Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Articles
20 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 1 (2002)"
:
20 Documents
clear
Pendidikan Kesehatan Melalui Ceramah dan Konseling Kelompok pada Pekerja Pengasap Ikan sebagai Usaha Pencegahan Ispa di Semarang
Sudiyono, -;
Sutomo, Adi Heru;
Prabandari, Yayi Suryo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1500
The research was aimed to investigate the difference on the effectiveness of health education that was done through speech method supported by poster and through group counseling method supported by poster, in order to im¬prove the knowledge, attitude and behavior of fish fumigation workers in the effort of ARI prevention in Semarang. It was Quasi experimental with Nonequivalent Control Group Design with Pre Test and Post Test. There were 60 subjects chosen that based on inclusion criteria were divided into two groups: 30 workers (treatment group) whom given poster speech method and 30 others (control group) whom given poster counseling method. The result of data analysis which used pair t-test and McNemar test, showed that: 1) poster speech method and poster counseling method could improve the knowledge and attitude offish fumigation workers in preventing of ARI: 2) poster counseling method could show the behavior changes of fish fumiga¬tion workers in preventing of ARI and 3) poster speech method could not show the behavior changes of fish fumigation workers in preventing ARI. The effectiveness test of both methods which was done by using indepen¬dent t-test and Chi-Square test showed that there was no difference between both health education methods in influencing the knowledge, attitude and behavior offish fumigation workers in preventing ARI. Indeed, the result showed that both had similar influence in improving the knowledge, attitude and be¬havior of fish fumigation workers in prevention of ARI disease.Penelitian ini ditujukan untuk meneliti perbedaan efektivitas penyuluhan kesehatan fmm dilakukan melalui metode ceramah dengan poster dan melalui kelompok Ibffisdmg dengan poster dalam rangka meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku a pengasap ikan dalam upaya pencegahan ISA di Semarang. Bentuk penelitian adalah eksperimen semu dengan desain kelompok kontrol no-ekivalent dengan pre¬test izn postest. Sejumlah 60 subyek dipilih berdasarkan kriteria inklusi dibagi menjadi 1 pdtaeipok: 30 pekerja (kelompok perlakuan) yang diberikan metode ceramah dengan posterdan 30 lainnya (kelompok kontrol) yang diberikan metode konseling dengan nHftor. Hasil data analisis yang menggunakan uji t berpasangan dan tes McNemar reennnjukkan bahwa: l)metode ceramah dengan poster dan metode konseling poster dapat memperbaiki pengetahuan dan sikap pekerja pengasap ikan dalam pencegahan ISPA; 2) metode konseling dengan poster dapat menunjukkan perubahan perilaku cari pekerja pengasap ikan dalam pencegahan ISPA dan 3) metode ceramah dengan poster tidak dapat menunjukkan perubahan perilaku dari pekeija pengasap ikan dalam pencegahan ISPA. Uji efektivitas dari kedua metode tersebut yang dilakukan dengan menggunakan uji t tidak berpasangan dan tes X kuadrat menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara kedua metode penyuluhan tersebut dalam mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku dari pekerja pengasap ikan dalam pencegahan ISPA. Dengan demikian, hasil tersebut menunjukkan bahwa keduanya mempunyai pengaruh j mg serupa dalam memperbaiki pengetahuan, sikap dan perilaku pekerja pengasap dalam upaya pencegahan penyakit ISPA.
Peroksidasi Lipid dan Aktivitas Enzim Pembersih pada Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin
Astuti, Yoni
Jurnal Mutiara Medika Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji peroksidasi lipid dan aktivitas ensim pembersih pada diabetes yang diinduksi Streptozotocin. Penelitian ini juga dilakukan untuk menetapkan apakah dosis sedang vitamin E sebagai antioksidan nonensimatik berperan utama dalam sistem pertahanan tubuh oleh antioksidan pada tikus hamil dan bayinya. Subyek yang terlibat pada penelitian ini terdiri dari 30 ekor tikus galur Wistar betina normal, yang diberi dosis tunggal Streptozotocin (40 mg/Kg BB) dan dikawinkan 7 hari kemudian. Selanjutnya tikus yang diabetikdibagi dalam 2 kelompok yang sesuai yaitu,kelompok I diberi suplemen vitamin E dengan dosis (30 mg/100 g pakan), dan kelompok II diberi pakan dengan diet standart rendah vitamin E Kelompok kontrol terdiri dari 15 ekor tikus hamil. Pada hari pertama setelah kelahiran tikus di dekapitasi dan hepar induknya dihomogenat dan uterus maupun paru - paru bayi tikus dan hepar di preparasi. Kemudian dilakukan pengukuran untuk parameter - parameter berikut: konsentrasi Malondialdehid (MDA) pada homogenat dan serum darah, kadar Glutathione(GSH), aktivitas superoksida-CuZn dismutase dan Glu¬tathione peroksidase (G-Px) dan Glikemia. Dari hasil yang diperoleh ternyata bayi tikus diabetik lebih kecil dari pada bayi tikus normal,dan kadar gula serumnya jauh lebih tinggi pada bayi tikus diabetik. Kadar MDA meningkat bermakna sedangkan GSH, SOD,dan GPx jauh berkurang pada tikus dewasa diabetik dan bayinya dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada tikus yang diberi suplemen vitamin E, kadar MDA lebih rendah bermakna, Kadar GSH dan aktivitas SOD sangat meningkat pada jaringan-jaringan yang diamati sedangkan aktivitas GPx tetap tidak berubah. Penelitian ini berkesimpulan bahwa dengan mengamati aktivitas ensim - ensim pembersih tertentu, informasi adanya stress oksidatif secara biologi yang terjadi terus menerus serta status janin/bayi dapat diamati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tikus hamil diabetik dan anaknya terpapar stress oksidatif yang meningkat, dan suplemen vitamin E mampu menurunkan pengaruh yang menggangu dari stress tersebut
Prevalensi Filariasis dan Perilaku Penduduk Desa Rami Pasai dan Betung dalam Pengobatan Filariasis
Sutomo, Adi Heru
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1496
In Indonesia, the number of filariasis prevalence is not quite clear, and as a result there may be a confusing problem on the estimation itself Therefore, based on the problem, a simple survey was performed in the Province of Sumatera Selatan, Indonesia. The result of this field survey showed that filariasis prevalence in general was decreased already as the result of mass DEC treatment, except in some specific areas. Some specific cases in the field were founded, for example the distribution of the drugs among the people in those areas, including respon-dents who were chosen as samples, the clinical signs and the people mobiliza-tion. Based on this survey, there is a need to have a more strategic program to eradicate filariasis especially in the remote areas of Indonesia.Di Indonesia jumlah prevalensi filariasis agak tidak jelas, sehingga mungkin angka perkiraannya sendiri juga membingungkan. Oleh karena itu, berdasarkan masalah tersebut, suatu survai sederhana dilakukan di propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Hasil survai lapangan menunjukkan bahwa secara umum prevalensi filariasis sudah menurun sebagai hasil dari pengobatan DEC masai kecuali di beberapa tempat khusus. Beberapa kasus khusus ditemukan di lapangan, sebagai contoh distribusi obat di antara penduduk di tempat-tempat tersebut termasuk responden yang dipilih sebagai subyek, tanda-tanda klinis dan mobilisasi penduduk. Berdasarkan survey ini, diperlukan suatu program yang lebih strategis untuk membasmi filariasis terutama di daerah pedalaman Indonesia.
Batasan dan Ruang Lingkup Rumah Sakit Pendidikan
Supriyatiningsih, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1501
In Indonesia, Teaching Hospital and Medical School are two separate institutions whereas each of them has its own organizational structure and bylaw. Teaching Hospital is a hospital which also functions as an official centre for education and training for health personnel trainees i.e. medical doctors, nurses, midwifes, others. The prerequisite for a hospital to be utilized as an education and training center is to fulfill some criteria; one of them is the accreditation status as a teaching hospital which is issued by the profesÂsional organization. However, the Joint Decree by 3 Ministers which regulates the scope of teaching hospital requires to be re-evaluated. Di Indonesia Rumah Sakit Pendidikan dan Fakultas Kedokteran merupakan 2 institusi yang terpisah dimana masing-masing memiliki struktur organisasi dan landasan hukum sendiri-sendiri. Rumah sakit Pendidikan adalah rumah sakit yang juga berfungsi sebagai pusat resmi untuk belajar bagi pendidikan atau pelatihan dokter, perawat dan tenaga kesehatan. Suatu Rumah Sakit agar dapat digunakan sebagai tempat pendidikan, maka diharapkan agar dapat memenuhi beberapa criteria antara lain terakreditasi sebagai ruah sakit pendidikan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi. Surat Keputusan Bersama 3 Menteri yang mengatur batasan Rumah Sakit Pendidikan perlu dikaji ulang.
