cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 1 (2019)" : 50 Documents clear
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHA SAPI PERAH DI DESA PANDESARI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG Sardan, Sardan; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Nurhananto, Dwi Asnawi
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the factors that influence the income of dairy cattle business in Pandesari Village, Pujon District, Malang Regency. This study uses descriptive quantitative methods. The population in this study were dairy farmers in Pandesari Village, which amounted to 584 people. The sample is set at 41 farmers. Primary data were obtained from interviews, observations and questionnaires and analyzed by multiple linear regression. The results showed that simultaneously, breeders age, breeders' education, number of dairy cows, livestock experience, number of family dependents, forage feed, concentrate feed, other additional feed and labor had a significant effect on the income of dairy farmers Partially, the number of dairy cows and feed concentrates has a significant effect on the income of dairy cattle business. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha sapi perah di Desa Pandesari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah peternak sapi perah di Desa Pandesari yang berjumlah 584 orang. Sampel ditetapkan sebesar 41 peternak. Data primer diperoleh dari wawancara, observasi dan kuesioner dan dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, umur peternak, pendidikan peternak, jumlah sapi perah, pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga, pakan hijauan, pakan konsentrat, pakan tambahan lainya dan tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan peternak sapi perah. Secara parsial, jumlah sapi perah dan pakan konsentrat berpengaruh signifikan terhadap pendapatan usaha sapi perah.
SUBTITUSI PARSIAL TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG JAGUG PULUT DAN FORTIFIKASI DENGAN TEPUNG KACANG HIJAU PADA PEMBUATAN COOKIES Togo, Ludwika Y; Ahmadi, KGS; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cookies are one of the favorite snack of Indonesian society, but cookies generally have only high energy advantages. So it takes other key ingredients that can increase the nutritional content of cookies. Such as protein, fiber and provitamin A. The purpose of this research is to know the substitution of wheat flour: corn flour and fortification of green beans to produce cookies with the best treatment. This study used a randomized block design with two factors, where firt factor was the addition of wheat flour with corn flour (0%), (15%), (30%), (45), and second was fortification of green bean flour (5%, 10%, 15%). thu combinations were repeated 3 times so that 36 samples of cookies were obtained. The results showed that the best treatment was found in 60% flour substitution with 30% corn flour maize and fortified green bean flour 15% with parameters of protein content 9.26, ash content of 1.28%, fracture 23.09 N, moisture content 6.42% and the development volume of 15.01 cm³. Cookies adalah salah satu makanan ringan yang digemari oleh masyarakat indonesia, tetapi pada umumnya cookies hanya mempunyai keunggulan tinggi energi karena mengandung protein, serat dan provitamin A. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan substitusi parsial tepung terigu dengan tepung jagung pulut dan fortifikasi tepung kacang hijau yang terbaik pada pembuatan cookies Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor, dimana faktor satu adalah penambahan tepung terigu dengan tepung jagung pulut (0%), (15%), (30%), (45), dan faktor dua adalah fortifikasi tepung kacang hijau (5%, 10%, 15%). Seluruh kombinasi diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 36 sampel cookies. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik terdapat pada substitusi tepung terigu 60% dengan tepung jagung pulut 30% dan fortifikasi tepung kacang hijau 10% dengan parameter kadar protein 9,26, kadar abu 1,28%, daya patah 20 N, kadar air 6,42 % dan volume pengembangan 14,07 cm³.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN KUE PITA MENGGUNAKAN MOCAF (Modified Cassava Flour) Buru, Romika Jibrael; Santosa, Budi; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cake pita is a typical snack from East Nusa Tenggara, this snack is made by frying after batter is printed, pita cake is classified as a pastry made from flour, wheat flour contains a protein called gluten, this gluten protein is actually not good for human health. Because it is difficult to digest by the digestive system, so one is looking for low-protein sources mocaf. The purpose of this study was to analyze the business feasibility of making cake Pita with mocaf. The analytical study of the business of making cake pita with this mocaf source used calculations to find out the total investment costs and production costs needed. The calculated the calculation of Break Event Point (BEP), Basic of Production and Price of Selling (HPP), Revenue Cost Ratio (RCR). This research also tried to find out the profits both monthly and yearly term. The business analysis calculation results showed that the making of cake pita with mocaf source the HPP production was IDR . 6.325,00/ pack, the HPP sales with 15% interest was IDR 12,487,00/ pack. The BEP was IDR 88.728.000,00, andthe RCR 1,15 so that the business is feasible. Kue pita merupakan makanan kecil khas Nusa Tenggara Timur, di buat dengan cara di goreng setelah adanon dicetak, kue pita tergolong sebagai kue kering yang terbuat dari bahan baku terigu, terigu mengandung protein gluten sebenar nya tidak bagus untuk kesehatan manusia. Karena sulit di cerna oleh sistem pencernaan, sehingga di cari sumber rendah protein salah satunya adalah mocaf. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisa usaha pembuatan kue pita menggunakan mocaf. Penelitian usaha pembuatan kue pita menggunakan mocaf ini menggunakan perhitungan total biaya investasi dan biaya produksi yang dibutuhkan. Kemudian mencari perhitungan Break Event Point(BEP), Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan (HPP), Revenue Cost Ratio (RCR).Dan juga mencari keuntungan baik dalam jangka waktu bulanan dan tahunan. Hasil perhitungan menunjukkan pembuatan kue pita menggunakan mocaf layak diusahakan karena HPP produksi Rp . 6.325,00/bungkus, HPP penjualan dengan bunga 15% adalah Rp 12,487,00/bungkus. Dengan BEP Rp 88.728.000,00, dan RCR 1,15 sehingga usaha layak dijalankan.
Pengaruh Konsentrasi Gula dan Natrium Metabisulfit terhadap Mutu Manisan Nangka Kering(Artocarpus Heterophyllus) Kaka, Heleria Ambu; Ahmadi, KGS; Rozana, Rozana
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candied fruit is a products that is processed by adding sugar with the aim of giving it a sweet taste, and preventing the growth of microorganisms (fungi, yeasts, and bacteria), so that it can extend its storage time. The purpose of this study was to obtain the best concentration of sugar and sodium metabisulfite on the quality of candied dry jackfruit. This research used a Factorial Completely Randomized Design, the first factor was the concentration of sugar solution, with 3 levels, namely: 50%, 60%, and 70%. While the second factor was the concentration of sodium metabisulfite solution with 3 levels, namely: 100 ppm, 200 ppm, and 300 ppm. The results showed that the best treatment (60% sugar and sodium metabisulfi 200 ppm) with physicochemical parameters of water content (0.2758%), sugar content (0.0548%), yield (0.1055%) while organoleptic tests were obtained taste (4,1), aroma (3,8), color (3,8), and texture (3,9). Manisan adalah produk yang diolah dengan menambah gula dengan tujuan untuk memberi rasa manis, dan mencegah tumbuhnya mikroorganisme (jamur, khamir, dan bakteri), sehingga dapat memperpanjang daya simpan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh konsentrasi gula dan natrium metabisulfit yang terbaik terhadap mutu manisan nangka kering. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, Faktor pertama konsentrasi larutan gula, dengan 3 taraf yaitu : 50%, 60%, dan 70%. Faktor kedua adalah konsentrasi larutan natrium metabisulfit dengan 3 taraf yaitu: 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik (gula 60 % dan natrium metabisulfi 200 ppm) dengan parameter fisiko kimia kadar air (0,2758 %), kadar gula (0,0548 %), rendemen (0,1055 %), sementara uji organoleptik diperoleh rasa (4,1), aroma (3,8), warna (3,8), dan tekstur (3,9).
PENGGUNAAN PUPUK HAYATI DAN BOKASI PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill.) Tandu, Antonius; Agastya, I Made Indra; Widowati, Widowati
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the dosage combination of bocation fertilizer and biological fertilizer on soybean growth and yield. The research was conducted at Jalan Srigading, No. 01, Gading Kulon Village, Dau District, Malang Regency, East Java Province. The research began in March to May 2018, with altitude of ± 635 m above sea level. This study uses factorial Randomized Block Design (RBD) consisting of 3 replications. The treatment factor in this study consisted of two (2) factors, namely: Factor I is the Bocation Dosage (B) consisting of 3 levels, namely: B0 = Fertilizer dose is located 0 t/ha, (Control), B1 = Dosage of fertilizer is bocated 5 t/ha and B2 = bocation fertilizer dose 10 t/ha. Factor II is Biofertilizer (H) which consists of 2 levels, namely : H0 = Dosage of biofertilizer 0 kg/ha (Control) and H1 = Dosage of biological fertilizer 50 kg/ha. Variable observations are as follows: Plant height (cm), number of leaves (strands), number of branches (branches), number of pods (pods), total plant wet weight (g), total plant dry weight (g), weight of pods (g/pods) ), Seed yield weight (g/plant) and estimated yield (t/ha). The data obtained from the research results were analyzed statistically using the F test, if the results of the variance were significantly different (F count > F table 5%) or very significantly different (F count > F table 1%), then to compare the two treatment averages were tested continued with the Smallest Significant Difference test (LSD) level of 5%. The results showed that there was no interaction on the administration of biofertilizer doses and bocation doses on the growth and production of Grobogan soybean varieties. The best soybean production at the bocation dose of 10 t/ha was 3.10 t/ha, while the best biofertilizer dosage at a dose of 5 kg/ha was 3.02 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi dosis pupuk bokasi dan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan di Jalan Srigading, No. 01, Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Maret sampai dengan Mei 2018, dengan ketinggian tempat ± 635 m dpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas 3 ulangan. Faktor Perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari dua (2) faktor, yaitu : Faktor I adalah Dosis Bokasi (B) terdiri dari 3 taraf yaitu : B0 = Dosis pupuk bokasi 0 t/ha, (Kontrol), B1 = Dosis pupuk bokasi 5 t/ha dan B2 = Dosis pupuk bokasi 10 t/ha. Faktor II adalah Pupuk Hayati (H) yang terdiri dari 2 taraf yaitu : H0 = Dosis pupuk hayati 0 kg/ha (Kontrol) dan H1 = Dosis pupuk hayati 50 kg/ha. Variabel Pengamatan sebagai berikut Tinggi tanaman (cm), Jumlah daun (helai), Jumlah cabang (cabang), Jumlah polong (polong), Berat basah total tanaman (g), Berat kering total tanaman (g), Bobot polong (g/polong), Bobot hasil biji (g/tanaman) dan Estimasi hasil (t/ha). Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji F, apabila hasil ragam berbeda nyata (F hitung >F tabel 5%) atau berbeda sangat nyata (F hitung > F tabel 1%), maka untuk membandingkan dua rata-rata perlakuan dilakukan uji lanjutan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi pada pemberian dosis pupuk hayati dan dosis bokasi terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai varietas Grobogan. Produksi kedelai terbaik pada dosis bokasi 10 t/ha sebesar 3,10 t/ha, sedangkan dosis pupuk hayati terbaik pada dosis 5 kg/ha sebesar 3,02 t/ha.
EVALUASI ESTETIKA LASKAP PESISIR KAWASAN WISATA PANTAI KOKA MAUMERE FLORES NTT Putra, Alendro N. Djea M. L.; Alfian, Rizki; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Koka Maumere Beach Coastal Area is an area that has a variety of natural resources that can be developed into tourist objects and attractions. Koka Maumere Beach has the potential of natural resources, a distinctive and beautiful visual landscape with friendly locals, as well as the availability of natural objects and interesting cultural activities of local people in the coastal area of Koka Beach. With the tourism landscape planning, Koka Beach is expected to improve environmental quality, preserve natural resources, and preserve local culture, and increase the income of local communities. The purpose to be achieved through the research in question is to determine and assess the visual quality of the tourist area of Koka Beach based on the estimation of beauty. Based on the SBE value, Koka Beach in landscape 28 has the highest visual value of 71.786-171.164, medium, which is 40.624-67.855, and the lowest is 00.00-37,428. High beauty classification (T) has a blend of built and natural landscapes that create a landscape with cultural characteristics, moderate (S) beauty classification because sand and green vegetation give a shady and natural beach impression, and a low (R) beauty classification due to the coastal landscape less beautiful, thus reducing aesthetics. Kawasan Pesisir Pantai Koka Maumere merupakan kawasan yang memiliki beragam sumber daya alami yang dapat dikembangkan menjadi objek dan atraksi wisata. Pantai Koka Maumere memiliki potensi sumberdaya alam, visual lanskap yang khas dan indah dengan penduduk setempat yang ramah, serta tersedianya objek alam dan aktivitas budaya masyarakat lokal yang menarik di kawasan pesisir Pantai Koka. Dengan adanya perencanaan lanskap wisata diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan, melestarikan sumberdaya alam, dan melestariakan budaya lokal, serta meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian yang dimaksud adalah menentukan dan menilai kualitas visual kawasan wisata Pantai Koka berdasarkan pendugaan keindahan. Berdasarkan nilai SBE Pantai Koka pada lanskap 28 memiliki nilai visual tertinggi yaitu 71,786-171,164, sedang yaitu 40,624-67,855, dan terendah yaitu 00,00-37,428. Klasifikasi keindahan tinggi (T) terdapat perpaduan lanskap binaan dan alami yang menciptakan lanskap yang berkarakter budaya, klasifikasi keindahan sedang (S) dikarenakan hamparan pasir dan hijaunya vegetasi memberikan kesan pantai yang teduh dan alami, dan klasifikasi keindahan rendah (R) dikarenakan lanskap pantai yang kurang indah, sehingga mengurangi estetika.
MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN KOTA VELODROME GUNA MENINGKATKAN FUNGSI RUANG TERBUKA HIJAU Bete, Cornelio Rosalino Mau; Djoko, Riyanto; Alvian, Rizki
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urban Forests are areas covered by trees that are allowed to grow naturally which resemble forests that are not arranged like a park, and their location is in or around the city. This research took place in the Velodrome City Forest at Jln. Simpang Terusan Danau Sentani, Kecamatan, Kedung Kandang Malang City The data obtained will be analyzed using qualitative descriptive method, to find out the existing conditions in the form of physical, biophysical social with the City Forest management system related to the Planing Organizing, Actuating and Controling (POAC) aspects. Based on the results of the research conducted, it can be concluded in the Velodrome Urban Forest that several problems were identified, including the Housing and Settlement Area as a Velodrome City Forest Management not yet having a master plan, and the Velodrome Urban Forest management organization has not run properly according to its function and role, Housing Agency And the Poor Settlement Area has a special maintenance budget plan. From these problems there are several recommendations for several aspects, 1) Planning Aspects (Planing). there needs to be a Master Plan for planning the management of Velodrome Urban Forest and establishing a velodrome urban forest maintenance budget plan itself. 2) Organizing Aspects need to be redesigned in the organizational structure for Velodrome Urban Forest so that the organization is organized and organized. 3) Actuating aspects need an organization that regulates all Velodrome Urban Forest management activities. 4) Controlling activities, is the most important thing in an activity, it is necessary to add field officers to control all activities in the field so that all activities in the Velodrome Urban Forest can run smoothly. Hutan Kota adalah kawasan yang ditutupi pepohonan yang dibiarkan tumbuh secara alami yang menyerupai hutan tidak tertata seperti taman, dan lokasinya berada di dalam atau di sekitar perkotaan. Penelitian ini bertempat di Hutan Kota Velodrome di Jln. Simpang Terusan Danau Sentani, Kecamatan, Kedung Kandang Kota Malang Data yang didapat akan dianalisis menggunakan metode diskriptif kualitatif, untuk memgetahui kondisi eksisting yang berupa fisik, biofisik sosial dengan sistem pengelolaan Hutan Kota terkait aspek Planing Organizing, Actuating dan Controling (POAC). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan di Hutan Kota Velodrome terdapat beberapa permasalahan yang teridentifikasi diantaranya, Dinas Perumahan Dan Kawasan Permukiman sebagai pengelolah Hutan Kota Velodrome belum memiliki master plan, dan organisasi pengelolaan Hutan Kota Velodrome belum berjalan dengan baik sesuai fungsi dan perannya, Dinas Perumahan Dan Kawasan Permukiman belun mempunyai rencana anggaran pemeliharaan yang khusus. Dari permasalahan-permasalahan tersebut terdapat beberapa rekomendasi untuk beberapa aspek, 1) Aspek Perencanaan (Planing). perlu adanya Master Plan untuk perencnaan pengelolan Hutan Kota Velodrome dan menetapkan rencana anggaran pemeliharaan hutan kota velodrome itu sendiri 2) Aspek Organisasi (Organizing) perlu dirancang ulang struktur pengorganisasian untuk Hutan Kota Velodrome agar organisasinya terarah dan teratur. 3) aspek pelaksanaan (Actuating) perlu adanya organisasi yang mengatur seluruh kegiatan pengelolaan Hutan Kota Velodrome. 4) Kegiatan pengawasan (Controling), merupakan hal terpenting dalam suatu kegiatan, maka perlu ditambahkan petugas lapangan untuk mengotrol seluruh kegiatan dilapangan agar semua kegiatan di Hutan Kota Velodrome dapat berjalan dengan lancar.
PERANAN PENYULUH PERTANIAN PADA KELOMPOKTANI DALAM MENSUKSESKAN UPSUS PADI SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) DI KECAMATAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG (STUDI KASUS PADA KELOMPOKTANI UTAMA 1 DI DESA KEMIRI) Gori, Gregorius; Mutiara, Farah; Suwasono, Son
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The condition of Indonesia's food security in 2017 is getting worse, due to the shifting function of agricultural land in Indonesia. FAO (Food and Agriculture Organization) posted, Indonesia is on a serious level in the global hunger index. In 2015 the government wanted to repeat the golden period with a Special Effort Activity (UPSUS) to Increase Rice, Corn, Soybean (PAJALE) Production in 2015. The role of agricultural extension agents in the success of UPSUS PAJALE requires quality HR (Human Resources) as the main capital for become the actor or driver of development in an area. One of the systems carried out by the PAJALE UPSUS Program is SRI (system of Rice Intensification). SRI (System of Rice Intensification) is a rice cultivation technique that is able to increase rice productivity by changing the management of plants, soil, water, and nutrients. The purpose of this study is to describe the role of field agricultural instructors in applying the SRI (System of Rice Intensification) rice system in Kemiri Village, Kepanjen District, Malang Regency, the analytical method used is qualitative descriptive. The role of the field agriculture instructor (PPL) through the Soybean Maize Rice Special Program (UPSUS PAJALE) plays an important role in carrying out all program activities. This is seen in each of its roles, where the role of extension agents as facilitators is in terms of fostering members of farmer groups, the role of extension agents as organizers in each extension activity, the role of extension agents as dynamics namely in activating farmer group activities, the role of extension agents as technicians namely in extension provide technical knowledge, the role of extension agents as mediators, namely the information link aspect. Kondisi ketahanan pangan pada tahun 2017 ini semakin memburuk, dikarenakan beralih fungsinya lahan pertanian di Indonesia. FAO (Food and Agriculture Organisation) memposting, Indonesia berada di level serius dalam indeks kelaparan global. Pada tahun 2015 pemerintah ingin kembali mengulang masa emas itu dengan Kegiatan Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung, Kedelai (PAJALE) tahun 2015. Peranan penyuluh pertanian dalam mensukseskan UPSUS PAJALE membutuhkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas sebagai modal utama untuk menjadi pelaku atau penggerak pembangunan di suatu daerah. Salah satu sistem yang dilakukan Program UPSUS PAJALE yaitu SRI (system of Rice Intensification). SRI (System of Rice Intensification) adalah teknik budidaya tanaman padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air, dan unsur hara. Tujuan penelitian ini yaitumendeskripsikan peran penyuluh pertanian lapangan dalam menerapkan sistem padi SRI (System of Rice Intensification) di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Peran Penyuluh Pertanian lapangan (PPL) melaui Program Khusus Padi Jagung Kedelai (UPSUS PAJALE) ini sangat berperan di dalam melalukan seluruh kegiatan program. Hal ini dilihat dalam setiap perannya, sebagai organisator yaitu sebagai penyelenggara pada setiap kegiatan penyuluhan, peran penyuluh sebagai dinamisator yaitu dari segi mengaktifkan kegiatan kelompoktani, peran penyuluh sebagai teknisi yaitu segi penyuluh dalam memberikan pengetahuan teknis, peran penyuluh sebagai mediator yaitu segi penghubung informasi.
Peran Penyuluh Pertanian Dalam Upaya Untuk Meningkatkan Penggunaan Pupuk Organik Pada Padi Sistem Tanam JARWO (Jajar Legowo) Faizal, Ahmad; Mutiara, Farah; Masduki, Said
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is an agrarian country which means that most of the population works as farmers. In its development, Indonesian agriculture can be said to experience no change. This study aims to determine the efforts of extension workers in increasing the use of organic fertilizers in jarwo rice farming, and the level of participation of farmers in the use of organic fertilizers in the rice farming Jarwo. This study used qualitative research methods. The sample was a member of the Subur Jaya Farmer Group in Kenaman Village with 23 group members and 1 field agriculture instructor. Analysis of the data used in this study uses descriptive qualitative analysis. The results showed that extension agents had a role in increasing the use of organic fertilizers, and farmers participated in the acceptance of information submitted by Agents. Indonesia merupakan negara agraria yang memiliki arti bahwa sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Dalam perkembangannya pertanian Indonesia dapat dikatakan tidak mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya tenaga penyuluh dalam meningkatkan penggunaan pupuk organik dalam usaha tani padi jarwo, dan tingkat partisipasi para petani dalam penggunaan pupuk organik dalam usaha tani padi jarwo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Sampelnya adalah anggota Kelompok Tani Subur Jaya Desa Kenaman sejumlah 23 orang anggota kelompok dan 1 orang penyuluh pertanian lapang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskiptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh berperan dalam meningkatkan penggunaan pupuk organik, dan para petani berpartisipasi dalam penenerimaan informasi yang disampaikan oleh PPL.
APLIKASI PUPUK UREA DAN ZA UNTUK PERTUMBUHAN BIBIT CABE JAMU (Piper retrofractum Vahl.) Khairuddin, Khairuddin; Adisarwanto, Titis; Astutik, Astutik
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chili herbal nursery (Piper retrofractum Vahl.) Is a business opportunity that is quite promising because the demand for dried chili herbs is increasing and the production of traditional medicines or herbal medicines is not only consumed by the domestic community but also by foreign consumers. The nursery of herbal chilli plants in Indonesia is relatively low compared to its production potential. Urea and ZA fertilizers are two types of nitrogen-containing fertilizers (N). Part of the plant, nitrogen is one of the macro nutrients needed for its development. Plants need nitrogen for growth, especially in the vegetative phase where leaves, stems and branches grow. Nitrogen also plays a role in the formation of leaf green matter or chlorophyll, a component in leaves that plays a role in photosynthesis. The research was conducted at the Green House which was located on Jalan Tlagawarna Blog D Landungsari, Lowokwaru Subdistrict, Malang Regency. The study was conducted from March 2018 to June 2018. This study used factorial Randomized Block Design (RBD) consisting of 3 replications, the treatment factor in this study consisted of (2) factors, namely: Factor I was Type of fertilizer (P) consisting from 2 levels, namely: P1 = (Urea Fertilizer), P2 = (ZA Fertilizer). Factor II is Fertilizer dose (D) consisting of 3 levels, namely: D0 = 0 kg/ha-1 (Control), D1 = 50 kg/ha-1, D2 = 100 kg/ha-1 and D3 = 150 kg/ha-1. The observations were: plant height increase, number of leaves, increase in leaf area, increase in number of branches, stem diameter, wet weight of biomass and root wet weight, dry weight of biomass and dry weight of roots. The results of this study concluded that there was an interaction between fertilizer type and fertilizer dosage on parameters of plant height increase at age (4 weeks), increasing number of leaves at age (2, 6 and 8 weeks), leaf area at age (2 and 6 weeks), increase in number of branches at age (4 weeks), stem diameter at age (2 weeks) and dry weight of root dry weight. Fertilizers can be fertilized at a dosage of 50-100 kg/ha-1 in chili herbal medicine. Urea fertilizer is more suitable for nursery chilli herbs compared to ZA fertilizer Pembibitan cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) merupakan suatu peluang usaha yang cukup memberikan harapan karena permintaan cabe jamu kering semakin meningkat dan tenyata produksi obat atau jamu tradisional tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat dalam negeri tetapi juga oleh konsumen luar negeri. Pembibitan tanaman cabe jamu di Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan potensi produksinya. Pupuk Urea dan ZA adalah dua jenis pupuk yang mengandung nitrogen (N). Bagian tanaman, nitrogen adalah salah satu unsur hara makro yang dibutuhkan untuk perkembangannya. Tumbuhan membutuhkan nitrogen untuk pertumbuhannya terutama pada fase vegetatif dimana terjadi pertumbuhan daun, batang dan cabang. Nitrogen juga berperan dalam pembentukan zat hijau daun atau klorofil, komponen pada daun yang berperan dalam fotosintesis. Penelitian dilaksanakan di Green House yang bertempat di Jalan Tlagawarna Blog D Landungsari Kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan mulai Bulan Maret 2018 sampai dengan bulan Juni 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri atas 3 ulangan, faktor perlakuan dalam penelitian ini terdiri dari (2) faktor yaitu : Faktor I adalah Jenis pupuk (P) terdiri dari 2 taraf, yaitu : P1 = (Pupuk Urea), P2 = (Pupuk ZA). Faktor II adalah dosis Pupuk (D) terdiri dari 3 taraf, yaitu : D0 = 0 kg/ha-1 (Kontrol), D1 = 50 kg/ha-1, D2 = 100 kg/ha-1 dan D3 = 150 kg/ha-1. Adapun yang diamati yaitu : pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun, pertambahan luas daun, pertambahan Jumlah cabang, Diameter batang, berat basah Biomassa dan berat basah akar, berat kering Biomassa dan berat kering akar. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara jenis pupuk dan dosis pupuk terhadap parameter pertambahan tinggi tanaman pada umur (4 minggu), pertambahan jumlah daun pada umur (2, 6 dan 8 minggu), luas daun pada umur (2 dan 6 minggu), pertambahan jumlah cabang pada umur (4 minggu), diameter batang pada umur (2 minggu) dan berat basah berat kering akar. Pada pembibitan cabe jamu dapat dilakukan pemupukan dengan dosis 50-100 kg/ha-1. Pupuk Urea lebih sesuai untuk pembibitan cabe jamu dibandingkan dengan pupuk ZA.