cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Furnace
ISSN : 25551801     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 77 Documents
Pengaruh Konsentrasi Larutan KOH, Waktu Tahan dan Temperatur Aktivasi Kimia Pada Pembuatan Karbon Aktif Dari Bulu Ayam Untuk Pengembangan Hidrogen Storage Ichsan Priambodo
Jurnal Furnace Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.087 KB)

Abstract

Bulu ayam  merupakan limbah  hasil pemotongan bulu ayam. Limbah bulu ayam dapat dimanfaatkan menjadi produk karbon aktif. Pembuatan karbon aktif dilakukan dengan proses karbonisasi (proses pengarangan), proses grinding, proses aktivasi kimia dan proses aktivasi fisika. Tujuan penilitian ini yaitu menganalisa pengaruh konsentrasi KOH, waktu tahan dan temperatur aktivasi kimia terhadap luas permukaan pori. Berdasarkan hasil pengujian analisa proximate didapatkan nilai fix carbon sebesar 49,18% dan 65,8% unsur karbon hasil analisa ultimate. Proses pembuatan karbon aktif dimulai dengan proses karbonisasi dengan  temperatur 400oC dan waktu tahan selama 2 jam hingga menjadi karbon. Karbon melalui tahap proses grinding dan sieving dengan ukuran 100# dan 10 gram hasil sieving digunakan untuk analisa proximate dan ultimate. Proses selanjutnya yaitu aktivasi kimia, temperatur aktivasi kimia yang digunakan yaitu temperatur 30oC dan temperatur 80oC, waktu tahan aktivasi kimia yang digunakan yaitu 60 menit dan 120 menit, untuk konsentrasi KOH yang digunakan yaitu 1M, 2M dan 3M. Karbon aktif hasil aktivasi kimia lalu dibersihkan hingga bersih menggunakan 0,1M HCl dan aquades. Proses selanjutnya proses drying  dengan temperatur 100 oC selama 240 menit dan aktivasi fisika dengan temperatur 500oC selama 60 menit dengan activating agent gas Argon. Karbon aktif di uji BET (surface area) dan foto SEM untuk melihat pori karbon aktif. Hasil BET untuk luas permukaan pori paling besar terjadi pada temperatur aktivasi kimia 80oC, konsentrasi larutan KOH 3M dan waktu tahan aktivasi kimia selama 60 menit dengan luas permukaan pori sebesar 2,71 m2/g.
ANALISIS STRUKTUR MIKRO DAN SIFAT MEKANIK PADUAN AL 2014 HASIL PROSES AGING DENGAN VARIASI TEMPERATUR DAN WAKTU TAHAN Muhammad Didi Endah Pranata
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.501 KB)

Abstract

Paduan Aluminium banyak digunakan pada industri manufaktur dirgantara sebagai bahan struktur karena sifatnya yang ringan dan kuat. Banyak penelitian yang sudah dilakukan terkait dengan aluminium seri 2xxx,namun masih sedikit yang meneliti tentang Al 2014. Al 2014 merupakan salah satu bahan baku yang digunakan sebagai skin wing. Sebelum diaplikasikan, Al 2014 harus mengalami proses heat Treatment yaitu natural aging yang membutuhkan waktu selama 96 jam untuk mendapatkan sifat mekanik yang optimum. Penelitian dilakukanuntuk menganalisis perubahan struktur mikro, mendapatkan kombinasi waktu tahan dan temperatur  aging paduan Al 2014. Paduan Al 2014 hasil fabrikasi dilakukan proses Solution Heat Treatment pada temperatur500oC dengan waktu tahan 25 menit. Proses dilanjutkan dengan Quenching dengan media air kemudian dilakukan pemanasan aging pada berbagai temperatur dan waktu tahan.  Hasil penelitian menunjukan bahwa peningkatan temperatur aging dapat mempercepat laju pengintian dan pertumbuhan persipitat. Hal ini ditunjukan dengan singkatnya waktu yang dibutuhkan paduan untuk mencapai kekerasan optimum sebesar152.62 VHN pada temperatur 180oC dengan waktu tahan 8 jam. Hal ini sesuia dengan uji metalografi dan SEM-EDS yang menunjukan terbentuknya persipitat yang halus, rapat dan seragam. Adapun nilai kuat tarik paduan Al 2014 pada kondisi optimum yaitu sebesar 45.485 Kgf/mm2.
STUDI PENGARUH TEMPERATUR DAN GETARAN MEKANIK VERTIKAL TERHADAP PEMBENTUKAN SEGREGASI MAKRO PADA PADUAN EUTEKTIK Sn–Bi Zaneta Zhafirah
Jurnal Furnace Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.094 KB)

Abstract

Segregasi makro pada produk hasil pengecoran dapat mempengaruhi penurunan kualitas benda hasil coran seperti timbulnya kegagalan dan keretakan. Diperlukannya suatu metode untuk mengurangi segregasi makro yang terbentuk pada saat proses pengecoran adalah hal yang melatar belakangi penelitian ini. Pada penelitian ini, pemberian perlakuan getaran mekanik secara vertikal diberikan pada paduan eutektik Sn-Bi yang telah dilebur menggunakan tungku peleburan dengan temperatur 150 °C dan 183 °C dengan variasi frekuensi 4 Hz, 5 Hz dan 6 Hz. Analisis SEM-EDS dilakukan untuk mengetahui struktur mikro dan distribusi komposisi unsur di dalam paduan yang telah diberi perlakuan maupun yang tidak diberi perlakuan. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa getaran dapat mengurangi pembentukan segregasi makro dan mempercepat laju pendinginan. Frekuensi getaran yang paling baik digunakan dalam menekan timbulnya segregasi makro adalah frekuensi 4 Hz pada temperatur 150 °C. Hal ini dapat terlihat dari bentuk struktur mikro yang dihasilkan lebih halus dan lebih seragam, serta rasio segregasi makro berhasil dikurangi yang semula sebesar 0,1232 menjadi 0,0879 bila dibandingkan dengan paduan yang tidak diberi perlakuan. Selain itu, pada produk coran yang mengalami perlakuan getaran dengan frekuensi 4 Hz pada temperatur 150 °C, memiliki distribusi komposisi Sn yang mendekati komposisi nominal Sn pada paduan eutektik di hampir semua bagian. Perlakuan getaran yang diberikan juga dapat meningkatkan laju kecepatan pendinginan yang terlihat pada frekuensi getaran yang semakin tinggi, maka waktu kecepatan pendinginan yang dihasilkan semakin cepat. Namun, semakin cepatnya waktu pendinginan tidak menentukan berkurangnya segregasi makro yang terbentuk.
Rekayasa Sifat Termal Komposit Epoksi Berpengisi Nano Partikel Fe-Ni dengan Variabel Konsentrasi dan Temperatur Curing Ichwan Rizkiyandi
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.478 KB)

Abstract

Epoxy adalah jenis polimer thermosetting yang dapat digunakan sebagai bahan pelapis pada sirkuit terpadu. Penambahan partikel nano pada komposit diketahui dapat memperbaiki sifat termal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat termal Fe-Ni-epoksi sebagai nanokomposit dengan variasi komposisi pengisi dan pengawetan suhu. Karakterisasi termal nanokomposit menggunakan DSC dan TGA. Transisi kaca suhu (Tg) meningkat nanokomposit dengan penambahan nanopartikel Fe-Ni dalam epoksi. Pada hasil ini, optimum Tg adalah 46,83 º C dengan komposisi pengisi 1% dan suhu 90 o C. Td mengalami penurunan kehadiran nanopartikel. Td optimal diperoleh pada komposisi filler 0,01% dengan suhu curing 30ºC dengan nilai Tg 372,75ºC. Yang diamati menemukan bahwa efek pengeringan suhu relatif stabil terhadap sifat termal.
PEMBUATAN SINTER DARI BAHAN LIMBAH MILL SCALE HASIL HOT ROLLING SEBAGAI BAHAN BAKU TAMBAHAN PEMBUATAN BESI BAJA Harry Anggoro R
Jurnal Furnace Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.943 KB)

Abstract

Kegiatan industri besi baja merupakan salah satu kegiatan yang dapat menimbulkan limbah B3. Limbah B3 tidak dapat ditimbun, dibakar atau dibuang begitu saja, karena mengandung bahan yang dapat mencemari lingkungan dan membahayakan manusia serta makhluk hidup lain. Mill scale adalah limbah industri besi baja yang masih memiliki kandungan besi cukup tinggi, yaitu sekitar 72%. Umumnya, mill scale digunakan sebagai umpan reduksi langsung dalam blast furnace yang menggunakan batubara sebagai reduktor untuk menghasilkan pig iron [1]. Pada tahun 2010, produksi limbah mill scale di Indonesia sekitar 800 ribu ton per tahun [5]. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan limbah mill scale dengan kadar 79,42% Fe. Ukuran partikel mill scale yang digunakan adalah 125 mikron. Setelah itu, dilakukan mixing dengan binder (bentonit) sebanyak 0,5 ; 2,5 ; dan 5%. Selanjutnya, dilakukan kompaksi dengan pembebanan sebesar 15 ton, dilanjutkan dengan proses sintering pada temperatur 600, 700, dan 800ºC, selama 30, 60, dan 90 menit. Untuk mengetahui kekuatan dan morfologinya maka dilakukan pengujian kuat tekan, drop test, dan optical microscope. Optical microscope (mikroskop optik) digunakan untuk mengetahui porositasnya. Semakin tinggi temperatur sintering maka nilai kuat tekan sampel akan semakin menurun. Menurunnya nilai kuat tekan dikarenakan semakin tinggi temperatur semakin banyak pori yang terbentuk akibat hilangnya moisture atau kadar air pada sinter. Semakin lama waktu tahan proses sintering, maka nilai kuat tekan sinter pun juga meningkat. Peningkatan waktu tahan sinter menyebabkan semakin besarnya pertumbuhan leher (neck growth) antar partikel yang saling berhubungan. Dengan demikian ikatan antar partikel menjadi tinggi sehingga kekuatanya pun meningkat. Sampel yang memiliki nilai kuat tekan dan shatter index paling tinggi adalah pada temperatur sintering  600ºC, selama 90 menit, dengan penambahan bentonit sebanyak 0,5% yaitu dengan nilai kuat tekan sebesar 3385,46 Kgf dan memiliki nilai shatter index sebesar 95,04%. Semakin banyak binder yang digunakan mengakibatkan penurunan nilai kuat tekan sinter karena hilangnya moisture pada sinter yang berasal dari binder selama proses sintering berlangsung. Sampel yang memiliki jumlah pori paling tinggi adalah pada temperatur 800ºC, selama 30 menit dengan penambahan bentonit sebanyak 5% yaitu sebesar 68,35% dengan besar rata rata poros sebesar 306,737µm
KETAHANAN AUS PADUAN Co-Cr-Mo DENGAN VARIASI KARBON HASIL HOT WORKING UNTUK APLIKASI BIOMEDIS Dizzy Agni
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahan atau material yang sering digunakan untuk aplikasi biomaterial yang berguna untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak adalah logam contohnya adalah paduan logam berbasis Cobalt (Co). Paduan Co-Cr-Mo hasil pengecoran memiliki sejumlah presipitat yang tersebar di dalam matriks. Sifat ketahanan aus dan korosi paduan Co-Cr-Mo sangat dipengaruhi oleh jumlah, jenis fasa, ukuran dan distribusi presipitat yang tersebar di dalam matriks Co. Untuk mengetahui jumlah material yang terabrasif dalam siklus tubuh manusia maka dilakukan penelitian perbandingan ketahanan aus terhadap proses hot rolling yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses perlakuan panas terhadap struktur mikro dan ketahanan aus dalam paduan Co-Cr-Mo. Pada paduan Co-Cr-Mo hasil hot rolling terdeteksi adanya fasa dalam bentuk presipitat yang mempengaruhi karakteristik paduan. Sampel paduan Co-Cr-Mo dilakukan proses homogenisasi pada temperatur 12000C selama 6 jam lalu dilakukan annealing 12000C selama 2 jam, kemudian di-rolling dengan persen reduksi 10%, 30% dan 50%. Sampel selanjutnya diekstrak menggunakan larutan H2SO4 10% dan diuji menggunakan XRD untuk mengetahui presipitat yang terbentuk. Uji ketahanan aus dilakukan dengan metoda pin on disc. Paduan Co-Cr-Mo sebagai pin dan alumina sebagai disk dilakukan dalam 1% asam laktat. Hilangnya massa dan elusi ion diamati setelah pengujian ketahanan aus dengan menggunakan ICP. Hasil pengujian kekerasan dengan menggunakan indentor Vickers menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan karbon dan persen reduksi maka nilai kekerasan yang didapat pun meningkat. Pengamatan metalografi menunjukkan struktur mikro dan presipitat yang terbentuk dari proses hot rolling sampel Co-Cr-Mo, dimana fasa yang terbentuk dapat diamati.
Monitoring Fixed Carbon Menggunakan ECVT (Electrical Capacitance Volume Tomography) Aditya Pahlawan Munthe
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.49 KB)

Abstract

Menganalisa kandungan batu bara pada bidang industri saat ini memerlukan keterampilan teknis khusus dan membutuhkan waktu yang lama, sebagian besar kandungan batu bara dan kualitasnya dapat berubah karena lamanya proses analisa tersebut yang dapat merugikan hasil produksi. Diperlukan proses analisa yang cepat dan tidak memerlukan keterampilan khusus serta dapat mengetahui hasil analisanya secara real time. Dengan tujuan tersebut, ECVT digunakan untuk dapat menganalisa kandungan batu bara khususnya fixed carbon dan nilai kalori berdasarkan nilai kapasitansinya sehingga tidak terjadi perubahan kandungan batu bara karena lamanya proses analisa. Ekperimen dilakukan dengan memasukkan batu bara ke dalam sensor kapasitif.  Alat yang digunakan antara lain osciloscope dan signal generator, capacitometer dan sistem ECVT 12-Channel dengan sensor kapasitif yang digunakan berupa sensor kapasitif 2-channel dengan elektroda plat sejajar dan sensor kapasitif 12-channel dengan elektroda persegi. Dari eksperimen didapat data berupa nilai kapasitansi batu bara serta model matematis hubungan antara nilai kapasitansi dengan kadar fixed carbon dan nilai kalori batu bara. Analisa data yang dilakukan menggunakan metode cross correlation dengan nilai korelasi sebesar 0.99996. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem ECVT dapat dijadikan alat ukur untuk dalam membedakan jenis batu bara berdasarkan kadar fixed carbon dan nilai kalorinya.
PENGARUH LAJU ALIRAN GAS NITROGEN PADA TEMPERATUR 1200oC TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BAJA TAHAN KARAT AISI 430 SEBAGAI MATERIAL BIOMEDIS Ukfan Dwi Cahya Harefa
Jurnal Furnace Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.74 KB)

Abstract

Permintaan material implan terus meningkat sejalan dengan tingginya angka kecelakaan di Indonesia. Oleh karena itu penelitian dan pengembangan biomaterial yang kompatibel untuk aplikasi biomedis menjadi penting. Pada penelitian ini akan dicoba substrat baja tahan karat feritik AISI 430 yang diberi heat treatment dalam suasana aliran gas nitrogen agar terdifusi pada substrat dan membentuk fasa austenit. Variabel yang diamati adalah laju aliran gas nitrogen pada temperatur 1200oC, kemudian dilihat pengaruhnya terhadap struktur mikro dan kekerasannya. Struktur mikro diamati dengan menggunakan mikroskop optik, scanning electron microscope-energy dispersive spectroscope (SEM-EDS) dan x-ray diffraction (XRD), sedangkan kekerasannya diukur dengan menggunakan micro vickers hardness. Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa munculnya pola anil twin menandakan terbentuknya fasa austenitik, distribusi nitrogen cukup merata pada substrat sebesar 13,92-29,68 % berat dan terbentuk 8,65-9,69% fasa austenit. Tingkat kekerasan substrat baja tahan karat feritik AISI 430 semula sekitar 161,79 HV meningkat menjadi 547,15 HV setelah dilakukan proses heat treatment pada temperatur 1200oC, dengan laju aliran gas nitrogen 0,94 liter/detik, selama 7 jam dan tekanan 500 Psi. Berdasarkan hasil tersebut memungkinkan untuk dapat dipertimbangkan sebagai material biomedis.
PENGARUH TEMPERATUR PADA COATING WRAPPING TAPE TERHADAP COATING BREAKDOWN DAN CURRENT DENSITY PADA PIPA BAJA DALAM APLIKASI IMPRESSED CURRENT CATHODIC PROTECTION (ICCP) R.E.Dinar Rahmawati
Jurnal Furnace Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.156 KB)

Abstract

Dalam industri minyak gas dan bumi, pipa bawah tanah merupakan salah satu alternatif transportasi untuk memindahkan produk penambangan minyak dan gas, sehingga pipa harus memiliki keamanan yang sangat tinggi untuk menghindari terjadinya kegagalan, namun pada penggunaanya pipeline tidak sepenuhnya memiliki keamanan yang tinggi sehingga terjadi kegagalan seperti kebocoran yang disebabkan karena adanya korosi. Coating wrapping tape menjadi alternatif untuk perlindungan pipa dari serangan korosi namun, pada aplikasinya ketika proses penempatan, proses transportasi dan proses pemasangan wrapping tape harus dilakukan secara bertahap sehingga membutuhkan waktu yang relatif lama dalam proses pengerjaannya. Hal ini memungkinkan pipa yang telah dilakukan coating dengan wrapping tape akan dibiarkan begitu saja di atas tanah selama berhari-hari sebelum pipa tersebut ditanam ke dalam tanah sehingga pipa kontak langsung dengan udara luar yang temperaturnya berbeda-beda pada setiap harinya. Hal ini akan menyebabkan beberapa kerusakan pada coating dari pipeline tersebut. Fenomena ini disebut juga coating breakdown sehingga ini akan memicu terjadinya korosi pada pipa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur pada pipa dengan coating wrapping tape ( 25oC ; 30oC ; 75oC ; 120oC) terhadap besar nilai coating breakdown dan current density yang diperlukan pada potensial proteksi dengan waktu tahan pada lingkungan terbuka selama 7 hari serta atenuasi yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian bahwa dengan meningkatnya temperatur (25oC-120oC) maka akan dihasilkan coating breakdown dan current density yang akan semakin meningkat pula, serta semakin besar nilai coating breakdown maka semakin besar atenuasi yang terjadi.
KETAHANAN AUS PADUAN Co-Cr-Mo DENGAN VARIASI KARBON HASIL HOT WORKING UNTUK APLIKASI BIOMEDIS Dizzy Agni
Jurnal Furnace Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Metalurgi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (959.862 KB)

Abstract

Bahan atau material yang sering digunakan untuk aplikasi biomaterial yang berguna untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak adalah logam contohnya adalah paduan logam berbasis Cobalt (Co). Paduan Co-Cr-Mo hasil pengecoran memiliki sejumlah presipitat yang tersebar di dalam matriks. Sifat ketahanan aus dan korosi paduan Co-Cr-Mo sangat dipengaruhi oleh jumlah, jenis fasa, ukuran dan distribusi presipitat yang tersebar di dalam matriks Co. Untuk mengetahui jumlah material yang terabrasif dalam siklus tubuh manusia maka dilakukan penelitian perbandingan ketahanan aus terhadap proses hot rolling yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses perlakuan panas terhadap struktur mikro dan ketahanan aus dalam paduan Co-Cr-Mo. Pada paduan Co-Cr-Mo hasil hot rolling terdeteksi adanya fasa dalam bentuk presipitat yang mempengaruhi karakteristik paduan. Sampel paduan Co-Cr-Mo dilakukan proses homogenisasi pada temperatur 12000C selama 6 jam lalu dilakukan annealing 12000C selama 2 jam, kemudian di-rolling dengan persen reduksi 10%, 30% dan 50%. Sampel selanjutnya diekstrak menggunakan larutan H2SO4 10% dan diuji menggunakan XRD untuk mengetahui presipitat yang terbentuk. Uji ketahanan aus dilakukan dengan metoda pin on disc. Paduan Co-Cr-Mo sebagai pin dan alumina sebagai disk dilakukan dalam 1% asam laktat. Hilangnya massa dan elusi ion diamati setelah pengujian ketahanan aus dengan menggunakan ICP. Hasil pengujian kekerasan dengan menggunakan indentor Vickers menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan karbon dan persen reduksi maka nilai kekerasan yang didapat pun meningkat. Pengamatan metalografi menunjukkan struktur mikro dan presipitat yang terbentuk dari proses hot rolling sampel Co-Cr-Mo, dimana fasa yang terbentuk dapat diamati