Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Madurese Soap Opera: An Industry and Madurese Culture Migration of Situbondo People Hidayatullah, Panakajaya
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 19, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v19i1.14951

Abstract

The purpose of this study is to describe a variety of research problems, including the industrialization of Madurese soap opera and the Madurese cultural migration of the Situbondo community. The results showed that Madurese soap opera is a product of cultural industrialization that is produced based on the logic of mass cultures. Such as standardization, commodification, and massification. Standardization is seen from the use of local artists, Madurese dangdut music, as well as local narratives built through local phenomena in Situbondo. Cultural commodification can be seen from the changing motive of drama arts (Al Badar) to VCD films (Madurese soap opera). As a commodity, Madurese soap opera has an economic motivation that is demonstrated in terms of massification; it is produced in 10,000 pieces and distributed to the local market within East Java. Madurese soap opera is a phenomenon of the disruption of global industrial technology captured by local communities, acting as a comparison to the national soap opera industry. The contestation can be seen through both abilities in using global technology, namely television. Local television has a big role in promoting local content such as Madurese soap opera. Madurese soap opera on local television eventually became a medium that could bring people closer to their Madurese cultural identity.
Film Komedi Rukun Karya: Strategi Seniman Tradisi Mempertahankan Eksistensi pada Era Pandemi Panakajaya Hidayatullah; Dwi Haryanto; Dewi Angelina
Rekam : Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 17, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v17i2.5177

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang strategi seniman tradisi dalam mempertahankan eksistensinya di era pandemi. Penelitian difokuskan pada kelompok kesenian tradisi Ketoprak Madura Rukun Karya yang berasal dari Kabupaten Sumenep. Di masa pandemi, kelompok Rukun Karya mengalami dampak yang cukup signifikan, dengan dibatalkannya beberapa daftar pementasan selama setahun. Kelompok ini kemudian mampu membalikkan kondisi keterpurukan melalui kesuksesannya dalam memproduksi konten Film Komedi Rukun Karya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan multidisipliner. Metode pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi partisipatoris, pengamatan mendalam, wawancara, dan studi literatur. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini antara lain 1) Rukun Karya melakukan peralihan mode pertunjukan dari ketoprak Madura menjadi Film Komedi yang memiliki dua jenis bentuk penceritaan yakni cerita adaptasi (gaya ketoprak, sastra Timur-Tengah, sejarah, dan televisi) dan cerita realitas kehidupan masyarakat Madura; 2) Peralihan mode pertunjukan dari ketoprak menjadi Film Komedi didasari oleh mekanisme industri (budaya) melalui media (youtube) yakni strandarisasi, komodifikasi dan massifikasi; 3) Peralihan mode pertunjukan berdampak pada perubahan cara penyajian dan cara menikmati sajian pertunjukan, beberapa contohnya ialah hilangnya interaksi seniman-penonton, serta digantikannya cita rasa dalam menikmati sajian pertunjukan secara kolektif menjadi cita rasa yang privat dan sangat individualistik.
Ghending Dangdut: Artikulasi Budaya Masyarakat Madura dalam Seni Tabbhuwan panakajaya hidayatullah
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.029 KB) | DOI: 10.24821/resital.v18i3.2244

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian antropologi musik dengan metode etnografi yang menelaah tentang artikulasi budaya masyarakat Madura melalui ghendhing dangdut dalam seni tabbhuwân Madura. Sorotan dalam penelitian ini adalah perihal hubungan musik dan masyarakat: bagaimana masyarakat Madura memaknai budayanya melalui seni tabbhuwân, dan bagaimana mereka mengekspresikannya. Secara khusus akan membaca bentuk ekspresi simboliknya melalui analisis musikologis bentuk-bentuk musikal garap dangdut pada tabbhuwân Madura. Melalui analisis musikologis, akan dilihat pola-pola, kaidah dan kecenderungan musikal yang digunakan oleh masyarakat Madura dan nantinya akan dikomparasikan dengan pola-pola garap dangdut pada gamelan Jawa.  Penelitian ini menggunakan pendekatan multidisipliner yang mewacanakan teori musikologi dengan antropologi budaya. Temuan penelitian ini adalah 1) Berdasarkan analisis musikologis, dapat dikatakan bahwa ghendhing dangdut dalam budaya Madura bersifat lebih luwes, longgar dan dinamis dibanding dengan budaya Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura merupakan masyarakat yang dinamis, inklusif, ulet, tegas dan adaptatif. Mereka juga mampu merespon perubahan jaman, mempertanyakan kemapanan modernitas dan ke’adiluhung’-an budaya; 2) Bentuk tabbhuwân yang dinamis adalah cara masyarakat Madura memaknai budaya dan realitas hari ini (kontemporer). Tabbhuwân merupakan wujud interaksi budaya Madura dengan budaya lain, pemaknaan atas modernitas serta wujud konservasi budaya lokal.
Glundhângan and Pigeon in Sociocultural Practices of Madurese People panakajaya hidayatullah
Journal of Urban Society's Arts Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v6i1.2575

