cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Tesa Arsitektur
ISSN : 14106094     EISSN : 24606367     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2017)" : 6 Documents clear
Kualitas Lingkungan Permukiman di Desa Bakau Besar Laut Kec. Sungai Pinyuh Kab. Mempawah Zairin Zain
Tesa Arsitektur Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v15i2.872

Abstract

ABSTRACT Settlements in RW 3 and RW 4 in the village of Bakau Besar Laut, District of Sungai Pinyuh is an area adjacent to two small industries; namely shrimp farm and copra processing. Those industries do not have any installation of wastewater treatment plant with the domestic waste polluted settlements, agriculture and farming in the region. This article aims to review the environmental condition in the settlement by conducting tests of the quality of drainage water and drinking water as well as their effects to public health and agriculture. Grab Sampling methods was used for water sampling, questionnaire method was conducted to connect the results of water quality data to the health and agriculture, and statistical method using the Mann Whitney and Anacova used to determine the relationship between the two. The results based on Government Regulation No. 82 / 2001 show that in the radius of 700 m and 1 km is classified into class III and IV with the IR values of 2.50 and 2.63 (high) and the radius of 1.3 km and 1.5 km falls into class I and IV with the IR values of 2.10 and 4.96 (high). These results demonstrate a strong relationship between the quality of housing environment on the level of public health and agriculture showing a correlation of 0.010 and 0.017. It is recommended for this region to have a clean water treatment, to separate waste according to its characteristics and to benefit from the livestock waste for fuel and fertilizer. Keywords : Environmental quality, Settlements, Grab Sampling ABSTRAK Permukiman di RW 3 dan RW 4 Desa Bakau Besar Laut ,Kecamatan Sungai Pinyuh, merupakan kawasan yang berdekatan dengan dua buah industri kecil yaitu tambak udang dan pengolahan kopra yang tidak memiliki IPAL dengan limbah domestik yang mencemari permukiman, pertanian dan peternakan di kawasan tersebut.Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas lingkungan permukiman dengan menguji kualitas air drainase dan air bersih serta pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat dan lahan pertanian. Metode Grab Sampling digunakan untuk pengambilan sample air,metode kuesioner dilakukan untuk menghubungkan hasil data kualitas air terhadap kesehatan dan lahan pertanian.Selanjutnya, metode statistik menggunakan Mann Whitney dan Anakova untuk mengetahui hubungan antara keduanya. Hasil di lapangan dengan mengacu PP 82 tahun 2001 diketahui bahwa pada radius 700 m dan 1 km diklasifikasi ke kelas III dan IV dengan nilai IR 2,50 dan 2,63 (tinggi),sedangkan radius 1,3 km dan 1,5 km masuk kedalam kelas I dan IV dengan nilai IR 2,10 dan 4,96(tinggi). Hasil ini menunjukkan hubungan yang kuat antara kualitas lingkungan permukiman terhadap kesehatan masyarakat dan lahan pertanian dengan hasil didapatkan korelasi sebesar 0,010 dan 0,017. Direkomendasikan untuk kawasan ini memiliki pengolahan air bersih, melakukan pemisahan sampah sesuai dengan karakteristik limbahnya dan memanfaatkan limbah ternak untuk bahan bakar dan pupuk. Kata kunci. Kualitas lingkungan, permukiman, Grab Sampling
A Healthy-Productive Dwelling Model Based On Optimizing Of Space Bani Noor Muchamad; Naimatul Aufa; Ira Mentayani
Tesa Arsitektur Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v15i2.887

