cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 23375701     EISSN : 2337 5701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2022)" : 8 Documents clear
Khasiat dan Keamanan Kapsul Ekstrak Daun Salam, Sambiloto, Kayu Manis dan Temulawak sebagai Jamu Antihiperglikemia: Studi Klinis dengan Desain Paralel, Random, dan Tersamar Tunggal Ulfa Fitriani; Agus Triyono; Zuraida Zulkarnain; Danang Ardiyanto; Fajar Novianto; Ulfatun Nisa; Peristiwan R. W. Astana; Tyas F. Dewi
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.187

Abstract

Penyakit diabetes merupakan penyakit non-infeksi yang menjadi perhatian dunia. Penggunaan tanaman obat sebagai terapi diabetes banyak dijumpai. Penelitian sebelumnya terhadap rebusan ramuan jamu antihiperglikemia yang mengandung daun salam, sambiloto, kayu manis dan temulawak terbukti efektif menurunkan kadar gula darah puasa (GDP). Sediaan jamu dalam bentuk kapsul ekstrak diketahui lebih stabil dibanding rebusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesetaraan kemanfaatan dan keamanan antara kapsul ekstrak jamu antihiperglikemia dengan obat standar metformin dosis tunggal. Metode penelitian ini adalah studi klinik dengan desain paralel, random, dan tersamar tunggal terhadap 60 subjek di Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus yang telah memenuhi kriteria inklusi dan esklusi pada bulan September hingga November 2019. Intervensi penelitian dilakukan selama 28 hari pada pasien yang menerima kapsul ekstrak (n=30) dan metformin (n=30). Parameter keberhasilan yaitu apabila terjadi penurunan kadar GDP pada pasien serta kadar fungsi hati (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase/SGOT dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase/SGPT) dan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) tetap berada pada rentang nilai normal. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar GDP pada kelompok kapsul ekstrak meningkat dari 165,53+33,28 menjadi 168,17+56,47 dan pada kelompok metformin rata-rata kadar gula darah puasa meningkat dari 161,07+33,00 menjadi 165,20+65,67. Sementara itu, kadar SGOT (17,40+5,35), SGPT (27,10+11,83), ureum (29,57+6,77), dan kreatinin (0,99+0,27) setelah intervensi masih dalam rentang normal. Simpulan dari penelitian ini adalah kaspul ekstrak jamu antihiperglikemia tergolong aman, namun tidak dapat menurunkan GDP. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna antara kelompok kapsul ekstrak dengan metformin.Kata kunci: Kapsul ekstrak jamu antihiperglikemia, keamanan, khasiat Efficacy and Safety of Extract Capsul of Daun Salam, Sambiloto, Kayu Manis and Temulawak as Antihyperglycemic Herbs: A Randomized, Parallel and Single Mask Design Clinical StudyAbstractDiabetes mellitus is one of the non infectious disease concerns over the world. Numerous medicinal plants have been used for diabetes. Clinical study of decoction of antihyperglycemic herbs containing daun salam, sambiloto, kayu manis and temulawak has been proven to be effective in reducing fasting blood glucose. Herbal capsule is considered more stable than decoctions. This study aimed to assess the equal efficacy and safety of extract capsule of antihyperglicemia herbs and single dose metformin. We performed clinical study with paralel and single mask design among 60 included patients in Rumah Riset Jamu (RRJ) Hortus Medicus between September and November 2019. Subjects received extract capsul (n=30) versus metformin (n=30) for 28 days. The outcome measure was decrease in fasting blood glucose and the value of liver function (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) and Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT)) and also renal function (ureum and creatinine) at normal range. The results indicated increased fasting blood glucose with the mean values in exctract capsules group from  165,53+33,28 to 168,17+56,47 and metformin group from 161,07+33,00 to 165,20+65,67. Meanwhile, after 28 days intervention, the values of SGOT (17,40+5,35), SGPT (27,10+11,83), ureum (29,57+6,77) dan creatinine (0,99+0,27) showed in the normal range. This study concluded that exctract capsul of antihyperglycemic herbs was safe but did not decrease fasting blood glucose value. No statistical difference was observed between the groups.Keywords: Efficacy, extract capsul of antihyperglycemic herbs, safety
Bakteri Utama Penyebab Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan Mutiara Apriliansyah; Ade Zuhrotun; Dwie Astrini
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.239

