cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Journal of Women´s Studies
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 23381779     DOI : -
Jurnal ini dikhususkan bagi karya ilmiah Studi Wanita yang mengeksplorasi publikasi ilmiah dan merespon isu-isu gender yang dialami perempuan dalam ranah publik dan domestik lintas bidang ilmu berkaitan dengan ketidak-setaraan dan ketidak-adilan jender, seperti misalnya diskriminasi, ekspoloitasi, perdagangan wanita, penindasan, subordinasi, obyektivikasi, pengabaian dan lain sebagainya.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2014)" : 6 Documents clear
Gender Sensitive Agricultural Technology Development In The Indonesian Timor Semi-arid Farming System Hesti R. Wijaya
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.244 KB)

Abstract

In the East Indonesia semiarid farming, the role of woman farmers covers work varying from management to labour. However, in the development program, gender internalization ignored woman farmers due to invisibility of women’s role. This occurs despite their significant contribution in the production and post harvest.  Woman farmers are invisible before the policy makers, planners, and practitioners. As they are excluded from both the development program as well as that from the routine agricultural program, they do not benefit equally to the men when agricultural technology is introduced. Within the realm of gender main-streaming to promote the women farmers’ status as an equal. partner to the men a research methodology with feminist perspective to find out  the women’s farmers vision about their agriculture food production. This paper discuss needs identification of agricultural technology by women farmers. The result is amazingly challenging for the agronomist to fulfill.Keywords: gender, appropriate technology with women’s perspective, traditional agriculture technology, women friendly technology development
Adaptasi Perempuan Madura dan Strategi Bertahan Hidup(Survival Strategy) Pasca Konflik Etnis Madura–Sampit (Studi Kualitatif di Desa Maneron, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan-Madura) Khoiriyah Khoiriyah; Sjamsiar Sj. Indradi; Susrini Idris
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang Adaptasi Perempuan Madura dan Strategi Bertahan Hidup (Survival Strategy) Pasca Konflik Etnis Madura–Sampit telah di laksanakan di Desa Maneron, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan pada Februari 2011 sampai dengan  April 2012. Strategi survival yang dimaksud dalam penelitian ini adalah cara-cara terbaik yang ditempuh perempuan untuk menyiasati lingkungan pasca konflik etnis, sehingga mampu bertahan hidup (survive) dan mampu menjalani proses kehidupan sebagaimana mestinya. Strategi bertahan hidup yang mereka lakukan dipengaruhi oleh proses adaptasi, kemudian kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Madura khusus menangani korban konflik etnis Madura–Sampit. Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa proses adaptasi yang dilakukan perempuan Madura bersama keluarga dalam mempertahankan hidup (survival), diantaranya dengan meningkatkan keterlibatan wanita/istri dan anak-anak dalam keluarga untuk menopang ekonomi keluarga, kemudian mereka menggunakan rumah dengan membuka toko makanan, dan pekarangan untuk meningkatkan pendapatan, dengan cara berkebun. Sedangkan kebijakan pemerintah Kabupaten Bangkalan, untuk menangani korban pasca konflik etnis Madura–Sampit, sudah diberhentikan sejak tahun 2007. Kebijakan pemerintah untuk Pengarusutamaan Gender (PUG), pemerintah Bangkalan lebih dikenal dengan sebutan pemberdayaan perempuan. Sosialisasi PUG hanya dilakukan di daerah-daerah pinggir kota, sedangkan untuk daerah pedesaan belum dilakukan sosialisasi, sehingga kebijakan yang ada adalah kebijakan untuk umum. Mengatasi permasalahan tersebut penting untuk melibatkan pakar dalam melaksanakan suatu program kerja, yaitu dengan adanya kerjasama dan networking bersama instansi terkait, misalnya dengan Pusat Studi Wanita dan Gender (PSW&G), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Perguruan Tinggi.Kata Kunci : Adaptasi, Perempuan Madura, Strategi Bertahan Hidup, Konflik Etnis
Komunikasi Interpersonal Konselor Women Crisis Center Rumah Perempuan Kabupaten Pasuruan Pada Remaja Perempuan Korban Pasca Kekerasan Yulanda Trisula Sidarta Yohanes; Deni Darmawan; Sanggar Kanto
