cover
Contact Name
Eka Damayanti
Contact Email
sipakalebbi@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6285255104606
Journal Mail Official
eka.damayanti@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jalan HM Yasin Linpo No 36 Romang Polong Somba Opu Gowa Sulawesi Selatan
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
JURNAL SIPAKALEBBI
ISSN : 23554337     EISSN : 27162559     DOI : 10.24252/sipakalebbi
JURNAL SIPAKALEBBI is a scholarly journal published and funded by Pusat Studi Gender dan Anak (Center for Gender and Child Studies) LP2M Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. The journal publishes 2 issues each year regarding current issues in gender or child regionally or globally.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2019)" : 6 Documents clear
KEKERASAN PEREMPUAN DAN ANAK DALAM MEDIA DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA Sarifa Suhra
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.29 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.12183

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang kekerasan perempuan dan anak-anak di media dan upaya mengatasinya. Untuk memecahkan permasalahan dalam penulisan ini, penulis menggunakan pendekatan sosiologis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Data penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak paling rentan terhadap kekerasan, pelecehan fisik atau psikologis, eksploitasi, penganiayaan, dan korban perdagangan manusia, termasuk korban di media pemberitaan dan iklan. upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan di media harus berfokus pada pelaku dan korban kekerasan itu sendiri dengan memberinya nasehat dan terapi psikologis dan terapi medis untuk menghindari kekerasan individu juga berusaha menghilangkan kekerasan bagi korban, mengurangi frekuensi menonton televisi. yang menyiarkan kekerasan dan iklan sensual yang tampaknya mengeksploitasi perempuan atau tidak mempercayai berita sepihak yang dipublikasikan oleh surat kabar dan diberlakukannya sanksi hukum terhadap para pelaku.
URGENSI SINKRONISISASI HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA PERSPEKTIF PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK asni asni
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.297 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.11896

Abstract

Disahkannya Undang-undang Republik Indonesia No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan suatu langkah maju dalam perkembangan hukum perkawinan di Indonesia. Namun di lain sisi, perubahan yang hanya diarahkan pada batas usia nikah tampak belum optimal karena  masih banyak hal yang harus dibenahi dalam hukum perkawinan di Indonesia. Studi ini dikembangkan melalui penelitian hukum yuridis  normatif dengan menggunakan metode sinkronisasi hukum. Studi ini menemukan produk-produk hukum tentang perkawinan di Indonesia khususnya Undang-undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam perlu disinkronkan dengan produk-produk hukum lainnya seperti Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) serta Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT). Studi ini juga mengurai pentingnya asas-asas perlindungan anak dan perempuan, asas keadilan dan kesetaraan gender serta asas pencegahan kekerasan dalam rumah tangga untuk diakomodir dalam asas-asas perkawinan dalam pengembangan hukum perkawinan di Indonesia ke depan.Disahkannya Undang-undang Republik Indonesia No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan suatu langkah maju dalam perkembangan hukum perkawinan di Indonesia. Namun di lain sisi, perubahan yang hanya diarahkan pada batas usia nikah tampak belum optimal karena  masih banyak hal yang harus dibenahi dalam hukum perkawinan di Indonesia. Studi ini dikembangkan melalui penelitian hukum yuridis  normatif dengan menggunakan metode sinkronisasi hukum. Studi ini menemukan produk-produk hukum tentang perkawinan di Indonesia khususnya Undang-undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam perlu disinkronkan dengan produk-produk hukum lainnya seperti Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) serta Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT). Studi ini juga mengurai pentingnya asas-asas perlindungan anak dan perempuan, asas keadilan dan kesetaraan gender serta asas pencegahan kekerasan dalam rumah tangga untuk diakomodir dalam asas-asas perkawinan dalam pengembangan hukum perkawinan di Indonesia ke depan.
POLA PEMBINAAN AGAMA KOMUNITAS PEREMPUAN NELAYAN DI KABUPATEN SINJAI Syamsuddin Syamsuddin
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.206 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.11900

Abstract

Penelitian tentang ”Pola Pembinaan Agama Komunitas Perempuan Nelayan Di Kabupaten Sinjai” bertujuan untuk  menganalisis dan mendeskripsikan pola penataan agama pada usia bayi yang dilakukan perempuan nelayan  dan pola sosialisasi agama pada usia anak sekolah yang dilakukan perempuan nelayan di Kabupaten Sinjai. Sedangkan jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan strukutural fungsionalisme, adapun sumber data primer perempuan nelayan berstatus ibu rumah tangga, tokoh masyarakat dan  pemuka agama, teknik analisis data yang digunakan dengan menggunakan teori Miles and Hubermen.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Pola penataan agama pada usia bayi di lakukan pada masa kelahiran dengan penyambutan suara adzan dan qamat, memberikan ASI eksklusif dengan tenang santai, dan sabar, sembari menyanyikan ya belale dan salawat badar, pelaksanaan aqiqah sambil pemberian nama, 2). Pola sosialisasi agama pada usia anak sekolah yaitu mendidik melaksanakan  sholat, mengaji bahkan puasa, melakukan khitaman dan Upacara khatam al-Qur’an. Dengan demikian Pola penataan agama yang dilakukan perempuan nelayan agar berkualitas berlandaskan iman dan dakwah.
من بلاغة النظم القرآني في حديثه عن حقوق المرأة في القرآن الكريم Haniah Haniah
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.941 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.11898

