cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "No 50 (1992)" : 7 Documents clear
Penokohan dan Latar Al Karnak (Pengenalan Awal Karya Najib Mahfuz) Aly Abubakar Basalamah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.37-47

Abstract

Pertumbuhan sastra Arab modem yang kita kenal sekarang, memasuki kawasan Timur Tengah menjelang akhir abad ke-19. Sebelum itu, yakni sekitar abad ke-17 dan ke-18 bangsa-bangsa dikawasan tersebut, tampaknya sedang tidur nyenyak, kalau tidak akan dikatakan sedang pingsan, dalarn arti politik, agama dan kebudayaan. Dan bersamaan dengan itu pula kuku-kuku penjajahpun mulai mencekam, satu persatu mereka jatuh ketangan penjajah, terutama Prancis dan Inggis. Sudah barang tentu, setiap penjajah meninggalkan pengaruh budaya yang negatif dan positif bagi bangsa yang dijajah. Kalau dilihat segi positifnya dapat ditandai pada adanya kontak budaya dan akulturasi. Dan salah satu sisi pengaruh barat tersebut terlihat pada pertumbuhan dan perkembangan Sastra Arab modem sekarang ini terutama dalam bidang methode teori dan aliran kesusasteraan baik jenis novel, drama, cerita pendek, puisi maupun kritik sastra, termasuk novel Al-Karnak Karya Najib Mahfuz ini. Banyak karya novelis ini yang mula-mula berlatar belakang sejarah Mesir purba dari dinasti Firaun, tetapi dalam karya-karyanya yang kemudian ia lebih akrab dengan tokoh-tokoh dan peristiwanya dari kenyataan hidup sehari-hari masa sekarang, berupa kritik- kritik sosial, politik termasuk kritik-kritik dalam partai-partai politik seperti yang diterangkannya dalam Al-Karnak. Untuk sekedar pengenalan awal, makalah ini menyajikan novel Al­Karnak lewat penokohan dan latar dalam upaya awal memahami, menikmati dan merenungkan karya-karya novelis kontroversial ini. Bagi orang yang kurang memahami Najib Mahfuz, karya-karyanya nampak sering menimbulkan ''kegerahan'', kata Ali Sudah, seorang pengamat Sastra Arab modern. Bahkan karya-karyanya yang berlatar belakang agama ditanggapi secara a priori, lalu sebagian orang cepat-cepat menganggapnya tidak menghormati nilai-nilai agama (Z. Rosdy 1990: XXII). Pengkajian terhadap karya-karya NM dari berbagai aspeknya patut disambut, untuk lebih mengenali pemenang hadiah Nobel bidang Sastra yang dilukiskan oleh mingguan Akhbar Al' Alam al Islami sebagai(kebanggaan dunia, Arab dan Mesir)                       فخرعالمى لكل عربى ومصرى         (9 Januari 1989 : 12 ) 
Visi Hos Tjokroaminoto Tentang masa Depan Indonesia Merdeka Masyhur Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.48-71

Abstract

Dalam konteks pembangunan Nasional yang bercita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya, maka penelusuran sejarah pemikiran dan perjuangan tokoh-tokoh pergerakan Nasional yang dikenal sebagai era kebangkitan nasional amat menarik untuk dikaji ulang secara kritis dan konstruktif. Sebab pemikiran dan perjuangan mereka mengandung nilai-nilai luhur yang dapat disumbangkan untuk memandu jalannya pembangunan nasioanl serta masih memiliki relevansi dengan tuntutan-tuntutan aktual dewasa ini. Selain itu karena kehadiran mereka merupakan titik tolak dan mata rantai yang tak terpisahkan bagi peristiwa-peristiwa sejarah berikutnya, yaitu: Pertama, era proklamasi, dimana bangsa Indonesia melalui Soekarno dan Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17-8-1945. Kedua, era Integrasi, dimana bangsa Indonesia berjuang menghadapi serangan kolonial Belanda yang bercita-cita untuk kembali menjajah Indonesia serta rongrongan pemberontakan dari dalam. Kemudian ketiga adalah era transformasi, yaitu era pembangunan nasional yang berencana, sejak pemerintahan Orde Baru dikenal dengan pembangunan Jangka panjang yang terbagi kedalam pembangunan Lima Tahun (PELITA).
Sayid Qutub: Sastrawan, Politikus, dan Ulama Syakir Ali
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.1-8

Abstract

Apabila kita membuka-buka lembaran sejarah sastra arab maka akan kita temukan satu di antara sederetan nama-nama sastrawan besar yaitu Sayid Qutub, dan apabila kita menelaah kitab-kitab tafsir al-Qur'an maka Sayid Qutub temasuk salah satu mufassir besar di sana, kemudian apabila kita membaca sejarah politik di Mesir maka di dalamnya juga terukir nama Sayid tersebut. Sayid adalah orang Mesir yang lahir pada tahun 1906 M di perkampungan Musya pada propinsi Asiyut (Abdullah al-Iwad, 1983:78). Lingkungan keluarga, pendidikan dan bakat telah mendukungnya menjadi sosok manusia yang mampu berkiprah di dalam bidang dunia sastra, politik dan ilmu keislaman. Aktivitas ayahnya secara tidak langsung telah mengenalkan dunia politik kepadanya, karena ayahnya menjadi pengurus partai Watani di desanya, bahkan rumahnya dijadikan pusat kegiatan pendidikan dan latihan kader Watani dari desa tersebut. Dalam kehidupan pendidikan agama Islam ia mendapat perhatian yang cukup baik di rumah maupun sekolah, terutama ibunya sangat tinggi perhatiannya mengenai praktek-praktek keagamaan di rumahnya, sehingga pengaruhnya sangat dalam terhadap jiwanya. Sayid salah satu dari lima bersaudara dari keturunan isteri Qutub yang kedua yaitu Nafisah, Sayid, Aminah, Muhammad dan Hamidah. Uniknya lima bersaudara ini semuanya pernah dijebloskan dalam penjara sebagai tahanan politik, dan yang paling tragis adalah Sayid, ia mengakhiri hukumannya dengan hukum mati. Lima bersaudara ini juga memiliki bakat seni karang- mengarang dan seni sastra kecuali yang sulung Nafisah.
Filsafat Ilmu dan Studi Agama (Ulasan Terhadap Tulisan Frank Whaling, “Additional Note on the Philosophy of Science and the Study of Religion) R Romdon
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.72-84

Abstract

Walaupun bermacam-macam, namun jelas bahwa apa yang dinamakan metode studi agama itu ada, baik metode studi agama yang belum ilmiah maupun metode studi agama yang sudah ilmiah. Memang baru lebih kurang pertengahan abad 19 Masehi studi agama itu dituntut untuk dihargai sebagai studi yang ilmiah dengan menggunakan metode perbandingn. Orang yang pertama-tama mengklaim studi agama dapat menjadi studi ilmiah adalah seorang sarjana Jerman yang bemama F. Max Muller (1823-1900 M.) dan studi agama yang ilmiah itu di namakan Ilmu agama atau Science of Religion untuk membedakannya dengan studi agama yang lain yaitu teologi filsafat. Memang ada Sarjana yaitu M. Kitagawa yang memisahkan studi agama yang dinamakan Science of Religion itu dengan studi agama yang nornatif dan studi agama yang deskriptif. Studi agama yang normatif itu katanya adalah filsafat dan teologi, dan studi agama yang deskriptif itu seperti misalnya studi antropologi dan sosiologi terhadap agama, jadi studi ilmu-ilmu deskriptif terhadap agama. Sedang studi agama yang dinamakan Ilmu Agama atau Science of Religion itu lain lagi, bukan yang normatif dan bukan pula yang deskriptif. Ilmu yang demikian itu dinamakannya Ilmu Agama atau Science of Religion atau History of Religion, atau Comparative of Religion atau dapat juga dinamakan Phenomenologi of Religion. Metode studi agama yang Science of Religion demikian itu tidak normatif dan tidak pula deskriptif, tetapi religio-scientifical.
Aspek Epistemologis Filsafat Islam M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.9-22

Abstract

Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya? (2) Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar­benar di luar pikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena/ appearance) versus hakekat (noumena/essence). (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah soal tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi. Secara garis besar, ada dua aliran pokok dalam epistemologi. Pertama, adalah idealism atau lebih populer dengan sebutan rasionalism, yaitu suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran 'akal', 'idea', 'category', 'form' sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran panca indera dinomor duakan. Sedang aliran yang kedua adalah realism atau empiricism yang lebih menekankan peran 'indera' (sentuhan, penglihatan, penciuman, pencicipan, pendengaran) sebagai sumber sekaligus sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomor duakan. Kedua (atau ketiga) ini saling bersiteguh mempertahankan keyakinan masing-masing, yang kadang-kadang sangat eksklusif, sehingga para pengamat yang datang belakangan dapat melihat secara jelas di mana letak kelemahan dan kekuatan argumen masing-masing.
Konsep Ummah dalam Piagam Madinah Abd. Salam Arief
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.85-98

Abstract

Pada dasarnya alur perjalanan sejarah Islam yang panjang itu bermula dari turunnya wahyu di Gua Hira', sejak itulah nilai-nilai kemanusiaan yang dibawah bimbingan wahyu Ilahi menerobos arogansi kultur jahiliyyah, merombak dan membenahi adat istiadat budaya jahiliyyah, yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dengan seruan agama tauhid (monotheisme) yang gaungnya menggetarkan seluruh jazirah Arabia, maka fitrah dan nilai kemanusiaan didudukkan ke dalam hakekat yang sebenarnya. Seruan agama tauhid inilah yang merubah wajah masyarakat jahiliyyah menuju ketatanan masyarakat yang harmonis, dinamis dibawah bimbingan wahyu. Kemudian hijrah Rasulullah ke Madinah adalah merupakan suatu momentum bagi kecemerlangan Islam di saat-saat selanjutnya. Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah telah berhasil membina jalinan persaudaraan antara kaum Muhajirin sebagai imigran-imigran Makkah dengan kaum Ansar penduduk asli Madinah. Beliau mendirikan masjid, membuat perjanjian kerjasama dengan nonmuslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial dan ekonomi bagi masyarakat baru tersebut, suatu fenomena yang menakjubkan ahli-ahli sejarah dahulu dan masa kini. Suatu kenyataan yang menggoyahkan kedudukan Makkah dan menjadikan orang-orang Quraisy Makkah semakin bergetar manakala melihat misi kerasulan Nabi Muhammad semakin nampak nyata. Keberhasilan Rasulullah membentuk masyarakat Muslim di Madinah oleh sebagian intelektual Muslim masa kini disebut dengan negara kota (city state), dan dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (nation state): Walaupun sejak awalnya dalam kandungan sejarahnya, Islam, tidak memberikan ketentuan yang pasti tentang bagaimana bentuk dan konsep negara yang di kehendaki, namun suatu kenyataan bahwa Islam adalah Agama yang mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan termasuk politik dan negara.
Islami In Indonesia: An Introductory Remarks M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.23-36

Abstract

To speak about Islam in such a big population will involve a very large range of problems, from the insufficiency of the materials, to the disputes over subjects on which several researches have been done. The most important historicals are those related to its coming in this archipelago. To this day, no one can tell exactly when it came here for the first time, why it was accepted by the majority of the people, who propagated it here etc. The social scientist faces the problem that Islam is expressed here, as in any other part of Muslim world, in a vast number of variations. We can see, on the one hand, many "Muslims" in whom Islam. is only a "transparent veneer that fails to disguise the underlying substance of purely heathen character" On the other hand, we find puritans who see Islam as a total system that has to be applied in all aspects of their life. Therefore, we have to restrict ourselves to the most important subjects to talk about. As an introduction to the study of Islam in Indonesia, this paper will deal only with its system of beliefs and practices, its organizations, its educational institutions, its political appearances and its relations to the government Of course, these subjects cannot be dealt with sufficiently without placing them in its historical background.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

1992 1992


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue