cover
Contact Name
Yanuar Burhanuddin
Contact Email
yanuar.burhanuddin@eng.unila.ac.id
Phone
+6285658980260
Journal Mail Official
jurnal.mechanical@eng.unila.ac.id
Editorial Address
Gd. H Lt.2 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Lampung Jl. Prof. Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Mechanical
Published by Universitas Lampung
ISSN : 20871880     EISSN : 24601888     DOI : https://doi.org/10.2960/mech
Jurnal Mechanical (eISSN 2460 1888 and pISSN 2087 1880), is a peer-reviewed journal that publishes scientific articles from the disciplines of mechanical engineering, which includes the field of study (peer) material, production and manufacturing, construction and energy conversion. Articles published in the journal Mechanical include results of original scientific research (original), and a scientific review article (review). Mechanical journal published by University of Lampung and managed by Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering for publishing two periods a year, in March and September .
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2012)" : 9 Documents clear
Pengaruh Jarak Pemasangan Secondary Cabin Roof (SCR) Terhadap Temperatur Kabin Mobil Yudi Eka Risano
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak SCR atau Secondary Cabin Roof  merupakan aksesoris tambahan pada mobil berupa atap kabin sekunder yang dipasang diatas atap utama mobil. SCR ini dirancang dengan maksud mengurangi panas yang masuk ke dalam kabin karena sinar matahari ketika sebuah mobil sedang diparkir ditempat terbuka ataupun sedang berjalan, sehingga akan membantu meringankan kerja ac mobil ketika ac dihidupkan. Telah dilakukan pengujian jarak pemasangan (mounting distance) SCR terhadap atap kabin utama, hal ini untuk mengetahui jarak pemasangan yang terbaik.Penelitian dilakukan dengan memberikan margin atau jarak pemasangan sebesar 2 cm, 5 cm dan 7 cm. Proses pengujian dilakukan dengan menjemur mobil di terik matahari selama 1 jam, kemudian mulai diukur temperatur di dalam kabin mobil setiap selang waktu 2 menit untuk setiap variasi margin pemasangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak pemasangan terbaik ditinjau dari sisi besarnya penurunan temperatur kabin adalah dengan jarak pemasangan 7 cm, yaitu sekitar  6 0C tanpa ac mobil dihidupkan.Kata kunci : atap kabin sekunder, jarak pemasangan, temperatur.
Karaktristik Pola Aliran Pemisahan Kerosene-Water Pada Pipa T-Junction Sudut 90˚ Dan Radius 25 mm Dengan Bahan Pleksiglass Kms. Ridhuan
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Tests with the fluid flow pattern visualization kerosene (kerosene)-water through a pipe with a T-junction has been performed at the Laboratory of Fluid Mechanics, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University. Tests performed on the test section of T-Junction with an angle of 90 ˚ and 25 mm bend radius. Fleksiglass material with a diameter of 1.5 inches with kerosene (kerosene) and water as working fluid. To determine the flow pattern is done by kerosene and set the superficial velocity of water. Kerosene superficial velocity (Jk) and superficial velocity of water (Jw) that flowed in the test section is set by using a valve and measured using flow meters at a range of values Jk = 0.10 m / s - 0.22 m / s and Jw = 0 , 10 m / s - 0.40 m / s. Flow patterns that occur during the research process was recorded by using cameras and observed visually with the movement slowed. As a result, it is known that the flow pattern occurring in this study is stratified (S), Stratified Wavy (SW), Three Layer (3L), Stratified Wavy Water in Oil (SWw / o), and dispersed (D). For kerosene-water separation of the most well occur in Stratified Wavy flow pattern at a speed suprfisial kerosene (Jk) 0.14 to 0.18 m / s and superficial velocity of water (Jw) 0.15 to 0.25 m / s. In the superficial mixture velocity (Jmix) 0.34 to 0.43 m / s. And for kerosene-water separation of the less well occur in dispersed flow pattern (D) velocity suprficial kerosene (Jk) 0.12 m / s down and 0.20 m / s upward. Superficial velocity of water (Jw) 0.15 m / s down and 30 m / s upward. In the superficial mixture velocity (Jmix) below 0.56 m / s. And on top of 0.60 m / s.Keywords: flow patterns, kerosene-Water, T-junction.
PENGUJIAN KARAKTERISTIK PERPINDAHAN PANAS DAN FAKTOR GESEKAN PADA PENUKAR KALOR PIPA KONSENTRIK DENGAN SISIPAN PITA TERPILIN BERLUBANG Tri Istanto
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menguji karakteristik perpindahan panas dan faktor gesekan pada penukar kalor pipa konsentrik saluran annular dengan sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang. Seksi uji berupa penukar kalor pipa konsentrik satu laluan dengan pipa dalam dan pipa luar terbuat dari aluminium. Dimensi pipa luar; diameter luar 21,87 mm dan diameter dalam 20,67 mm, dan dimensi pipa dalam; diameter luar 15,84 mm dan diameter dalam 14,34  mm. Panjang penukar kalor 2.000 mm dan jarak pengukuran penurunan tekanan di pipa dalam 2.010 mm. Aliran di pipa dalam dan di annulus adalah berlawanan arah. Fluida kerja yang digunakan adalah air panas di pipa dalam dimana temperatur masukannya dipertahankan pada 60oC, dan air dingin di annulus dengan temperatur masukan pada ± 28oC. Sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang masing-masing dengan nilai rasio pilinan 4,0 terbuat dari bahan aluminium strip dengan tebal 0,76 mm, lebar 12,61 mm yang dipuntir membentuk pilinan dengan panjang pitch sebesar 50,35 mm. Sisipan pita terpilin berlubang divariasi dengan  diameter lubang berturut-turut sebesar 4 mm dan 6,5 mm, dimana jarak antar pusat lubang sebesar 4 cm. Sisipan pita terpilin  dipasang di pipa dalam dari penukar kalor pipa konsentrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bilangan Reynolds yang sama, penambahan sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang dengan diameter lubang 4 mm dan 6,5 mm di pipa dalam menaikkan bilangan Nusselt rata-rata berturut-turut sebesar 79,20%, 68,7% dan 57,8% dari pipa dalam tanpa sisipan pita terpilin (plain tube). Pada daya pemompaan yang sama, bilangan Nusselt rata-rata di pipa dalam dengan penambahan sisipan pita terpilin berlubang dengan diameter 6,5 mm menurun sebesar 1,62%, sedangkan penambahan sisipan pita terpilin berlubang diameter 4 mm dan sisipan pita terpilin klasik berturut-turut menaikkan bilangan Nusselt rata-rata sebesar 3,2% dan 5,84% dari plain tube. Pada bilangan Reynolds yang sama, nilai faktor gesekan rata-rata di pipa dalam dengan penambahan sisipan pita terpilin klasik  dan sisipan pita terpilin berlubang  dengan diameter lubang 4 mm dan 6,5 mm berturut-turut meningkat sebesar 339,25%, 298,49% dan 269,6% dari plain tube. Pada daya pemompaan yang sama, faktor gesekan rata-rata di pipa dalam dengan penambahan sisipan pita terpilin klasik dan sisipan pita terpilin berlubang dengan diameter lubang 4 mm dan 6,5 mm berturut-turut meningkat sebesar 485,39%, 416,48 % dan 362,72% dari faktor gesekan plain tube. Kata kunci :         bilangan Nusselt, bilangan Reynolds, faktor gesekan,  sisipan pita terpilin berlubang,
MAKSIMUM TEGANGAN THERMAL PADA PROSES PENCELUPAN CERAMIC STALK DI LOW PRESSURE DIE CASTING MACHINE Hendra .
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Low pressure die casting is process to make the axi-simmetric product such as cylinder head, piston, brake drum and etc. The process is injected the molten metal with high speeds and pressure into a metallic die. The low pressure die casting process has some advantages as a low-cost and high-efficiency precision forming technique. The low pressure die casting having the permanent die and filling systems are placed over the furnace containing the molten alloy. The filling of the cavity is obtained by forcing using the pressurized gas to order a rise the molten metal into a tube, which connects the die to the furnace. The tube called stalk made from ceramics because ceramics has high temperature resistance and high corrosion resistance. However, care should be taken for the thermal stress when the tube is dipped into the molten metal. To reduce the risk of fracture it is important because fracture may happen due to the thermal stresses. In this paper, thermo-fluid analysis is performed to calculate surface heat transfer coefficient. Then, the finite element method is applied to consider the thermal stresses when the stalk is dipped into the crucible with varying the dipping speeds. It is found that the stalk with slowly dipping is better than fast dipping to reduce the thermal stress.Keywords: Thermal Stress, Stalk, Low Pressure Die Casting Machine, Finite element method
Kaji Eksperimental Performansi Mesin Pendingin Kompresi Uap dengan Menggunakan Refrigeran Hidrokarbon (Hcr12) Sebagai Alternatif Refrigeran Pengganti R12 dengan Sistem Penggantian Langsung (Drop In Substitute) Afdhal Kurniawan Mainil
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractType of refrigerant the most recognized and the most used today in the vapor compression cycle is R-12 refrigerant (halocarbon group), which is technically quite good.  The refrigerant also has low toxicity and low flammable. But, in the mid 1970’s known that chlorine has contained in the refrigerant were released into the environment could damage of ozone in the stratosphere and caused greenhouse effect. Because of that, it using has stopped. An alternative refrigerant is hydrocarbon refrigerant (HCR) and one of it is hydrocarbon-12 (HCR-12). HCR-12 have several advantages, besides friendly environmental because have low global warming effect and low destruction of ozone, this type of refrigerator can be used as direct changer on the refrigerant machine so no needed compressor replacement and more efficient electric energy than R-12. In this research, did a study experimental to compared R-12 with HCR-12 with used vapor compression cooler machine. The result of measurement have been get performance of vapor compression cooler machine COPR (Coefficient of Performance Refrigeration) and COPHP (Coefficient of Performance Heat Pump) for R-12 and HCR-12 relatively are 2.4 – 9.8 (COPR) and 3.4 – 10.8 (COPHP) and 6.4 – 14.1(COPR) and 7.4 – 15.1 (COPHP). Performance of vapor compression cooler machine COPR and COPHP have tendency increase with increase rate of flow of refrigerant until 0.035 for R-12 and 0.014 for HCR-12. Performance vapor compression cooler machine of COPR increase if absorbed of heat (Qe) by evaporator increase and COPHP increase if released of heat (Qk) by condenser increase. According of the results concluded that performance of vapor compression cooler machine with hydrocarbon-12 (HCR-12) better than R-12.Key words : refrigerant, hydrocarbon, R-12, ODP, GWP.
PENGARUH PRESTRAIN BERTINGKAT TERHADAP KEKERASAN DAN KEKUATAN TARIK BAJA KARBON SEDANG Zulhanif .
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Prestrain adalah suatu gejala deformasi plastis yang terjadi pada material logam, dimana material yang mengalami beban tarik dengan besar tegangan yang terjadi di atas tegangan luluh (syield) dari material logam tersebut. Efek prestrain akan meningkatkan tegangan luluh dan tegangan tarik material. Tegangan tarik dapat meningkat karena tegangan yang dibutuhkan untuk menimbulkan deformasi plastis ditingkatkan dengan prestrain. Regangan awal yang diberikan terhadap material akan mengakibatkan gerakan dislokasi sehingga menyebabkan pengerasan-regang. Pengerasan-regang banyak digunakan untuk mengeraskan logam atau paduan yang tidak bereaksi terhadap perlakuan panas.Material yang digunakan yaitu baja karbon sedang. Setelah material dibentuk, material tersebut di uji tarik sehingga didapat grafik stress – strain dan load – displacement. Dari grafik tersebut dapat dicari nilai prestrain 3 %, 5 %, 7%, dan 6 %, 10 %, 14 %. Spesimen dipasang pada alat uji dan dijepit sehingga spesimen tidak bergeser pada saat pemberian beban tarik.  Pada pengujian prestrain sekali diukur pada prestrain 3%, 5 %, 7 % dan 6 %, 10 %, 14 %. Setelah itu dibiarkan selama 1 hari, kemudian dilakukan pengujian tarik. Dari pengujian tarik ini akan didapatkan tegangan-regangan sehingga diperoleh data-data sy (MPa), sult (MPa), dan ε (%). Nilai uji tarik material sult akan dapat diketahui dengan melihat kertas grafik dari hasil pengujian spesimen. Sedangkan untuk prestrain dua kali diukur pada prestrain 3%, 5 %, 7 %. Setelah itu dibiarkan sampai setengah hari, kemudian di prestrain 3%, 5 %, 7 %. Selanjutnya dibiarkan sampai hari besoknya, kemudian dilakukan pengujian tarik. Dari pengujian tarik ini akan didapatkan tegangan-regangan sehingga diperoleh data-data sy (MPa), sult (MPa), dan ε (%).Hasil pengujian yang didapatkan untuk spesimen yang diberi perlakuan prestrain, mengalami peningkatan nilai kekerasan dan kekuatan tariknya. Peningkatan nilai kekuatan tarik tertinggi terjadi pada prestrain 14 % sekali, sebesar 669,57 MPa (8,20%).sedangkan yang terendah terjadi pada prestrain 3 % sekali, sebesar 626,89 MPa(1,30%).Kata kunci : Prestrain, Dislokasi, Pengerasan Regangan, Deformasi Plastis,.
Studi Awal Interaksi Man-Machine Pada Mesin Cetak Genteng Sistem Banting Suryadiwansa Harun
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas studi awal interaksi antara pekerja dengan mesin cetak genteng dalam rangka rancang bangun kembali sistem cetakan genteng yang ergonomik bagi industri genteng di Pringsewu. Tujuan studi ini adalah untuk mendapatkan data awal mengenai kondisi fisik pekerja setelah mengoperasikan mesin pencetak genteng sistem banting, serta mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan pekerja cepat merasa lelah dan tidak nyaman, sehingga mempengaruhi produktivitas pembuatan genteng. Untuk itu, serangkaian eksperimen telah dilakukan dengan mensimulasikan proses pengoperasian cetakan genteng yang direkam dengan video infra-red. Hasil yang diperoleh melalui rangkaian eksperimen ini adalah tahapan kerja proses pencetakan genteng dengan mesin cetak genteng sistem banting tidak sesuai dengan prinsip kerja secara ergonomis karena memiliki deviasi gerakan yang besar dan meliputi gerakan-gerakan yang berulang dan dilakukan dengan pembebanan yang berat, dimana akan berisiko menimbulkan cedera dan gangguan kesehatan serius bagi pekerja. Setelah 25 siklus proses pencetakan genteng atau kurang 15 menit waktu bekerja, berdasarkan pemindaian dengan infra merah, sebaran panas tubuh meningkat dengan cepat pada bagian bahu, pinggang dan punggung. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara pekerja, dimana bagian-bagian tersebut adalah bagian yang mengalami rasa pegal dan kontraksi. Selain itu, denyut jantung pekerja meningkat dari 72 menjadi 91 denyut/menit, dengan konsumsi kalori meningkat dari 2,580 kcal/mnt menjadi 3,599 kcal/mnt. Hal ini mengindikasikan bahwa pekerjaan pencetakan genteng tersebut dengan cepat menimbulkan kelelahan pada pekerja. Keseluruhan data awal ini sudah dapat dijadikan dasar untuk pertimbangan aspek ergonomi pada perancangan sistem cetakan genteng pada penelitian berikutnya.Kata kunci : mesin cetak genteng, sistem banting, ergonomis
PEMANFAATAN PARTIKEL TEMPURUNG KEMIRI SEBAGAI BAHAN PENGUAT PADA KOMPOSIT RESIN POLIESTER Harnowo Supriadi
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The objective of the research is to investigate the effect of composition ratio of polyester as matrix and  Aleurites moluccana  willd  particles on  mechanical properties (hardness,flexure strength and tensile strength) of composite.This experimental research  used  Aleurites moluccana willd  particles as reinforced material and polyester as resin.The instrument for the research were universal testing machine (UTM), hardness testing mac hine. This research had been performed by  making variation of  composition ratio of resin and Aleurites moluccana willd  particles (30 % :70%, 40% :60 %, 50 % : 50% and 60% :40%).The result of this  research show that the maximum hardness of composite was54,1 HRL. The maximum flexure strength was 33,62 N/mm2 and the maximum tensile strength was 16,97 N/mm2. The maximum value of hardness, flexure strength and tensile strength had been  achieved on composition ratio 40 % :60 %.Keywords :  Aleurites moluccana Willd  particles, Aleurites moluccana willd  particles, polyester resin, hardness, flexural strength, tensile strength.
Sifat-sifat Mekanik Komposit Serat TKKS-Poliester Shirley Savetlana
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Empty Fruit Bunch (EFB) fiber reinforced polyester composites were prepared using simple technique namely hand lay-up. Alkali treatments were used to enhance the hydrophobicity of the fiber. Lignin and cellulose content of EFB were analysed through chemical composition analysis. The mechanical properties are analyzed by conducting tensile and flexural tests. Macro observation shows fiber bridging on the fracture section. The SEM micrograph also shows a better surface roughness after alkali treatmen. The result shows that bending strength increases with the increases of fiber volume fraction.  Tensile strength and elastic modulus of composite were higher than the pure polyester and increases with the increasing of fiber volume fraction although polyester shows low compatibility with the EFB fiber. The failure mechanism as a result of bending and tensile tests had shown a dominant fiber pull-out mechanism and less of fiber breaking mechanism. It suggests that the optimal strength of the composite can be further increases by enhancing the compactibility between fiber and matrix.Keywords: EFB fiber, mechanical properties, polyester, composite, hand lay-up

Page 1 of 1 | Total Record : 9