Abstract

Glundhângan adalah ansambel gamelan kayu yang dimainkan oleh orang Madura. Musik glundhângan dipercaya sebagai musik kuno orang Madura. Bahkan ada sebelum era gamelan metallophone. Di Jember, glundhângan terkait erat dengan merpati dan biasanya digunakan untuk acara nyata dan totta’an dhârâ. Nyata adalah peristiwa ketika master merpati berhasil mendapatkan merpati lawannya. Sementara totta’an dhârâ adalah pertandingan melepaskan merpati bersama dan kemudian mereka, merpati, kembali ke pajhudhun (rumah merpati) dari tuan mereka. Glundhângan adalah musik yang menjadi penanda kemenangan master merpati ketika ia mendapat merpati lawannya, dan itu adalah musik yang menyertai pelepasan merpati dan kembali ke rumah. Glundhângan terdiri dari beberapa alat musik kayu seperti glundhâng, dhung-dhung, tong-tong, tek-tek, nèng-nèng dan ghâghâmbhâng, dan mereka disertai oleh vokal dari tembhāng mamaca (versi kuno) dan kèjhungan (versi modern). Setiap pajhudhun dan merpati harus memiliki alat musik dhung-dhung atau tong-tong dalam bentuk berbagai kentongan yang terbuat dari kayu. Alat musik digunakan oleh seorang master sebagai alat komunikasi untuk merpati dan manusia. Instrumen dhung-dhung dari master merpati umumnya keramat sebagai peninggalan lainnya seperti keris. Pada umumnya, sang guru memasok dirinya sendiri dan merpati dengan kekuatan mistis. Ini adalah dhung-dhung itu sendiri yang menjadi identitas musik glundhângan. Bagi orang Madura, merpati diperlakukan sebagai hewan istimewa. Merpati juga merupakan perwujudan kekuatan supernatural dari tuannya. Musik dan merpati glundhângan adalah artikulasi orang Madura yang mewakili tingkat sosial, kebanggaan yang dipertaruhkan, simbol maskulinitas dan distribusi hasrat konflik yang produktif di antara orang-orang.Glundhangan is an ensemble of wooden gamelan played by Madurese people. Glundhangan music is believed as archaic music of Madurese people. It even existed before era of metallophone gamelan. In Jember, glundhângan is closely related to pigeon and usually used for nyata and totta’an dhârâ events. Nyata is an event when a pigeon master succeeds to get his opponent’s pigeon. While totta’an dhârâ is a match of releasing pigeons together and then they, pigeons, come back to pajhudhun (pigeon house) of their masters. Glundhângan is a music which becomes winning signifier of pigeon’s master when he gets his opponent’s pigeon, and it is an accompanying music for pigeons release and return to home. Glundhângan consists of some wooden musical instruments like glundhâng, dhung-dhung, tong-tong, tek-tek, nèng-nèng and ghâghâmbhâng, and they are accompanied by vocal of tembhâng mamaca (ancient version) and kèjhungan (modern version). Every pajhudhun and pigeon master must have musical instruments dhung-dhung or tong-tong in a form of various kentongan made by wood. The music instrument is used by a master as means of communication to pigeons and people. Dhung-dhung instrument of the pigeon master is commonly sacred as other relics like keris. Commonly, the master supplies himself and pigeons with mythical power. It is dhung-dhung itself which becomes identity of glundângan music. For Madurese people, pigeon is treated as special animal. Pigeon is also a manifestation of supernatural power of its master. Glundhângan music and pigeons are articulations of Madurese people that represent social degree, pride at stake, symbol of masculinity and productive distribution of conflict desire among people.    
Islam, National, and Local History in Tabbhuwan Walisanga Performance Art Panakajaya Hidayatullah
Journal of Urban Society's Arts Vol 7, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v7i2.3827

