cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Sosial Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Sosial Budaya (Online ISSN 2407-1684 | Print ISSN 1979-2603), merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 2007. Jurnal Sosial Budaya ini merupakan media yang memuat kajian-kajian ilmiah dalam bentuk hasil riset dalam bidang ilmu sosial/humaniora, seperti pernaskahan, pranata-sosial dan sejarah untuk membangun dan membangkitkan kembali kejayaan Tamaddun Melayu dalam kawasan regional Asia Tenggara. Jurnal Sosial Budaya diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juli dan Desember yang berusaha menempatkan hasil penelitian para peneliti, akademisi, pemerhati dalam keilmuan terkait. Jurnal Sosial Budaya juga memberi perhatian bagi publikasi hasil penelitian interdisipliner berbagai pihak yang memiliki perhatian serius untuk merancang, dan merajut tatanan dunia baru Tamadun Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019" : 8 Documents clear
POLA PIKIR MASYARAKAT DESA DUNGPRING DALAM MELIHAT TAYANGAN TELEVISI “BEDAH RUMAH” DI GTV: KAJIAN BUDAYA MASYARAKAT PEDESAAN Tety Bekti Sulistyorini; Atiqa Sabardila
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.6435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) manfaat tayangan televisi bagi masyarakat Dusun Dungpring, Desa Ngunggahan, dan (2) pola pikir masyarakat dalam melihat tayangan televisi “Bedah Rumah” di Dusun Dungpring, Rt 03/07, Desa Ngunggahan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Tayangan televisi memiliki pengaruh dalam perubahan pola pikir masyarakat. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari pengumpulan data secara studi lapangan dengan melakukan observasi, wawancara, angket, dan teknik dokumentasi. Buku-buku dan jurnal relevan digunakan sebagai data sekunder untuk memperkuat analisis. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yakni mendeskripsikan analisis secara terperinci dan sistematis. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa televisi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, yakni memberikan hiburan dan memberikan informasi, sedangkan pola pikir masyarakat yang ditentukan oleh latar belakang profesi, usia, jenis kelamin, ekonomi, dan tingkat pendidikan menunjukkan adanya pola pikir rasa iri, rasa trenyuh, rasa bahagia, rasa malas, rasa iba, rasa gembira, dan keinginan yang kuat.
TRADISI MASYARAKAT JAWA DAN MADURA SEBAGAI BENTUK AKULTURASI BUDAYA PESISIRAN DI DESA BUKO KABUPATEN DEMAK Mahfudlah Fajrie; Khoirul Muslimin
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.6617

Abstract

In Buko village Demak Regency, has a different cultural community, namely the Javanese people as indigenous people and the Madurese community as migrants. This cultural difference is what led to the process of cultural acculturation. Coastal culture related to coastal traditions over time, technological developments and modernization are shifting. The purpose of this study was to find out and analyze the traditions of Javanese and Madurese coastal communities that still exist and are carried out, the processes and forms of acculturation of Javanese and Madurese culture in Buko Village. So that it can prove that cultural differences do not make the basis for the existence of division, instead it makes unity. Type research ethnographic approach, informants with purposive sampling technique, data collection by observation, interviews and documentation. Data analysis uses cultural theme. Coastal traditions between the Javanese and Madurese communities in Buko Village that are still being carried out are nanggap wayang, mitoni, ngapati and sumur tiban as a tradition of Javanese people, the tradition of Madurese people is the istigosah and activities of the Laskar Madura community. Javanese and Madurese traditions in Buko Village occur cultural acculturation through blind acculturation because people with different cultures in this case Java and Madura live close to each other and cultural patterns are learned accidentally. One tradition as a form of cultural acculturation between Javanese and Madurese communities is manaqib, this tradition has the purpose of strengthening ties and increasing unity between Javanese and Madurese people who have different cultures and languages.
HEGEMONI RELIGIO-KEKUASAAN DAN TRANSFORMASI SOSIAL Mobilisasi Jaringan Kekuasaan dan Keagamaan Kyai dalam Dinamika Sosio-Kultural Masyarakat Abd Hannan; Kudrat Abdillah
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.7037

Abstract

Madura society has identical religiosity. One of their religiosities are in glorifying the tradition, institute, and religious symbol. Dealing with it, the existence of kyai (scholar) is a religious symbol which has strong effect toward the existence of social culture of local society. This study specially will analyze Network Mobilization of Scholar Religious Authority in socio-culture of Madura society. Some crucial issues become a focus of explanation in this study namely; existence of kyai, network mobilization of Kyai religious authority, the effect toward politic reality in socio-culture of Madura society. This study is field study which uses qualitative research. The data of this paper is primary and secondary data. Whereas the theory used is sociology theories; Hegemony Gramsci theory, and authority theory of Michel Foucault. The finding of this study is descriptive-Narrative of kyai existence in social system of Madura society. And the description of scholar religious authority network in in socio-culture of Madura society. This writing contribute in describing a direction of politic dynamic of Madura society. And the description of participation and effect of kyai (scholar) religious authority network in socio-culture of Madura society.
RESEPSI EKSEGESIS UMAT ISLAM TERHADAP BUDAYA SEDEKAH (Studi Living Hadits di Masjid Sulthoni Wotgaleh, Sleman, Yogyakarta) Muhammad Irsad
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.6918

Abstract

This study aims to reveal one of the practices of alms culture at Sulthoni Wotgaleh Mosque, Sleman, Yogyakarta. Alms made in the form of money, building materials to food and beverages intended for congregation prayers Friday. This study seeks to trace the origins of the emergence of alms practices, and reveal the exegesis of Muslims to the hadith of the Prophet, which became the theological root of the emergence of the practice of alms. The results of this study concluded that; first, the origin of the alms practices that took place at Sulthoni Mosque was motivated by the initiative of Muslims who wanted to find an 'alternative way' of supporters for their wishes or wishes to come true. Secondly, there are three kinds of exegesis receptions for Muslims about giving charity, which is a form of gratitude, as a repellent, and as a means of facilitating rizki. Third, the alms that entrenched and the crowded of the Sulthoni mosque visited by pilgrims could not be separated by the sacred side of the tomb of Panembahan Purboyo I located in the mosque.
KARAKTERISTIK MASYARAKAT MUSLIM KOTA SAMBAS DALAM MENENTUKAN ARAH KIBLAT UNTUK PELAKSANAAN SALAT DI RUMAH Reza Akbar
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.6964

Abstract

Kepastian tentang arah kiblat tidak hanya diperlukan bagi sebuah masjid saja, melainkan diperlukan pula di tempat-tempat seperti rumah, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan tempat-tempat lain. Salat di rumah tentu tidak dapat dihindarkan baik bagi seorang muslim laki-laki maupun wanita karena beberapa kondisi yang menghendaki seseorang mesti melakukannya. Tentu tidak semua masyarakat mampu menentukan arah kiblat secara tepat ketika melaksanakan salat di rumah disebabkan berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik masyarakat Kota Sambas dalam menentukan arah kiblat untuk pelaksanaan salat di rumah. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif lapangan yang menerapkan teori grounded dan datanya diperoleh dari hasil wawancara. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa karakteristik masyarakat Kota Sambas Kalimantan Barat dalam penentuan arah kiblat untuk pelaksanaan salat di rumah adalah: pertama, penentuan arah kiblat umumnya masih menggunakan perkiraan arah masjid terdekat. Kedua, pada umumnya, masyarakat tidak memberikan tanda khusus seperti garis atau tanda anak panah sebagai petunjuk arah kiblat di rumah. Ketiga, secara umum, masyarakat Kota Sambas dalam menentukan arah kiblat masih menggunakan dugaan karena sebagian besar tidak diberi tanda khusus dan menggunakan arah kiblat masjid terdekat.
Pelestarian Banjar sebagai Pecegahan Tindakan Korupsi Novitasari Novitasari; Ahmad Busrotun Nufus
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.6974

Abstract

Tindakan pemberantasan korupsi di Indonesia telah gencar dilakukan oleh lembaga yang berwenang. Sedangkan tindakan pencegahan yang ditujukan pada lingkungan masyarakat hingga komunitas terkecil yaitu keluarga belum terlalu difokuskan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana banjar dapat dilestarikan sehingga mendukung pencegahan terjadinya korupsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan studi litelatur. Teknik analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian banjar di lingkungan keluarga dan masyarakat menggunakan pendekatan habituasi dan keteladanan. Saran-saran yang dapat penulis berikan berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu: 1) Banjar sebagai upaya pembangunan budaya anti korupsi penting dilestarikan dengan melibatkan keluarga, masyarakat, dan sekolah; 2) Kurikulum pendidikan di sekolah dasar hingga pendidikan tinggi dapat disisipkan materi tentang nilai-nilai anti korupsi dalam tradisi banjar sehingga dapat dilakukan penilaian secara terstuktur.
ADAT PERNIKAHAN SUKU BANJAR DAN SUKU BUGIS M. Ahim Sulthan Nuruddaroini
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.6960

Abstract

Culture and society are one unity that cannot be separated from each other, therefore with the existence of various ethnic groups, various traditions are born. In addition, culture can be seen as values that are believed to be shared in a society and can be internalized in individuals so that they live in every behavior, one of which is in the marriage customs of each tribe that has unique and very interesting differences and we must know and preserve, because Indonesia is very rich in culture that we must guard together, by knowing the difference does not mean we insult and blame instead guard and respect each other. The purpose of this study was to determine the differences and similarities of the marriage customs of the Banjar and Bugis tribes. The method that I use is a qualitative method. Type of library research (library reseach), the approach used is an ethnographic approach by examining cultural phenomena that exist in society. The results of this study are the marriage customs of the Banjar and Bugis tribes that have differences and similarities. The first difference is about the term money given to women from the male side by the term uag jujuran (Banjar tribe) and panai money (Bugis tribe), while the equation is something that must be fulfilled in the custom of marriage and the same form money. The next difference is about the factors that influence the high and low amount of money given, then in practice it also has similar differences and similarities, only procedurally different.
Beyond Dangdut: Nurturing Local Language Using Lyrics Ferdi Arifin
Sosial Budaya Vol 16, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i1.7035

Abstract

Endangered language issue recently becomes serious problem when government reports that there are 11 extinct local language in 15 days. Beside, The Language Development and Cultivation Agency has tried optimally to conserve local languages but it is not totally success. This study would take a critic againts goverment for language preservation and recommend to government for implementing new method for language preservation by using dangdut with local language usage in the lyrics. The method used in this study employs qualitatif and it thus applies language planning approach to find out the effectiveness of dangdut as for language preservation in industrial revolustion. The result shows recommendation to government to implies popular way for local language preservation through using dangdut songs with local language usage for the lyrics in order to enhance local language usage awarness among Indonesian.

Page 1 of 1 | Total Record : 8