cover
Contact Name
Wakhidah Kurniawati
Contact Email
ruang@live.undip.ac.id
Phone
+6224-7460054
Journal Mail Official
ruang@live.undip.ac.id
Editorial Address
Gedung A lantai 3, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, Jl. Prof Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18583881     EISSN : 23560088     DOI : 10.14710/ruang
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2017): Ruang" : 5 Documents clear
Kauman Kampung Qur’an Sebagai Kawasan Wisata Edukasi Religius Di Kota Semarang Rina Kurniati; Kartika Yuliani
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.%p

Abstract

Kauman is a historic kampung in Semarang and historically inhabited by the Java community is Muslim. Characteristic of Kauman with the number of ‘santri’ as the center of Semarang in the past. Mosque Kauman Semarang as a center of Islamic religion also has an important role in the development of Semarang until now. Kauman main characteristic is their guardian mosque, circle the square, the center of government, and traditional markets. Kauman as a center of Islamic culture, the Great Mosque Kauman as a relic Ki Ageng Pandan Arang is the oldest mosque in Semarang. The tradition of religion is ‘dugderan’ activities undertaken ahead of the month of Ramadhan to inform the public that tomorrow is already entered 1 Syawal or Ramadhan. This tradition is accompanied by a parade or procession through the main streets of the city of Semarang. Kauman progressing increasingly crowded, with many migrants who need land for dwelling and trade spaces. Therefore Kauman require conservation efforts to restore the identity of the region to invite people's maintaining a culture that still exists. The conservation efforts are implemented is still maintaining its culture. Meanwhile, to keep the buildings architectural style Arab efforts to support the preservation of the religious educational tourism branding "Kauman Kampung Qur'an".
Peran Perempuan Dalam Strategi Penanggulangan Banjir Di Kelurahan Sampangan Dan Bendan Dhuwur Semarang Landung Esariti
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.181-187

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman yang dilakukan penulis dalam kegiatan pendampingan Building Resilience through the Integration of Gender and Empowerment (BRIGE). Program ini didanai oleh MERCYCORPS dan dilaksanakan secara serial di 6 kelurahan di Kota Semarang, dalam waktu 1 Oktober – 13 November 2016. Kelurahan Sampangan dan Bendan Dhuwur merupakan salah dua kelurahan yang didapati mempunyai karakteristik yang unik untuk dipelajari terkait dengan peran perempuan dalam strategi penanggulangan banjir. Analisis gender digunakan  sebagai metode analisis, yang meliputi  (a) bagaimana tanggung jawab dan kewajiban yang diemban, (b) akses terhadap sumber daya, (c) proses pengambilan keputusan, (d) mobilitas waktu, (e)norma sosial dan budaya yang dianut, (f) institusi dan kebijakan yang berlaku.Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukenali ada 2 jenis pola peran perempuan terkait dengan perannya dan kedudukannya dalam keluarga inti. Pola pertama berhubungan dengan  perannya sebagai agen penguatan kapasitas kelompok/organisasi perempuan.  Pola kedua terkait pada aset individu yang mendominasi dasar pengambilan keputusan serta akses terhadap sumber daya. Disamping itu, diketahui pula bahwa terjadinya perbedaan pola peran perempuan juga terkait dengan jenis hubungan sosial yang terjadi di masyarakat. Tingkat hubungan kekeluargaan di Kelurahan Bendan Dhuwur terbukti cenderung lebih tidak akrab/guyub dibandingkan dengan Kelurahan Sampangan.
Studi Efektifitas Lapangan Pancasila Simpang Lima sebagai Ruang Publik Djoko Suwandono
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.%p

Abstract

Kawasan Simpanglima Semarang merupakan salah satu ikon utama untuk kota Semarang, karena berbagai fasilitas sarana kota yang dapat dilayani di kawasan ini, antara lain Pusat Perbelanjaan, Perhotelan, Rekreasi dan Hiburan, dan Olah Raga. Lapangan Pancasila merupakan lapangan (Field) yang berada di tengah kawasan Simpanglima ini; yang berfungsi sebagai Ruang Terbuka Hijau, Pengatur arus lalu lintas dan fungsi secara umum sebuah lapangan untuk interaksi sosial, olah raga, rekreasi, mobilisasi masa, upacara dsb. Sekarang kawasan Simpanglima sedah berkembangmenjadi Central Bussiness District (CBD) dan pusat keramaian kota Semarang, Lapangan Pancasila sebagai ruang orientasi akan mengalami perubahan yang sejak awal merupakan ruang terbuka aktif akan terganggu oleh kegiatan bisnis di sekitar lapangan tersebut, atau justru menjadi semakin meningkat fungsinya. Berdasarkan fungsi tersebut maka boleh dikatakan bahwa Lapangan Pancasila berfungsi sebagai Ruang Publik, namun apakah memang benar fungsi Lapangan Pancasila sesuai dengan pelayanannya sebagai Ruang Publik secara optimal, atau hanya sekedar Ruang Terbuka Hijau dan lapangan saja. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan:”Apakah Lapangan Pancasila  sudah efektif sebagai Ruang Publik?”. Dan studi ini adalah untuk mengukur seberapa efektifitas Lapangan Pancasila tersebut sebagai Ruang Publik. Adapun metodologi penelitiannya memakai positivisme yakni kuantitatif, yang akan mengukur variabel Kualitas Pelayanan Secara Umum, Misi Ruang Publik, Kondisi Fisik dan Jenis Aktivitas yang ada. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata Lapangan Pancasila secara keseluruhan belum menjadi Ruang Publik yang efektif, tapi terhitung hanya cukup efektif saja sebagai Ruang Publik. Sehingga masih diperlukan peningkatan peningkatan prasarana dan sarana pelayanan agar Lapangan Pancasila benar-benar menjadi efektif untuk Ruang Publik.
Penataan Kawasan Taman Poci Kota Tegal dengan Konsep Green Urban Park Bhakti Bramantha Bramantha; Mussadun Mussadun
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.%p

Abstract

Pada kawasan perkotaan, kebutuhan masyarakat akan ruang mendorong terjadinya fenomena alihfungsi lahan, terutama ruang terbuka hijau. Kondisi ini juga terjadi di Kawasan Taman Poci Kota Tegal, dari ruang terbuka hijau menjadi ruang bagi aktivitas perdagangan oleh pedagang sektor informal. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai permasalahan, seperti penurunan kualitas lingkungan bahkan kemacetan di sekitar taman. Apabila terus dibiarkan, kondisi ini tentu dapat berakibat buruk bagi kualitas lingkungan di Kawasan Taman Poci serta ruang terbuka hijau di Kota Tegal secara keseluruhan. Konsep Green Urban Park merupakan konsep penataan ruang yang menekankan pada aspek lingkungan dan sosial yang dimiliki oleh sebuah ruang terbuka hijau. Tujuan penelitian ini adalah melakukan penataan Kawasan Taman Poci Kota Tegal dengan menggunakan konsep Green Urban Park. Metode penelitian yang dipergunakan adalah mixed method dengan teknik analisis statistika deskriptif dan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis aspek ekologis, penerapan konsep Green Urban Park dilakukan dengan melakukan penanaman serta perawatan vegetasi-vegetasi yang sesuai dengan fungsinya. Sementara dari aspek sosial, konsep diterapkan melalui tindakan perbaikan serta penambahan fasilitas pendukung bagi aktivtias pengunjung dalam taman. Sedangkan aspek ekonomi yang terdapat dalam taman justru dilarang karena cenderung menimbulkan dampak negatif.
Penyebab Terjadinya Pelanggaran Terhadap Koefisien Dasar Bangunan Di Kelurahan Gedawang Banyumanik Semarang Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.%p

Abstract

Pelanggaran terhadap besaran nilai koefisien dasar bangunan (KDB) bisa berakibattertutupnya lahan yang semestinya terbuka, lahan yang tertutup dengan bangunan akan berdampak terhadap resapan air. Hilangnya resapan air akan berakibat kurangnya pasokan air hujan ke dalam tanah, akan menimbulkan kekeringan, dan dampak negatif lainnya adalah terjadinya peningkatan banjir. Berdasarkan fenomena ini maka dilakukanlah penelitian tentang faktor-faktor penyebab terjadinya pelanggaran Koefisien Dasar Bangunan (KDB) pada kawasan permukiman pinggiran kota Semarang, khususnya di kecamatan Banyumanik,kelurahan Gedawang. Lokasi penelitian merupakan permukiman yang terletak di kelurahan Gedawang kecamatan Banyumanik Semarang, yaitu di wilayah RW 4, RW 6, dan RW 7. Dipilhnya 3 RW ini karena kondisi kontur di 3 RW tersebut bergelombang dari kecil sampai curam. Ketiga RW tersebut dilewati sungai (kecil) yang berfungsi sebagai pembuangan air hujan (drainase) dan sekaligus juga sebagai saluran air limbah domestik, sehingga berubahnya nilai KDB akan berpengaruh terhadap debit air larian yang berakibat melimpahnya air di wilayahbawahnya. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan penyebab terjadinya pelanggaran terhadap ketetapan besaran koefisien dasar bangunan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, menggunakan analisis uji faktor dan tabulasi silang. Ditemukan bahwa penyebab pelanggaran terhadap KDB berasal dari faktor eksternal dan internal, faktor eksternal memiliki korelasi negatif terhadap tindak pelanggaran, yaitu berupa tidak adanya sanksi yang jelas, luas kapling yang dimiliki, dan kurang fahamnya tentang apa itu KDB (belum ada sosialisasi). Sedangkan faktor internal memiliki korelasi positif terhadap tindak pelanggaran, yaitu berupa penghasilan, usaha rumah tangga, jumlah anggota keluarga, dan pendidikan. Belum ada sosialisasi kepada masyarakat tentang KDB,sehingga sebagian besar masyarakat tidak tahu akan kerugian dan bahaya yang ditimbulkan dari pelanggaran terhadap KDB. Sebenarnya masyarakat cukup sadar bahwa dalam bermukim seyogyanya tidak saling mengganggu, akan tetapi pengertian mengganggu ini hanya terbatas pada lingkungan yang kecil (tetangga dekat), belum melihat lingkungan secara luas (kelurahan/kecamatan/kota).

Page 1 of 1 | Total Record : 5