cover
Contact Name
Dr. Lucky Zamzami, M.Soc.Sc
Contact Email
editor_jantro@soc.unand.ac.id
Phone
+6281374535378
Journal Mail Official
editor_jantro@soc.unand.ac.id
Editorial Address
2nd floor, FISIP, Universitas Andalas, Kampus Limau Manis, 25162, Padang, Sumatra Barat, Indonesia
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial budaya
Published by Universitas Andalas
ISSN : 14108356     EISSN : 23555963     DOI : 10.25077
The criteria of the submitted article covers the following types of article: first, the article presents the results of an ethnographic/qualitative research in certain topic and is related with ethnic/social groups in Indonesia; second, the article is an elaborated discussion of applied and collaborative research with strong engagement between the author and the collaborator’s subject in implementing intervention program or any other development initiative that put emphasizes on social, political, and cultural issues; last, a theoretical writing that elaborates social and cultural theory linked with the theoretical discourse of anthropology, especially in Indonesia.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2016): (June)" : 7 Documents clear
KONSTRUKSI SOSIAL BUDAYA MINANGKABAU ATAS PASAR Damsar .; Indrayani .
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.663 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p29-38.2016

Abstract

One of the ethnicities most commonly found as a trader, merchant, or other seller at markets all over Indonesia, starting from Sabang to Merauke, was the Minangkabau people. Minangkabau people engaged in various activities of commerce or trade all goods needs. In addition Minangkabau people known for their culinary efforts, in particularly Padang buffet. An interesting question about it is how the Minangkabau people can present almost in all markets that exist in the archipelago? How social and cultural structures of the Minangkabau society form the market? As well as how the economic behavior of the Minangkabau people in relation to the market? To answer the above questions done field research with qualitative approach. Research data obtained from various sources such as in-depth interviews on various market actors and indigenous experts Minangkabau, observation of reality and literature on socio-cultural structures of the Minangkabau.The results showed that there is a qualitative relationship between socio-cultural structures of  the Minangkabau,  migration out  ( merantau ) and markets. The market, culturally, is not separate from space Minangkabau people, because he was part of the prerequisites of the existence of a nagari. Migration out of the nagari or merantau is a cultural encouragement to become a useful person. One of the main roads traveled to become a useful person is to become entrepreneur, where the market is a place suitable for those options.
ORANG REJANG DAN HUKUM ADATNYA : TAFSIRAN ATAS KELPEAK UKUM ADAT NGEN CA’O KUTEI JANG KABUPATEN REJANG LEBONG Silvia Devi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.687 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p39-50.2016

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang Orang Rejang dalam hukum adatnya berdasarkan Kelpeak Ukum Adat Ngen Ca’o Kutei Jang. Sebagai sebuah suku bangsa yang mayoritas mendiami daerah Kabupaten Rejang Lebong tidak dipungkiri jika hukum positif sangat diberlakukan mengingat beragamnya penduduk pendatang di Kabupaten Rejang Lebong saaat ini. Namun begitu, ternyata uniknya Orang Rejang sampai saat ini justru semakin memegang erat hukum adatnya dalam kehidupan bermasyarakat meskipun hukum positif tetap diberlakukan. Adapun pedoman mereka atas hukum adat tersebut terdapat pada Kelpeak Ukum Adat Ngen Ca’o Kutei Jang Kabupaten Rejang Lebong. Lembaga adat yang sangat berperan dalam melaksanakan pedoman hukum adat ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat adalah jenang kutai atau hakim desa. Metode penelitian adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur dan wawancara dengan informan serta observasi di lapangan. Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa peran jenang kutei atau hakim desa di Kabupaten Rejang Lebong sangat memiliki peran yang aktif dalam menyelesaikan setiap persoalan di tengah masyarakat. Persoalan tidak hanya yang dialami oleh suku-suku tertentu di tengah masyarakat, tetapi mereka semua yang berbaur berinteraksi bersama Orang Rejang sebagai sebuah bentuk ikatan keluarga. Adapun implikasi dari penerapan hukum adat dengan peran jenang kutei terlihatnya kerukunan di tengah masyarakat, karena setiap ada persoalan akan diselesaikan dengan cara damai sehingga tidak menimbulkan dendam diantara masyarakat.  
Perdagangan dan Penyeludupan Pekerja Migran Indonesia di Malaysia Miswanto .; Desmayeti Arfa
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.336 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p1-11.2016

Abstract

46-227-1-SM-.Doc
BILOU DAN TANTANGAN MENGKONSERVASINYA DI MENTAWAI: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Sosial Budaya Edi Indrizal
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.057 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p51-56.2016

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah essai ilmiah berisi pokok-pokok pemikiran tentang perlunya mengakomodasi perspektif sosial budaya dalam upaya pelestarian bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai. Penulis bermaksud menunjukkan perlunya pendekatan terpadu, meliputi  persepektif sosial budaya dalam rangka pembangunan konservasi bilou. Di satu sisi secara internal persepsi dan pemanfaatan bilou dalam kehidupan tradisional orang Mentawai erat kaitannya dengan sistem kepercayaan, adat istiadat dan kebiasaan hidup suku asli Mentawai sendiri. Di sisi lain orang Mentawai juga dihadapkan dengan berbagai bentuk kemasan modernitas yang dipromosikan dan bahkan mungkin didesakkan “pihak luar”. Di tengah-tengah ancaman kepunahan bilou di Kepulauan Mentawai dewasa ini, maka amatlah penting memetik pembelajaran dari kearifan lokal setempat dan menyeleksinya untuk dijadikan bagian dari penedekatan dan intrumen terpadu pelestarian bilou. Sebagaimana juga penting meninjau ulang berbagai bentuk promosi modernitas dan intervensi pembangunan yang selama ini kontra-produktif terhadap tujuan konservasi bilou, meliputi perlunya regulasi baru dan penegakan hukum yang lebih konsekuen.
Redefinisi Kaum Paderi Melalui Metodologi Genealogis Foucauldian Sebagai Rekonsiliasi Etnis Minangkabau-Batak Alfi Arifian
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.013 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p13-19.2016

Abstract

Redefinisi Kaum Paderi merupakan konsep pendefinisian Kaum Paderi berdasarkan metodologi genealogis yang menulis sejarah berdasarkan kerangka kekinian. Definisi ini berbeda dari definisi Kaum Paderi dalam pandangan sejarah umum. Redefinisi ini dimaksudkan untuk memetakan gerakan Paderi berdasarkan konsep kekuasaan berbasis keamiran melalui gelar Tuanku Imam Bonjol merujuk kerangka kekuasaan nagari (balad-dalam pemahaman imamah). Tujuan pemetaan gerakan Paderi adalah membuktikan (secara teori) bahwa ada dikotomi di tubuh Paderi sebagai gerakan pemurni Islam serta yang bersifat radikal. Dikotomi inilah yang digunakan sebagai dalih untuk membangun wacana rekonsiliasi antara etnis Minangkabau-Batak lantaran konflik masa lalu "Perang Paderi" jilid I.
Dinamika Pranata Sosial Terhadap Kearifan Lokal Masyarakat Nelayan Dalam Melestarikan Budaya Wisata Bahari Lucky Zamzami
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.733 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p57-67.2016

Abstract

Tulisan ini bertujuan memahami kompleksitas dinamika pranata sosial nelayan Tiku dengan lingkungan sekitar pesisir dalam wujud pengelolaan budaya wisata bahari berdasarkan fenomena kearifan lokal. Masalahnya adalah mengonstruksi kompleksitas pranata sosial komunitas Nelayan Tiku dengan lingkungan lautnya dalam konteks kearifan lokal, sistem kepercayaan, kelembagaan sosial dan ekonomi. Material penulisan diambil dari data penelitian lapangan−diperoleh dengan wawancara, observasi dan pengamatan−sesuai dengan fokus studi dan pilihan pendekatan. Lokasi penelitian dilakukan di salah satu nagari wilayah pesisir pantai Barat Sumatera, yaitu Nagari Tiku  Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam.  Tulisan ini sebagai hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa wujud pengelolaan budaya wisata bahari dalam komunitas nelayan Tiku berbasis pada kearifan lokal yang dicirikan dengan tatanan kehidupan kolektif (sosial-ekonomi) yang kuat dan rapi; pola-pola pemanfaatan sumber daya laut yang mencerminkan hubungan antar subjektif manusia lingkungan; kondisi kesejahteraan sosial-ekonomi penduduk yang merata; dan terjaganya kondisi kelestarian lingkungan dan keseimbangan sumber daya laut.
OPTIMALISASI PERAN PEREMPUAN BERBASIS MODAL SOSIAL PADA SEKTOR PEMERINTAHAN DESA (Study pada Pengelolaan Dana Desa) Titi Darmi
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2016): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.275 KB) | DOI: 10.25077/jantro.v18.n1.p21-27.2016

Abstract

AbstraksThe third Nawa Cita of Presiden Jokowi is build Indonesia on the outskirts, it is meaningful that national development focused on villages oriented throughout Indonesia, so that Indonesian villages become self-sufficient village and competitiveness. Nawa cita is an orientatation of the national development planning 2012 -2019. The government has budgeted rural development on average earn 800 - 1M rupiahs for every village in accordance with the Act mandates. Based on the findings of the Coruption Eradication Commission of RI occur irregularities in the management of the Village Fund (Dana Desa/DD), including the use of DD does not correspond to the needs of the community. DD management principle is transparent and acomodate public participation, however it has not been made by manager DD. Women's participation and transparency for the public should be rise the public trust in the village officials in managing the funds of the village, however it never been taken. Role of women in planning the work program of the village called APBDes, can filter aspirations in accordance with the needs of society based on values, norms and culture. By optimizing the women role can capture the aspirations of society and openness in the management of the fund that all can be used as social capital village to village governance in the management of DD. Social capital will make the villagers and village officials have a strong bond, mutual trust, to avoid a conflict so as a valuable capital to build and boost the economy in the village.AbstraksThe third Nawa Cita of Presiden Jokowi is build Indonesia on the outskirts, it is meaningful that national development focused on villages oriented throughout Indonesia, so that Indonesian villages become self-sufficient village and competitiveness. Nawa cita is an orientatation of the national development planning 2012 -2019. The government has budgeted rural development on average earn 800 - 1M rupiahs for every village in accordance with the Act mandates. Based on the findings of the Coruption Eradication Commission of RI occur irregularities in the management of the Village Fund (Dana Desa/DD), including the use of DD does not correspond to the needs of the community. DD management principle is transparent and acomodate public participation, however it has not been made by manager DD. Women's participation and transparency for the public should be rise the public trust in the village officials in managing the funds of the village, however it never been taken. Role of women in planning the work program of the village called APBDes, can filter aspirations in accordance with the needs of society based on values, norms and culture. By optimizing the women role can capture the aspirations of society and openness in the management of the fund that all can be used as social capital village to village governance in the management of DD. Social capital will make the villagers and village officials have a strong bond, mutual trust, to avoid a conflict so as a valuable capital to build and boost the economy in the village.Keyword : woman's role, social capital, village fund (Dana Desa/DD) management.

Page 1 of 1 | Total Record : 7