Abstract

ABSTRACT This research has a long-term aim to help the government’s program in alleviating poverty and creating a healthy environment. The aim will be achieved by an implementation and trial of existing Optimizing of Space based on occupancy profiles. The trial and implementation were performed by using modeling techniques, both 3D graphic model and mock up model. The modeling techniques were performed through a design experiment process in a laboratory. It was selected based on the characteristics of the low economic, education and knowledge capacities, and the low level of awareness of the society in the slum areas. The result of the research is a healthy and productive dwelling model for the occupants. This innovation of a healthy and productive dwelling model can be a frame of reference for a mass dwelling establishment or construction done by the government, private companies (CSR), or NGOs in order to upgrade the slum areas and alleviate poverty. Keywords: poverty; slum area; modeling. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan jangka panjang untuk membantu program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan sekaligus menciptakan permukiman dan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Tujuan ini akan dicapai melalui pengimplementasian sekaligus pengujian Konsep Optimalisasi Ruang berbasis profil penghuni yang telah ada. Implementasi dan pengujian Konsep Optimalisasi Ruang dilakukan dengan menggunakan metode pemodelan, baik model 3D grafis maupun maket (mock up). Metode pemodelan dilaksanakan melalui proses eksperimentasi desain di laboratorium. Metode pemodelan dipilih berdasar karakteristik kemampuan ekonomi, pendidikan/pengetahuan, dan tingkat kesadaran masyarakat yang tinggal di kawasan permukiman kumuh yang masih rendah. Hasil penelitian adalah model hunian yang produktif dan sehat bagi penghuninya. Temuan inovasi model hunian produktif dan sehat ini dapat dijadikan acuan untuk pembangunan/pengadaan hunian massal yang dilaksanakan melalui program pemerintah, swasta (CSR), ataupun swadaya masyarakat untuk penataan permukiman kumuh dan pengentasan kemiskinan. Keywords: kemiskinan; permukiman kumuh; pemodelan
Rumah Inkremental Melayu di Tepi Sungai Siak, Pekanbaru: Penerapan Struktur dan Material Berbasis Kemampuan Masyarakat di Area Banjir Imanuddin Imanuddin; Yulianto P. Prihatmaji
Tesa Arsitektur Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v15i2.787

Abstract

ABSTRACT This paper propose a design approach of residential houses using incremental Malay house method, strat from core house and incrementally thrive some support spaces. Indonesia is an Austronesian culture countries, it can see that the river gives full support on Siak community life in Pekanbaru. Hence, it creates the river banks used for residential areas makes overcrowded, dirty and slums area. Guideline for Untidiness Level Identification shows that to solve this problem is to utilize the community's ability to meet the needs of residential house where the concept of incremental wither suitable for use. The house consists basic needs of the inhabitants: main bedroom, MCK, and living room. Supporting spaces such as additional room, porch, and a economic space can be added later in accordance with economic circumstances of occupant. House design using the stilts system using concrete tube foundation to prevent flooding due to their location on the banks of the Siak River. The house is also equipped with T Pikon-H as a sanitation system that can be applied in high water level areas. Keywords: River settlements, Flood responsive building, Malay house, Incremental method ABSTRAK Tulisan ini memaparkan pendekatan desain yang digunakan untuk merancang hunian rumah Melayu dengan menerapkan metode inkremental yang meliputi ruang rumah inti dan ruang penunjang. Pemanfaatkan sungai Siak sebagai penunjang kehidupan masyarakat Pekanbaru memperlihatkan pengaruh budaya Austronesia pada bangsa Indonesia. Tepian sungai menjadi tempat berkembangnya areal permukiman, sehingga kepadatan penduduk bertambah dan berdampak kekumuhan pada area bantaran sungai. Pedoman Indentifikasi Tingkat Kekumuhan (PU) menawarkan penyelesaian permasalahan ini dengan pendekatan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hunian. Rumah inti sebagai cikal hunian terinspirasi dari rumah Melayu, terdiri atas kebutuhan utama penghuni yaitu kamar tidur, MCK, dan ruang keluarga. Ruang inti direncanakan berkembang dengan mempertimbangkan metode inkremental pada rumah Melayu dengan penambahan ruang- ruang penunjang seperti kamar, serambi atau ruang tamu, dan tempat usaha sesuai dengan keadaan ekonomi penghuni. Rumah ini dirancang menggunakan sistem panggung dengan pertimbangan lokasi yang terletak pada tepi Sungai Siak dengan menggunakan pondasi buis beton untuk mengantisipasi banjir. Rumah juga dilengkapi dengan T Pikon-h sebagai sistem sanitasi yang dapat diterapkan pada wilayah dengan muka air tinggi seperti area tepian Sungai Siak. Kata Kunci: Permukiman sungai, Bangunan tanggap banjir, Rumah melayu, Metode inkremental
Modifikasi Rumah Kolonial Untuk Usaha Mandiri Di Semarang Antonius Ardiyanto; Rudyanto Susilo; Valentinus Suroto; Hudi Prawoto
Tesa Arsitektur Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v15i2.1216

Abstract

ABSTRACT Semarang city there are many residential buildings built in the colonial period. Colonial dwelling house is spread in various areas of Semarang city, such as in the residential area of Candi in the upper city. This area in the colonial period is an elite residential area with a fairly large building area of about 1000 m2 which is planned as a water absorption area for water reserves in the lower cities. Some colonial residential buildings today have been converted to function as a place of business such as café or restaurant. The transfer function of the residential building into a place of business is done by modifying the existing space adjusted for the space character for the type of business. The purpose of this study is to know how the modification of the colonial house, especially in the spatial in maximizing space as a place of independent business. The research was conducted by descriptive method, with the sample taken by purposive. The results showed that the modification of the colonial house to independent business is manifested in the change of function of the living room into a space of business which is adapted to the specificity of its business activity. In addition, the addition and alteration of building materials is used to emphasize the main functions of the business. While in general plan of building of main house stay tends not change. Keywords : colonial house, modification, independent bussiness ABSTRAK Kota Semarang terdapat banyak bangunan rumah tinggal yang dibangun pada masa kolonial. Rumah tinggal kolonial tersebut tersebar diberbagai wilayah kota Semarang, diantaranya di kawasan permukiman Candi di kota atas. Kawasan ini pada masa kolonial merupakan kawasan permukiman elit dengan lahan bangunan yang cukup luas sekitar 1000 m2 yang direncanakan sebagai daerah peresapan air untuk cadangan air di kota bawah. Beberapa bangunan rumah tinggal kolonial saat ini telah dialih fungsikan sebagai tempat usaha seperti café atau restoran. Alih fungsi bangunan rumah tinggal menjadi tempat usaha dilakukan dengan memodifikasi ruang yang ada disesuaikan untuk karakter ruang untuk jenis usahanya. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui bagaimana bentuk modifikasi rumah kolonial khususnya dalam tata ruang dalalamnya dalam memaksimalkan ruang sebagai tempat usaha mandiri. Penelitian dilakukan dengan metoda deskriptif, dengan sampel diambil secara purposive. Hasil penelitian menunjukan bahwa modifikasi rumah kolonial untuk usaha mandiri diwujudkan dalam perubahan fungsi ruang – ruang tempat tinggal menjadi ruang tempat usaha yang disesuaikan dengan kekhususan kegitan usahanya. Selain itu, penambahan dan perubahan material bangunan digunakan untuk memberi penekanan pada fungsi utama pada kegiatan usaha tersebut. Sedangkan secara umum denah bangunan rumah tinggal utama cenderung tidak berubah. Kata Kunci : Kolonial, Usaha, Modifikasi
Balé-Balé: “Archetype” Arsitektur Tradisional Bali Aga Di Desa Pengotan (Balé-Balé: “Archetype” Of Bali Aga Traditional Architecture At Pengotan Village) Himasari Hanan
Tesa Arsitektur Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v15i2.864

Abstract

Abstract: Bali Aga traditional settlements at Pengotan village, on one hand, exhibits variety of architectural expression, but at the other hand, reveals uniformity in ordering space and house form. All traditional houses in earlier phase are uniform because they are erected according to standardized building customs. Availability of cheaper new building materials and practical construction methods have induced Pengotan people to renovate their traditional houses in present architectural style. This research is to investigate the changing process of house form and to which extent these changes have modified traditional building system. Do inhabitants tend to preserve traditional style or adopt recent architecture. The investigation has indicated that traditional bamboo benches are key preconception of space and form design in Bali Aga traditional houses. Layout system of benches inside and outside the house persisted even though the house has endured renovation. Along the way, the tradition of putting bamboo benches in front the house has induced the concept of verandah in the house. Since traditional houses are placed uniformly in a row, the new verandah has created a long open space for leisure and common activities where people have a free visual and audial access to neighbours. Keywords: balé-balé; Bali Aga; traditional architecture; interactive social space; verandah Abstrak: Arsitektur rumah tradisional Bali Aga di Pengotan berkaitan erat dengan sumber daya alam di sekitarnya dan pola kegiatan penghuni yang dipengaruhi oleh pandangan hidupnya. Permukiman tradisional Bali Aga di desa Pengotan pada satu sisi memperlihatkan keragaman arsitektur, namun pada sisi yang lain memperlihatkan konsistensi dalam tata atur ruang dan bentuk bangunan. Semua rumah, pada awalnya, dibangun dengan mengikuti ketentuan adat sehingga arsitektur semua bangunan adalah seragam. Adanya bahan bangunan baru dan teknologi membangun yang lebih mudah dan murah mendorong orang untuk merenovasi bangunan yang mulai lapuk. Penelitian ini mengkaji bagaimana perubahan bentuk rumah berlangsung, serta bagian mana dari bangunan yang cenderung tetap dan mana yang berubah. Selain itu, pertanyaan penelitian adalah apakah perubahan ini memberikan dampak bagi keberlanjutan rumah tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balé-balé bambu merupakan komponen bangunan yang menentukan susunan ruang dan bentuk bangunan. Konsep penempatan balé-balé bambu dalam bangunan tidak pernah mengalami perubahan walaupun rumahnya menjadi berubah karena direnovasi. Dalam proses renovasi konsep balé-balé bambu melahirkan konsep ruang yang baru, yaitu ruang teras di depan rumah. Keberadaan ruang teras ini menjadikan halaman rumah sebagai ruang sosial yang interaktif dan produktif. Kata kunci: balé-balé; Bali Aga; arsitektur tradisional; ruang interaksi sosial; ruang teras
Structural Value Of Empyak A. Robbi Maghzaya; Prihatmaji Yulianto; Pradipto Eugenius
Tesa Arsitektur Vol 15, No 2 (2017)
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v15i2.828

Abstract

ABSTRACT Empyak is a part of the traditional building that must be developed to preserve its existence. This paper explores the impact of construction method and structural behavior of empyak. The identification of how structurally work is essential as a primary information to develop the construction of empyak. Initially, a model with scale 1:3 was made to understand structural behavior under the seismic simulation. Some observation will be done to find out the changing of its shape under seismic forces. The results of this research are limited to understand the function of every element in the building stability. The result of the study will be useful for the development of traditional architecture. Empyak not only regards as a construction element but also as a structural element, which is the subject of the study. Keywords: Empyak, structure, construction, bamboo ABSTRAK Empyak adalah salah satu elemen bangunan tradisional Yogyakarta yang perlu dilestarikan. Artikel ini membahas mengenai konstruksi empyak terhadap perilaku struktur bangunan keseluruhannya. Bagaimana empyak bekerja sebagai elemen struktural perlu dipelajari untuk dikembangkan dengan metode yang lebih modern. Pemahaman mengenai perilaku struktur empyak dilakukan dengan pengamatan model konstruksi dibawak berbagai karakter pembebanan. Observasi terhadap model berfungsi untuk mengetahui perubahan bentuk setelah dilakukan pembebanan. Penelitian ini dibatasi pada fungsi-fungsi struktural setiap elemen empyak untuk mendapatkan bangunan yang stabil. Penelitian ini bermanfaat untuk memahami bagaimana nilai-nilai konstruksi dan struktur yang ada dalam konstruksi empyak. Keywords : Empyak, struktur, konstruksi, bambu

Page 1 of 1 | Total Record : 6