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.952 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa metode komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh konselor Women Crisis Center Rumah Perempuan Kabupaten Pasuruan dalam memecahkan masalah konseli, yaitu keluar dari traumatik atas kejadian kekerasan yang telah dialaminya dan menganalisa hasil konseling yang dilakukan konselor Women Crisis Center Rumah Perempuan Kabupaten Pasuruan melalui tanggapan konseli dalam membantu keluar dari traumatik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.Teknik pemilihan informan pada penelitian ini adalah purposive. Pemilihan teknik ini berdasarkan kriteria tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik Miles and Huberman berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa komunikasi interpersonal yang dilakukan konselor adalah secara verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal dilakukan bukan hanya di kantor, melainkan juga home visit ke konseli. Di kantor, konselor melakukan tes-tes psikologi dan kegiatan positif, seperti menulis puisi, membuat hasil karya, atau bisa juga dengan memasak. Cara komunikasi yang dilakukan konselor adalah dengan humor untuk membuat konseli nyaman di ruang konseling. Konseling juga bisa dilakukan melalui SMS maupun telepon. cara tersebut dilakukan melalui keterbukaan diri seorang konseli, ketrampilan komunikasi konselor, serta kualitas komunikasi konselor.Hasil konseling terhadap konseli yang dilakukan konselor Women Crisis Center Rumah Perempuan Kabupaten Pasuruan dalam membantu konseli keluar dari traumatiknya sudah efektif. Konseli DD masih tetap menjaga komunikasi dengan konseli lewat SMS, serta konseli UU sudah bercerai dan sekarang menjadi ketua dalam komunitas pendampingan di Desa Rembang untuk memberdayakan remaja-remaja setempat untuk bisa mandiri dan tidak menjadi korban nikah siri. Keefektifan konseling ini dianalisa berdasarkan keberhasilan konselor dalam menjadikan konselinya ini menentapkan keputusannya sendiri. Oleh karena itu keputusan akhir dari masalah konseli berada di konseli itu sendiri dan konselor hanya membantu mengarahkan saja.Kata Kunci : Women Crisis Center, Teori Keterbukaan Diri, Komunikasi Antar Pribadi
Pola Komunikasi Dalam Komunitas Perempuan Sosialita “X” di Surabaya (Studi Fenomenologi Pada Komunitas Perempuan Sosialita di Surabaya) Anak Agung Ayu Mirah K.W; Bambang Dwi Prasetyo; Sanggar Kanto
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan peneliti mengetahui permasalahan yang terjadi pada komunitas Sosialita. Komunikasi muncul karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas untuk bersosialisasi. Perempuan bersosialisasi di dalam suatu kelompok bisa mengurangi masalah pribadi yang perempuan alami. Sosialita merupakan sebutan yang diberikan kepada perempuan yang bisa digolongkan sebagai kelompok perempuan yang sudah memiliki kemampuan dan kemauan serta fasilitas, kesempatan, dan sarana yang cukup bagi perannya. Berdasarkan perspektif feminis liberalisme bahwa perempuan mencoba eksistensinya di ruang publik dan mereka berhasil. Studi fenomenologi digunakan sebagai metode penelitian ini. Metode fenomenologi digunakan karena mampu menjelaskan makna dibalik fenomena yang nantinya ditemukan dalam penelitian ini. Metode fenomenologi juga mampu menggambarkan dan menganalisis pola perilaku manusia. Penelitian dilakukan pada komunitas sosialita X di kota Surabaya.Dengan mengambil empat informan perempuan sosialita sebagai informan penelitian. Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah bagaimana pola komunikasi dalam komunitas perempuan sosialita X di Surabaya. Peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk mengumpulkan data penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Teori-teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi kelompok, komunikasi antarpribadi,komunikasi verbal dan non verbal, interaksionisme simbolik.  Hasil penelitian menunjukkan para kaum sosialita mulai mengidentifikasi dirinya ketika bersosialisasi dengan sesama kaum sosialitanya. Dalam menjalin hubungan para perempuan sosialita melakukan identifikasi terkait dengan identitas mereka sebagai seorang perempuan sosialita satu sama lainnya. Lingkungan juga mempengaruhi dalam hal perilaku individu serta keputusannya terkait dengan menjadi seorang sosialita. Mengenai peran komunitas sosialita yang ada, dalam penelitian ini adalah komunitas sosialita X yang memberikan pembelajaran dan informasi-informasi dengan dunia sosialita.Kata Kunci : Sosialita, Fenomenologi, Pola Komunikasi
Diplomasi Hibrida: Perempuan Dalam Resolusi Konflik Maluku Helmia Asyathri; Keppi Sukesi; Yayuk Yuliati
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.708 KB)