Abstract

Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan (KP) merupakan kejadian saat dua orang atau lebih menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan yang terbukti sebagai sumber keracunan berdasarkan epidemiologinya. KLB KP mengakibatkan angka kesakitan yaitu 46,62% dengan gejala berupa mual, muntah, diare, sakit perut, demam, gatal-gatal, gangguan pernapasan, dan gangguan penglihatan. Angka kematian yang dilaporkan akibat KLB KP yaitu 0,18%. Kasus KLB KP sulit dicegah dikarenakan adanya perbedaan karakteristik dari setiap agen mikroba, sehingga diperlukan antisipasi maupun upaya penanggulangan yang spesifik agar angka kesakitan dan kematian KLB KP dapat diturunkan. Upaya yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan pengetahuan terkait bakteri-bakteri utama penyebab KLB KP berdasarkan data epidemiologi yang tepat dan lengkap, sehingga masyarakat dapat menjadi lebih peka dalam mengolah, memilih, dan mengonsumsi pangan yang aman. Tujuan penulisan artikel review ini adalah untuk mengetahui informasi mengenai bakteri penyebab KLB KP dan cara penanggulangannya sehingga dapat mencegah terjadinya kembali kasus KLB KP. Metode yang dilakukan adalah penelusuran pustaka menggunakan basis data elektronik seperti Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed dengan kata kunci kunci “KLB Keracunan Pangan”, “Bakteri Utama Penyebab KLB KP”, “Epidemiologi KLB KP”, “Cemaran mikroba”, dan kata kunci lainnya terkait mikroba, jenis bakteri cemaran, gejala keracunan, serta penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan penanganannya. Diperoleh 50 artikel yang memenuhi kriteria dan didapatkan beberapa bakteri utama yang mengakibatkan terjadinya KLB KP terutama di Indonesia pada tahun 2020 yaitu Staphylococcus aureus (30%); Bacillus cereus (26,67%); Salmonella spp. (16,67%); Escherichia coli (16,67%); dan Clostridium spp. (6,67%). Kasus KLB KP membutuhkan penanganan khusus, sehingga diperlukan adanya pelaporan kasus kepada bagian yang berwenang serta sanitasi dan kebersihan juga perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya KLB KP.
Analisis Efektivitas Biaya Escitalopram dan Fluoksetin Dibandingkan dengan Sertralin untuk Gangguan Depresi Mayor di Salah Satu Klinik di Kota Bandung Sani A. R. Lestari; Irma M. Puspitasari; Neily Zakiyah; Elvine Gunawan
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.256

