cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
MEDIA LITBANG SULTENG
Published by Universitas Tadulako
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2011)" : 10 Documents clear
JERAPAN P PADA ANDISOL YANG BERKEMBANG DARI TUFF VULKAN BEBERAPA GUNUNG API DI JAWA TENGAH DENGAN PEMBERIAN ASAM HUMAT DAN ASAM SILIKAT Sukmawati, St.
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.947 KB)

Abstract

Andisol merupakan tanah yang memiliki kemampuan menyerap fosfat  yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan tanah ini kaya akan bahan mineral amorf  khususnya alofan yang sangat reaktif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan asam humat dan asam slikat dalam menekan jerapan P pada mineral amorf (alofan) yang berasal dari 4 Gunung Api di Jawa Tengah. Sampel tanah diambil dari horison B/C dari Andisol Gunung Slamet, Dieng, Merbabu dan Lawu, dengan mempertimbangkan faktor umur bahan induk (tua dan muda) dan posisi lereng (atas, tengah dan bawah). Komponen mineral amorf yang digunakan merupakan fraksi lempung yang diperoleh dengan metode pemipetan (Hukum Stok). Percobaan jerapan P dilakukan dengan menggunakan  seri larutan Na(H2PO4) dengan kadar 0, 10, 20, 30, 40 dan 50 mM. Sistem larutan diatur pada pH 4 dan pH 6. Kadar asam humat dan asam silikat yang digunakan masing-masing 100 mg/L. Persamaan isoterm jerapan Langmuir dan Freundlich digunakan untuk mendeskripsikan pola jerapan P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jerapan P sangat tinggi yaitu >98%, meningkat dengan meningkatnya kadar pemberian P dengan pola jerapan yang dapat digambarkan secara baik dengan persamaan isoterm Freundlich.  Pemberian asam humat dan asam silikat terbukti dapat menurunkan jerapan P dimana terlihat bahwa pemberian asam silikat lebih kuat dalam menurunkan jerapan P dibandingkan asam humat, baik pada pH 4 maupun pH 6.
RESPON KAMBING KACANG JANTAN TERHADAP WAKTU PEMBERIAN PAKAN Rudiah, Rudiah
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.064 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui respon kambing kacang jantan terhadap waktu pemberian pakan, telah dilaksanakan di Kelurahan Pengawu, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Propinsi Sulawesi Tengah yang berlangsung dari tanggal 19 Mei 2005 sampai dengan tanggal 11 Agustus 2005.   Penelitian ini menggunakan 15 ekor kambing kacang jantan dengan kisaran umur 10-12 bulan dengan bobot badan antara 9 sampai dengan  18 kg.   Ternak tersebut ditempatkan dalam kandang individual berlantai papan berbentuk panggung yang disekat sebanyak 15 petak, dengan ukuran setiap petak adalah 75 x 75 cm dan tinggi 75 cm.   Masing-masing kandang dilengkapi dengan bak makan terbuat dari papan dan sebuah baskom untuk tempat  air minum.   Penelitian ini menggunakan 15 ekor kambing kacang jantan dengan kisaran umur 10 – 12 bulan dengan bobot badan antara 9 sampai dengan 18 kg.   Ternak tersebut ditempatkan dalam kandang individual berlantai papan berbentuk panggung yang disekat sebanyak 15 petak, dengan ukuran setiap petak adalah 75 x 75 cm dan tinggi 75 cm.   Masing-masing kandang dilengkapi dengan bak makan terbuat dari papan dan sebuah baskom untuk tempat air minum.   Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 kelompok sebagai ulangan.   Adapun perlakuan yang dicobakan terdiri atas lima level waktu pemberian pakan, yaitu WM1 = Pemberian pakan pada jam 08.00 Wita, WM2 = Pemberian pakan pada jam 09.30 Wita, WM3 = Pemberian pakan pada jam 11.00 Wita, WM4 = Pemberian pakan  pada  jam  12.30  Wita   dan   WP5 = Pemberian pakan pada jam 14.00 Wita. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan pakan, tetapi tidak berpengaruh nyata  (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering ransum, TDN, protein, Ca, P, serat kasar   ternak kambing jantan.
PENGARUH DIAMETER PANGKAL TANGKAI DAUN PADA ENTRES TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS KAKAO Mertade, Nyoman; Basri, Zainuddin
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.776 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan entres yang memiliki ukuran diameter pangkal tangkai daun lebih sesuai bagi perbanyakan klonal melalui sambung samping.  Perlakuan yang dicobakan yaitu ukuran diameter pangkal tangkai daun pada enters, masing-masing > 4-6 mm dan > 6-8 mm.  Setiap perlakuan dicobakan pada 20 tanaman sehingga jumlah tanaman yang digunakan adalah 40 tanaman.  Data dianalisis dengan uji t guna mengetahui perbedaan dari dua perlakuan yang dicobakan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tunas kakao berbeda pada entres yang memiliki ukuran diameter pangkal tangkai daun > 4-6 mm dan > 6-8 mm.  Pertumbuhan tunas kakao lebih baik pada entres yang memiliki ukuran diameter pangkal tangkai daun > 6-8 mm dibanding dengan entres yang memiliki ukuran diameter pangkal tangkai daun > 4-6 mm.  Panjang dan diameter tunas yang terbentuk pada entres yang memiliki ukuran diameter pangkal tangkai daun > 6-8 mm berturut-turut mencapai 82,95 cm dan 1,63 cm, dengan jumlah, panjang dan lebar daun berturut-turut 19,45 helai, 37,36 cm, 15,95 cm; sedangkan panjang dan diameter tunas yang terbentuk pada entres yang memiliki ukuran diameter pangkal tangkai daun > 4-6 mm berturut-turut hanya 67,81 cm dan 1,09 cm, dengan jumlah, panjang dan lebar daun berturut-turut 15,95 helai; 24,90 cm; 14,11 cm.  
KOMPATIBILITAS BATANG BAWAH NANGKA (ARTOCARPUS HETEROPYLLUS LAMK) KULTIVAR BEKA-3 DAN TULO-5 TERHADAP BERBAGAI ENTRIS TERPILIH Adelina, Enny
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.291 KB)

