cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2012)" : 18 Documents clear
Hubungan Umur Deteksi Ketulian dengan Tingkat Intelegensi Siswa di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta Adhiapto, Luhur Budi; Widuri, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1031

Abstract

Deteksi ketulian pada anak khususnya sebelum usia 3 tahun yang kemudian dilakukan intervensi dini akan menghasilkan perkembangan anak yang sangat memuaskan. Akan tetapi, deteksi dini ketulian di Indonesia masih dilaksanakan secara pasif. Hal ini menyebabkan keterlambatan deteksi dan intervensi yang diberikan pada anak, sedangkan dampak ketulian pada anak khususnya ketulian prelingual sangat besar dan dapat berpengaruh pada masa depan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan deteksi dini ketulian terhadap tingkat intelegensi siswa di SLB-B Karnnamanohara. Jenis penelitian adalah observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah 35 siswa SLB-B Karnnamanohara terbagi dua kelompok yaitu kelompok deteksi dini (3 tahun) dan terlambat (3 tahun) dengan total sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner untuk pengelompokkan status umur deteksi ketulian dan tes intelegensi CPM (Coloured Progressive Matrices) untuk menilai tingkat intelegensi siswa yang dikelompokkan menjadi tingkat intelegensi dibawah rata-rata (25%), rata-rata (75% x 25%) dan diatas rata-rata (75%). Data dianalisis menggunakan Crosstab dilanjutkan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi hubungan antara umur deteksi ketulian dengan tingkat intelegensi adalah p=0,321 (p0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur deteksi ketulian dengan tingkat intelegensi siswa di SLB-B Karnnamanohara Yogyakarta. Early detection of deafness in hearing loss children especially before 3 years old and then followed by early intervention will produced a satisfactory child’s growth. In other hand, early detection of deafness children in Indonesia still were done passively. This situation can make late detection and late intervention that given to the children, however deafness impact to the children, especially for prelingual deafness is very huge, and can influence with the child’s future. This research is purposed to know the relation between early detection of deafness with degree of intelligence in Karnnamanohara Hearing Impaired School of Yogyakarta. Design of the research is observational and the data taken by croossectional. Research’s subject were all of the Karnnamanohara Hearing Impaired School of Yogyakarta’s student, the amount were 35 students that devided into two groups, early detection group (3 years old) and late detection group (3  years old). The data taken by questionaire to classified the status of age of deafness’s detection and CPM  (Coloured Progressive Matrice) intelligency test to assess the degree of intelligence that finally divided into under average (25%), average (75%x25%), and above average (75%). Collected data was analysed with Crosstab continued with Spearmann Test. The result showed the significancy value for the relation between the age of deafness’s detection with the degree of intelligency
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Pekerjaan terhadap Pemilihan Kosmetik Pencerah Kulit pada Wanita Rr. Nadya Anditia Sari; Siti Aminah Tri Susilo Estri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1045

Abstract

Jenis kosmetika yang banyak dipakai saat ini ialah kosmetika jenis pencerah kulit atau lightening cream. Pemilihan pemakaian kosmetik pencerah kulit membutuhkan pemikiran yang kritis sebelum menggunakannya karena efek sampingnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan status pekerjaan terhadap pemilihan produk pencerah kulit pada wanita. Penelitian merupakan penelitian non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional di Desa Tamantirto, Dusun I Geblakan RW 01 RT 04 Tegalwangi Bantul. Sampel penelitian ini adalah wanita berusia 22-55 tahun yang sudah menikah yang ada atau menetap pada dusun tersebut sebanyak 32 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif lemah (r= -0,056) yang tidak signifikan dengan nilai p = 0,761 (p0,05) antara tingkat pendidikan dengan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada wanita, sedangkan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif kuat (r = 0,460) yang signifikan dengan nilai p=0,008 (p0,05) antara status pekerjaan dengan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada wanita. Disimpulkan bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak menentukan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada seseorang seutuhnya. Status pekerjaan seseorang menentukan perilaku pemiilihan produk pencerah kulit di mana wanita yang bekerja lebih banyak menggunakan produk pencerah kulit daripada wanita yang tidak bekerja. Types of cosmetics that is widely used today is kind of lightening cosmetics or skin lightening cream. The selection of skin lightening cosmetics usage requires critical thinking before using it because of its side effects. This study aims to determine the relationship between educational levels and occupational status of skin lightening product selection in women. This study is a non-experimental, cross sectional approach undertaken in the village of Tamantirto, Hamlet I Geblakan RW 01 RT 04, Bantul, Yogyakarta. Samples were taken from women aged 22-55 years who are married or who have settled in the hamlet of 32 people who meet the criteria for inclusion and exclusion. Spearman correlation test analyze showed that there was poor negative correlation (r= -0,056) which wasn’t significant with p value=0,761 (p0,05) between educational level and enlightenment skin cosmetic electoral behavior in women. While Spearman correlation test analyze showed that there was strong positive correlation (r= 0,460) which was significant with p value=0,008 (p0,05) between employment statues and enlightenment skin cosmetic electoral behavior in women. It was concluded that educational level of someone doesn’t determine enlightenment skin cosmetic electoral behavior in someone completely. Employment statues of someone determines enlightenment skin cosmetic electoral behavior where employed women uses skin lightening cosmetic more than unemployed women.
Perbedaan Tingkat Endurance antara Pria Bertipe Kepribadian A dan Pria Bertipe Kepribadian B Bastian, Lutfia Putri; Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1048

Abstract

Endurance atau daya tahan menyatakan keadaan yang menekankan pada kapasitas kerja secara terus menerus. Diartikan sama dengan kebugaran jasmani yaitu kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan kardiorespirasi merupakan faktor utama dalam kebugaran jasmani. Pengukuran daya tahan kardiorespirasi untuk kapasitas aerobik dapat dilakukan dengan cara mengukur konsumsi oksigen maksimal (VO2max) . Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Penelitian menggunakan metode Astrand 6 minutes cycle test pada nilai VO2max dengan subyek sebanyak 60 pria yang terdiri dari 30 pria bertipe kepribadian A dan 30 pria bertipe kepribadian B. Data dianalisis menggunakan independent sample t test. Hasil penelitian didapatkan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian A sebesar 31,8393 ± 2,14534 ml/ kg/ menit dan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian B sebesar 36,3470 ± 3,15498 ml/ kg/ menit. Didapatkan perbedaan yang bermakna antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B (p=0,000). Disimpulkan terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Pria bertipe kepribadian A memiliki tingkat endurance yang lebih rendah dibandingkan pria bertipe kepribadian B. Endurance  is a condition that is showed continuous work capacity. Interpreted same as physical fitness is the ability of someone to complete everyday tasks without experiencing significant fatigue. Cardiorespiratory endurance is a main factor in physical fitness. Measurement of cardiorespiratory endurance for aerobic capacity can be done by measuring the maximal oxygen uptake (VO2max). The research aims to see if there are differences of endurance level between personality type A male and personality type B male. Research using the Astrand 6 minutes cycle test on the value of VO2max by as many as 60 male subjects consist of 30 male with personality type A and 30 male with personality type B. Data were analyzed using independent sample t test. Results showed the mean value of VO2max in the group personality type A male is 31.8393 ± 2.14534 ml/ kg/ min and the mean value of VO2max in the group personality type B is 36.3470 ± 3.15498 ml/ kg /min. Found significant differences between personality type A male and personality type B male (p = 0.000). The conclusion there are different levels of endurance between personality type A male and personality type B male. Male with personality type A have lower levels of endurance than male with personality type B.
Hubungan Ekspresi p53 dengan Prognosis Hasil Terapi Radiasi pada Karsinoma Nasofaring Ario Tejosukmono; Agus Suharto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1029

Abstract

Pada karsinoma terjadi peningkatan proliferasi sel dibanding dengan apoptosis sel, sehingga sel akan tumbuh lebih banyak dari jumlah normalnya. Pada kondisi homeostasis, untuk dapat mengatur jumlah sel pada tubuh manusia, mekanisme utama tubuh adalah dengan menghasilkan p53. Protein p53 sebagai protein penghambat tumor mengaktifkan pembentukan p21 yang berperan untuk aktivasi beberapa komplek kinase tergantung siklin dan memutus siklus pembelahan sel. Tujuan penelitian ini untuk analisis hubungan ekspresi p53 terhadap prognosis radioterapi pada karsinoma nasofaring dengan metode retrospektif. Ekspresi p53 telah dicat imunohistokimia dan dianggap positif bila jumlah sel tumor positif lebih dari 10% dan dianalisis hubungan ekspresi p53 dengan prognosis pada pasien karsinoma nasofaring dengan radioterapi. Hasil penelitian menunjukkan dari 43 Pasien karsinoma nasofaring dengan terapi radiasi terdapat 8 orang (18,6%) meninggal selama perawatan. Berdasarkan jenis kelamin, 74,42% pasien adalah laki-laki dan 25,58% wanita. Kelompok usia 51 sd 60 tahun adalah yang terbanyak yaitu sebesar 14 kasus (32,56%). Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi p53 dengan prognosis hasil terapi radiasi pada karsinoma nasofaring p = 0,000 (p0,05). Disimpulkan bahwa ekspresi p53 yang positif akan memberikan prognosis yang lebih baik terhadap hasil terapi radiasi pada karsinoma nasofaring. In the cancer condition, there is increasing of cell proliferation than apoptosis, so cell will grow rapidly than normal. In normal homeostatic, to set the amount of the cells in human body, the primary body mechanism is producing gene p53. The p53 as protein cancer suppressor activate p21 that role to activate some of complex kinase  based on cyclin and cut mitosis cycle. The aims of this research to analyze relation p53 expression with prognosis of radiotherapy in nasofaringeal carcinoma using retrospective method. P53 expression strained by imunohistochemistry and considered positive if we find greater than 10% positif cell tumor then analyzed relation p53 expression with prognosis of radiotherapy in nasofaringeal carcinoma. The result shows from 43 patient nasofaringeal carcinoma with radiotherapy there are 8 patient (18,6%) died. 74,42% patient are male and 25,58% are female. 51-60 years old group is 14 cases (32,56%). There was significant correlation between prognosis and p53 expression p= 0,000 (p0,05). The conclusion is that positive p53 expression will give a better prognostic for nasofaringeal carcinoma with radiotherapy.
Perbedaan Kadar Trigliserid pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Terkontrol dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Tidak Terkontrol Fauziah, Yulia Niswatul; Suryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1047

Abstract

Penyebab utama kematian pada diabetes melitus (DM) tipe 2 ialah penyakit jantung koroner (PJK) kurang lebih 80%. Angka kematian akibat PJK pada penderita DM tipe 2 dapat meningkat dua sampai empat kali lebih banyak dibandingkan dengan yang non-diabetes karena lesi aterosklerosis, pada penderita DM tipe 2 proses perkembangannya lebih cepat. Dengan adanya peningkatan kadar trigliserid (TG) dan Low Density Lipoprotein ( LDL) diketahui sebagai faktor risiko terjadinya aterosklerosis. Pemeriksaan HbA1c dapat digunakan sebagai pengendali untuk mengetahui risiko pencegahan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan kadar trigliserid pada penderita DM tipe 2 terkontrol dan tidak terkontrol. Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional, sampel penelitian adalah pasien DM tipe 2 terkontrol (HbA1c 7%) dan DM tipe 2 tidak terkontrol (HbA1c 7%). Jumlah masing-masing sampel adalah 31 pasien. Analisis data menggunakan independent t-test. Hasil penelitian didapatkan rata-rata nilai trigliserid pada DM tipe 2 terkontrol 150,84+86 ,91 dan rata nilai trigliserid pada DM tipe 2 tidak terkontrol 153,55+64 ,193. Analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna kadar trigliserid pada penderita DM tipe 2 terkontrol dan DM tipe 2 tidak terkontrol secara statistik (p0,05). Disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kadar trigliserid pada penderita DM terkontrol dan DM tidak terkontrol. The most cause of mortality in type 2 diabetes mellitus (DM) is coronary heart disease (CHD) about 80%. Mortality rate caused by CHD in patients type 2 DM could increase two until four times more than non-diabetes cause atherosclerosis lesion, the development process faster in patients with type 2 DM. The increasing of tryglicerida (TG) and Low Density Lipoprotein (LDL) level know as atherosclerosis risk factor. HbA1c examination could use as controlling to know the prevention risk of complication. The purpose of this research is to know the difference  of trigliserid level in patients with controlled and uncontrolled type 2 DM. The research design is analytic observational with cross sectional approach, the sampel are controlled type 2 DM (HbA1c 7%) and uncontrolled type 2 DM (HbA1c 7%). The number of each sampels are 31 patients. Data analyzed using  independent t-test. The result shows value of trigliserid in controlled type 2 DM is 150,84+86 ,91 and means value of trigliserid in uncontrolled type 2 DM is 153,55+64,19. The result shows there is no significant difference level of trigliserid between patients with controlled and uncontrolled type 2 DM statisticly (p0,05). It was concluded that there is no difference level of trigliserid between patients with controlled and uncontrolled type 2 DM.
Perbedaan Hubungan antara Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga terhadap Tumbuh Kembang Anak Usia 2-5 Tahun Dixy Febrianita Titi Pratama Putri; - Kusbaryanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1032

Abstract

Terdapat hubungan antara wanita yang bekerja dengan tumbuh kembang anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara profesi ibu sebagai pegawai di perusahaan dan ibu rumah tangga dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia 2-5 tahun. Jenis penelitian ini adalah analytic observational dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian adalah pasangan ibu seorang pegawai di perusahaan dan ibu rumah tangga (istri pegawai pria yang tidak bekerja) dengan anaknya yang berusia 2-5 tahun. Sampel yang digunakan sebanyak 80. Data dianalisis menggunakan uji Chisquare. Hasil uji statistik didapat nilai p=0,012 RR=0,38 (CI 95%: 0,16–0,86) untuk hubungan antara profesi ibu dengan perkembangan anak, sedangkan dengan pertumbuhan anak nilai p=0,330 RR=1,75 ( CI 95%: 0,55–5,51). Hubungan antara profesi ibu dengan pola asuh makan (p=0,120) dan pola asuh stimulus (p=0,172). Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara profesi ibu dengan perkembangan anak, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara profesi ibu dengan pertumbuhan anak, pola asuh makan, dan pola asuh pemberian stimulus. There is any relationship between working mother with growth and development her child. The objectives of this study are to determine the relationship between mother profession as an employee in the company and the housewife with the growth and development of 2-5 years children. This study is observational analytic with cross sectional approach. The subjects in this study are the mother of an employee in the company and housewife (wife of male employees who are not working) with their children aged 2-5 years. The samples used for as many as 80. The data were analyzed using Chi-square test. Results from statistical tests obtained the p=0.012 RR=0.38 (CI 95%: 0.16-0.86) for the relationship between mother’s profession with child development, while with child growth, p=0.330 RR=1,75 (CI 95%: 0.55-5.51). Relationship between mother’s profession with ate parenting (p=0,120) and stimulation parenting (p=0,172). Based on the result above shows there are significant relationships between mother’s professions with child development, but there’s no significant relationships between mother’s professions with child growth, ate parenting, and also with stimuli parenting.
Perbedaan Pengaruh Pemberian Suplemen Susu Kambing dan Susu Sapi terhadap Berat Badan Anak Usia 3-5 Tahun Anggit Mirdhasari; - Sagiran
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1044

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan adalah tahapan perubahan dari bentuk, ukuran, komponen dan fungsi organisme individual yang dapat diukur sebagai suatu progresivitas utuh dan matur. Usia 3-5 tahun merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada anak. Salah satu indikator antropometrik tumbuh kembang adalah berat badan yang dipengaruhi oleh pemberian asupan suplemen gizi seperti susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kambing dan susu sapi terhadap tumbuh kembang anak usia 3-5 tahun dinilai dari berat badan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Subjek penelitian adalah 24 orang anak, usia 3-5 tahun, berat badan normal ( sesuai usia), dibagi dalam 2 kelompok perlakuan susu kambing dan susu sapi. Pemberian dilakukan 3x seminggu sebanyak 200 ml selama 6 minggu kemudian berat badan ditimbang  dan dibandingkan dengan kurva Lubchenko yang terdapat pada KMS dan standar baku NCHS menurut WHO/CDC. Data dianalisis menggunakan t test dan uji Independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan berat badan perlakuan susu kambing (0,000) dan perlakuan susu sapi (0,002). Terdapat perbedaan rerata berat badan yang bermakna sebelum dan sesudah pemberian susu (p 0,05). Susu kambing dan susu sapi tidak memberikan perbedaan pengaruh (p0,05). Disimpulkan bahwa pemberian susu kambing dan susu sapi dapat meningkatkan berat badan anak meskipun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Growth and development are the series of changes to the shape, size, component, and functions of an individual organism that can occur as the organism progresses to full size form and maturity. The age of 3-5 years is a quick period of children’s growth and development. One of the growth and  development  anthropometric indicator is body weight which could be influenced by giving nutritional supplement like milk. This research aimed to know the influences of goat and cow milk supplement application against growth and development on 3-5 years old children which focused in body weight. This research is an experimental. Research subjects were 24 children, 3-5 years old, normal weight (matching  with age), are divided into 2 treatment groups : goat and cow milk. Two hundred cc milk applied three times a week during  6 weeks then weight were measured, and compared it  with Lubchenko curve in KMS and NCHS based on WHO/CDC. The analysis data  using t test and independent sample test. The result showed that increased weight on goat milk groups (0,000) and cow milk groups (0,002). There were significant differences weight average before and after milk application (p0,05). Goat and cow milk didn’t give different influences (p0,05). It was concluded that provision of goat and cow milk could increased children’s weight, although not statistically significant.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Penurunan Daya Ingat pada Lansia Novia Khasanah; Muhammad Ardiansyah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1035

Abstract

Prevalensi terjadinya demensia pada lansia di Indonesia semakin meningkat. Demensia dapat terjadi karena berbagai faktor. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang memiliki hubungan dengan kejadian demensia pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian demensia pada lansia. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Wredha Yogyakarta unit Abiyoso dan Budiluhur. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 32 orang lansia usia 70-80 tahun, dengan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu, dengan menggunakan data dari kuesioner, serta instrument MMSE (Mini Mental State Examination) untuk mengetahui derajat demensia pada respoden tersebut. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman dan hasil perhitungan didapatkan hasil korelasi negatif kuat (r=-0,686), dengan nilai p 0,01 (p0,05), maka ada hubungan yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian demensia pada lansia. The prevalence of dementia in Indonesia is increasing. Dementia is caused by many factors. Level of education is one of the dementia related factors in elderly. The aim of the research is to identify the correlation between level of education and dementia in elderly. The location of research at Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso and Budiluhur unit. This research is analytic observational which is using cross sectional study. Sampel is taken with purposive technique sampling, 32 elderly 70 – 80 years old, with inclution and exclution  criteria. This research is using data from questioner, and also MMSE (Mini Mental State Examination) to asses their dementia degree. The data analysed with Spearman correlation. The result of correlation is r=-0,686, and p value = 0,01 which is p value 0,05, it means that the correlation is significant. Based on the result obove show there is significant correlation between level of education with dementia.

Page 2 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue