cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2011): December" : 18 Documents clear
Terapi Kombinasi Root Debridement dan Antibiotik terhadap Periodontitis Agresif Dahlia Herawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4440.762 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15426

Abstract

Latar Belakang. Kerusakan periodontal yang signifikan secara klinis selama dewasa atau awal masa dewasa dikenal sebagai periodontitis agresif. Perawatan standar scaling dan root planing sering kurang memuaskan hasilnya sehingga perlu mempelajari periodontitis agresif secara tuntas dan terapi yang harus diberikan sehingga perawatan bisa memberikan hasil yang optimal. Tujuan. Untuk mengupas tentang periodontitis agresif agar bisa menegakkan diagnosis, serta mendapatkan hasil yang optimal dalam perawatannya. Ringkasan Pembahasan. Gigi goyah disebabkan oleh sedikit atau rapuhnya tulang alveoler pendukung gigi sehingga gigi tidak bisa menjalankan fungsinya. Periodontitis agresif menyerang seseorang, diketahui oleh dokter gigi sering tidak dari awal, akan tetapi setelah penyakit tersebut berlanjut. Skrening melalui foto Rontgen pada penderita periodontitis usia awal dewasa berguna untuk mengetahui secara dini periodontitis agresif. Pada perawatan regeneratif dengan mengganti tulang alveoler yang hilang, terlebih dahulu menghentikan aktivitas periodontitis agresif, yaitu dengan memberikan antibiotik dikombinasi dengan root debridement baik secara bedah maupun non bedah. Kesimpulan. 1. Mengenali dan merawat periodontitis agresif secara dini dapat mencegah kerusakan jaringan periodontal yang berat. 2. Perawatan periodontitis agresif terutama mengeliminir bakteri dengan kombinasi tindakan mekanis root debridement dan pemberian antibiotik yang tepat dalam jagka waktu yang cukup secara konsisten. 3. Pemberian antibiotik sebaiknya berdasarkan tes laboratorium bakteri resiten. Background. Periodontal destruction is clinically significant during adulthood or early adulthood is known as aggressive periodontitis. Nursing standard scaling and root planing is often less satisfactory result, so need to study of periodontits aggressive thoroughly and therapy should be given so that treatments can provide result that optimal. The Purpose. To investigated the aggresive periodontitis in order to establish the diagnosis, and obtain optimal results in treatment. Summary of Discussion. Wobbly tooth caused by a slightly or bone fragility alveoler supporting the teeth so the teeth can not perform its function. Aggressive periodontitis someone attack, is is known by dentist often not from the beginning, but after the disease continues. Screening through X-ray in periodontitis someone attack, it is known by dentists often not from the beginning, but after the disease continues. Screening through X-ray in periodontitis patients with adult early age is useful to know early aggresive periodontitis. In the regenerative treatment by replacing the lost bone alveoler, first stop the activities of aggresive periodontitis, namely by giving antibiotics combination with root debridement either surgery or non surgical. Conclusion. 1. Recognizing and treating aggressive periodontitis early can prevent severe damage to periodontal tissues. 2. Treatment of aggressive periodontitis, especially action to eliminate the bacteria with a combination of mechanical root debridement and giving appropriate antibiotics within a sufficient period of time is concictently. 3. The given antibiotics should be based on laboratory tests of resistant bacteria.
Perawatan Ameloblastoma Rekuren dengan Metode Dredging R. Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3444.163 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15413

Abstract

Latar belakang. Ameloblastoma dapat menyebabkan kerusakan pada tulang wajah baik pada maksila maupun mandibula. Tumor ini dapat mengalami rekurensi apabila perawatan tidak sempurna. Reseksi pada tulang yang terkena adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk perawatan tumor ini. Tindakan ini dapat menyebabkan gangguan maloklusi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan tulang rahang bila dilakukan pada anak-anak dan remaja, gangguan estetika, dan berdampak psikologis. Oleh karena itu tindakan alternatif dalam perawatan ameloblastoma adalah dengan metode dredging. Tujuan laporan kasus ini menjelaskan perawatan metode dredging pada rekuren ameloblastoma pada penderita laki-laki usia dua puluh tujuh tahun sehingga dapat menghilangkan dampak psikologis dari penderita. Kasus. Penderita laki-laki usia dua puluh tujuah tahun dengan keluhan benjolan dalam mulut, tidak terasa sakit, dan merasa bertambah besar. Terdapat asimetri wajah di sebelah kanan, tidak ada perubahan warna kulit. Penderita mengaku pernah dioperasi tujuh tahun yang lalu. Pada pemeriksaan intra oral didapatkan benjolan pada mandibula di daerah bukal dari daerah gigi 42 sampai 46. Pada palpasi terasa ada fluktuasi, rasa sakit ringan dan warna mukosa normal. Pada gambaran foto panoramic terlihat area radiolusen dengan batas jelas dari daerah 42 sampai 46 dengan melibatkan aspek dari gigi 42 dan 43. Dari hasil biopsi dan pemeriksaan patologi anatomi dinyatakan sebagai ameloblastoma unikistik tipe folikuler. Penatalaksanaan. Dredging dikerjakan dengan melakukan defleksi pada lesi enukleasi dan kuretase. Pada bulan kedua perawatan tindakan tersebut diulangi dan dilakukan pemeriksaan histopatologis. Tindakan tersebut diulang pada bulan kelima dan diulang kembali setiap tiga bulan sampai dinyatakan terbebas dari sel tumor. Kesimpulan. Telah dilakukan dredging pada penderita rekuren ameloblastoma dengan hasil cukup memuaskan dan dilakukan pengamatan yang berlanjut. Background. Ameloblastoma can destruct the facial bones both the maxilla and mandible. The appearance of recurrent tumor is occured if the tumor is not totally removed. The resection of the affected bone is the common treatment of the tumor. These treatment lead complications such as malocclusion, abnormaldental and jaws development especially in children and adolescents, aesthetic problems, and psychological depressions. Therefore, the alternative treatment of it tumor is dredging method. Objection. This case report describe that dredging method treatment on recurrent ameloblastoma on male patient aged twenty seven years old, can eliminate patients’s psychological depressions. Case. Male patient aged twenty seven years old has a lump problem in mouth, painless, and has progressive enlargement, asymmetry on the right face, no change in skin color. Patients admitted to surgery seven years ago. On intra oral examination found a lump in the mandible in buccal area of the tooth 42 to 46. On palpation examination, there were fluctuations, mild pain and normal color mucosa. The panoramic photograph was found radiolucent area with clear boundaries of the region 42 to 46 by engaging aspect of teeth 42 and 43. The results of hispathology examination assessed a unicystic amelobastoma follicular type. Treatment. Dredging method was done by performing enucleation and consecutive curettage. Second month after the first treatment, the enucleation and the curettage was repeated then need histopathological examination. The treatment was repeated again in fifth month after the first treatment repeated every three months until histopathological examination declared free of tumor cells. Conclusion. Dredging has been performed on two patients with ameloblastoma with satisfactory results and continued observation.
Perawatan Kandidiasis Pseuodomembran Akut dan Mukositis Oral pada Penderita Kanker Nasofaring yang Menerima Khemoterapi dan Radioterapi S. Supriatno; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4276.369 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15421

