cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 31 No. 2 (2020)" : 6 Documents clear
Seeking Prosperity Through Village Proliferation: An Evidence of the Implementation of Village Funds (Dana Desa) in Indonesia Uly Faoziyah; Wilmar Salim
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 2 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.2.1

Abstract

Abstract. Through Law No. 6 of 2014 concerning Villages, the government of Indonesia carries out a significant evolution by giving higher authority to the lowest level of regional government, namely the village level. This law also serves as a legal basis for the government of Indonesia to allocate village funds (dana desa) sourced from the Indonesian national budget (APBN) that are intended for villages to finance governance, development, community development, and village community empowerment. After almost five years of implementing this policy, the great euphoria over the high amount of village funds provided (approximately 1 billion rupiahs per village) caused a harsh polemic about the increasing rate of village proliferation in Indonesia. This proliferation at the micro-level not only increases the burden on the central government but also its shows that the welfare of many communities at the regional level is still questionable. Therefore, using spatial analysis and descriptive statistics, this study aimed to identify patterns of village proliferation in Indonesia from the perspective of the number of villages, the amount of village funding, poverty levels, and village development, and their impact on regional development. The results showed that 60.56% of regions that experienced village proliferation were able to reduce poverty levels in their area, but not all of these regions were able to reduce the percentage of underdeveloped villages and increase development at the village level. Then, related to village funding, 25.35% of regions that experienced proliferation got a significant rise in village funding, but were still unable to reduce poverty rates. Abstrak. Melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pemerintah Indonesia melakukan evolusi yang signifikan dengan memberikan otoritas yang lebih tinggi ke tingkat terendah pemerintah daerah, yaitu di tingkat desa. Undang-undang ini juga berfungsi sebagai dasar hukum bagi Pemerintah Indonesia untuk mengalokasikan dana desa (dana desa) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang dimaksudkan bagi desa untuk membiayai pemerintahan, pembangunan, pengembangan masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat desa. Setelah hampir lima tahun menerapkan kebijakan ini, euforia besar dari jumlah dana desa yang disediakan mencapai sekitar 1 miliar rupiah per desa, menyebabkan polemik yang keras tentang peningkatan laju pemekaran desa di Indonesia. Pemekaran di tingkat mikro ini tidak hanya meningkatkan beban pemerintah pusat tetapi juga pengaruhnya terhadap kesejahteraan masyarakat di tingkat daerah masih dipertanyakan. Oleh karena itu, dengan menggunakan analisis spasial dan statistik deskriptif, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola-pola pemekaran desa di Indonesia dari perspektif jumlah desa, jumlah dana desa, tingkat kemiskinan, dan pembangunan desa, dan dampaknya terhadap pembangunan daerah. Hasilnya adalah 60,56% daerah yang mengalami pemekaran desa mampu mengurangi tingkat kemiskinan di wilayah mereka, tetapi tidak semua daerah ini mampu mengurangi persentase desa tertinggal dan mampu meningkatkan pembangunan di tingkat desa. Kemudian, terkait dengan dana desa, 25,35% daerah yang mengalami proliferasi mendapatkan kenaikan yang signifikan dalam dana desa, tetapi mereka masih melumpuhkan untuk mengurangi tingkat kemiskinan.Kata kunci. Kemakmuran, dana desa, pemekaran.
Live-Work Housing Concept for Rusunawa in Indonesia: Is it Possible? Vina Triyuliana; Susinety Prakoso
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 2 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.2.2

Abstract

Living and working in the same unit is part of the everyday life of low-income people who live in slum areas to overcome their economic situation. However, when they are evicted from slums and relocated to Rusunawa (vertical public rental housing), their live-work life is no longer possible. Empirically, living in Rusunawa puts many residents in financial difficulties. This article is aimed to investigate the feasibility of a live-work housing concept for Rusunawa. Based on observations at Rusunawa Pesakih in West Jakarta, this article revealed that only 48% of a total of 64 commercial spaces provided by Rusunawa were occupied for home industry businesses. In-depth interviews with 40 residents showed that 70% of them had a diversity of potential skills related to home industries. However, their skills were unchanneled and unaccommodated. This article also found that 35% of them did take-home work-related activities in the corridors of Rusunawa. The findings indicated that there is a potential for live-work life in Rusunawa and an opportunity to bring back the live-work life into Rusunawa. This article proposes design recommendations for live-work housing concepts for Rusunawa by increasing the percentage of workplace units from 10% to 25% and by categorizing the Rusunawa units into four types according to the characteristics of the home industry: the regular type (36 m2), the live-with type (40 m2), the live-near type (40-54 m2), and the live-nearby type (60-70 m2). This article may provide inspiration for policymakers and architectural designers for future planning and design of Rusunawa that empower residents economically.Abstrak. Tinggal dan bekerja di unit yang sama adalah bagian dari kehidupan sehari-hari orang-orang berpenghasilan rendah yang tinggal di daerah kumuh untuk mengatasi situasi ekonomi mereka. Namun, ketika mereka diusir dari permukiman kumuh dan dipindahkan ke Rusunawa, lapangan kerja mereka hilang. Secara empiris, tinggal di Rusunawa menyebabkan kesulitan keuangan warga. Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan konsep perumahan live-work untuk Rusunawa. Berdasarkan pengamatan di Rusunawa Pesakih di Jakarta Barat, artikel ini menemukan bahwa hanya 48% dari total 64 ruang komersial yang disediakan oleh Rusunawa ditempati untuk bisnis industri rumahan. Wawancara mendalam dengan 40 penduduk menunjukkan bahwa 70% dari mereka memiliki keterampilan keragaman potensial yang terkait dengan industri rumah tangga. Namun, keterampilan mereka tidak tersalurkan dan tidak diakomodasi. Artikel ini juga menemukan bahwa 35% dari mereka melakukan kegiatan yang terkait dengan pekerjaan di rumah di koridor Rusunawa. Temuan ini mengungkapkan bahwa ada potensi kehidupan live-work di Rusunawa dan kesempatan untuk membawa kembali kehidupan live-workke Rusunawa. Artikel ini mengusulkan rekomendasi desain konsep perumahan live-workuntuk Rusunawa dengan meningkatkan persentase unit tempat kerja dari 10% menjadi 25% dan dengan mengelompokkan unit Rusunawa menjadi empat jenis sesuai dengan karakteristik industri rumah. Mereka adalah tipe reguler (36 m2), tipe live-with (40 m2), tipe live-near (40-54 m2) dan tipe live-nearby (60-70 m2). Artikel ini dapat memberikan inspirasi bagi pembuat kebijakan dan perancang perumahan untuk perencanaan dan desain Rusunawa di masa depan yang dapat memberdayakan penghuninya secara ekonomis.Kata kunci. Desain perumahan publik, Rusunawa, perumahan berpenghasilan rendah, konsep live-work.
Development of Airport-Related Zones (The Construction of The Airport City) as An Element of The Interdependent Development of Airports, Agglomerations and Regions – Gdańsk Airport Case Study Małgorzata Wach-Kloskowska
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 2 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.2.6

Abstract

This paper presents the most important issues and premises for the targeted development of airport-related areas, with particular emphasis on the planned implementation of a so-called airport city in the immediate vicinity of an airport. The investigation sought to answer questions about how airports perform city- and region-forming functions, to systematize the existing concepts of the implementation of airport cities based on the relevant literature, and to present the principles of proper design of airport-related zones. Key premises for the development of airport cities and benefits for their users are also discussed. Detailed considerations about Gdańsk Airport provide an example of the application of a qualitative method in an individual case, confirmed by observation and in-depth interviews. The adopted structure of the study and the research methodology were based mainly on literature studies and a critical review of the literature as well as on face-to-face interviews, on-site observation and analysis of feedback between the airport and the spatial development of the airport zone. The conclusion indicates development directions for airport zones depending on the location, characteristics and potential development of the airport itself and the region it is located in.The case study of Gdańsk Airport and the development of its airport-related zone show a clear trend in the application of the airport city model implemented at other airports in the world, taking into account good practices and the principles of the proper design of existing airport cities/aerotropolises.Abstrak. Makalah ini menyajikan isu-isu dan lokasi yang paling penting untuk pengembangan yang ditargetkan di sekitar bandara dengan penekanan khusus pada implementasi dari apa yang direncanakan sebagai kota bandara. Studi ini menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana bandara berfungsi sebagai pembentuk perkembangan kota dan wilayah, sistematisasi konsep implementasi kota bandara berdasarkan literatur yang relevan, dan menyajikan prinsip-prinsip desain yang tepat pada zona-zona yang terkait bandara. Makalah ini juga membahas tempat-tempat utama untuk pengembangan kota bandara dan manfaat bagi penggunanya. Pertimbangan terperinci tentang Bandara Gdańsk sebagai kasus adalah contoh penerapan metode kualitatif, yang dikonfirmasi melalui observasi dan wawancara mendalam. Struktur penelitian yang diadopsi dan metodologi penelitian didasarkan terutama pada studi literatur dan tinjauan kritisnya, wawancara tatap muka, observasi lokasi dan analisis umpan balik antara bandara dan pengembangan spasial zona bandara. Kesimpulan menunjukkan arah pengembangan untuk zona bandara tergantung pada lokasi, karakteristik dan potensi pengembangan bandara itu sendiri dan di wilayah mana bandara tersebut berada. Studi kasus Bandara Gdańsk dan pengembangan zona terkait bandara menunjukkan tren yang jelas dalam penerapan model kota bandara yang diterapkan di bandara-bandara lain di dunia, dengan mempertimbangkan praktik-praktik yang baik dan prinsip-prinsip desain yang tepat saat ini dari kota bandara/aerotropolis..Kata kunci: kota bandara, pengembangan spasial, infrastruktur transportasi, area terkait bandara, pengembangan regional.
A Conceptual Framework for Understanding Sense of Place Dimensions in the Heritage Context Christin Dameria; Roos Akbar; Petrus Natalivan Indradjati; Dewi Sawitri Tjokropandojo
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 2 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.2.3

Abstract

A thorough knowledge of the sense of place concept is required to understand the relationship between a heritage place and the people doing activities in that place. A good understanding of the human dimension presence is one of the keys to achieving sustainable heritage conservation. Although the concept of sense of place has become part of spatial studies to explain place-people bonding, there is no universal agreement among scholars how to interpret this concept. As a basis for understanding sense of place in a heritage context, this paper proposes a concept of sense of place that was developed from an approach that sees heritage place-people bonding as an attitude. This approach reliably results in a sense of place construction that is comprehensive, unambiguous, and has the potential for further development in later research on conservation behavior. As an attitude concept, sense of place has three dimensions, namely place identity (cognitive component), place attachment (affective component), and place dependence (conative component). Each dimension could be explained by different but interrelated principles. These principles were chosen because they were considered capable of identifying the bonds between people and heritage places that have both tangible and intangible aspects and are influenced by the dimension of time. The relationships between heritage place, sense of place dimensions, and the principles that explain each dimension are arranged in a conceptual framework. This framework can be used as a guideline for heritage researchers to understand the sense of place concept, which seems too abstract and subjective, so that it can be operationalized in research and be applied for the benefit of heritage conservation.Abstrak. Pengetahuan mendalam mengenai konsep sense of place dibutuhkan untuk memahami interaksi yang terjadi antara kawasan pusaka dan individu yang berkegiatan di dalamnya. Pemahaman mengenai kehadiran dimensi manusia adalah salah satu kunci untuk mencapai keberlanjutan pelestarian. Meskipun konsep sense of place telah menjadi bagian dari kajian spasial untuk menjelaskan ikatan tempat-manusia, tetapi belum ada kesepakatan universal tentang bagaimana menyelidiki konsep ini. Sebagai landasan pemahaman dalam konteks pusaka, tulisan ini mengusulkan sebuah konsep sense of place yang disusun berdasarkan pendekatan yang memandang ikatan tempat pusaka-manusia sebagai sebuah konsep sikap. Pendekatan ini andal menghasilkan konstruksi sense of place yang komprehensif, tidak ambigu, dan berpotensi untuk kelak dikembangkan dalam penelitian mengenai perilaku melestarikan. Sebagai sebuah konsep sikap, sense of place memiliki 3 (tiga) dimensi yang terdiri dari place identity (komponen kognitif), place attachment (komponen afektif), dan place dependence (komponen konatif). Masing-masing dimensi dijelaskan dengan prinsip-prinsip yang berbeda, tetapi saling terkait. Prinsip-prinsip tersebut terpilih karena dianggap mampu mengindentifikasi ikatan yang terjadi antara individu dengan lingkungan pusaka yang berwujud dan tak berwujud, serta dipengaruhi oleh dimensi waktu. Hubungan yang terbentuk antara kawasan pusaka, ketiga dimensi sense of place, dan prinsip-prinsip yang menjelaskan setiap dimensi, disusun dalam sebuah kerangka konseptual. Kerangka konseptual ini dapat menjadi panduan bagi para peneliti pusaka untuk memahami konsep sense of place yang terkesan abstrak dan subjektif sehingga kelak dapat dioperasionalkan dalam penelitian dan diaplikasikan untuk kepentingan pelestarian kawasan pusaka.Kata kunci. Place attachment, place dependence, place identity, pusaka, sense of place.
Towards City Resilience: The Influence of Socio-cultural and Economic Features of Housing on Population Growth in Public Residential Estates Enobong Equere; Eziyi Ibem; Oluwole Alagbe
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 2 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.2.4

Abstract

Although there is increasing knowledge about the role housing plays in promoting resilience in cities, studies on the socio-cultural and economic features of housing that enhance the capacity of public housing schemes to absorb the impacts of rapid population growth in cities of developing countries are limited. This article, therefore, explored the features of selected public residential estates in Abuja, Nigeria with the aim of revealing the socio-cultural and economic features of housing responsible for attracting and sustaining increasing numbers of residents in public housing environments. A questionnaire survey was conducted among 345 residents in seven selected public housing schemes in the study area. In total, 13 variables were investigated and the data were analyzed using categorical regression analysis at 95% confidence level (i.e. p ≤ 0.05). With R2 = 0.716, the regression model revealed that the availability of economic activities, mixture of ethnic groups and quality of services made the most significant contributions to explaining the increasing number of residents in the public housing estates sampled. The findings are vital to inform housing designers and developers about the need to give adequate consideration to these features of housing in order to improve the capacity of such schemes to absorb the impacts of rapid population growth and thus contribute to enhancing city resilience in the face of growing negative impacts of rapid urbanization in developing countries. Abstrak. Meskipun ada peningkatan pengetahuan tentang peran perumahan dalam mempromosikan ketangguhan kota-kota, studi tentang dimensi sosial-budaya dan ekonomi perumahan yang meningkatkan kapasitas skema perumahan rakyat untuk menyerap dampak dari pertumbuhan penduduk yang cepat di kota-kota di negara-negara berkembang masih terbatas. Oleh sebab itu, artikel ini mengeksplorasi fitur perumahan rakyat terpilih di Abuja, Nigeria dengan tujuan untuk mengungkapkan fitur sosial-budaya dan ekonomi perumahan yang bertugas untuk menarik dan mempertahankan peningkatan jumlah penduduk di lingkungan perumahan rakyat. Studi ini didasarkan pada survei kuesioner terhadap 345 penduduk di tujuh skema perumahan rakyat terpilih di wilayah studi. Secara keseluruhan, 13 variabel diselidiki dan data dianalisis menggunakan analisis Regresi Kategorikal pada tingkat kepercayaan 95% (P ≤ 0,05). Dengan R2 = 0,716, model regresi mengungkapkan bahwa ketersediaan kegiatan ekonomi, campuran kelompok etnis dan kualitas layanan memberikan kontribusi paling signifikan dalam menjelaskan peningkatan jumlah penduduk di perumahan-perumahan yang dijadikan sampel. Temuan ini sangat penting dalam memberi informasi kepada perancang dan pengembang perumahan tentang perlunya memberikan pertimbangan yang memadai terhadap fitur-fitur perumahan ini untuk meningkatkan kapasitas skema tersebut dalam menyerap dampak pertumbuhan penduduk yang pesat, dan, dengan demikian, berkontribusi untuk meningkatkan ketangguhan kota dalam menghadapi dampak negatif yang berkembang dari urbanisasi yang cepat di negara-negara berkembang.Kata kunci. Perumahan, pertumbuhan penduduk, perumahan rakyat, urbanisasi, kota tangguh.
Can Urban Local Ponds Help Tackle Domestic Water Scarcity and Build Resilience? with Reference to South Asian Cities and City Regions Ripin Kalra
Journal of Regional and City Planning Vol. 31 No. 2 (2020)
Publisher : The Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jpwk.2020.31.2.5

Abstract

For decades to come, cost-effective and environmentally appropriate water systems will be a priority for managing water scarcity and building resilience in the rapidly expanding cities and city regions of South Asia. This study initiates a research into urban local ponds and the potential of linking them with water systems and build resilience. A framework of questions guided the research with reference to ponds and prevalent water systems in South Asian cities and city regions. The wider issues of water stress in South Asian cities and the general limitations of prevalent water supply systems were studied through the lens of a literature review. The paper then draws upon observations in three South Asian cities. The research showed that despite policy support for local rainwater capture, groundwater is over-exploited and urban local ponds (and tanks) have not been integrated with urban water provision schemes, particularly in recent decades. It was concluded that local urban ponds can facilitate resilient water-supply provision by making them an integral part of the urban waterscape. This paper highlights a multitude of benefits that ponds can potentially bring to urban resilience, in particular affordable and accessible water provision with low environmental footprint, managing climate shocks or stresses, biodiversity restoration in urban areas as well as potentially generating new skills and livelihoods for communities. The overall suggestion is that local urban ponds should be networked into the water provision for cities and their wider region, thereby linking to wider arrangements for urban and regional governance and resilience.Abstrak. Dalam beberapa dekade mendatang, sistem air yang hemat biaya dan ramah lingkungan akan menjadi prioritas untuk mengelola kelangkaan air dan membangun ketangguhan di kota-kota yang berkembang pesat dan kawasan perkotaan di Asia Selatan. Makalah ini memulai penelitian mengenai kolam lokal perkotaan, dan potensi untuk menghubungkannya dengan sistem air dan membangun ketangguhan. Kerangka pertanyaan memandu penelitian ini dengan mengacu pada kolam dan sistem air yang umum di kota-kota Asia Selatan dan kawasan kota. Isu yang lebih luas mengenai persoalan air di kota-kota Asia Selatan dan keterbatasan sistem penyediaan air yang umum dipelajari melalui tinjauan literatur. Makalah ini kemudian mengacu pada pengamatan di tiga kota di Asia Selatan. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada dukungan kebijakan untuk penangkapan air hujan lokal, air tanah dieksploitasi secara berlebihan dan kolam lokal perkotaan (dan tangki) tidak terintegrasi dengan skema penyediaan air perkotaan, terutama dalam beberapa dekade terakhir. Disimpulkan bahwa kolam lokal perkotaan dapat memfasilitasi penyediaan pasokan air yang tangguh dengan menjadikannya sebagai bagian integral dari lanskap perairan perkotaan. Makalah ini menunjukkan bahwa banyak potensi manfaat kolam untuk ketangguhan perkotaan, khususnya dalam penyediaan air yang terjangkau dan dapat diakses dengan jejak lingkungan yang rendah, mengelola gegar atau tekanan iklim, pemulihan keanekaragaman hayati di daerah perkotaan serta berpotensi menghasilkan keterampilan dan mata pencaharian baru bagi masyarakat. Saran keseluruhan adalah bahwa kolam lokal perkotaan harus disambungkan ke dalam sistem penyediaan air untuk kota dan wilayah yang lebih luas, sehingga menghubungkannya dengan pengaturan yang lebih luas untuk tata kelola dan ketangguhan perkotaan dan regional.Kata kunci. Kolam, ketangguhan perkotaan, air permukaan, jaringan air, tata kelola air, transfer air regional.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol 30, No 3 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol 28, No 3 (2017) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol 25, No 3 (2014) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol 17, No 3 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol 12, No 4 (2001) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol 7, No 22 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4 (1992) Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan More Issue