cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 2 (2020)" : 6 Documents clear
Verbalisasi Al-Qur’an: Metode Tafsir Kontekstual Berbasis Kelisanan Al-Qur’an (Studi Qs. Al-baqarah: 256 tentang Pemaksaan Agama) Muhammad Alwi HS; Iin Parningsih
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v22i2.8238

Abstract

This paper discusses the verbalization of the Quran as a method of understanding the contextual Quran based on orality, with a focus on Surah Al-Baqarah [2]: 256. This method aims to create a mutual understanding among people that have been polarized these days due to different opinions. The verbalization of the Quran has a very strong epistemology in the history of understanding the Quran because it is based on the orality of the Quran, which was the initial and original form of the Quran when it was first revealed to the Prophet Muhammad SAW and spread to the Arab community. Surah Al-Baqarah [2]: 256 was revealed as a response to two utterances spoken in different contexts but essentially share the same illocution, namely a rejection to the coercions of certain religions. This contextual understanding has been verbalized and reflected in Law No. 39 of 1999 concerning Human Rights; Paragraph 1 of Article 28E in the 1945 Constitution of Republic Indonesia; Article 28 I in the 1945 Constitution of Republic Indonesia; Paragraph 2 of Article 29 in the 1945 Constitution of Republic Indonesia – all of which indicate the attempts to reject forced religious conversion in Indonesia. AbstrakArtikel ini mendiskusikan tentang Verbalisasi Al-Qur’an sebagai metode pemahaman kontekstual Al-Qur’an dengan berbasis kelisanan, yang berfokus pada QS. Al-Baqarah [2]: 256. Metode Verbalisasi Al-Qur’an ini hadir sebagai upaya menghubungkan pemahaman antar berbagai kelompok yang selama ini terkotak-kotakkan. Verbalisasi Al-Qur’an memiliki epistemologi yang sangat kuat dalam tradisi pemahaman Al-Qur’an, hal ini karena Verbalisasi Al-Qur’an berangkat dari kelisanan Al-Qur’an yang merupakan bentuk awal sekaligus jati diri Al-Qur’an ketika pertama kali disampaikan pada era pewahyuan, dari Nabi Muhammad SAW kepada Masyarakat Arab. Dalam kasus QS. Al-Baqarah [2]: 256, ia disampaikan sebagai respon penolakan terhadap keinginan dua lawan tutur dan konteks tuturan yang berbeda, tetapi mengandung pemahaman yang sama, yakni penolakan atas tindakan pemaksaan agama tertentu. Pemahaman yang kontekstual tersebut dapat diverbalisasikan ke dalam bentuk UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, UUD 1945 dalam pasal 28E ayat 1, UU 1945 dalam pasal 28 I, dan UUD 1945 pada pasal 29 ayat (2), yang semuanya adalah upaya penolakan atas tindakan pemaksaan untuk memeluk agama tertentu dalam konteks di Indonesia.
Urgensi Filsafat dalam Ilmu Falak dan Relevansinya bagi Kehidupan Beragama Masyarakat M. Anzaikhan
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v22i2.7664

Abstract

Philosophy is known as the mother (root) of science. Obviously, all scientific disciplines stemmed from the mind (thinking) start with philosophy. During its development, however, science independently detached itself from its philosophical identity. Similarly, it also occurred in astronomy, which practically seems to split into various branches. Therefore, this research aims to reveal the substance of the philosophical essence in the discipline of astronomy. To this end, the study seeks to find out how philosophy contributes to astronomy, not only in its role as the theoretical framework but also as the practical orientation. This research was in the form of a qualitative method, whose reference sources were based on literature studies. The findings suggest that philosophy has prominent roles for science since in astronomy, the origins of universe formation such as nebula and the big bang theory are also discussed. In philosophy, the creation of the universe was previously studied by philosophers centuries ago, long before the BC (Before Christ) calendar was discovered. Moreover, the solar system, eclipses, prayer entry times, Islamic calendar, the calculation of ‘qibla’ direction, and such were discussed in philosophy in a similar fashion as well. Astronomical terms were also consistently mentioned in depth by philosophers long before astronomy was acknowledged. In fact, some of the astronomers are also philosophers. Thus, it is effectively helpful to study astronomy through philosophy to fully comprehend it. In conclusion, when the philosophical foundation about the conceptual of astronomy has been solid, it will strongly impact on determining the right policy for the socio-religious life of the community. If the substance of philosophy and science are in perfect harmony, it will produce an ideal formula for more contextual and moderate religious policies. AbstrakFilsafat dikenal sebagai induk ilmu pengetahuan, semua ilmu yang memainkan peran akal (berpikir) tentu berawal dari filsafat. Pada perkembangannya, ketika ilmu itu mampu berdiri sendiri, maka ia melepaskan diri dari identitas filsafat. Begitu juga dengan ilmu falak yang secara praktis seolah berdiri sendiri dengan berbagai cabang-cabangnya. Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan pentingnya esensi filsafat dalam disiplin ilmu falak. Adapun masalah yang diangkat adalah bagaimana filsafat itu berkontribusi bagi kajian ilmu falak bukan hanya dalam dataran teoritis namun juga dapat memberikan sumbangsih yang lebih luas pada orientasi praktis. Design penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber referensi berbasis kajian pustaka. Temuan sejauh ini, menunjukkan bahwa peran filsafat sangat vital bagi ilmu falak, pada kajian Ilmu Falak membahas asal-usul penciptaan alam semesta seperti teori nebula, big bang, dan teori lainnya. Dalam Filsafat, penciptaan alam semesta sudah dibahas oleh para filosof alam bahkan berabad yang lalu sebelum tahun masehi ditemukan. Begitu juga ketika membahas sistem tata surya, gerhana, masuknya waktu shalat, kalender Islam, penentuan arah kiblat dan masih banyak lagi. Bila dikaitkan dengan filsafat, jauh sebelum Ilmu Falak lahir filsafat sudah membicarakan term terkait muatan ilmu falak secara lebih intens dan mendalam. Bahkan, tidak sedikit tokoh ilmu falak juga seorang filosof. Maka, sangat efektif jika mempelajari Ilmu Falak dimulai dari kajian filsafat agar pemahaman terkait muatan Ilmu Falak dapat dicerna secara orisinal. Kesimpulannya, ketika landasan filosofis terkait muatan Ilmu Falak sudah solid, maka itu sangat berpengaruh dalam menentukan kebijakan yang tepat bagi kehidupan sosial-beragama masyarakat. Dengan menyinergikan substansi filsafat dan Ilmu Falak   maka akan menghasilkan formula ideal terhadap kebijakan beragama yang lebih kontekstual dan moderat. 
Telaah Penafsiran Quraish Shihab dan Wahbah Al-Zuhaily dalam Kasus Jilbab Muhammad Iqbal
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v22i2.7929

Abstract

This research is a comparative research of two different views of Muslim scholars (ulema) on hijab. This article aims to discover the interpretations of the two, the differences in their interpretation methodologies, as well as the fundamental reasons underlying their different opinions. This research is library research employing a qualitative approach. The documentation method was used as a data collection technique, in which the information relevant to the research questions was gathered from books and manuscripts. The results showed that one Muslim scholar, M. Quraish Shihab, perceives hijab as a part of clothing that suits only certain regional cultures; thus, it should not be subject to other cultural standards. He defines “what may be visible” as parts of the body above the neck, under the arms, and below the knees. Wearing tight clothes showing body curves and made of transparent materials is not advised. In contrast, Wahbah Al-Zuhayli argues that the hijab is mandatory for every Muslim woman to distinguish between slaves and free women. He perceives that all parts of a woman’s body are “aurah” (forbidden to be exposed), including the face, which is the center of a woman’s beauty. Thus, the face should also not be exposed. Only the scarf and outer garment are allowed to be shown. Despite having different opinions about the hijab, the two scholars agree that the hijab can minimize the risks of sexual harassment against women. AbstrakArtikel ini merupakan studi komparatif terhadap dua pandangan ulama yang berbeda atas persoalan penggunaan jilbab oleh muslimah. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menemukan perbedaan dalam metodologi penafsiran dan interpretasi kedua sarjana tersebut, serta untuk mengungkap penyebab yang mendasari perbedaan pendapat mereka. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan penelitian kepustakaan. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, dimana data dikumpulkan dari buku-buku dan manuskrip yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. Quraish Shihab memersepsikan hijab sebagai pakaian yang sesuai dengan budaya daerah tertentu, dan tidak boleh tunduk pada standar budaya lain. Ia mengartikan “apa yang tampak” sebagai bagian tubuh di atas leher, di bawah lengan, dan di bawah lutut. Pakaian tidak boleh ketat untuk memperlihatkan lekuk tubuh, dan tidak boleh dibuat dari bahan tembus pandang. Menurut Wahbah Al-Zuhayli, hijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah, karena membedakan antara budak dan wanita merdeka. Ia menilai setiap bagian dari seorang wanita adalah aurah, termasuk wajah, yang merupakan pusat kecantikan. Yang tampak bukan wajahnya, melainkan selendang dan baju luar. Meski kedua ulama ini memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang hijab, mereka sepakat bahwa hijab adalah penutup yang digunakan oleh umat Islam yang dapat meminimalkan pelecehan terhadap perempuan.  
Fenomena Fashion Hijab dan Niqab Perspektif Tafsir Maqāsidi Syahridawaty Syahridawaty
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v22i2.8206

Abstract

Hijab fashion has become a growing trend in Indonesia, leading to the emergence of various new hijab styles. These new styles have influenced more women to wear a hijab; however, their motivation to wear one is not merely to cover their head, but also to immerse in the current hijab trend. It is, thus, important to investigate the real purposes of hijab by referring to the Quran, hadith, and the views of ulema (Muslim scholars). This research is library research employing a qualitative approach. It discusses the hijab fashion from the maqāṣidi interpretation. Through this interpretation, it was found that covering up the ‘aurah’ (forbidden parts of body to be exposed) is part of hifẓ karāmah (maintaining honor). There are three purposes of wearing a hijab: 1) To cover oneself physically and mentally, 2) To protect humans from climate hazards and social harms (bilateral function), 3) To improve one’s appearance for positive intentions (additional function). AbstrakFenomena fashion hijab semakin berkembang di Indonesia dan melahirkan trend baru dalam berhijab. Dengan banyaknya mode hijab yang ada memicu semangat para wanita untuk berhijab, akan tetapi pemakaian hijab di sini tidak semata-mata untuk menutup aurat, tetapi ada unsur mengikuti mode di dalamnya. Oleh sebab itu penting untuk dikaji mengenai konsep berhijab yang sebenarnya dengan merujuk pada al-Qur’an, hadis serta pendapat ‘ulama. Tulisan ini membahas mengenai fashion hijab ditinjau dari perspektif tafsir maqāṣidi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang menggunakan pendekatan kualitatif. Melalui tafsir maqāṣidi, dapat diketahui bahwasanya menutup aurat adalah bagian dari hifẓ karāmah (menjaga kehormatan). Ada tiga fungsi dari menutup aurat. Pertama, fungsi dasar, yakni menutup aurat secara zahir dan batin. Kedua, fungsi ganda (bilateral) yang melindungi manusia dari bahaya iklim dan kerugian sosial. Ketiga, fungsi tambahan, yakni menutup aurat salah satu sarana untuk menghias diri dan berpenampilan bagus dalam hal positif.
Reinterpretasi Konsep Agama merujuk pada Term Al-Islam sebagai Solusi bagi Problematika Perumusan Konsep Agama Taslim HM Yasin
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v22i2.7794

Abstract

Among scientists, works to invent a comprehensive religious concept for all human beings are still underway. In a literal sense, there are various constraints in formulating the concept of religion in order to be completely accepted by all circles. Some of which are obstacles related to the sacredness of religious meanings and constraints due to the inner feelings of the adherents. In accordance with religion's function, scientists agree that religion has a key role in constructively managing human life. By employing the literature study method, this article, therefore, seeks to explain the problems faced by scientists in the field of social studies in formulating the concept of religion, then present a solution in order to reinterpret the concept of religion by referring to the term “al-Islam” in the Quran which generates some elements applied as a foundation or the basis in explaining the concept of religion comprehensively. These attempts are considered to integrate between science and religion simultaneously and to shatter their domain of dichotomy. AbstrakUpaya perumusan konsep agama yang komprehensif bagi seluruh ummat manusia masih terus berlangsung dikalangan para ilmuwan. Secara terminologis, terdapat beragam kendala dalam merumuskan konsep agama agar dapat diterima sepenuhnya oleh seluruh kalangan. Beberapa diantaranya adalah kendala yang berhubungan dengan kesakralan makna agama dan kendala yang menyangkut perasaan bathiniyah dari para penganutnya. Sementara terkait fungsi dari agama, para ilmuwan sepakat jika agama memiliki peran penting dalam menata kehidupan manusia secara positif. Artikel ini, melalui metode kajian studi kepustakaan, berupaya untuk memaparkan problematika para ilmuwan sosial dalam merumuskan konsep agama, kemudian menawarkan solusi untuk dapat melakukan reinterpretasi konsep agama dengan merujuk pada term al-Islam dalam Alquran guna menghasilkan beberapa unsur yang dapat dijadikan fondasi atau landasan dasar dalam menjelaskan konsep agama secara komprehensif. Upaya tersebut sekaligus dapat mengintegrasikan antara sains dan agama sehingga menghilangkan domain dikotomis antara  keduanya
Hubungan Agama dan Budaya pada Masyarakat Gampong Kereumbok Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh Muhammad Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v22i2.7769

Abstract

This research paper (article) aims to reveal the correlation between religion and culture of “Keureumbok village” community based on the theory proposed by Geertz. The researcher investigated the paradigm displayed through an interpretive anthropological context to pinpoint religion as a system consisting of various symbols that have meaning. According to Geertz, religion is labeled as a system of symbols that exists and constructs cultural patterns, which in turn can form a model. In other words, religion is a model for reality (truth), which can only be perfectly and precisely acquired through interpretations. An interpretative method is a way that socially presents and scrutinizes empirical data about the real truth (reality), or social fact. The more sources can be collected, the higher the trust will be earned. In the case of religion and culture in the lay community of “Keureumbok village” in Aceh, the researcher viewed that the link was more closely related.  It is found that “Keureumbok” people rely more on religious symbols, which are the manifestations of cultural elements. People, who previously value religion, instead decide to blend in religious life to avoid being shunned from the community to such an extent that religion and culture are interconnected in Aceh. Surprisingly, cultures dominantly play a role in society than in religious values. AbstrakArtikel ini bertujuan melihat kaitan agama dan budaya pada masyarakat Gampong Keureumbok berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Geertz. Peneliti mengkaji kerangka pemikiran yang ditampilkan melalui konteks antropologis interpretatif. Untuk memahami agama sebagai suatu sistem yang terdiri atas berbagai simbol yang mempunyai makna. Menurut Geertz agama dideskripsikan sebagai suatu sistem simbol-simbol yang ada dan membuat pola-pola budaya, yang pada gilirannya dapat membentuk model. Dengan kata lain, agama adalah model untuk realitas hanya dapat diperoleh dengan baik dan tepat melalui cara-cara interpretasi. Metode interpretatif adalah sesuatu cara yang menyajikan dan menjelaskan data empiris secara sosial mengenai kenyataan yang  sesungguhnya (realitas), social fact (fakta sosial). Semakin banyak sumber laporan maka akan muncul kepercayaan yang tinggi terhadap laporan tersebut. Refleksi penulis dalam kasus agama dan budaya pada masyarakat awam di Keureumbok Aceh, lebih erat kaitannya. Penulis menemukan bahwa masyarakat Keureumbok lebih percaya pada symbol agama yang merupakan manifestasi dari unsur budaya. Masyarakat yang sudah memahami agama justru memilih melebur dalam kehidupan keagamaan, agar tidak dikucilkan dari kelompok masyarakat, sehingga di Aceh agama dan budaya saling terkait dan bahkan lebih dominan budaya yang berperan dalam masyarakat dari pada nilai-nilai agama.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6