Abstract

Latar belakang: Terapi radiasi merupakan metode primer perawatan pasien kanker leher dan kepala. Perubahan funsional dan kerusakan jaringan oral menyebabkan timbulnya mukositia oral yang diikuti dengan kandidiasis oral. Tujuan: Melaporkan efek samping perawatan khemoterapi dan radioterapi pada pasien kanker nasofaring yang terjadi di rongga mulut berupa kandidiasis pseudomembran akut dan mukositis oral serta penatalaksanaannya. Kasus: Seorang laki-laki, 69 tahun, datang ke Bagian Gigi dan Mulut RSUP Dr. Sardjito, atas rujukan dari instalasi Penyakit Dalam., RSUP Dr. Sardjito, dengan keluhan sakit untuk menelan makanan dan mulutnya banyak bercak-bercak putih. Keluhan dirasakan satu minggu setelah dilakukan khemoterapi ke-3 dan radioterapi ke-9. Pasien didiagnosa kanker nasofaring (NPC) dengan klasifikasi T2N3M0. Pemeriksaan klinik menunjukkan adanya lapisan putih pada mukosa lidah, pipi, palatum, dan mukosa bibir. Seluruh mukosa mulut berwarna merah tua dan terdapat anguler cheilitis di kedua sudut bibir. Pasien diklasifikasikan menderita mukositis oral derajat 1. Penatalaksanaan: Menghilangkan jaringan nekrotik dan debris dengan berkumur larutan perhidrol 3% dan pemberian medikasi termasuk tablet nistatin 500.000 IU, betadin kumur, dan larutan perhidrol 3% selama 1 minggu. Saat reevaluasi, pasien sudah dapat menelan dan makan yang sedikit keras tanpa ada rasa sakit lagi. Pemeriksaan klinis didapatkan bercak putih di lidah, palatum, pipi dan bibir sudah tidak ada. Warna mukosa oral telah normal, OHI dan kondisi umum baik dalam 1 minggu pasca perawatan. Kesimpulan: Perawatan kandidiasis dan mukositis oral akibat kemoradioterapi pada pasien kanker nasofaring telah berhasil dan kondisi oral membaik. Pasien dapat mengunyah dan menelan makanan tanpa ada rasa sakit, dan hasil pengobatan yang diberikan pada pasien sesuai dengan harapan operator. Background: Radiation therapy remains the primary method of treatment for patients with head and neck cancer. The tissue destruction and functional alterations in the oral cavity lead to the development of oral mucositis followed by oral candidiasis. Purpose: The aim of study was to report the side effect of chemotherapy and radiotherapy treatment of nasopharyng cancer patient included acute pseudomembran candidiasis and oral mucositis, and its treatment. Case: 69 year old man, came to dental clinic, Sardjito hospital, as refered from Internal Medicine department, Sardjito hospital, with complained painful for food swallowing and found white spots at oral cavity. Chief complaint was detected one week after third chemotherapy and nine radiotherapy treatments. Nasopharyng cancer was diagnosed with T2N3M0 clasifiacation. Clinical examination showed white spots at tongue, buccal, palatal and lip mucosa. All of oral mucosa coloured bright-red and anguler cheilitis appeared at both lip angle. Patient was clasified (by WHO) to have oral mucositis with level 1. Management: removal of necrotic tissue and debris using perhidrol 3% solution, and also medication by nistatin tablet 500.000 IU, betadin gargle, and perhidrol 3% solution for 1 week. In control, patient feeled comfortable while food swallowing and could eat a slightly hard food without pain. Clinical examination revealed that white spot at tongue, buccal, palatal and lip mucosa was disappeared. Normal colour was found at all of oral mucosa. Also, oral hygiene and general condition were good in 1 week post treatment. Conclusion: Treatment of acute pseudomembran candidiasis and oral mucositis caused by chemotherapy and radiotherapy of nasopharyng cancer patient was recovered. Patient could chew and swallow of food without painful, and results of treatment to this pastient gave us a satisfied.
Pemakain Lip Bumper pada Anak Cerebral Palsi dengan Kasus Drooling, Inkompetensi Bibir dan Kebiasaan Menggigit-gigit Bibir Bawah Ani Subekti; Indah Titien
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4648.142 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15402

Abstract

Latar Belakang. Anak yang menderita cerebral palsi pada umumnya mempunyai keluhan ketidakmampuan dalam pengontrolan saliva dalam rongga mulutnya. Pada kondisi tersebut penderita mengalami ketidaknormalan dalam koordinasi neuromuscular pada lidah, bibir dan pipinya, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan drooling. Kebiasaan buruk menggigit-gigit bibir bawah yang terjadi pada anak ini menimbulkan problem inkompetensi bibir. Pendekatan perawatan myofungsional dapat meningkatkan torus otot bibir dan lidah, dan sebisa mungkin menahan posisi lidah tetap di dalam mulut dengan suatu hal yang dinamakan lip bumper. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan bahwa pemakaian alat lip bumper dapat mengurangi drooling, inkompetensi bibir dan kebiasaan menggigit-gigit bibir bawah pada anak cerebral palsi. Kasus. Seorang anak laki-laki siswa SLB 1 Bantul dengan kelainan cerebral palsi dilakukan pemeriksaan rutin kesehatan gigi. Tampak gigi protusif dengan bibir inkompetensi. Setelah wawancara dengan pengasuh, anak tersebut mempunyai drooling yang berlebihan dan sering menggigit-gigit bibir bawah. Perawatan yang dipilih adalah menggunakan alat removabel lip bumper. Lip bumper dipakai pada siang hari selama 2 jam dan malam hari pada waktu tidur. Kesimpulan. Setelah 3 bulan terjadi pengurangan drooling, kebiasaan menggigit-gigit bibirnya hilang dan inkompetensi bibir berkurang. Background. Children with cerebral palsy generally have a complaint inability to control saliva in the oral cavity. In these conditions the patient has an abnormality in neuromuscular coordination of the tongue, lips and cheeks, where it can cause drooling. Myofungsional treatment approaches can improve muscle tone lips and tongue, and as much as possible to hold the position of the tongue remains in the mouth with a tool called a lip bumper. Purpose. The purpose of this case report is to report that the use of lip bumper can reduce drooling, incompetency lips and biting his lower lip in child’s cerebral palsy. Case. A young male student SLB 1 Bantul with abnormalities of cerebral palsy do routine dental examination. He has lip incompetence and protusif. After the interview with the caregiver, the child has excessive drooling and often lower lip biting. The selected treatment is to use a lip bumper. Lip bumper used during the day for 2 hours and at night at bedtime. Conclusion. After 3 months of a reduction of drooling, lip biting missing and reduce of incompetency lips.
Peran Bahan Disinfeksi pada Perawatan Saluran Akar Ema Mulyawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4874.977 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15427

Abstract

Latar Belakang: Ada bermacam sebab kegagalan perawatan saluran akar, antara lain preparasi saluran akar yang kurang, obturasi saluran akar yang tidak adekuat dan mikoorganisme. Di antara faktor-faktor tersbeut, mikroorganisme baik yang tersisa setelah perawatan saluran akar atau yang timbul setelah obturasi saluran akar merupakan faktor utama penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Tujuan utama perawatan saluran akar adalah mendisinfeksi saluran akar, peran dan mencegah terjadinya reinfeksi. Tujuan penulisan ini adalah untuk membahas bermacam-macam bahan disinfeksi saluran akar, peran dan manajemennya pada prosedur perawatan saluran akar. Ringkasan Pembahasan: Bahan irigasi yang ideal adalah bahan yang mempunyai sifat antimikroba, mampu melarutkan jaringan lunak atau organik, mampu melarutkan smear-layer, tegangan permukaan rendah, toksisitasnya rendah. Kesimpulan: Pemilihan dan penggunaan bahan disinfektan yang tepat mempengaruhi keberhasilan perawatan saluran akar. Sodium hipoklorit merupakan bahan disinfektan saluran akar yang utama dan tidak dapat digantikan bahan lain. Untuk mendapatkan hasil terbaik dalam perawatan saluran akar kita memerlukan empat jenis bahan disinfeksi yaitu sodium hipoklorit, EDTA, Ca(OH)2 dan chlorhexidine. Background: many factors causes root cana treatment failure, such as the lack of root canal preparation, in adequate root canal obturation and miccroorganism. Of these factors, microorganism, either remaining in the root canal space after treatment or recoloring in the obturated canal system, are arguably the main cause of root canal treatment failure. The primary goals of root canal treatment are root canal disinfection and re-infectuion prevention. Purpose: The aim of this study was to discuss the various, the role and the management of root canal disinfectans on root canal treatmnet procedure. Summary of Discussion: The ideal irrigation are materials that have anti microbial properties, capable of dissolving the soft tissue or organic, capable of dissabling the smear-layer, low surface tentio, and low toxicity. Conclusion: The proper disifectant will influence the succesfull of root canal treatment. Sodium hypochlorite is the main root canal disinfectants that cannot replace with others. For the best result on root canal treatment we use four kinds of root canal disinfectans namely sodium hypochlorite, EDTA, Ca(OH)2 and chlorhexidine.
Perawatan Maloklusi Pseudo Kelas III dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Robertus Meidiyanto; Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3084.574 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15414

Abstract

Latar Belakang: Maloklusi Pseudo kelas III ditandai dengan hubungan yang tidak harmonis antara relasi anteroposterior rahang dan posisi mandibula terhadap maksila. Ketidakharmonisan tersebut dapat disebabkan karena mandibula yang normal dengan maksila retrusif. Maloklusi pseudo kelas III mempunyai perhitungan yang menunjukkan bentuk antara klas I dan skeletal klas III. Perbedaanya hanya pada sudut gonial dimana pada skeletal klas III sudutnya lebih tumpul, sedangkan pada sampel pseudo klas III, sudut gonial lebih mirip dengan klas I. Perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg dapat juga untuk merawat maloklusi Angle kelas III, termasuk maloklusi skeletal yang menyertainya. Tujuan: memaparkan perubahan dental dan skeletal setelah perawatan dengan alat cekat teknik Begg. Kasus: perempuan 20 tahun mengeluhkan gigi-gigi rahang atas ada yang tumbuh di belakang dan rahang bawah nyakil sehingga menganggu penampilan dan mengurangi rasa percaya diri. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas III subdivisi serta hubungan skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula protusif disertai Crossbite: 12, 11, 21, 22 terhadap 34, 32,31, 41, 42, 43. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa pencabutan. Kesimpulan: Hasil menunjukkan crowded terkoreksi, overjet dan overbite terkoreksi, relasi molar menjadi klas I. Background: Pseudo class III malocclusion characterized by disharmony between anteroposterior relationship of jaw and mandibulae position toward maxilla. This disharmony cause by normally shaped mandibles and underveloped maxillae. Pseudo clas III malocclusion is an intermediate form between class I and skeletal clas III malocclusion. The only exception was the gonial angle, which was generally more obtuse in the skeletal class III sample. Measurement of gonial angle in the pseudo class III sample was found to be rather similar to class I sample. Fixed Begg orthodontic appliance can be used to treat Angle’s class III malocclusion accompany with skeletal problem. Purpose: to describe dental and skeletal changes after begg fixed orthodontic. Case: 20 year old woman complained of crowded maxilla front teeth and mandible protrusion. Diagnosis: malocclusion Angle class III subdivision, skeletal class III with maxilla retruded and mandibular pronation along with anterior crossbite: 12, 11, 21, 22, to 34, 32, 31, 41, 42, 43. Treatment: using the Begg fixed appliance techniques without extraction. Conclusion: The result showed that crowded, overjet and overbite corrected, and molar relation become class I.
Incision Below The Clamp sebagai Modifikasi Teknik Insisi pada Frenektomi untuk Minimalisasi Perdarahan S. Suryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3125.753 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15422

Abstract

Latar Belakang. Perlekatan frenulum tinggi berdampak merugikan bagi jaringan periodontal maupun fungsi estetik. Perlekatan tinggi yang terjadi pada labialis superior, menimbulkan gingivitis dan sentral diastema yang menjadikan indikasi untuk dilakukan frenektomi. Frenektomi dengan teknik melakukan insisi di atas dan di bawah clamp berakibat lebarnya luka karena tarikan otot bibir, yang berdampak terjadi banyak perdarahan. Tujuan. Melakukan evaluasi terhadap modifikasi teknik insisi yang diharapkan dapat mengurangi perdarahan. Kasus dan Penanganan. Laporan kasus ini memaparkan penanganan kasus pada perlekatan frenulum tinggi yang diikuti adanya sentral diastema. Pasien dengan diagnosa frenulum tinggi dan indikasi frenektomi dilakukan tindakan preoperasi. Tindakan operasi dilakukan dengan menggunakan pisau bedah, modifikasi insisi (Insision below the Clamp) dilakukan dengan cara menempatkan clamp frenulum pada posisi yang berdekatan dan sejajar dengan bibir, tindakan insisi dilakukan di bawah clamp, disusul dengan penjahitan pada area mucolabial fold. Selama operasi dilakukan terlihat luka tidak melebar, tidak banyak darah yang keluar, pasien dan dokter merasa nyaman. Kesimpulan. Insision below the Clamp merupakan modifikasi teknik insisi pada frenektomi yang bisa dilakukan oleh para praktisi untuk meminimalisir perdarahan yang terjadi selama proses pengambilan frenulum dengan menggunakan pisau bedah. Background. Attachment of high frenulum has negative impact on periodontal tissues as well as an aesthetic function. High attachment of frenulum that occurs in labialis superior, causing gingivitis and central diastema that are indications to do Frenectomy. Conventional techniques of Frenectomy performed with insisions above and below the clamp resulted in wide injury due to muscle contraction, which affects a lot of bleeding. Objective. To evaluate modification insision technique which hopefully can minimize the bleeding. Case and Treatment. This case report describes the handling of cases at high frenulum attachment that followed the central diastema. Patients with a diagnosis of high frenulum attachment and frenectomy indications be taken preoperatively, Surgery performed by using a scalpel, modification insision (Insision below the Clamp/IBC) is done by placing the clamp frenulum in a position adjacent and parallel to the lip, the insision carried out under the clamp, followed by suturing at the mucolabial fold. During the operation carried no visible wound widened, little of bleeding, patients and physicians are comfortable. Conclusion. IBC is a modification on frenectomy insision technique that can be done by general practitioners to minimize bleeding that occurs during frenectomy by using a scalpel. 
Perawatan Ortodontik Kaninus Kiri Maksil Impaksi di Daerah Palatal dengan Alat Cekat Teknik Begg E. Emil; Prihandini Iman
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3828.31 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15407

Abstract

Latar Belakang: ketidakharmonisan ukuran rahang dengan gigi merupakan salah satu bentuk etiologi maloklusi yang diturunkan dan akan mempengaruhi susunan dan posisi gigi di dalam rahang. Impaksi gigi seperti molar ketiga atau gigi kaninus sering kita temui akibat tidak adanya ruang untuk gigi tersebut erupsi dan menyusun diri di dalam lengkung yang baik. Gigi kaninus memiliki peran penting di dalam mulut, selain untuk mastikasi, gigi ini juga memiliki peran menentukan dalam estetika susunan gigi. Senyum yang menarik tidak akan didapatkan tanpa adanya gigi kaninus di dalam lengkung. Kasus impaksi kaninus dapat dirawat menggunakan teknik Begg dengan proses windowing yang dilakukan oleh ahli bedah mulut. Tujuan: membantu erupsi gigi kaninus dengan bantuan alat orto cekat teknik Begg. Kasus: laki-laki 19 tahun mengeluhkan gigi depan rahang atas protusif langit-langit tergigit oleh gigi depan rahang bawah. Diagnosis: maloklusi Angle kelas II dengan hubungan skeletal kelas I disertai kondisi berjejal di daerah anterior dan gigitan dalam. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg dan windowing dengan pencabutan dua premolar pertama rahang atas serta prosedur windo. Kesimpulan: hasil menunjukkan gigi kaninus kiri rahang atas dapat erupsi dengan baik dan bisa diposisikan ke dalam lengkung dalam 5 bulan. Background: Discrepancy in size between jaw and teeth is one of the etiology factor of malocclusion that genetically inherited and will affect teeth allignment and position within the jaw. Third molar and canine impaction frequently found because there is not enough space for theme to erupt and align themselfes in a good alignment. Canine have an important role in mastication as it is in facial aesthetic. Canine impaction can be treated with Begg technique and windowing process performed by oral surgeon. Purpose: to help impacted canine to erupt using fixed Begg appliance technique and windowing process. Case: 19 years old man complained of crowded front teeth. Diagnosis: malocclusion Angle class II, skeletal class I with crowding and deepbite on anterior segment. Treatment: using the Begg fixed appliance and windowing techniques with the extraction of two maxillary first premolars. Conclusion: the result showed that maxillary right canine erupted and can be adjusted within the line of occlusion in 5 months.

Page 2 of 2 | Total Record : 18