Hubungan Antara Pemilik Dan Manajemen Rumah Sakit
Santosa, Erwin
Jurnal Mutiara Medika Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The most current concept of organization states that actually the disputes or conflicts are inherent with the establishment of an organization. The highly -potential change for the occurrence of a conflict is the conflict of interests, insights, visions, values, philosophy and different strategies. The causal factors for the occurrence of conflicts in the hospital organization and its problem solving should be thoroughly understood by both the owner and the management of the hospital, hence the management conflict could be performed. In perceiving the conflict, most frequently the persons who are in conflicts use tactics which are disanvantageous to the hospital management and can cause further conflicts. It is therefore, ways of how to solve conflicts should be well mastered. If the existing conflict could be well solved, it will be advantageous for both sides (win-win solution) and could be taken as lessons in the future.Konsep organisasi yang terbaru menyatakan bahwa sebenarnya perselisihan atau konflik adalah melekat (sudah menjadi sifatnya) dengan terbentuknya sebuah organisasi. Perubahan yang sangat potensial untuk terjadinya suatu konflik adalah benturan kepentingan {interest), perbedaan wawasan/visi, nilai, filosofi serta perbedaan strategi. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik dalam organisasi Rumah Sakit serta cara-cara penyelesaiannya, perlu dipahami secara rinci oleh pihak Pemilik maupun pihak Manajemen Rumah Sakit, sehingga manajemen konflik bisa terlaksana. Dalam mensikapi konflik, seringkali pihak yang berkonflik menggunakan taktik-taktik yang akan merugikan organisasi Rumah Sakit dan menyebabkan adanya konflik yang lebih dalam lagi. Sehingga perlu dipahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik. Bila konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik maka dapat bermanfaat bagi kedua belah pihak (win-win solution) serta dapat diambil manfaatnya sebagai pelajaran.
Peranan Orang Tua dalam Pendidikan Seks
Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1502
The need of the appropriate comprehension of the human sex essentials for adolescents is urgently required. The facts show that adolescents fre¬quently do not know where to go in finding the right information about sexu¬ality; hence they seek information to resources who do not certainly provide the right information. This could mislead them to go on the wrong path. In fact, the information about the right sexual issues can be provided through sex education. The understanding that sex education is only a mere knowledge of sexual intercourse will result the rejection of many people to provide sex education for the adolescents. The stigma in the society that sex education is a taboo should be eliminated, hence the adolescents could obtain the right informa¬tion. An open-minded point of view that sex issues can be politely and well discussed has to be arised, hence not causing rejections from many people. The best sex education is the one provided by the parents as the closest people, in relaxing condition, with heart-to-heart approach. Therefore, it re-quires appropriate comprehension of the parents on those issues.Kebutuhan akan pemahaman yang benar tentang hakekat seksualitas manusia bagi remaja kian mendesak untuk dipenuhi. Kenyataan menunjukkan bahwa remaja sering tidak tahu ke mana mereka bisa mendapatkan informasi yang benar tentang seksualitas, sehingga mereka mencari informasi pada pihak-pihak yang belum tentu memberikan pengertian secara benar. Hal ini justru bisa menyesatkan para remaja. Sebenarnya, informasi tentang masalah seks yang benar dapat diberikan melalui pendidikan seks. Pemahaman bahwa pendidikan seks hanyalah pengetahuan tentang hubungan seks semata-mata menyebabkan banyak pihak menolak untuk memberikan pendidikan seks kepada remaja. Stigma yang ada di masyarakat bahwa pendidikan seks adalah sesuatu yang tabu harus dihapus, sehingga remaja bisa mendapatkan informasi yang benar. Perlu dibuka sebuah wacana bahwa masalah seks bisa didiskusikan secara sopan dan baik, sehingga tidak menimbulkan penolakan dari berbagai pihak. Pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sebagai orang terdekat, dalam suasana santai dengan pendekatan dari hati ke hati, sehingga dibutuhkan pemahaman yang benar dari orang tua tentang masalah tersebut.
Uji Kadar Hambat Minimal Infusa Kayu Secang (Caesalpinea Sappan Linn) Terhadap Shigella Flexneri In vitro
Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1498
Caesalpinea sappan Linn is a medicine plant for tradisionil medicine. Its can used to cure diarrhea, dysentery, cough, malaria, and tetanus. Caesalpinea uppcm Linn infusion is made by boiling to cure using. By macro broth dilution method, the examination had been performed in vitro to identify minimal inhibitory concentration of Caesalpinea sappan Linn ants ion against Shigella flexneri. Caesalpinea sappan Linn infusion was made according to Farmakope Indonesia. The research had been held at Microbiol-ogy' Laboratory of Medical Faculty, Muhammadiyah University Yogyakarta. The result of the study were: (1) Caesalpinea sappan Linn infusion has bacteriostatic activity against Shigella flexneri with minimal inhibitory concentration about 1,18 gr%. (2) Caesalpinea sappan Linn infusion has bacteriside activity against Shigella flexneri with minimal bakteriside concentration about 12,5 gr%.Kayu secang (Caesalpinea sappan Linn ) banyak digunakan sebagai obat- obatan tradisional sebagai obat diare, disentri, batuk, luka berdarah, obat sakit kepala, malaria, tetanus serta pengobatan setelah bersalin. Pemakaiannya dengan cara direbus, infusanya digunakan untuk keperluan pengobatan. Dengan menggunakan teknik pengenceran tabung, telah dilakukan uji kadar hambat minimal infusa kayu secang terhadap Shigella flexneri in vitro. Infusa kayu secang dibuat sesuai dengan yang termaktub dalam Farmakope Indonesia. Penelitian dilakukan di laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)Â Infusa kayu secang (Caesalpinea sappan Linn) memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan Shigella flexneri dengan kadar hambat minimal sebesar 1,18 gr%. (2)Â Infusa kayu secang (Caesalpinea sappan Linn) memiliki kemampuan membunuh Shigella flexneri dengan kadar bunuh minimal sebesar 12,5 gr%.
Problem Based Learning: Alternatif Metode Pembelajaran Inovatif Pendidikan Dokter
Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1503
Problem Based Learning atau PBL merupakan metode pembelajaran inovatif dalam kurikulum pendidikan dokter yang dinilai sesuai dengan tuntunan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dibidang kedokteran. Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional yang teacher centered dan menempatkan mahasiswa pada posisi pasif, maka metode PBL ini dengan strategi pendekatan SPICES (student centered, problem based, integrated teaching, community oriÂented, early clinical exposures dan self directed learning) menuntut keaktifan dari mahasiswa untuk belajar mandiri berdasarkan masalah secara terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan komunitas, serta sedini mungkin terpapar dengan kasus- kasus klinis. PBL dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok atau small group discussion sekitar 10 mahasiswa tiap kelompok yang akan dibimbing oleh satu orang tutor. Dosen atau tutor dalam sistem PBL ini akan berfungsi sebagai fasilitator. Untuk membantu memecahkan massalah dalam diskusi kelompok dikenal istilah seven jump atau 7 langkah yang harus ditempuh meliputi: clarify term and conÂcept, define the problem, analyze the problem, makae a systematic inventory, formula learning objectives, collect additional information, synthesize and check.
Mola Hidatidosa
Muzayyanah, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1499
Gestasional Trophoblast Diseases are a group of diseases originated from the fetal chorion and consists of: hydatid mole, invasive mole, trophoblast tumor of the placental site and choriocarcinoma. Therefore, this clinical definition includes the benign and malignant conditions. Hydatid mole can cause morbidity and mortality due to bleeding, embolism, perforation, coagulopathy and infection. Moreover, it also induces malignancy in the future. Hence, early detection and right treatment of hydatid mole, as well as early detection of trophoblast tumor after hydatid mole evacuation are very essential as important efforts to compress the mor¬bidity and mortality due to these trophoblast diseases.Penyakit Trofoblast Gestasional adalah sekelompok penyakit yang berasal dari khorion janin, yang meliputi mola hidatidosa, mola invasif, tumor trofoblas dari tempat implantasi plasenta dan khoriokarsinoma. Jadi pengertian klinik ini meliputi keadaan jinak maupun ganas. Mola hidatidosa dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas akibat perdarahan, emboli, perforasi, koagulopati dan infeksi. Selain itu juga menimbulkan keganasan di kemudian hari. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang baik pada penderita mola hidatidosa maupun penemuan dini tumor trofoblas sesudah evakuasi mola sangat penting sebagai upaya untuk menekan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit trofoblas ini.
Penghambat Siklooksigenase-2: Obat Analgesik Anti-inflamasi Nonsteroid (Ains) Masa Depan
Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1504
Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) exert its action through inhibition of prostaglandin (PG) synthesis. These drugs act by inhibition of cyclooxygenase (COX) which involved in PG synthesis. COX-lwhich is involv in PG synthesis may maintains normal gastric mucosa and influences kidney function. COX-2 a COX-1 homolog which is induced by inflammatory stimulan is inhibited by NSAIDs. The anti-inflammatory actions of NSAIDs are due to the inhibition of COX-2, whereas the unwanted side effects such as irritation of the stomach lining and toxic effect on the kidney are due to inhibition of the COX-1. In the treatment of inflammatory diseases such as osteoarthritis, using NSAIDs with selective COX-2 inhibition show effective benefit with minimal gastrointestinal side effect.Obat analgesik anti-inflamasi nonsteroid (AINS) bekerja menghambat enzim cyclooxygenase (COX) sehingga sintesis prostaglandin (PG) juga terhambat. COX- 1 yang terlibat dalam sintesis PG dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan pertahanan mukosa lambung, sehingga hambatan pada COX-1 oleh obat AINS dapa: menyebabkan timbulnya efek samping pada lambung dan ginjal. COX-2 suatu ho¬molog COX-1 terinduksi pada keadaan inflamasi dapat dihambat oleh obat AINS. Oleh karena itu obat AINS yang selektif menghambat COX-2 akan lebih menguntungkan terapi penyakit inflamasi seperti osteoartritis karena efek samping pada saluran cerna dan ginjal dapat dicegah.