Abstract

Gangguan depresi mayor menjadi kontributor utama beban penyakit global yang memengaruhi jutaan masyarakat dari segala usia di seluruh dunia. Di berbagai negara, escitalopram dinilai lebih efektif secara biaya dibandingkan dengan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) lain yang menjadi terapi lini pertama. Di Indonesia, escitalopram tidak termasuk dalam Formularium Nasional (Fornas). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya dari escitalopram dan fluoksetin dibandingkan dengan sertralin, SSRI yang masuk ke dalam Fornas, dalam pengobatan gangguan depresi mayor di salah satu klinik di Kota Bandung. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medis pasien di salah satu klinik di Kota Bandung pada periode 2020–2021. Total biaya meliputi komponen biaya langsung berdasarkan healthcare perspective (klinik) yakni biaya jasa dokter, biaya administrasi, dan biaya obat. Efektivitas dihitung berdasarkan per penurunan 1 skor Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Hasil menunjukkan nilai Incremental Cost-effectiveness Ratio (ICER) antara sertralin dengan escitalopram dan sertralin dengan fluoksetin berturut-turut Rp772.076,00 dan (Rp467.326,00) per penurunan 1 skor HDRS. Hasil uji sensitivitas pada nilai ICER antara sertralin dengan escitalopram menunjukkan penurunan skor HDRS dan biaya antidepresan memiliki rentang yang paling panjang. Penurunan skor HDRS dan biaya jasa dokter memiliki rentang terpanjang pada nilai ICER antara sertralin dengan fluoksetin. Escitalopram memiliki efektivitas dan biaya yang lebih tinggi daripada sertralin, sedangkan sertralin lebih cost-saving dibanding fluoksetin. Efektivitas terapi antidepresan merupakan faktor yang memengaruhi dan memiliki peran penting dalam penentuan nilai ICER.Kata kunci: Antidepresan, cost-effective analysis, escitalopram, fluoksetin, gangguan depresi mayor, sertralin Cost-effectiveness Analysis of Escitalopram and Fluoxetine Compared with Sertraline for Major Depressive Disorder in One of Clinics in BandungAbstractMajor depressive disorder is a substantial contributor to the global burden of disease affecting millions of people of all ages around the world. In many countries, escitalopram is more cost-effective than other selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) as first-line therapy. Escitalopram has never listed in the National Formulary (Fornas). This study aims to analyze the cost-effectiveness of escitalopram and fluoxetine compared to sertraline, SSRI included in Fornas for treating major depressive disorder at a clinic in Bandung. Data collection was conducted retrospectively from patients’ medical records from a clinic in Bandung City, Indonesia, in the 2020–2021 period. The total medical cost was reviewed from a healthcare perspective (doctor fees, administration fees, and drug costs), while its effectiveness was calculated based on decreased of Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). The value of the Incremental Cost-effectiveness Ratio (ICER) between sertraline and escitalopram and between sertraline and fluoxetine, respectively, Rp772,076.00 dan (Rp467,326.00)  per 1 decrease in the HDRS score. The sensitivity analysis of the ICER value between sertraline and escitalopram showed a reduction in the HDRS score and the cost of antidepressants had the longest range. The decrease in HDRS scores and doctor’s fees had the longest range in ICER scores between sertraline and fluoxetine. In summary, escitalopram has higher effectiveness and cost than sertraline, while sertraline is more cost-saving than fluoxetine. The effectiveness of antidepressant therapy was the most influential factor in determining the ICER value. Keywords: Antidepressants, cost-effective analysis, escitalopram, fluoxetine, major depressive disorder, sertraline
Penggunaan Bronkodilator Tunggal atau Bersama Kortikosteroid dapat Memperbaiki Parameter Sesak, w/h, dan r/h pada Pasien Rawat Inap dengan PPOK Eksaserbasi Akut di RS.X di Jember Tahun 2018 Fifteen Aprila Fajrin; Ika Puspita Dewi; Lelyta - Septiandini; Ajeng Merdeka Putri
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.198

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab utama kematian ke-empat di dunia yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara yang bersifat progresif dan berkaitan dengan respon inflamasi kronis pada saluran napas dan atau paru-paru akibat adanya partikel atau gas yang berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, pola pengobatan serta efek penggunaan bronkodilator dengan atau tanpa kortikosteroid terhadap perubahan nilai sesak, ronki (r/h), wheezing (w/h) dan SaO2 pasien rawat inap dengan PPOK eksaserbasi akut di RS.X di Jember. Penelitian ini bersifat deskriptif non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dari data rekam medik elektronik pasien selama tahun 2018 dan pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah pasien sebanyak 105 pasien. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis statistik berupa uji T berpasangan dan uji Wilcoxon dengan derajat kepercayaan sebesar 95%. Pasien PPOK eksaserbasi akut didominasi oleh laki-laki (64,8%), berdasarkan usia yang tertinggi adalah kelompok umur 45-64 tahun (50,5%), status pendidikan terbanyak pada kelompok tamat SD/sederajat (64,8%), dan berdasarkan pekerjaan pasien didominasi oleh petani (32,4%). Bronkodilator yang paling banyak digunakan adalah aminofilin (87,6%) dan kortikosteroid yang paling banyak digunakan yaitu metil prednisolone (63,8%). Hasil analisis berdasarkan parameter sesak, r/h dan w/h pada pasien yang menggunakan bronkodilator dengan atau tanpa kortikosteroid menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara sebelum dan sesudah pengobatan (p<0,05). Parameter SaO2 menunjukkan hasil tidak ada perbedaan bermakna antara sebelum dan sesudah pengobatan bronkodilator dan ada perbedaan yang bermakna setelah pengobatan kortikosteroid. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan bronkodilator dengan atau tanpa kortikosteroid dapat memperbaiki parameter sesak, r/h, dan w/h sesudah pengobatan. Kata kunci: bronkodilator, kortikosteroid, PPOK eksaserbasi akut, ronki, sesak, wheezing The Use of a Bronchodilator Alone or Combination with Corticosteroids Can Improve Shortness of Breath, w/h, and r/h Parameters in Patients with Acute Abstract Exacerbations of COPD at RS.X Jember in 2018 Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is the fourth leading cause of death in the world, characterized by progressive airflow obstruction and is associated with a chronic inflammatory response to the airways and or lungs due to the presence of harmful particles or gases. The purpose of this study was to determine the characteristics of the patient, treatment patterns, and the effect of using bronchodilators with or without corticosteroid on changes in the value of spasms, rhonchi (r/h), wheezing (w/h), and SaO2 of inpatients with acute exacerbation of COPD in RS.X in Jember. This research was descriptive and non-experimental with retrospective data collection from the patient’s electronic medical records during 2018 and using a total sampling of 105 patients. The data analysis used descriptive analysis and statistical analysis with paired T-test and Wilcoxon test with a confidence degree of 95%. Acute exacerbation of COPD patients was dominated by males (64.8%), based on the highest age in the age group of 45-64 years old (50.5%), the most education status in the group graduated from elementary school/equivalent (64.8%), and based on the patient’s job is dominated by farmers (32.4%). The most widely used bronchodilator is aminophylline (87.6%) and the most widely used corticosteroid is methylprednisolone (63.8%). The results of the analysis based on the parameters of spasms, r/h, and w/h in patients using bronchodilators with or without corticosteroids showed a significant difference before and after treatment (p<0,05). However, based on the SaO2 parameter, there was no significant difference between before and after bronchodilator treatment and there were differences that play a role after corticosteroid treatment. The use of bronchodilators with or without corticosteroids could improve the parameters of spasms, r/h, and w/h after treatment. Keywords: acute COPD exacerbation, a bronchodilator, corticosteroid, rhonchi, wheezing
Antihyperlipidemic Effect of Bitter Melon Extract (Momordica Charantia L.) in Wistar Rats Evi Sovia; Rini Roslaeni; Sutan Bagas Prakasa; Amallia Ardila Putri; Akmal Dhaffa Ulhaq; Daswara Djajasasmita; Khomaini Hasan; Welly Ratwita
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.209