Abstract

Keberadaan perempuan diakui oleh masyarakat internasional sangat penting dalam proses penyelesaian konflik, namun menjadi persoalan lain ketika dihadapkan pada pertanyaan “dapatkah perempuan berperan sebagai agen resolusi konflik diluar pertemuan formal?”. Peneliti berniat menggali aktivitas perempuan di wilayah non-formal, sebagai bentuk Diplomasi Hibrida yang berpengaruh dalam resolusi konflik di Maluku. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif - kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang berlokasi di kota Ambon, Maluku.  Hasil penelitian ini mengidentifikasi konflik komunal di Maluku sebagai konflik sosial yang berkepanjangan, yang dinamikanya sesuai dengan model Protracted Social Conflict yang dikembangkan oleh Edward Azar. Namun berbeda dengan model Azar yang mainstream dan tidak sensitive gender, penelitian ini memperlihatkan peran perempuan di sektor informal seperti di pasar tradisional mampu mempengaruhi proses resolusi konflik Maluku. Aktifitas Papalele atau perempuan pedagang di kota Ambon, tanpa mereka sadari dapat membantu proses resolusi konflik. Perannya dalam tahapan Peacekeeping, Peacemaking, maupun Peacebuilding menjadikan mereka anomali dalam kajian resolusi konflik dan diplomasi. Dengan demikian, Papalele dan aktifitas perdagangannya di Ambon dapat dikatakan sebagai aktor dan aktifitas Diplomasi Hibrida.Kata Kunci: Diplomasi Hibrida, Resolusi Konflik, Protracted Social Conflict, Papalele, Isu Perempuan
Diskriminasi Terhadap Perempuan Indonesia Masa Kini dari Perspektif Posisi Perempuan dalam Perjanjian Lama Syarah Y.I Faot
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perspektif  Perjanjian Lama tentang posisi perempuan merupakan barometer interpretasi yang ternyata  dapat dipertanggung-jawabkan dan dapat meminimalisir diskriminasi terhadap perempuan, karena Perjanjian Lama mencatat gambaran idealnya Tuhan dalam menciptakan perempuan.  Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan adanya perbedaan besar antara posisi perempuan yang preskriptif dari gambaran idealitas Tuhan dalam menciptakan perempuan, dan posisi perempuan yang deskriptif secara faktual sebagai given facts. Praktik-praktik dalam masyarakat Israel kuno seperti terekam dalam Perjanjian Lama sering jauh dari gambaran idealitas Tuhan. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, penulis berupaya  menggambarkan pemahaman, pendapat, kondisi dan perlakuan terhadap perempuan melalui observasi lapang masa kini dan membandingkannya dengan posisi perempuan menurut perspektif Perjanjian Lama sebagaimana didokumentasi dalam  literatur-literatur. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  diskriminasi terhadap kaum perempuan terjadi karena adanya kekeliruan interpretasi tentang posisi perempuan dalam Perjanjian Lama di mana posisi perempuan yang preskriptif disamakan dengan posisi perempuan yang deskriptif. Re-interpretasi kekeliruan pandangan tentang posisi perempuan menurut Perjanjian Lama amat diperlukan.Kata Kunci: Perspektif Perjanjian Lama, posisi perempuan preskriptip, posisi perempuan deskriptip, diskriminasi perempuan

Page 1 of 1 | Total Record : 6