Abstract

Telah diketahui bahwa tingkat keberhasilan pertautan sambungan pada tanaman nangka masih sangat rendah. Hal ini diduga akibat faktor fisiologis yaitu tingginya kandungan getah, ketidaksesuaian ukuran diameter batang bawah dengan entris, serta faktor lingkungan di sekitar lokasi pertumbuhan bibit. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan saat bibit berumur 3 bulan dan ditanam pada lokasi yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kompatibilitas bibit batang bawah dan keberhasilan pertautan sambungan pada berbagai entris dengan cara grafting pada bibit tanaman nangka. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2010, di Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 2 faktor. Faktor pertama menggunakan berbagai kultivar batang bawah yang terdiri atas dua taraf, yaitu : BA = Kultivar Beka-3 dan BB = Kultivar Tulo-5 . Faktor kedua menggunakan kultivar entris yang terdiri atas tiga taraf, yaitu : KA = Kultivar Lambara, KB = Kultivar Bora, KC = Kultivar Toaya. Dengan demikian terdapat 6 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang tiga kali sebagai kelompok, sehingga diperoleh 18 unit perlakuan. Setiap unit percobaan terdapat 10 bibit tanaman dan total bibit 180 bibit tanaman. Analisis ragam menunjukkan bahwa berbagai kultivar batang bawah dan entris berpengaruh sangat nyata terhadap bibit bertaut. Terdapat interaksi antara batang bawah Beka-3 dan entris Lambara terhadap persentase bibit bertaut
PENGARUH SALINITAS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN ROTIFERA Brachionus plicatilis O.F MULLER Rukka, Heriyanti
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.157 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui salinitas yang optimal untuk menghasilkan pertumbuhan rotifer Brachionus plikatilis yang maksimal. Penelitian dilakukan dilaboratorium dengan  menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Masing-masing perlakuan atau variable bebas terhadap respon parameter atau variable tergantung dapat diketahui dengan menggunakan uji F. Bila uji F berbeda nyata atau sangat nyata, maka perhitungan dilanjutkan ke uji BNT untuk menentukan perbedaan antara masing-masing perlakuan. Untuk mengetahui hubungan antara parameter bebas dan tergantung maka dilakukan analisa sidik ragam dengan metode polynomial orthogonal.
KARAKTERISASI MORFOLOGI VARIETAS JAGUNG KETAN DI KECAMATAN ULUBONGKA KABUPATEN TOJO UNA-UNA Yusran, Yusran; Maemunah, Maemunah
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.858 KB)