Abstract

Tabbhuwân is a Madurese tradition of performing arts. In the present context, modern culture influences many young people. It has become a restlessness for the clerics who then think of strategies on how to incorporate Islamic values in the younger generation today. In 2015 in Situbondo, Wali Sanga boarding school established a tabbhuwân wali sanga art group. Tabbhuwân is considered a way of preaching according to the conditions and culture of the community of Madura Situbondo. The players consist of the santri of the younger generation of Islamic boarding schools. Tabbhuwân wali sanga features Islamic drama performances that elevate the play of Islamic history and Indonesia. The play included Islamic history (stories of the companions of the Prophet Muhammad), local history, the history of the entry of Islam on Java (walisanga), and the history of Indonesian independence, one of which was titled ‘Jihad Resolution.’ Besides, tabbhuwân also includes elements of Madurese culture, including language, traditional music, expression, decoration, and discourse. Tabbhuwân plays a role in the spread of Islam, preserving Madurese culture and instilling nationalism in society through historical themes. The lower-middle-class community assumes that tabbhuwân is a means to understand the historical, social, and cultural realities occurring today. Tabbhuwân also influences fostering a sense of nationalism through heroic historical values, especially to the younger generation. In this case, tabhuwân imagines Indonesia in the discourse of religious nationalism. Islam, Nasional, dan Sejarah Lokal dalam Seni Pertunjukan Tabbhuwan Walisanga. TabbhuwânadalahsenipertunjukantradisimasyarakatMadura.Dalamkontekskekinian, budaya modern banyak mempengaruhi kaum muda. Hal ini menjadi keresahan para ulama yang kemudian memikirkan strategi bagaimana memasukkan nilai-nilai Islam pada generasi muda saat ini. Pada tahun 2015 di Situbondo, Pondok Pesantren Wali Sanga mendirikan kelompok seni tabbhuwân wali sanga. Tabbhuwân dianggap sebagai cara dakwah yang sesuai dengan kondisi dan budaya masyarakat Madura Situbondo. Para pemainnya terdiri dari para santri generasi muda pondok pesantren. Tabbhuwân wali sanga menampilkan pertunjukan drama Islam yang mengangkat lakon sejarah Islam dan Indonesia. Lakon tersebut meliputi sejarah Islam (cerita para sahabat Nabi Muhammad), sejarah lokal, sejarah masuknya Islam di Jawa (walisanga), dan sejarah kemerdekaan Indonesia, salah satunya bertajuk ‘Resolusi Jihad’. Selain itu, tabbhuwân juga memasukkan unsur budaya Madura yang meliputi bahasa, musik tradisional, ekspresi, ragam hias dan wacana. Tabbhuwân berperan dalam penyebaran agama Islam, pelestarian budaya Madura dan menanamkan nasionalisme dalam masyarakat melalui tema sejarah. Masyarakat kelas menengah ke bawah menganggap tabbhuwân sebagai cara memahami realitas sejarah, sosial dan budaya yang terjadi saat ini. Tabbhuwân juga memiliki pengaruh dalam menumbuhkan rasa nasionalisme melalui nilai-nilai sejarah yang heroik, khususnya kepada generasi muda. Dalam hal ini, tabhuwân membayangkan Indonesia dalam wacana nasionalisme agama.
PEMBANGUNAN DESA WISATA BUDAYA BERBASIS TRADISI MAMACA DI KEBUNDADAP BARAT, KECAMATAN SARONGGI, KABUPATEN SUMENEP Agustina Dewi S.; Akhmad Sofyan; Dewi Angelina; Panakajaya Hidayatullah
UNEJ e-Proceeding 2020: E-PROSIDING SEMINAR NASIONAL PEKAN CHAIRIL ANWAR
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mamaca merupakan tradisi masyarakat Madura yang berupa kegiatan membaca teks berupa puisi dengan cara dinyanyikan yang bersumber dari cerita babad, kisah para nabi, kisah para tokoh sejarah, maupun cerita yang diambil dari kisah atau tokoh fiktif yang bermuatan petotor atau nasihat. Hal ini membuat mamaca sangat berpengaruh bagi pembentukan eksistensi masyarakat Madura. Melihat pentingnya tradisi ini bagi masyarakat Madura, tentu menjadi penting untuk melestarikan tradisi yang mulai punah ini. Pelestarian tradisi mamaca ini salah satunya bisa dilakukan melalui desa wisata budaya di Madura, khususnya di Sumenep. Penelitian ini mencoba menganalisis peluang munculnya desa wisata di Sumenep dengan berbasis tradisi mamaca. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami suatu gejala sosial secara holistik (utuh). Metode kualitatif ini memungkinkan peneliti untuk memahami masyarakat dan memandang mereka sebagaimana mereka mengungkapkan pandangan terhadap dirinya. Dengan adanya tradisi mamaca di Desa Kebundadap Barat, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, harusnya dapat dirintis destinasi desa wisata budaya melalui peraturan desa (Perdes). Dengan adanya destinasi desa wisata budaya diharapkan tradisi mamaca akan dapat dilestarikan sebagai aset budaya desa. Selain itu, dengan adanya destinasi desa wisata budaya diharapkan perekonomian masyarakat Desa Kedungdadap Barat dapat meningkat. Kata kunci: desa wisata budaya, kearifan lokal, dan tradisi mamaca
Ungkapan Kritik dalam Ranah Keluarga Masyarakat Madura di Besuki Raya Akhmad Sofyan; Panakajaya Hidayatullah; Ali Badrudin
MOZAIK HUMANIORA Vol. 21 No. 1 (2021): MOZAIK HUMANIORA VOL. 21 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v21i1.26282

Abstract

Penelitan ini bertujuan mengurai fenomena penggunaan ungkapan kritik dalam ranah keluarga masyarakat Madura di Besuki Raya. Fokus penelitian ini mengungkap tentang (1) bentuk dan model kritik yang digunakan, (2) konteks bagaimana kritik tersebut diproduksi di masyarakat, dan (3) formulasi pemilihan bentuk kritik di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi yang dipadukan dengan teknik simak. Temuan dalam penelitian ini menghasilkan (1) bentuk dan model kritik yang digunakan yakni (a) kritik langsung, (b) kritik menggunakan orang ketiga, (c) kritik menggunakan penanda bunyi, dan (d) kritik menggunakan bahasa metafora; (2) kritik disampaikan dalam beberapa konteks komunikasi dalam ranah keluarga, seperti hubungan orang tua kepada anak, mertua kepada menantu, menantu kepada mertua, istri kepada suami, suami kepada istri, kakek kepada cucu, dan cucu kepada nenek; (3) dalam formulasi pemilihan bentuk kritik di masyarkat Madura dapat dipetakan bahwa ada beberapa kritik yang dapat diterima seperti (a) kritik langsung yang disampaikan dengan pemilihan diksi kalimat yang baik, intonasi yang halus, dan disampaikan secara privat, (b) melalui orang ketiga, (c) penanda bunyi, dan (d) bahasa metafora (kiasan). Adapun bentuk kritik yang dihindari adalah bentuk kritik langsung yang disampaikan secara kasar (menggunakan kalimat yang menyinggung perasan) dan disampaikan secara di depan publik.
Optimalisasi Pertunjukan Festival Kampung Langai Melalui Pelatihan Sistem Tata Kelola dan Kerja Kreatif Panakajaya Hidayatullah; Mei Artanto
Warta Pengabdian Vol 11 No 4 (2017): Warta Pengabdian
Publisher : LP2M Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2015, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 131, Kabupaten Situbondo ditetapkan sebagai daerah tertinggal. Faktor penyebab utamanya adalah rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam kondisi yang krisis, terdapat beberapa kelompok anak muda kreatif yang tergabung dalam beberapa komunitas seni, secara konsisten mereka membangun gerakan kebudayaan melalui kegiatan Festival Kampung Langai (FKL). FKL mempunyai harapan besar dalam mengembangkan potensi lokal (seni dan budaya) masyarakat Situbondo. Secara khusus kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi nyata terhadap masyarakat sekitar. Saat ini FKL telah memasuki tahun ke-4, namun masih banyak permasalahan yang terjadi di lapangan seperti, lemahnya sistem tata kelola pertunjukan, tidak adanya manajemen kerja kreatif (artistik) serta belum ada pengembangan konten yang bersifat lokal. Berdasarkan beberapa permasalahan itulah program pengabdian pemula ini dilaksanakan. Adapun beberapa kegiatan pengabdian yang dilakukan antara lain 1) Pelatihan tentang pengembangan pengetahuan, keterampilan dan keahlian dalam bidang sistem tata kelola pertunjukan berbasis festival secara metodis yang nantinya dapat mengembangkan proses kreatif dalam acara FKL.; 2) Pelatihan tentang pendalaman seni dalam wilayah kerja kreatif. Mencakup pelatihan teknis dan konseptual tentang proses kreatif penggarapan karya seni. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa melalui kegiatan pelatihan tentang sistem tata kelola dan kerja kreatif, FKL ke-4 telah mengalami beberapa peningkatan seperti sistem tata kelola seni berbasis komunitas dan masyarakat yang lebih baik, pengembangan konten pertunjukan yang lebih variatif dan mengarah pada revitalisasi seni tradisi masyarakat serta meningkatnya apresiasi masyarakat. Kata kunci: optimalisasi, festival Kampung Langai, tata kelola, kerja kreatif
Pengembangan Kualitas Pengkaryaan Sanggar Seni Kembhâng Moljâ Melalui Keterampilan Perekaman Audio Untuk Meningkatkan Potensi Kesenian Di Situbondo Panakajaya Hidayatullah
Warta Pengabdian Vol 12 No 4 (2018): Warta Pengabdian
Publisher : LP2M Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/wrtp.v12i4.9068

