cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2022)" : 4 Documents clear
Gambaran cone-beam computed tomography pada kasus Cleidocranial Displasia Efie Mariyam Nursari; Menik Priaminiarti; Bramma Kiswanjaya; Eva Fauziah; Hanna H Bachtiar-Iskandar
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.81954

Abstract

Cleidocranial dysplasia (CCD) merupakan kelainan herediter yang mempengaruhi tulang dan gigi serta diwariskan secara autosomal. Meskipun radiograf dua dimensi dapat memberikan informasi diagnosis CCD, namun memiliki keterbatasan distorsi geometrik dan superimposisi. Laporan kasus ini memaparkan dua kasus CCD yang berbeda dan mengevaluasi gambaran radiograf dengan menggunakan modalitas pencitraan Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) dengan tujuan untuk memberikan gambaran radiografis lengkap melalui CBCT sebagai salah satu alatpenunjang diagnosis yang memberikan rekonstruksi akurat, sehingga diharapkan dapat membantu dalam menegakkan diagnosis dan menentukan rencana perawatan. Dua orang pasien berusia dua belas dan sembilan tahun dikonsultasikan dari bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak untuk melakukan pemeriksaan pencitraan 3D CBCT. Temuan radiografik gigi multiple supernumerary di rahang atas dan bawah serta keterlambatan pertumbuhan gigi-gigi permanen pada kedua pasien, serta adanya kelainan tumbuh kembah pada struktur kranium, tulang-tulang wajah, maksila dan mandibula. CBCT mengatasi kelemahan atau kekurangan pada radiograf dua dimensi, khususnya evaluasi dalam arah bukolingual. Pencitraan 3D CBCT memungkinkan rekonstruksi yang akurat dan dari beberapa pandangan sagital, koronal dan aksial dari gigi supernumerari sehingga dapat dengan tepat menentukan jumlah, posisi, morfologi mahkota dan juga hubungannya dengan gigi permanen yang berdekatan sehingga memudahkan dalam menentukan rencana perawatan.
Kompatibilitas bahan implan tulang hidroksiapatit dan karbonat hidroksiapatit di jaringan lunak Dyah Listyarifah; Gloria Fortuna; Ryan Christian Pramuditya; Anne Handrini Dewi; Retno Ardhani
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.83547

Abstract

Karbonat hidroksiapatit (carbonated hydroxyapatite, CHA) memiliki osteokonduktivitas yang lebih baik daripada hidroksiapatit (HA). Secara in vivo, CHA lebih mudah larut daripada HA serta dapat meningkatkan konsentrasi lokal ion kalsium dan fosfat yang diperlukan untuk proses pembentukan jaringan tulang baru. Tes biokompatibilitas jaringan lunak diperlukan untuk setiap bahan implan karena ketika diaplikasikan ke dalam tubuh yang akan kontak dengan jaringan lunak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi biokompatibiltas CHA dan HA di jaringan lunak. CHA dan HA ditanamkan pada jaringan subkutan paravertebral dari 12 tikus Wistar jantan. Irisan histologis diwarnai dengan Hematoksilin Eosin. Kuantitas dan kualitas kapsul fibrosa serta jumlah sel raksasa benda asing (foreign body giant cells, FBGCs) dan nukleinya dievaluasi. Perbedaan modus kualitas dan kuantitas kapsul antara periode implantasi dianalisis dengan Kruskall-Wallis, sedangkan perbedaan modus antara bahan implan pada periode yang sama dianalisis dengan uji Wilcoxon. Rata-rata FBGCs dinilai dengan two-way ANOVA dengan interval kepercayaan 95% diikuti dengan uji-t berpasangan untuk menganalisis perbedaan rata-rata antara bahan dan uji-t sampel independen untuk menganalisis perbedaan rata-rata antara periode implantasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kuantitas dan kualitas kapsul setelah implantasi CHA dan HA pada periode yang sama dan antar periode (p ≥ 0,05). Jumlah FBGCs di CHA setelah 14, 21, 28 hari implantasi secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan HA, akan tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah nuklei FBGC antara implantasi HA dan CHA. Kesimpulan studi ini menunjukkan bahwa CHA lebih biokompatibel daripada HA, terutama pada fase subkronik.
Pengaruh ekstrak biji pepaya (Carica papaya Linn) terhadap tingkat inflamasi gingivitis (studi in vivo pada Rattus norvegicus) Suryono Suryono; Muhammad Reza Pahlevi; Nisaul Afifah; Prayitno Prayitno
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.83698

