cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2016)" : 13 Documents clear
PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN PADA PUSAT KOTA AMBON Metekohy, Elvira Florensia; Mononimbar, Windy; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Kota Ambon termasuk dalam SWP (Satuan Wilayah Pengembangan) 1 dengan satu kesatuan fungsional sebagai pemusatan fungsi pelayanan kota primer. Dengan memiliki potensi lahan datar yang relatif luas, sentral dalam arti memiliki akses tinggi keseluruh kota dan adanya kelengkapan prasarana dan sarana kota. Luas wilayah Pusat Kota adalah sekitar 4.259,67 Ha.Studi ini pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan tata guna lahan pada Pusat Kota Ambon. Sedangkan sasaran yang ditempuh adalah mengidentifikasi perubahan tata guna lahan pada Pusat Kota Ambon dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tata guna lahan pusat Kota Ambon sebagai pusat aktivitas perekonomian kota. Dengan menggunakan analisis overlay/superimpose dan analisis deskriptif kualitatif  dapat diketahui pada pusat Kota Ambon telah terjadi pertambahan kawasan terbangun dan dipengaruhi pula oleh adanya akitivitas pelabuhan di kawasan pusat kota. Hasil studi yang diperoleh menunjukan adanya keterkaitan hubungan faktor perubahan penggunaan lahan dapat dilihat dengan tersedinya kelengkapan infrastruktur dan utilitas kota dengan kondisi kawasan yang strategis sehingga ada kemudahan dalam pencapaian aksesibilitas oleh masyarakat mengingat peran aktivitas pelabuhan yang memberikan kontribusi besar dalam aktivitas perekonomian Kota Ambon. Hasil ini diharapkan dapat menjadi input bagi Pemerintah agar mengendalikan pembangunan di kawasan pusat kota dengan aturan-aturan yang lebih jelas, agar perubahan yang terjadi bisa terkendali dan sesuai dengan daya dukung lahan dan aturan yang ditetapkan. Kata Kunci :perubahan tata guna lahan, pusat kota
NILAI – NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM PERMUKIMAN NUMFOR DORERI DI PULAU MANSINAM Ihalauw, Yanter Frisan; Makarau, Vicky; Warauw, Fela
SPASIAL Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari catatan F.C. Kamma, bahwa orang Numfor berasal dari pulau dengan nama yang sama dan masih berkerabat dengan orang Biak. Mereka ini telah berabad-abad lamanya menempati pulau Biak dan Supiori, tetapi kemungkinan besar sebelum itu, mereka ini datang dari wilayah timur (Tanah Tabi dan Sanar) Kabupaten Jayapura Suku Numfor doreri merupakan suku yang berasal dari pulau biak Numfor. Sekitar abad 17 atau awal abad 18 terjadi peselisihan keluarga yang mengakibatkan perang saudara yang disebut mambri dikalangan masyarakat biak numfor. Dari sinilah timbul niat beberapa keluarga dari beberapa kampung di pulau Numfor untuk pindah mencari daerah baru. Permukiman suku Numfor Doreri berkembang mengikuti garis pantai dengan posisi rumah berada di daratan, Kebanyakan rumah tinggal masyarakat numfor doreri di pulau mansinam berdinding setengah tembok setegah kayu atau keseluruhan berdinding kayu dan menggunakan seng sebagai penutup rumah. Beberapa rumah tinggal didepannya terdapat pondok kecil yang menyerupai replika rumah adat, Biasanya Masyarakat setempat menyebutnya rumah pondok Berdasarkan struktur mata pencaharian utama penduduk, sebagian besar penduduk bermatapencaharian sebagai petani, peternak dan nelayan (45,5%). Sekitar 70 KK (37,4%) merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di berbagai instansi pemerintah baik sebagai aparat kampong, PNS di pemerintah Kabupaten Manokwari maupun PNS di pemerintah Provinsi Papua Barat. Sedangkan sebanyak 17,1% adalah buruh dan karyawan swasta. Organisasi Sosial Suku Numfor doreri di wadahi oleh kepala adat sebagai pimpinan Tertinggi, Kepala Adat mempunyai peranan tertinggi dalam  Keret/Fam/Marga dan peranan tersebut adalah sebagai hakim perdamaian yang berhak menimbang berat ringannya sanksi yang harus dikenakan kepada anggota suku. Selain itu kepala adat juga berperan dalam Perizinan dalam membangun rumah dan menentukan lokasi bermukim tiap keret agar tidak tercipta pertikaian antar sesama suku. Kearifan Lokal yang terdapat dalam Permukiman Numfor Doreri Yakni Pola permukiman, Pola Ruang dan Perilaku Bermukim, Struktur Ruang dan Lingkungan, Upacara adat, Tarian adat, Karakter Bangunan dan Motif Ukir. Dimana berdasarkan Ciri-ciri Kearifan lokal dalam permukiman Numfor Doreri Mampu bertahan terhadap budaya luar, Mempunyai kemampuan mengendalikan dan Mampu memberi arah terhadap perkembangan budaya.   Kata Kunci :Kearifan Lokal, Numfor Doreri, Mansinam
Kajian Model Penataan Muara Sungai Perkotaan Berbasis Mitigasi Bencana. Studi Kasus Muara Sungai Ranoyapo Kota Amurang Kabupaten Minahasa Selatan. Suriandjo, Hendrik S
SPASIAL Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan Kota Amurang sebagai jalur transit di topang oleh adanya rencana pengembangan pelabuhan Amurang yang lebih mempertegas ciri Amurang sebagai Kota Pantai. Daerah aliran sungai dan pesisir pantai sering dikategorikan sebagai daerah rawan bencana, karena peluang dan potensi terjadinya bencana banjir, penggerusan tanah dan pasang air laut, yang tentunya hal tersebut sering terjadi di muara sungai Ranoyapo. Dengan demikian, dalam penelitian ini penulis mencoba menemukan model penataan muara sungai perkotaan berbasis mitigasi bencana, yang dapat menjadi model prototype penataan kawasan sejenis. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan mengandung unsur kasualitatis (studi kasus) sehingga diarahkan pada pengembangan deskripsi lokasi kawasan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, data dikombinasikan dengan analisis SWOT untuk mendapatkan kekuatan, kelemahan, peluang dan kendala. Hasil penelitian ini menunjukkan perlu dikembangkan model yang berkaitan dengan aspek fisik dasar kawasan, perumahan dan permukiman, utilitas dan prasarana lingkungan, manajemen mitigasi bencana dan hukum serta pengelolaan pembangunan kawasan, karena penyebab menurunnya kualitas lingkungan kawasan muara sungai dan pesisir pantai disebabkan aspek –aspek tersebut secara keseluruhan masih merupakan potensi yang belum dikembangkan. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model-model yang ditemukan dalam penataan muara sungai berbasis mitigasi bencana sekaligus sebagai model prototype penataan kawasan sejenis ialah : (1) tanggul pengaman bantaran sungai, (2) jalur sirkulasi / jalan bantaran sungai, (3) konstruksi bangunan minimal 2 lantai, (4) peta mitigasi bencana, (5) menara pemantau banjir, (6) pintu air pengendali banjir, (5) menjadikan sungai sebagai bagian depan rumah / bangunan. Saran dalam penelitian ini ialah pengelolaan pembangunan kawasan perlu didukung oleh panduan pembangunan sebagai acuan dalam pengendalian pembangunan.   Kata Kunci : muara sungai, mitigasi, model prototype

Page 2 of 2 | Total Record : 13