cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ketahanan Nasional
ISSN : 08539340     EISSN : 25279688     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2003)" : 4 Documents clear
Pola Komunikasi Budaya Antaretnis Di Indonesia Heddy Shrii Ahimsa Putra
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3020.876 KB) | DOI: 10.22146/jkn.22100

Abstract

Sebagaimana telah kita ketahui, komunikasi -apa pun definisi kita untuk istilah asing ini- merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tanpa komunikasi sulit kita bayangkan bahwa akan ada kehidupan manusia berupa masyarakat, atau akan muncul kebudayaan dan peradaban sebagaimana kita kenal sekarang. Di lain pihak komunikasi itu sendiri juga berlangsung dalam kerangka suatu sistem budaya tertentu, dan karena itu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan tempat proses komunikasi tersebut berlangsung (cf.Hall and Whyte,1966).Sebagai proses yang terjadi berulangkali, komunikasi dengan sendirinya akan memiliki pola tertentu, dan pola komunikasi dengan menggunakan sa-rana tertentu dapat berbeda antara budaya satu dengan budaya yang lain. Adanya pola dan sarana komunikasi yang berbeda antara budaya satu dengan yang lain tentu akan menimbulkan masalah tersendiri ketika pendukung ke-budayaan yang berlainan bertemu dan berusaha untuk melakukan komuniĀ­kasi (Leach, 1976). Ketidaktahuan salah satu pihak tentang budaya pihak yang lain akan dapat menimbulkan salah faham, yang pada akhirnya dapat menja-di salah satu pemicu terjadinya konflik an tar pendukung kebudayaan atau antarkelompok, komunitas, atau suku.
Orang Cina Di Indonesia Dan Masalah Integrasi Nasional Hari Poerwanto
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22101

Abstract

Akhir-akhir ini, berbagai konflik yang berdimensi kesuku-bangsaan merupakan fenomena umum di banyak negara, baik yang menuntut otonomi lebih luas maupun berupa gerakan kemerdekaan yang ingin memisahkan diri dari 'negara induknya' (Horowitz, 1985:3). Ada kalanya konflik tersebut bersifat latent dan eksplosif. Peristiwa runtuhnya negara Uni Soviet, konflik berkepanjangan di bekas negara Yugoslavia, pertentangan antara orang Tamil dan Sinhala di Srilangka, dan sebagainya, merupakan contoh gerakan tersebut yang sekaligus merupakan fenomena yang menandai berakhirnya abad XX, termasuk berbagai konflik kesuku-bangsaan yang terjadi di Indonesia seperti peristiwa Sampit, Ambon, Poso, termasuk 'kerusuhan anti Cina'.
Memahami Potensi Krisis Demokrasi Nanang Pamuji Mugasejati dan Armaidi Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22142

Abstract

Setelah transisi demokrasi berjalan selama beberapa tahun di negara kita, saat ini muncul suara-suara ketidakpuasan terhadapnya: demokrasi ternyata tidak mampu menekan praktek korupsi, pemerintah menjadi kurang efektif, politik dagang sapi semakin meluas baik dari tingkat pusat sampai daerah, proses pengambilan kebijakan ekonomi menjadi kompleks dan rawan terhadap kepentingan partai, dan lain sebagainya. Tulisan ini mencoba memberikan eksplanasi teoretis: bagaimana sistem politik yang demokratis juga berpeluang menciptakan krisis multidemensional? Prasyarat apa yang diperlukan agar demokrasi tidak menghasilkan krisis?Terdapat asumsi umum bahwa demokrasi merupakan bentuk tatanan politik yang terbaik yang pernah ditemukan oleh umat manusia. Dibanding dengan tatanan politik lain-nya, demokrasi dianggap memiliki keunggulan, misalnya karena bisa menghindarkan masyarakat dari bahaya dan ancaman tirani, melindungi hak esensial warga negara, menjamin kebebasan, menjamin self-determination, mengem-bangkan otonomi moral, memberikan kesetaraan politik, perdamaian serta kemakmuran ekonomi. (Dahl, 1998: 45)
Refleksi Mengenai Hukum Dan Keadilan, Aktualisasinya Di Indonesia H R Soejadi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22082

Abstract

Masalah Hukum dan Keadilan. Ada motto dalam bahasa Latin, berbunyi: Fiat justisia et pereat mundus (ruat Co-elum); yang artinya: Hukum Keadilan harus dilaksanakan sekalipun dunia harus kiamat (sekalipun langit harus runtuh karenanya). Motto tersebut menyiratkan suatu komitmen yang sangat tinggi untuk mewujudkan keadilan di dalam kehidupan bersama. Mengambil tema refleksi mengenai keadilan mengesankan akan adanya suatu uraian kefilsafatan yang sedemikian abstrak, padahal saya bermaksud di sini menyajikan sesuatu yang lebih bersifat sumir dan ilmiah popular. Memang perkataan refleksi dapat berarti (a) Reflectie (Bahasa Belanda), yang berarti pan tulan (Kamus Bahasa Belanda, disusun oleh Kramer Sr., ALN, 1966: 214 dan (b) Reflex (Bahasa Inggris), yang berarti: an automatic response to a stimulus. (International Dictionary, 1971).

Page 1 of 1 | Total Record : 4


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 2 (2025) Vol 31, No 1 (2025) Vol 30, No 3 (2024) Vol 30, No 2 (2024) Vol 30, No 1 (2024) Vol 29, No 3 (2023) Vol 29, No 2 (2023) Vol 29, No 1 (2023) Vol 28, No 3 (2022) Vol 28, No 2 (2022) Vol 28, No 1 (2022) Vol 27, No 3 (2021) Vol 27, No 2 (2021) Vol 27, No 1 (2021) Vol 26, No 3 (2020) Vol 26, No 2 (2020) Vol 26, No 1 (2020) Vol 25, No 3 (2019) Vol 25, No 2 (2019) Vol 25, No 1 (2019) Vol 24, No 3 (2018) Vol 24, No 2 (2018) Vol 24, No 1 (2018) Vol 23, No 3 (2017) Vol 23, No 2 (2017) Vol 23, No 1 (2017) Vol 22, No 3 (2016) Vol 22, No 2 (2016) Vol 22, No 1 (2016) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 1 (2015) Vol 21, No 1 (2015) VOL. XXI, NO. 1 APRIL 2015 Vol 20, No 3 (2014) Vol 20, No 2 (2014) Vol 20, No 1 (2014) Vol. XX, No. 3, Desember 2014 VOL. XX, NO. 2, AGUSTUS 2014 VOL. XX, NO. 1, APRIL 2014 Vol 19, No 3 (2013) Vol 19, No 2 (2013) Vol 19, No 1 (2013) VOL. XIX, NO. 3, DESEMBER 2013 VOL. XIX, NO. 2, AGUSTUS 2013 VOL. XIX, NO. 1, APRIL 2013 Vol 17, No 3 (2012) Vol 17, No 2 (2012) Vol 17, No 1 (2012) Vol 16, No 3 (2011) Vol 16, No 2 (2011) Vol 16, No 1 (2011) Vol 15, No 3 (2010) Vol 15, No 2 (2010) Vol 15, No 1 (2010) Vol 14, No 3 (2009) Vol 14, No 2 (2009) Vol 14, No 1 (2009) Vol 13, No 3 (2008) Vol 13, No 2 (2008) Vol 13, No 1 (2008) Vol 12, No 3 (2007) Vol 12, No 2 (2007) Vol 12, No 1 (2007) Vol 11, No 3 (2006) Vol 11, No 2 (2006) Vol 11, No 1 (2006) Vol 10, No 3 (2005) Vol 10, No 2 (2005) Vol 10, No 1 (2005) Vol 9, No 3 (2004) Vol 9, No 2 (2004) Vol 9, No 1 (2004) Vol 8, No 3 (2003) Vol 8, No 2 (2003) Vol 8, No 1 (2003) Vol 7, No 3 (2002) Vol 7, No 2 (2002) Vol 7, No 1 (2002) Vol 6, No 3 (2001) Vol 6, No 2 (2001) Vol 6, No 1 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 3 (1999) Vol 4, No 2 (1999) Vol 4, No 1 (1999) Vol 3, No 3 (1998) Vol 3, No 2 (1998) Vol 3, No 1 (1998) Vol 2, No 3 (1997) Vol 2, No 2 (1997) Vol 2, No 1 (1997) Vol 1, No 1 (1996) More Issue