNB) or Mitra Village, which also became the results of research in the Bayang District in 2016. The urgency of the study in Nagari Gurun Panjang Barat, which has been experiencing Nagari’s expansion for three years, is challenging to find a solution to improve the community’s economy. Even though the Nagari is a buffer for marine tourism destinations in the Mandeh tourist area, Carocok Painan Beach, and Sago Beach, it had not yet found a strategic solution that should be made. The solution is offered by completing the guided Nagari based on culture and tourism into a creative industry. The answer is to empower PKK (Family Welfare Program) groups of adult female and adolescents to be given skills with implementation methods, namely applying active learning strategies between instructors and community members in theory and practice. From the results of the training: (1) The groups of PKK are proficient and skilled at reading the Pasambahan pantun to welcome the bride and groom; (2) PKK female groups are adept at creating traditional clothing using takuluak that have been made by themselves and make-up that can be used for conventional marriage ceremonies and alek nagari; and (3) Youths have become proficient at playing Randai and established the Randai Padi Sarumpun Group, which was formed due to the implementation of PPNB. The training program was also complemented by religion and customs training to change the community’s attitudes and mindset into a civilized and cultured nation. The formation of positive behavior can lead people to creative industries and open themselves to receiving tourists who come to visit. Automatically, the training held can create welfare and employment for the community. Menuju Industri Kreatif Berbasis Wisata Adat dan Budaya: Bina Nagari Melalui Kegiatan Pentas Seni di Gurun Panjang, Pesisir Selatan. Artikel ini memberikan informasi tentang Program Pengabdian Masyarakat Nagari Binaan (Program Pengabdian Nagari Binaan/PPNB) atau Desa Mitra yang mewujudkan hilirisasi hasil penelitian di Kecamatan Bayang tahun 2016. Urgensinya Nagari Gurun Panjang Barat yang sudah tiga tahun pemekaran Nagari, belum mampu mencari solusi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Padahal Nagari tersebut merupakan penyangga destinasi wisata bahari kawasan wisata Mandeh, Pantai Carocok Painan, dan Pantai Sago. Faktor keterbelakangan pola berpikir, kecederaan tingkah laku dan kemiskinan, terutama para ibu dan remaja sangat memerlukan pembinaan. Mengatasi permasalahan tersebut ditawarkan solusi dengan menjadikan Nagari Binaan berbasis wisata beradat dan berbudaya menuju industri kreatif. Solusi yang ditawarkan adalah memberdayakan ibu-ibu PKK dan remaja untuk diberikan keterampilan dengan metode pelaksanaan, yaitu penerapan strategi pembelajaran aktif antara instruktur dan anggota masyarakat dalam bentuk pelatihan berupa teori dan praktik. Dari hasil pelatihan: (1) ibu-ibu PKK mahir dan terampil membaca pantun pasambahan untuk menyambut pengantin; (2) ibu-ibu PKK mahir mengkreasikan memakai busana adat dengan memakai takuluak yang telah dibuat sendiri, serta tata rias yang dapat dimanfaatkan untuk upacara adat perkawinan dan alek nagari; dan (3) para pemuda telah mahir memainkan randai dan mendirikan Kelompok Randai Padi Sarumpun yang terbentuk dari hasil pelaksanaan PPNB. Pelatihan juga dilengkapi dengan ceramah agama dan adat istiadat sehingga dapat mengubah sikap dan pola pikir masyarakat menjadi bangsa yang beradab dan berbudaya. Pembentukan perilaku yang positif dapat mengantarkan masyarakat menuju industri kreatif dan membuka diri untuk menerima wisatawan yang datang berkunjung. Secara otomatis pelatihan yang diadakan dapat menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Islam, National, and Local History in Tabbhuwan Walisanga Performance Art Panakajaya Hidayatullah
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.3827

Abstract

Tabbhuwân is a Madurese tradition of performing arts. In the present context, modern culture influences many young people. It has become a restlessness for the clerics who then think of strategies on how to incorporate Islamic values in the younger generation today. In 2015 in Situbondo, Wali Sanga boarding school established a tabbhuwân wali sanga art group. Tabbhuwân is considered a way of preaching according to the conditions and culture of the community of Madura Situbondo. The players consist of the santri of the younger generation of Islamic boarding schools. Tabbhuwân wali sanga features Islamic drama performances that elevate the play of Islamic history and Indonesia. The play included Islamic history (stories of the companions of the Prophet Muhammad), local history, the history of the entry of Islam on Java (walisanga), and the history of Indonesian independence, one of which was titled ‘Jihad Resolution.’ Besides, tabbhuwân also includes elements of Madurese culture, including language, traditional music, expression, decoration, and discourse. Tabbhuwân plays a role in the spread of Islam, preserving Madurese culture and instilling nationalism in society through historical themes. The lower-middle-class community assumes that tabbhuwân is a means to understand the historical, social, and cultural realities occurring today. Tabbhuwân also influences fostering a sense of nationalism through heroic historical values, especially to the younger generation. In this case, tabhuwân imagines Indonesia in the discourse of religious nationalism. Islam, Nasional, dan Sejarah Lokal dalam Seni Pertunjukan Tabbhuwan Walisanga. TabbhuwânadalahsenipertunjukantradisimasyarakatMadura.Dalamkontekskekinian, budaya modern banyak mempengaruhi kaum muda. Hal ini menjadi keresahan para ulama yang kemudian memikirkan strategi bagaimana memasukkan nilai-nilai Islam pada generasi muda saat ini. Pada tahun 2015 di Situbondo, Pondok Pesantren Wali Sanga mendirikan kelompok seni tabbhuwân wali sanga. Tabbhuwân dianggap sebagai cara dakwah yang sesuai dengan kondisi dan budaya masyarakat Madura Situbondo. Para pemainnya terdiri dari para santri generasi muda pondok pesantren. Tabbhuwân wali sanga menampilkan pertunjukan drama Islam yang mengangkat lakon sejarah Islam dan Indonesia. Lakon tersebut meliputi sejarah Islam (cerita para sahabat Nabi Muhammad), sejarah lokal, sejarah masuknya Islam di Jawa (walisanga), dan sejarah kemerdekaan Indonesia, salah satunya bertajuk ‘Resolusi Jihad’. Selain itu, tabbhuwân juga memasukkan unsur budaya Madura yang meliputi bahasa, musik tradisional, ekspresi, ragam hias dan wacana. Tabbhuwân berperan dalam penyebaran agama Islam, pelestarian budaya Madura dan menanamkan nasionalisme dalam masyarakat melalui tema sejarah. Masyarakat kelas menengah ke bawah menganggap tabbhuwân sebagai cara memahami realitas sejarah, sosial dan budaya yang terjadi saat ini. Tabbhuwân juga memiliki pengaruh dalam menumbuhkan rasa nasionalisme melalui nilai-nilai sejarah yang heroik, khususnya kepada generasi muda. Dalam hal ini, tabhuwân membayangkan Indonesia dalam wacana nasionalisme agama.
Designing a Design Thinking Model in Interior Design Teaching and Learning Suastiwi Triatmodjo
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.4499

Abstract

In the last three decades, research on design processes and methods has been the driving force behind the design science development; however, research on design process knowledge has not developed much in Indonesia. This research aims to answer the problems faced by interior design students when they have to complete a design task by applying specific design processes and methods. The choice of technique and method is influenced by the situation & conditions in which the design is carried out. The research was carried out using the “double diamonds” process and method with a problem-solving approach. The research analysis was carried out by examining students’ design documents in the interior design course, conducting interviews with students and lecturers, and literature studies. Furthermore, an alternative process model and design method are more prepared to follow the needs and answer the Interior Design Study Program’s problems when completing a design task. Research has succeeded in finding process models and design methods called a DT-DI model compatible with interior design students.  
Bansi Organology: Minangkabau Wind Instrument Production of Hamdan Thawil in Padangpanjang Hengki Armez Hidayat; Yensharti Yensharti; Saaduddin Saaduddin
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.4157

Abstract

This research examines the production process of making Minangkabau wind instrument, Bansi, produced by Hamdan Thawil. This research began by observing the stages of making Bansi, then about production factors that affect the production process. The results of this study include; 1) the selection and processing of raw materials, 2) the use of tools, 3) the manufacturing phase of Bansi and the factors of production; 1) natural resource factor, 2) human resource factor, 3) capital resource factor and 4) expertise/ skill factor. The research was conducted with a case study approach and using qualitative methods. Data collection techniques were carried out using participatory observation, interviews, documentation, and triangulation. Organologi Bansi: Alat Musik Tiup Minangkabau Produksi Hamdan Thawil di Padangpanjang. Penelitian ini mengkaji proses produksi pembuatan alat musik tiup Minangkabau, Bansi, produksi Hamdan Thawil. Penelitian ini dimulai dengan mengamati tahapan pembuatan bansi, kemudian tentang faktor-faktor produksi yang mempengaruhi proses produksi. Hasil penelitian ini meliputi; 1) pemilihan dan pengolahan bahan baku, 2) penggunaan alat, 3) tahap pembuatan bansi dan faktor produksi; 1) faktor sumber daya alam, 2) faktor sumber daya manusia, 3) faktor sumber daya permodalan dan 4) faktor keahlian/keterampilan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi.
The Identity Transformation of Gedog Batik Tuban, East Java Fajar Ciptandi
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.4500

Abstract

Tuban area in East Java, Indonesia, has a role as one of the ancient international trading ports since the 11th century. For that role, Tuban has accepted many foreign cultures brought by other nations, such as Tionghoa and Gujarat. Tuban’s improvement that involves international relationships influences the forms of tradition and culture shown in Tuban nowadays. It is believed that from those traditions and cultures owned by the people of Tuban, producing cloth is one of the oldest traditions maintained by the people. However, in the current condition, the practice is slowly transforming into modernity. The research aims to explain the change of tradition on Tuban’s traditional cloth through a cultural transformation approach to find fundamental ground data and explain external elements that intervene in the tradition. And the new forms result from it. Transformasi Identitas Batik Gedog Tuban, Jawa Timur. Kawasan Tuban di Jawa Timur, Indonesia sejak abad ke-11 telah berperan sebagai salah satu pelabuhan perdagangan kuno internasional. Atas perannya tersebut, Tuban mengalami banyak penerimaan kebudayaan- kebudayaan asing yang dibawa oleh bangsa seperti Tionghoa dan Gujarat. Perkembangan Tuban yang melibatkan hubungan antarbangsa itu secara nyata turut berpengaruh pula terhadap wujud-wujud tradisi dan kebudayaan yang tampak di Tuban saat ini. Diyakini dari sekian banyak tradisi dan kebudayaan yang ada, membuat kain diperkirakan telah dimiliki oleh masyarakat Tuban sejak lama. Namun, pada kondisi saat ini tradisi tersebut perlahan- lahan mengalami transformasi ke arah modernitas. Penelitian ini menjelaskan kondisi perubahan yang terjadi pada produk tradisi kain tradisional masyarakat Tuban melalui pendekatan transformasi budaya untuk menemukan data berupa fundamental ground dari tradisi kain tersebut, serta menjelaskan unsur-unsur eksternal apa saja yang telah mengintervensi tradisi tersebut, serta bentuk-bentuk kebaruan apa yang dihasilkannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6