Abstract

The use of alternative medicine, especially medicinal plants to treat various diseases including hyperlipidemia has increased over the last few decades in most countries around the world. Bitter melon (Momordica charantia) contains active ingredients such as flavonoids, tannins, saponins and polyphenols which have antihyperlipidemic effects. The study aims to determine the antihyperlipidemic effect of bitter melon aqueous extract and compare it with simvastatin in reducing total cholesterol and low- density lipoprotein (LDL), and increasing high-density lipoprotein (HDL) in male Wistar strain rats. The research is an experimental study with pre and post-test design, carried out in October-December 2021 at the Faculty of Medicine, Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi Indonesia. Subjects consisted of 25 Wistar rats which were divided into five groups. The negative control group (standard diet), the positive control group (induced by a high-fat diet and propylthiouracil), and the three groups that were induced by a high-fat diet and propylthiouracil then given bitter melon extracts of 300 and 600 mg/ kg BW and simvastatin 10 mg/kg BW. The method of measuring cholesterol using the Cholesterol Oxidase-Perioxidase Aminoantipyrine (CHOD-PAP) enzymatic method principle with a Semi-automatic Chemistry Analyzer. Analysis using paired t-test. The results showed a significant difference (P<0.005) in HDL and total cholesterol levels in the 600 mg/kg BW dose group, and a significant difference in LDL level in the 300 mg/kg BW dose group. The Simvastatin group showed significant differences in HDL, LDL, and total cholesterol. This is presumably because the active substances in bitter melon can inhibit the HMG-CoA reductase enzyme so that it can reduce LDL and total cholesterol levels. It can be concluded that bitter melon aqueous extract at doses 300 and 600 mg/Kg BW can reduce total and LDL cholesterol levels, and increase HDL. Keywords: antihyperlipidemic, HDL, LDL, Momordica charantia, total cholesterol Efek Antihiperlipidemik Ekstrak Buah Pare (Momordica Charantia L.) pada tikus WistarAbstract Penggunaan pengobatan alternatif, terutama tanaman obat untuk mengobati berbagai penyakit termasuk hiperlipidemia telah meningkat selama beberapa dekade terakhir di sebagian besar negara di seluruh dunia. Pare (Momordica charantia L.) mengandung bahan aktif flavonoid, tanin, saponin dan polifenol yang memiliki efek antihiperlipidemia. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek antihiperlipidemia ekstrak air buah pare dan membandingkannya dengan simvastatin dalam menurunkan kolesterol total dan low density lipoprotein (LDL), serta meningkatkan high density lipoprotein (HDL) pada tikus jantan galur Wistar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain pre and posttest, dilaksanakan bulan Oktober-Desember 2021 di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Indonesia. Subjek penelitian adalah 25 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok kontrol negatif (diet standar), kelompok kontrol positif (diinduksi diet tinggi lemak dan propiltiourasil), dan tiga kelompok yang diinduksi diet tinggi lemak dan propiltiourasil kemudian diberikan ekstrak pare 300 dan 600 mg/kgbb dan simvastatin 10 mg/kgbb. Analisis menggunakan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna (P<0,005) kadar HDL dan kadar kolesterol total pada kelompok dosis 600 mg/kgbb, dan perbedaan kadar LDL bermakna pada kelompok dosis 300 mg/kgbb. Kelompok simvastatin menunjukkan perbedaan bermakna untuk HDL, LDL, dan kolesterol total. Hal ini diduga karena buah pare mengandung zat aktif yang dapat menghambat enzim HMG-CoA reduktase sehingga dapat menurunkan kadar LDL dan kolesterol total. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak air buah pare dengan dosis 300 dan 600 mg/kgbb dapat menurunkan kadar kolesterol total dan LDL, serta meningkatkan HDL.Kata kunci: antihiperlipidemi, HDL, LDL, kolesterol total, Momordica charantia
The Effect of N-Acetylcysteine on Glomerulus Filtration Rate in Patients with Chronic Kidney Disease Post Percutaneous Coronary Intervention Putu Rika Veryanti; Gamaliel Agripa; Ketut Agus Adrianta
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.217

Abstract

The use of contrast for percutaneous coronary intervention (PCI) procedures in chronic kidney disease (CKD) patients can worsen kidney function. N-Acetylcysteine is widely used as a preventive therapy for contrast-induced nephropathy (CIN). However, previous studies have shown inconsistent results, so that further research regarding the effectiveness of N-Acetylcysteine to prevent CIN is needed. This study aimed to determine the effect of N-Acetylcysteine on glomerulus filtration rate (GFR) in patients with CKD who underwent PCI. This research was conducted at Jakarta's national central general hospitals from July to December 2019 with a retrospective study design. Through the purposive sampling method, we obtained 72 samples. The sample was selected from the patient's medical records in the period January-June 2019. Patients who underwent PCI and had a history of CKD were included in the study. The data were analyzed by t and chi-square tests to determine the effect of N-Acetylcysteine on the patient's GFR. The results showed that CKD patients underwent PCI were dominated by male (61.11% vs 38.89%) and 33.33% of patients aged 55-64 years. Most patients had GFR values between 30-59.99 ml/min/1.73m2 with 100 ml of contrast administration. The ratio of contrast amount to GFR > 3.7 was found in 47.22% of patients. The administration of N-Acetylcysteine as a preventive therapy for CIN post-PCI increased the GFR value of CKD patients by 2.69±5.72. N-Acetylcysteine had a significant effect on the GFR of post-PCI CKD patients (p=0.000).
Korelasi Tingkat Keparahan Efek Samping Obat Regimen Leucovorin Calcium (Folinic Acid), Fluorouracil, dan Oxaliplatin dengan Kualitas Hidup Pasien Kanker Kolorektal Rinto Susilo; Ajeng Diantini; Kiki Lukman; Dyah Aryani Perwitasari; Didi Rohadi; Tomi Tomi
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.225

Abstract

Adanya kejadian efek samping obat (ESO) pada pasien kemoterapi dapat memberikan resiko pada penurunan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi tingkat keparahan efek samping obat regimen  leucovorin calcium (folinic acid), fluorouracil, dan oxaliplatin (FOLFOX) dengan kualitas hidup pasien kanker kolorektal. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan rancangan studi cross sectional dan pengambilan data secara prospektif tahun 2020-2021 di 3 rumah sakit yaitu RSUP X, RSUD X dan RSUD Y Cirebon. Data yang diambil berupa kejadian efek samping obat baik jenis dan jumlahnya, tingkat keparahan efek samping serta tingkat kualitas hidup. Instrumen yang digunakan adalah Hartwigh et. al. dan kuesioner EORTC QLQ c-30 versi 3 dalam Bahasa Indonesia. Analisis korelasi dengan Pearson Correlation. Jumlah sampel yang didapatkan sebanyak 43 pasien. Jenis ESO yang paling banyak adalah mual, sedangkan yang paling parah stomatitis dan muntah. Skor kualitas hidup pasien yang mengalami ESO yaitu kualitas hidup  global 66,26, kualitas hidup fungsional 71,98 dan kualitas hidup gejala 31,29. Korelasi antara tingkat keparahan efek samping obat dengan kualitas hidup domain global sebesar -0,421, kualitas hidup domain fungsional sebesar -0,638, dan kualitas hidup domain gejala sebesar 0,722. Tingkat keparahan efek samping obat berkorelasi dengan kualitas hidup pasien. Identifikasi efek samping obat dan tingkat keparahannya sejak dini tentu dapat mencegah penurunan kualitas hidup pasien.
Review Penggunaan Antivirus COVID-19 Berdasarkan Pedoman Penatalaksanaan COVID-19 pada Periode Maret 2020-Agustus 2021 Rogayah Effendy; Auliya Suwantika; Cherry Rahayu
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.3.267

Abstract

Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi tantangan kesehatan utama dunia hingga saat ini. Belum adanya antivirus spesifik yang terbukti efektif telah menimbulkan dampak negatif ekonomi yang cukup signifikan. Salah satu strategi terapeutik difokuskan pada tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi, yaitu dengan penggunaan antivirus. Review ini difokuskan pada studi deskriptif-komparatif penggunaan antivirus dengan tingkat keparahan tertentu dan potensi pengaruh penggunaannya terhadap efektivitas biaya berbasis pedoman/protokol COVID-19 di Indonesia. Penggunaan antivirus untuk tiap pasien diidentifikasi sesuai tingkat keparahan penyakit dan dibandingkan antar pedoman berdasarkan perspektif pemerintah. Hasilnya menyoroti pada tantangan besar perkembangan studi antivirus yang dinamis karena situasi pandemi serta perlunya intervensi pemerintah untuk menentukan intervensi prioritas dengan keterbatasan personel serta sumber daya ekonomi (priority setting). Review memberikan analisis terperinci ditinjau dari protokol tata klinis COVID-19, antara bulan Maret 2020 hingga Agustus 2021. Hasilnya menyoroti strategi penanggulangan pemerintah dalam tata klinis antivirus yang optimal dan efektif serta potensi biaya yang ditimbulkannya. Pedoman pengendalian dan tata laksana antivirus COVID-19 di Indonesia, sudah berganti sebanyak 4 kali, priority setting dilakukan berdasarkan perkembangan studi terbaru di masa pandemi dan sudah berbasis bukti terkini yang sifatnya masih terbatas namun dengan tingkat bukti tinggi. Penghematan biaya dapat dilakukan dengan deteksi dini dan pengobatan efektif pada  kasus COVID-19, sebelum terjadi perburukan ke tingkat keparahan berikutnya. Efektivitas pengobatan dan penggunaan antivirus berbasis bukti dapat membuat terapi menjadi cost-effective. Oleh karena itu, pembuat kebijakan di Indonesia harus mengintensifkan deteksi dini dan manajemen kasus COVID-19 sebagai prioritas utama, dengan penggunaan antivirus berdasarkan rekomendasi WHO yang senantiasa dinamis mengikuti perkembangan terkini.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025) Vol 14, No 2 (2025) Vol 14, No 1 (2025) Vol 13, No 3 (2024) Vol 13, No 2 (2024) Vol 13, No 1 (2024) Vol 12, No 3 (2023) Vol 12, No 2 (2023) Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 4 (2022) Vol 11, No 3 (2022) Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol 10, No 4 (2021) Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol 9, No 4 (2020) Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue