cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Global Strategis
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19079729     EISSN : 24429600     DOI : -
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis" : 7 Documents clear
Budaya dan Pembangunan Ekonomi di Jepang, Korea Selatan dan China Citra Hennida; Reza Akbar Felayati; Sri Harini Wijayanti; Alfionita Rizky Perdana
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.129 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.248-263

Abstract

Berbeda dengan pembangunan di Barat yang lebih menekankan fitur-fitur penghargaan terhadap individu sebagai pendorong inovasi, keberhasilan pembangunan di Jepang, Korea Selatan dan China lebih merupakan dorongan kombinasi antara fitur penghargaan individu dengan budaya lokal Konfusian. Sistem nilai yang ada dalam lembaga-lembaga di tiga negara Asia tersebut menyediakan nilai-nilai Konfusian. Artikel ini berargumen bahwa proses kombinasi kebudayaan ini terjadi melalui dorongan sejarah peristiwa humiliationdimana budaya lokal dan budaya pendatang mengalami proses seleksi sebelum diserap. Dengan melakukan identifikasi proses humiliation pada sejarah Jepang, Korea Selatan, dan China ditemukan fitur-fitur budaya baruseperti fukoku kyohei, wakon yosai, datsua nyuo, bunmei yang hadir di Jepang; han, family law dan hallyu di Korea Selatan, dan pragmatisme, sosialisme ala China dan neo-konfusianisme di China.
Memahami Problematika Dua Kejahatan Transnasional: Perdagangan dan Penyelundupan Orang di China Yusnarida Eka Nizmi
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.288 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.168-185

Abstract

Tulisan ini memaparkan dua persoalan kejahatan kemanusiaan yang saling berkaitan yakni perdagangan dan penyelundupan orang yang terjadi di China. Ada tiga hal utama yang akan dijabarkan dalam tulisan ini, Pertama, menganalisa penyebab, dan dampak dari perdagangan dan penyelundupan orang yang dilakukan oleh jaringan Snakeheads. Kedua, artikel ini mengkaji perdagangan orang terhadap Provinsi-provinsi di China khususnya Fujian dan Yunan. Ketiga, artikel ini membahas upaya serius yang dilakukan oleh pemerintah China untuk mengatasi perdagangan dan penyelundupan orang. Penting untuk membahas topik ini karena perdagangan orang melibatkan eksploitasi yang mengerikan terhadap perempuan dan anak-anak sebagai kelompok yang sangat rentan di China. Penyelundupan dan perdagangan manusia di China mengancam keberlangsungan kehidupan perempuan dan anak sebagai kelompok yang diburu di China. Kejahatan penyelundupan dan perdagangan manusia antar negara mencerminkan bahwa banyak pemerintah yang tidak memiliki kebijakan yang efektif dan ketat terkait dengan perpindahan orang melewati batas negara termasuk pemerintah China dalam kasus ini.
Sekuritisasi dan Kerjasama ASEAN dalam Meningkatkan Keamanan di Perairan Kawasan Sukawarsni Djelantik
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.859 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.186-203

Abstract

Sejak awal tahun 2016, kelompok teroris Abu Sayyaf yang bermarkas di Filipina Selatan meningkatkan aktivitas dengan membajak kapal-kapal berbendera Indonesia dan menyandera awaknya. Asia Tenggara dinyatakan sebagai perairan yang rawan kejahatan, sehingga kerja sama dan sekuritasi isu dalam bidang militer, politik, dan penegakan hukum perlu ditingkatkan. Tulisan ini menjawab pertanyaan: ”bagaimana efektifitas upaya-upaya sekuritisasi di kawasan untuk meningkatkan keamanan di perairan Asia Tenggara? Analisis dilakukan melalui empat pendekatan yaitu pelaku sekuritisasi (securitizing actors), bentuk-bentuk ancaman nyata (existence threat), warga negara sebagai reference object dan target yang disekuritisasi (audience). Pembahasan berdasarkan berbagai upaya yang dilakukan dan kebijakan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, dengan fokus terhadap Indonesia.
Problem Dasar Kesenjangan Digital di Asia Tenggara Ahmad Safril Mubah; Amalia Wardahni; Della Febri Ponsela; M. Ahalla Tsauro
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.912 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.204-220

Abstract

Sebagai sebuah kawasan yang terintegrasi, Asia Tenggara sesungguhnya tidak terkoneksi baik secara digital. Hal itu tampak dari lebarnya kesenjangan akses digital antara Singapura sebagai negara dengan perekonomian paling maju dengan negara-negara lainnya di kawasan ini. Akibatnya, komunikasi digital tidak dapat dijalankan secara lancar hingga berdampak pada interkonektivitas kawasan. Inilah problem yang diulas dalam artikel ini dan berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan, ditemukan bahwa kesenjangan digital di Asia Tenggara disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak tepat sasaran dan rendahnya pendapatan per kapita sebagian besar masyarakat. Kebijakan pemerintah berkorelasi dengan kegagalan para pengambil kebijakan membangun jaringan infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan merata di semua wilayah. Sementara, rendahnya pendapatan membuat masyarakat tidak mampu membeli perangkat teknologi seperti komputer dan telepon genggam sekaligus tidak memiliki modal cukup untuk berlangganan akses internet.
International Business Strategy in Selling Korean Pop Music: A Case Study of SM Entertainment Annisa Pratamasari
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.602 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.221-234

Abstract

In this paper, I argue that some entertainment companies of South Korea offer a distinctive business strategy in this globalized world; thus, they can widen their market share, increase profits, and sharpen their competitive edge. SM Entertainment,which is one of the Hallyu Wave pioneers in music industry, has showed its distinct way to succeed in the currently saturated market of idol groups in South Korea. Choosing Hallyu Wave from international business perspective as the main topic of this writing was due to its increasing importance in music industry and its growing influence in South Korean government policies. Therefore, I shall descriptively address the strategies formulated by SM Entertainment to compete in the domestic and international music industry from its way to groom their idol groups to its way to ‘sell’ them.This paper offers some business strategies of SM Entertainment of which some other companies could learn from; namely the distinct traineeship system, successful B2C strategy, and profitable B2B cooperation.
Reassessing Nation-Branding: Danish Public Diplomacy towards Muslim-Majority Countries after the 2005 Cartoon Crisis Radityo Dharmaputra
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.043 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.235-247

Abstract

This article reassesses Danish efforts of nation-branding towards Muslim-majority countries after the 2005 Prophet Cartoon Crisis. It disputes Rasmussen &Merkelsen’s (2012) findings regarding the shifting Danish policy to a more brand-conscious policy. This article differentiates reactive crisis diplomacy and a brand-informed policy and finds that Danish policy towards Muslim-majority countries was closer to the principle of reactive crisis diplomacy, rather than a conscious nation-branding. Result from this research could be used as the basis for future research on the idea that nation branding could complement the use of classic diplomacy. As the Danish case has shown, the lack of coordination between governmental and non-governmental actors and the lack of conscious effort on nation branding could negate the possibility of creating a good brand image.
Establishing Civilian Control over the Armed Forces Broto Wardoyo
Global Strategis Vol. 10 No. 2 (2016): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.926 KB) | DOI: 10.20473/jgs.10.2.2016.153-167

Abstract

Using simple regression, this paper examines the explanans to the degree of civilian control over the armed forces. This paper takes into consideration four of the most considered independent variables to explain the degree of civilian control over the armed forces, i.e. internal threat, economic condition, civil liberties, and military access to resources. It suggests that the degree of internal threat is negatively correlated with the degree of civilian control over the armed forces while economic condition, civil liberties, and defense spending, or access to resources, enhance the degree of civilian control over the armed forces. In addition, it also suggests that civil liberties have the highest influence to the degree of civilian control over the armed forces, controlling the other independent variables. Since civil liberties are closely related to degree of democracy, it basically confirms previous research that suggest the degree of civilian control is closely and positively correlated with the maturity of democracy.

Page 1 of 1 | Total Record : 7