Abstract

Kegiatan ini merupakan program pengabdian yang berfokus pada pengembangan kualitas individu dan kelompok sanggar Kembhâng Moljâ di Situbondo, secara konkret berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di dalam sanggar tersebut, melalui 1) Pelatihan tentang pendokumentasian karya (audio recording) secara metodis dan teoritis; 2) Dari hasil pelatihan diharapkan dapat langsung diterapkan menjadi media pembelajaran, sehingga dapat mengoptimalkan proses kreatif pengkaryaan, dan bisa ditransformasikan ke khalayak luas; 3) Memberikan metode dan konsep tetang pengembangan karya seni khususnya dalam konsep perekaman karya (audio-visual). Hasil yang dicapai dari kegiatan pendampingan ini ialah sebuah pengembangan sumber daya manusia dalam sanggar seni Kembhâng Moljâ. Para anggota sanggar seni Kembhâng Moljâ yang mengikuti pelatihan, mendapatkan sebuah pemahaman tentang, 1) Pengetahuan perekaman audio, prinsip-prinsipnya serta teknis mengerjakannya; 2) Keterampilan dalam merekam karya secara profesional yang terbagi dalam tiga tahapan yakni tracking-recording, mixing, dan mastering; 3) Membuat media pembelajaran berbasis rekaman. Kata Kunci: pengembangan kualitas, sanggar seni, dokumentasi karya, Situbondo
Penggalian Motif Ukir Lokal Guna Meningkatkan Kualitas Rumah Ukir Desa Pokaan, Kabupaten Situbondo Panakajaya Hidayatullah
Warta Pengabdian Vol 12 No 3 (2018): Warta Pengabdian
Publisher : LP2M Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/wrtp.v12i3.9065

Abstract

Rumah ukir di Desa Pokaan merupakan rumah produksi seni ukir dan destinasi wisata edukasi yang diinisiasi oleh masyarakat Desa Pokaan. Direalisasi oleh mahasiswa KKN dan telah di-launching pada bulan Agustus 2018. Selain menyelenggarakan wisata edukasi untuk masyarakat, rumah ukir juga aktif memproduksi karya seni ukir yang dijual ke Bali baik dalam jumlah yang besar maupun kecil. Seluruh karyawan yang bekerja di rumah ukir merupakan masyarakat usia produktif di Desa Pokaan. Eksistensi rumah ukir diharapkan dapat menumbuh kembangkan minat masyarakat Desa Pokaan untuk bergerak berwirausaha. Mengingat di Desa Pokaan setidaknya ada dua pengrajin ukir dan beberapa masyarakatnya rata-rata terampil mengukir. Mengembangkan wisata edukasi merupakan salah satu upaya untuk membangun kesejahteraan Desa, serta mendukung program pemerintah Kabupaten Situbondo pada tahun kunjungan wisata 2019. Melihat potensi Desa Pokaan yang kaya dengan seni ukir, pada saat launching pemerintah Desa dan Kecamatan berkomitmen bahwa dalam jangka panjang akan mencanangkan (branding) Desa Pokaan sebagai Desa Wisata ‘Sentra Ukir’. Ada beberapa kendala yang terjadi di rumah ukir Desa Pokaan, pertama adalah rumah ukir belum memiliki ciri khas (karakteristik) motif dan pola ukirnya sehingga belum cukup mampu untuk membranding potensi lokal Desanya. Kedua teknologi dan metode penggarapan serta mekanisme manajemennya masih menggunakan cara – cara tradisional. Kegiatan pengabdian ini berfokus untuk mengatasi kedua kendala yang dihadapi oleh rumah ukir Desa Pokaan. Melalui penggalian potensi lokal untuk diaktualisasikan ke dalam bentuk motif dan pola ukir sehingga dapat menjadi ciri khas ukiran lokal, serta melakukan pendampingan dan pengembangan skill dalam hal penerapan teknologi, metode dan manajeman produksi. Kata Kunci: Pengembagan Kualitas, Motif Lokal, Wisata Edukasi, Rumah Ukir, Pokaan