Abstract

Perempuan di sebagian kawasan masih sering dianaktirikan dan tidak mendapatkan hak-haknya di ruang public. Alquran sebagai kitab hidayah bagi umat manusia dan pedoman hidup bagi umat Islam telah menempatkan perempuan pada posisi yang mulia dan memberikan hak-haknya. Alquran melukiskan hal ini dengan gaya bahasa yang indah sehingga terpatri dalam jiwa dan hati orang yang membaca dan mendengarkannya. Tulisan ini menggunakan analisis balagah dalam memaknai ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang hak-hak perempuan di ruang privasi dan ruang publik. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Alquran telah mengambarkan hak-hak perempuan dengan pilihan bahasa yang tepat, gaya bahasa yang indah dan mampu memberi pengaruh bagi yang membacanya.
TRANSGENDER DAN KONSEP DIRI (Studi Kasus Homoseksual di Makassar) Syamsidar Syamsidar; Fauziah Astrid
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.688 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.11512

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil riset yang didanai Litapdimas Kemenag RI. Tujuan riset ini untui mengetahui eksistensi transgender di Kota Makassar dan juga untuk mengetahui penyingkapan diri transgender di Kota Makassar. Metode yang digunakan yaitu penelitian ex post facto, yang menggambarkan dan menjelaskan fakta yang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Wawancara mendalam juga dilakukan untuk menggali informasi dari para informan. Hasilnya, para informan transgender melakukan penyingkapan diri yang sangat luas dan mereka juga sangat eksis dalam berbagai kegiatan sosial di masyarakat. Hal ini dipengaruhi oleh kesadaran spiritualitasnya karena mengakui bahwa Tuhan memberi dukungan pada pilihannya. Kedua, mereka memiliki kebebasan dengan cara menunjukkan ekspresi diri lebih bebas. Ketiga, mereka mampu bertanggungjawab dengan pilihan yang mereka lakoni.
BIAS GENDER DAN KEKERASAN DOMESTIK sakaruddin sakaruddin
JURNAL SIPAKALEBBI Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.89 KB) | DOI: 10.24252/jsipakallebbi.v3i2.11776

Abstract

Relasi gender mewujud sebagai diskursus “sengit” di banyak ruang akademik, ruang politik, dan di ruang kebudayaan. Aktor sentrisnya adalah dualitas entitas yang senantiasa didudukkan secara tidak berkeadilan. Laki-laki mengekspresikan dririnya sebagai symbol supremasi yang hegemonik dan perempuan ditampilkan sebagai figur yang tersubordinasi. Dalam kondisi ini, relasi gender dipandang sebagai kondisi yang timpang dan bias gender. Pertanyaan paling mendasar adalah dimana akar rizoma penyebab terjadinya bias gender dan kekerasan gender itu? Dalam perspektif teologis, khususnya teologi Kristen, bias gender bermula dari penghakiman secara sepihak bahwa Sitti Hawa lah sebagai aktor utama penyebab Adam jatuh ke bumi karena itu, memberinya sanksi adalah sebuah kepatutan. Stigma ekstrim yang dilekatkan ke Sitti Hawa adalah bahwa dirinya (perempuan) sebagai sumber dosa. Dalam teologi Islam, sejumlah kalangan (khususnya kelompok feminis Islam) juga menggugat beberapa teks-teks Islam yang dinilai seksis dan mensubordinasi perempuan.Di banyak kebudayaan, bias gender terpresentasi dalam berbagai variasi, bentuk, dan pola. Bias gender dapat ditelusuri mulai dari konstruksi bahasa/penamaan (gender marking), atributisasi yang bernuansa minor terhadap perempuan, perbedaan perlakuan hingga pada perbedaan akses terhadap berbagai sumberdaya yang teredia. Secara klasikal, bias gender lazimnya mengkonstruksi relasi yang rentan dan seringkali memicu kekerasan gender, atau spesifiknya kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan terhadap perempuan berlangsung di dua ranah sekaligus, di ranah privat dan di ranah publik. Tulisan ini hendak berkontribusi dengan induksi gagasan yang relevan atau korelatif dengan diskursus gender yang sudah diarusutamakan (mainstream) saat ini. Substansi narasi yang diketengahkan menyentuh aspek-aspek yang terkait dengan fenomena kekerasan gender, posisi perempuan dalam ruang kebudayaan (privat dan domestik), asal mula kekerasan gender hingga pada tawaran untuk mengakhiri kekerasan gender melalui fraternisasi antarsex.

Page 1 of 1 | Total Record : 6