Abstract

The research aiming to invent, characterize, and identify the character varieties of cultivar cluster of glutinous maize at Mire, Watusongu, and Paranonge Villages of Ulubongka Subdistric Tojo Una-una Residence was conducted in January to March 2010. The research employs survey and observation where sample locations is based on information taken from Agriculture, Estate,  Animal Husbandry and Animal Healthy Agencies of Tojo Una-una Regency. Observation was focused on morphological characters such as plant weight, stem diameter, length and width of leaf flowering time, knob length, knob circle with and without seeds, length of stem stalk, number of seed per knob, number of seed rows per knob, number of seeds per row, length of seed row per knob, seed weight per knob, knob weight, weight of knob without seed, weight of 100 seeds, and number of seed colour. Cluster analysis was done further using SYSTAT 8,0 Software Program. The result shows that based on sub regency dendrogram there are six cultivar groups with genetic relationship, of each was represented by PR01 and PR04 from Paranonge Village, MR04, MR05 and MR01 from Mire Village, and WT04 from Watusongu Village as chosen cultivars at Ulubongka Subdistrict
MAKNA WANITA TENTANG PERUBAHAN PERAN (Hasil kajian Disertasi wanita isteri nelayan Suku Kaili dalam perubahan peran dari domestik Tradisonal ke Publik produktif) Yotolembah Aminah, Fadlia Vadlun
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.77 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna wanita isteri nelayan dalam perubahan peran dari domestik tradisional ke publik produktif. Untuk mengetahui kriteria-kriteria apa yang menyebabkan pilihan wanita isteri nelayan untuk kedua peran tersebut. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan di kampulere yang wanitanya banyak melakukan aktifitas menjual ikan, rumah mereka rata-rata dipinggir pantai. Penentuan informan dipilih secara sengaja yaitu purposive sampling dengan metode bola salju. Terpilihnya informan ada tiga kriteria: pertama aktivitasnya terfokus pada menjual ikan, kedua aktivitasnya tergolong rajin, ketiga aktivitasnya malas tidak terlalu terfokus menjual ikan Teknik pengambilan data melalui pengamatan, wawancara yang terdiri atas tiga: wawancara pendahuluan, wawancara mendalam, juga wawancara secara kelompok untuk tujuan mencek keakuratan informasi yang disampaikan oleh informan sewaktu dilakukan wawancara individual. Analisis data dengan proses editing data, kategorisasi data, intrepretasi data, dan merumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan masalah penelitian. Hasil penelitian sebagai berikut: Makna perempuan tentang rumah tangga domestik tradisional adalah semata-mata mengurus rumah tangga, selalu tergantung suami, bosan dirumah, sempit wawasan, perasaan selalu tertekan, komunikasi kurang, dan tidak mampu mengambil keputusan. Makna wanita di publik produktif; mampu mandiri, mampu memenuhi ekonomi rumah tangga, luas wawasan, perasaan bebas, komunikasi luas, aktualisasi diri, dihargai masyarakat, percaya diri dan mampu mengambil keputusan. Kesimpulan : dari kedua peran tersebut mereka rata-rata mempunyai pilihan peran di publik produktif. Walaupun pilihan mereka di publik produktif namun kedua tanggung jawab tersebut keduanya baik domestik tradisional maupun publik produktif tetap tanggung jawab mereka dengan alasan mereka mencintai keluarga (suami dan anak-anak). Saran: Kepada pengambil keputusan dan pihak-pihak terkait supaya membantu nelayan dan isteri nelayan yang aktifitasnya di publik produktif demi kelanjutan generasi mereka serta pengembangan aktifitas mereka dan bisa berkontribusi terhadap pembangunan.
PERTUMBUHAN IKAN HIAS BANGGAI CARDINALFISH (PTERAPOGON KAUDERNI) PADA MEDIA PEMELIHARAAN SALINITAS YANG BERBEDA Ndobe, Samliok
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.044 KB)

Abstract

Ikan endemik Banggai cardinalfish Pterapogon kauderni (Koumans, 1933) umumnya dinilai terancam punah oleh permanfaatan sebagai ikan hias.  Indonesia berkomitmen untuk menjamin kelestarian ikan dengan pola pemanfaatan berkelanjutan. Dalam rangka mendukung pengelolaan lestari ikan P. kauderni, dilaksanakan penelitian terhadap pengaruh salinitas terhadap pola pertumbuhan. Ikan uji berasal dari populasi introduksi di Teluk Palu. Penelitian terhadap pengaruh salinitas melengkapi penelitian sebelumnya pada kisaran salinitas 27-35 ppt. Kisaran ukuran awal panjang baku (SL) ikan uji berkisar antara 1,2 sampai 1,7cm, perlakuan salinitas yang diterapkan adalah: 16 ppt, 18 ppt, 20 ppt, 22 ppt, 24 ppt dan 26 ppt dengan 3 ulangan dan ikan sampel yang digunakan 5 ekor/ulangan (N=90). Berat tubuh (W) dan panjang baku (SL) diukur setiap 10 hari selama periode/masa pemeliharaan 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak selama periode penelitian P. kauderni juvenil terjadi penurunan seiring dengan penurunan salinitas (pada perlakuan), namun tidak berpengaruh nyata (Fhitung<Ftabel). Sintasan terjadi penurunan seiring dengan penurunan salinitas (pada perlakuan), salinitas ≤ 24 ppt berpengaruh nyata sampai sangat nyata.
KAJIAN POTENSI BUDIDAYA ALGA MERAH (Gelidiella acerosa) DI TELUK PALU Serdiati, Novalina; Ndobe, Samliok
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.215 KB)