Abstract

Gingivitis adalah peradangan gingiva yang disebabkan oleh akumulasi plak subgingiva. Plak akan meningkatkan aktivitas sel fagosit dan mediator inflamasi. Infiltrasi sel inflamasi terutama neutrofil polimorfonuklear akan menyebabkan inflamasi yang dapat diamati secara klinis. Indeks gingiva menunjukkan derajat inflamasi pada gingivitis. Penurunan indeks gingiva dapat disimpulkan sebagai penyembuhan peradangan. Pengobatan gingivitis adalah scaling, root planning, dan terapi obat anti inflamasi non steroid (NSAID). Terapi menggunakan NSAID merupakan upaya untuk memodulasi respon host pada inflamasi. Biji pepaya dapat digunakan untuk memodulasi respon inang karena mengandung flavonoid, saponin, dan polifenol yang memiliki efek antiinflamasi, antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak biji pepaya terhadap derajat inflamasi pada gingivitis tikus wistar. Tiga puluh ekor tikus wistar dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan tiga kelompok ekstrak biji pepaya dengan konsentrasi 0,2%, 2% dan 20%. Gingivitis diinduksi dengan menempatkan ligatur sutera retentif plak pada gigi seri mandibula dan Aggregatibacter actinomycetemcomitans inokulasi sulkus gingiva. Ekstrak diterapkan dua kali sehari. Tikus didekapitasi pada hari kedua dan kelima kemudian dibuat preparat histologi fragmen gingiva. Perbedaan yang signifikan diamati pada indeks gingiva antara kelompok perlakuan dan kontrol negatif. Penelitian ini juga menemukan penurunan indeks gingiva setelah perawatan dengan ekstrak biji pepaya. Kemudian disimpulkan bahwa ekstrak biji pepaya dapat menghambat inflamasi dan menurunkan derajat inflamasi pada gingivitis tikus wistar.
Faktor dalam swamedikasi antibiotika untuk penanganan penyakit periodontal oleh masyarakat di Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta Mayu Winnie Rachmawati; Dhienda Hastinesya; Aryan Morita; Nunuk Purwanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.83747

Abstract

Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit ronggal mulut dengan prevalensi yang relatif tinggi di Indonesia yaitu 60%. Salah satu hal yang dilakukan untuk mengatasi penyakit tersebut di masyarakat adalah swamedikasi antibiotika. Swamedikasi didefinisikan sebagai upaya pengobatan menggunakan obat-obatan yang dibeli baik di apotek maupun toko obat tanpa konsultasi dan resep dokter. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi faktor swamedikasi antibiotika pada pengobatan penyakit periodontal oleh masyarakat di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional deskriptif dengan menggunakan purposive sampling. Jumlah responden sebanyak 195 orang yang memiliki pengalaman menderita penyakit periodontal dan melakukan swamedikasi antibiotika. Datadiperoleh melalui kuesioner yang didistribusikan secara online.Hasil menunjukan bahwa perempuan memiliki kecenderungan melakukan swamedikasi lebih tinggi (44,6%) dibandingkan laki-laki. Sementara kelompok usia 17-25 tahun (52,8%) dengan pendidikan terakhir SMA (69,2%) lebih banyak melakukan swamedikasi. Ditinjau dari pekerjaan dan pendapatan, kelompok pelajar (53,8%) dan kelompok dengan pendapatan lebih dari 2 juta per bulan (20,5%) banyak melakukan swamedikasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 4