Abstract

Seiring dengan pertumbuhan penduduk global dan kemajuan teknologi, kebutuhan produk perikanan budidaya semakin meningkat, termasuk khususnya produksi global alga merah (Rhodophyta). Selain rumput laut yang telah umum dikembangkan seperti dari Genus Gracilaria, Euchema atau Kappaphyccus, masih banyak jenis yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku industri pangan dan pakan, farmasi, energi, cat, tekstil, kertas dan lainnya, namun belum dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi penting di Indonesia. Salah satu spesies alga merah dengan penyebaran asli di Indonesia yang dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomis tinggi adalah Gelidiella acerosa. Tujuan penelitian adalah untuk menyediakan data dan informasi mengenai potensi pengembangan budidaya alga merah Gelidiella acerosa di Sulawesi Tengah dengan fokus utama di Teluk Palu. Penelitian terdiri dari desk study dan uji-coba pemeliharaan Gelidiella acerosa yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Oktober 2010 di perairan Teluk Palu khususnya di perairan Kelurahan Watusampu, Kota Palu. Bibit G. acerosa dipelihara dalam wadah tertutup yang terbuat dari waring. Wadah tersebut dipasang pada 3 stasiun kedalaman yaitu: Stasiun I dekat permukaan (kedalaman sekitar 0,3 meter); Stasiun II (kedalaman 1 meter) dimana suhu cenderung lebih stabil; dan Stasiun III (kedalaman 2 meter) untuk menilai pengaruh penetrasi sinar matahari. Parameter utama yang diamati adalah sintasan, pertumbuhan dan kondisi bibit G. acerosa, serta parameter lingkungan terutama kualitas air. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Kondisi dinilai berdasarkan skala kondisi (Neish, 2005). Parameter utama yang diamati adalah: (i) Grazing: pemangsaan oleh herbivora; (ii) Bleaching = pemutihan; (iii) W.E.E.D = weed/gulma, epiphytes/tumbuhan penempel, epizoa/hewan penempel dan disease/penyakit. Empat kondisi pada skala tersebut adalah: kondisi hijau = baik; kondisi kuning = kurang baik; kondisi oranye = menghawatirkan; dan kondisi merah = sebagian besar mati atau akan mati dalam waktu dekat. Kondisi Green/Hijau harus bebas pemutihan dan pemangsaan yang berarti, penyakit, serta komponen WEED lainnya tidak ada atau hanya sedikit. Hasil yang diperoleh adalah bahwa Gelidiella acerosa, merupakan suatu alga merah bernilai ekonomi tinggi, dapat bertahan hidup dengan sintasan 100%. Laju pertumbuhan bibit pada kedalaman 0 sampai 30 cm sekitar 15,4% dan pada kedalaman 1 sampai 2 meter sekitar 12,5%. Hasil pengamatan tersebut sesuai hasil desk study bahwa pertumbuhan G. acerosa yang hendak dikembangkan dengan metode pembiakan vegetatif (stek) kurang baik. Dinilai dari aspek ekologi peluang pengembangan sebagai komoditas budidaya cukup baik namun diperlukan program riset untuk mengembangkan metode budidaya berdasarkan produksi tetraspora atau karpospora
STRUKTUR KOMUNITAS ARTHROPODA PADA EKOSISTEM CABAI TANPA PERLAKUAN INSEKTISIDA Nurkhasanah, Nurkhasanah
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.428 KB)

Abstract

Community Structure Arthropods in chilli ecosytem undtreated insectisides. were analysed using tree methods. The methods were sweep net, direct observation for crown arthropods, pitfall trap for soil surface arthropods. The arthropods collected were the examined in the laboratory. The orders and families were identified and classified on the bassis of the guilds. The analyses  showed that the 26 families of 8 orders of arthropods with the total 1942 individuals on chilli crown and 25 families of 11 orders with total 593. As many as three guilds of arthropods were obtained from the structure analyses : phytophags, natural enemies of Arthropods, and others.

Page 1 of 1 | Total Record : 10