cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 39, No 2 (2018): November 2018" : 8 Documents clear
Mobilitas Uranium pada Endapan Sedimen Sungai Aktif di Daerah Mamuju, Sulawesi Barat Frida Rosidatul Mu’awanah; Bambang Priadi; Widodo Widodo; I Gde Sukadana; Rian Andriansyah
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.038 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4953

Abstract

ABSTRAKMamuju merupakan daerah yang memiliki nilai laju dosis radiasi (radioaktifitas) tinggi. Daerah penelitian terdiri dari 6 sektor yaitu Sektor Ahu, Orobatu, Takandeang, Botteng, Pangasaan, dan Taan. Variasi batuan pada daerah penelitian tidak mencerminkan distribusi uranium, sehingga diperlukan metode geokimia untuk mengetahui distribusi uranium pada sistem drainase. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mobilitas dan distribusi uranium pada sistem drainase dengan menggunakan sampel sedimen sungai aktif. Analisis mobilitas uranium menggunakan persen labil yang didapatkan dari perbandingan uranium total dan uranium labil. Nilai uranium total didapatkan dari pengukuran X-Ray fluorescence spectrometry dan nilai uranium labil didapatkan dari pengukuran labile fluorimetry. Pengambilan sampel dilakukan pada 4 lokasi potensial berdasarkan data radiometri. Hasil analisis menunjukkan Sektor Ahu memiliki nilai anomali uranium labil >113,44 ppm, Sektor Pangasaan dengan nilai anomali uranium labil >168,63 ppm, Sektor Takandeang dengan nilai anomali uranium labil >74,36 ppm, dan Sektor Botteng dengan nilai anomali uranium labil >84,23 ppm. Tipe anomali yang teridentifikasi pada dua sektor, yaitu anomali pada sektor Ahu berhubungan dengan presipitasi hidrolisat uranium terlarut pada endapan sungai dari lava Ahu dan breksi Tapalang, sementara anomali pada Sektor Takandeang berhubungan dengan pengayaan permukaan uranium in situ pada tanah dan batuan lava Takandeang. ABSTRACTMamuju is an area that has a high dose rate (radioactivity) value. The research area consists of 6 sectors namely Ahu, Orobatu, Takandeang, Botteng, Pangasaan, and Taan Sector. Lithological distribution does not represent the distribution of uranium; therefore geochemical method is needed to observe the distribution of uranium in the drainage system. The aim of this research is to provide an overview of the mobility and distribution of uranium in the drainage system using stream sediment. Uranium mobility analysis uses labile percent obtained from the ratio of total uranium and labile uranium, the total uranium value obtained from the measurement of X-Ray fluorescence spectrometry and the value of labile uranium obtained from measurement of labile fluorimetry. The sample taken from 4 potential areas based on radiometric value Map. The result of analysis shows that Ahu Sector has labile uranium anomaly >113.44 ppm, Pangasaan Sector with labile uranium anomaly >168.63 ppm, Takandeang Sector with uranium labile anomaly values >74.36 ppm, and Botteng Sector with uranium labile anomaly >84.23 ppm. The anomaly types identified from two sectors, namely Ahu Sector anomaly is related to the precipitation of dissolved uranium hydrolysates in stream deposit originating from Ahu lava and Tapalang breccia, while Takandeang Sector anomaly is related to the enrichment of in situ uranium in soil and Takandeang lava.
Pemanfaatan Alumina Waste dari Tailing Bauksit Menjadi Zeolit Adsorben Sy Indra Septiansyah; Maya Santi
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1208.023 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4982

Abstract

ABSTRAKAlumina waste dari tailing bauksit merupakan produk samping yang berasal dari hasil benefisiasi bijih bauksit. Proses benefisiasi dilakukan dengan cara memisahkan partikel-partikel yang ada seperti lumpur atau clay, akar-akar, butiran bijih bauksit berkisar 2 mm yang dibuang atau menjadi waste product atau disebut sebagai limbah tailing. Tingginya kadar alumina dan silika dalam tailing bauksit menjadi salah satu alasan mengapa tailingini dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan produk baru yaitu zeolit sintetis. Zeolit sintetis dipilih karena zeolit merupakan produk impor, harganya mahal dan memiliki sifat yang seragam serta >150 jenis zeolit sintetis dapat dibuat secara komersial dan bahkan di industri zeolit dapat dimanfaatkan secara luas sebagai adsorben, penukar ion, membrane, katalis, dan lain-lain.Hasil analisis kimia tailing bauksit menunjukkan komposisi: alumina (Al2O3) sekitar 49,41%, silika (SiO2) sekitar 12,58%, hematit (Fe2O3) sekitar 10,6% dan beberapa oksida anorganik lainnya dalam jumlah yang kecil. Proses konversi tailing  bauksit menjadi zeolit adsorben dilakukan dengan metode fusi kaustik untuk mendapatkan ekstrak fusi (mother liquor) kemudian dilanjutkan dengan penambahan prekursor natrium silikat dengan formula sintesis Si/Al(1:1). Kristalisasi produk dilakukan dengan menggunakan metode hidrotermal pada suhu rendah  dengan variable waktu inkubasi yang ditentukan. Reaksi sodium aluminat dan sodium silikat telah mentransformasi fasa amorf gel menjadi fasa kristalin zeolit yang berbentuk serbuk putih halus.ABSTRACTAlumina waste from bauxite tailings is the by products derived from bauxite ore beneficiation. The beneficiation process is done by separating the particles that exist such as mud or clay, roots, grain, bauxite ore ranges from 2 mm are discarded or be referred to as a waste product or tailings. High concentration of alumina and silica in bauxite tailings considered as one of the reasons why these tailings can be used as base material in the making new products, namely synthetic zeolites. Zeolites synthetic is selected because zeolites are imported, expensive and have uniform properties and >150 types of synthetic zeolites can be made commercially and even in industrial zeolite can be used widely as an adsorbent, ion exchange, membranes, catalysts, etc. The chemical analysis of bauxite tailings showed the composition of alumina (Al2O3) is approximately 49.41% silica (SiO2) is about 12.58%, hematite (Fe2O3) is approximately 10.6% and some other inorganic oxides are small amounts. The conversion process bauxite tailings into zeolite is carried out by caustic fusion method to extract the fusion (alumina precursor) followed by the addition of sodium silicate precursor with synthesis formula 1.2Na2O.0.5SiO2.0.5Al2O3.10H2O and crystallization products is carried out by the hydrothermal method at low temperatures with variable incubation period specified. The results showed that the zeolite synthesis of bauxite tailings using caustic fusion and followed by crystallization at low temperature and under atmospheric pressure has succeeded in transforming the product into an amorphous phase to the crystalline phase product zeolite adsorbent.
Interpretasi Bawah Permukaan Berdasarkan Distribusi Nilai Tahanan Jenis di Daerah Puspiptek, Serpong Adhika Junara Karunianto; Dwi Haryanto; Heri Syaeful; Dhatu Kamajati
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.301 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4968

Abstract

ABSTRAKKawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPIPTEK) Serpong memiliki luas 460 hektar. Sebagian besar kawasan ini merupakan ruang terbuka hijau. Seiring dengan pertumbuhan kegiatan penelitian, kebutuhan sarana infrastruktur dan bangunan juga akan semakin meningkat. Sebagai sarana strategis nasional, diperlukan desin bangunan yang kokoh untuk dan sesuai dengan kondisi bawah permukaan. Survey geolistrik dapat digunakan untuk mengetahui kondisi/informasi di bawah permukaan tanah. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh gambaran di bawah permukaan berdasarkan distribusi nilai geolistrik tahanan jenis di area rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimen (RDE). Pengambilan data tahanan jenis menggunakan alat ukur resistivitymeter multichannel tipe MAE X612EM+ secara 2-D menggunakan 48 channel konfigurasi Wenner-Schlumberger. Jumlah elektroda yang digunakan adalah 48 buah dengan interval jarak antar elektroda 5 m. Berdasarkan pemodelan inversi 2-D telah dihasilkan empat model penampang lintasan yaitu line-1, line 2, line-3, dan line-4. Kesalahan data di tiap lintasan relatif kecil, kurang dari 12%. Interpretasi geologi dilakukan pada pada penampang line-2 dan line-3 menggambarkan keberadaan lapisan A, B, dan C. Lapisan A diduga berupa batuan dengan ukuran butir lempung-lanau yang mengandung material organik dengan rentang nilai tahanan jenis 2-20 ohm-m dan variasi ketebalan sekitar 1-7 m. Lapisan B diduga berupa batupasir yang memiliki rentang nilai tahanan jenis 10-90 ohm-m dengan variasi ketebalan 5-20 m. Lapisan C diduga merupakan batulempung yang memiliki rentang nilai tahanan jenis 2-5000 ohm-m dengan variasi kedalaman 10-20 m. ABSTRACTThe area of Center for Research in Science and Technology (PUSPIPTEK) Serpong is 460 hectares wide. Most of the area is a Green Open Spaces (RTH). In the line with the growth of research activities, the need for infrastructure and building facilities also increases. As a national strategic facility, it is necessary to design buildings that are sturdy for and suitable with subsurface conditions. Geolectrical survey can be used to determine of subsurface condition/information. The purpose of this study is to obtain the ilustration of subsurface, based on the distribution of geoelectric resistivity values in the site of Experimental Power Reactor (RDE) construction. The resistivity data acquisition is using a multichannel resistivitymeter MAE X612EM+ type in 2-D by 48 channel of Wenner-Schlumberger configuration. The numbers of elctrodes used are 48 with an electrode interval of 5 m. Based on 2-D inversion model, there are four section models obtained, namely line-1, line 2, line-3, and line-4. The data error for each section is relatively small, less than 12%. Geological interpretation carried out in the section line-2 and line-3 illustrates the existence of layers A, B, and C. Layer A is interpreted as rock with silt to clay grain size containing organic material with resistivity values range 2-20 ohm-m and thickness varries in 1-7 m. Layer B is interpreted as sandstone which has a range of resistivity values from 10-90 ohm-m with thickness variations 5-20 m. Layer C is interpreted as claystone which has a range of resistivity values from 2-5000 ohm-m with depth variation in 10-20 m.
Cover+Daftar Isi+Indeks Isi Redaksi Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.565 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar pada volume 39, No.2: November 2018
Perhitungan Stage Mixer Settler untuk Pemurnian Torium (Th) dari Pelarutan Monasit Hafni Lissa Nuri; Prayitno Prayitno; Abdul Jami
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.175 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4524

Abstract

ABSTRAKMonasit (Ce, La, Nd, Th,)PO4 dengan kandungan torium (Th) antara 3-4% cukup signifikan untuk diproses menghasilkan Th. Pengolahan awal dilakukan dengan pelindian monasit menggunakan reagen basa karbonat (Na2CO3) untuk mengambil uraniumnya. Sisa tailing dilarutkan dengan asam sulfat untuk menghasilkan larutan Th(SO4)2 yang kemudian dimurnikan dari unsur-unsur pengotornya. Pengolahan dilakukan secara kontinyu menggunakan mixer settler dengan tahapan proses meliputi proses ekstraksi Th, stripping Th dan regenerasi pelarut organik. Ekstraksi Th menggunakan pelarut organik Primene JM-T (RNH2) yang merupakan campuran dari 0,15M Primene JM; 5% Tridecanol; dan 95% Kerosin. Sementara itu, proses stripping Th menggunakan larutan 2M HCl. Untuk efisiensi maka regenerasi pelarut organik menggunakan 1% H2SO4. Untuk mendapatkan recovery dan kemurnian yang tinggi dari Th, penghitungan jumlah stage mixer settler diperlukan dengan menggunakan metode McCabe Thiele. Dari hasil perhitungan diperoleh jumlah stage dalam proses ekstraksi Th adalah 3, proses stripping Th adalah 3 dan regenerasi pelarut organik adalah 2. Recovery total Th sebesar 84,90% diperoleh dengan kemurnian produk mencapai 99,02%. ABSTRACTMonazite (Ce, La, Nd, Th)PO4 with thorium (Th) content between 3-4 % is significant enough to be processed to produce Th. The initial treatments conducted by using carbonate base reagents (Na2CO3) for monazite leaching to fetch the uranium. The remaining tailings were dissolved with sulfuric acid to produce Th(SO4)2 solution which is then purified from its impurities. The processing is carried out continuously using a mixer settler with the process steps include Th extraction, Th stripping, and organic solvents regeneration. Thorium extraction uses a primene JM-T (RNH2) organic solvent which is a mixture of 0.15M Primene JM; 5% Tridecanol and 95% Kerosine. Meanwhile, the Th stripping process uses 2M HCl solution. For efficiency, regeneration of organic solvents uses 1% H2SO4. To obtain a high recovery and purity from Th, it is necessary to calculate the number of stage mixer settlers using the McCabe Thiele method. Based on the calculation, the number of stage for extraction process, Th stripping, and organic solvents regeneration are 3, 3, and 2 respectively. The total recovery of Th is obtained at 84.90 % where product purity reaches 99.02 %.
Subsurface S-type Granitoid Identification Based on Gravity and Seismic Tomography Models in Pacitan, East Java Joko Soesilo; Indriati Retno Palupi; Wiji Raharjo; Sutanto Sutanto; Faris Ahad Sulistyohariyanto; Kevin Gardo Bangkit Ekaristi; Fandi Budi Stiawan
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.064 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4954

Abstract

ABSTRACTGranitoid outcrop has been observed in Montongan, Tulakan Subdistrict, Pacitan District, East Java. Geochemically, granitoid shows peralluminous S-type granitoid which consists of comparable plagioclase and potassium feldspar leading to adamelite and granodiorite variety with andalusite, fine size corundum and cordierite inside. These modal minerals are consistent with its bulk chemical analysis result that shows alumina rich rock. Highly weathered spotted pinkish soil with remaining quartz gravels characterizes its surface. Lateritic pink soil up to more than 25 meters thick covers the granitoid body and this feature is indicative to locate its surface distribution, while its subsurface distribution is remain uncertain. The research aimed to identify granitoid subsurface distribution. To identify the subsurface body, gravity and seismic tomography models were used. According gravity model, the pluton body is 5 km wide which is rootless downward and seems extends eastward. Meanwhile, the north-south seismic tomographic model across Pacitan Region indicates dense solid body override the recent Java subduction zone. The body is assumed to have correlation with surface granitic rock. It supports an idea that there is a micro continent trapped beneath Southern Mountain of East Java. ABSTRAKSingkapan granitoid telah teramati di daerah Montongan, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Secara geokimia, granitoid Pacitan memperlihatkan granitoid peralumina tipe-S yang tersusun berdasarkan perbandingan plagioklas dan kalium felspar menunjuk pada varian adamelit dan granodiorit dengan andalusit, korundum halus dan kordierit di dalamnya. Mineral modal tersebut konsisten dengan hasil analisis kimia total yang menunjukkan batuan kaya alumina. Tanah berwarna merah muda yang sangat lapuk dengan kerikil sisa kuarsa menjadi ciri khas di permukaannya. Tanah laterit merah muda yang tebalnya lebih dari 25 meter menutupi tubuh granitoid tersebut dan menjadi petunjuk penyebaranya di permukaan, namun penyebaran di bawah permukaannya masih belum pasti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran granitoid di bawah permukaan. Untuk mengidentifikasi tubuh bawah permukaannya, digunakan pemodelan gravitasi dan tomografi seismik. Menurut model gravitasi tubuh pluton mempunyai lebar 5 km dan tampak memanjang ke arah timur yang tidak menentu ke bawahnya. Sementara itu, model tomografi seismik utara-selatan yang memotong wilayah Pacitan, menunjukkan suatu tubuh padat keras berada di atas zona subduksi Jawa saat ini. Tubuh tersebut diasumsikan memiliki hubungan dengan batuan granitik di permukaan. Hal tersebut mendukung ide bahwa terdapat mikro-kontinen terperangkap di bawah Pegunungan Selatan Jawa Timur.
Pemisahan Itrium dengan Cara Ekstraksi Menggunakan Solven TOPO Tri Handini; I Made Sukarna; Anisa Dwi Yuniyanti
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.284 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4419

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan proses pemisahan itrium dengan cara ekstraksi menggunakan solven TOPO. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi optimum pengaruh variasi konsentrasi ekstraktan, waktu pengadukan, dan keasaman umpan logam tanah jarang serta mengetahui koefisien distribusi (Kd), faktor pisah (FP), dan efisiensi ekstraksi (%), dengan metode ekstraksi cair-cair. Umpan yang digunakan adalah logam tanah jarang dari pasir senotim. Ekstraktan yang digunakan dalam penelitian adalah TOPO (tri-n-oktilfosfina oksida). Kadar itrium (Y), disprosium (Dy), dan gadolinium (Gd) ditentukan menggunakan spektrometer pendar sinar-X. Kondisi optimum yang diperoleh dari penelitian proses ekstraksi ini meliputi: konsentrasi ekstraktan 20% TOPO dalam kerosin, waktu pengadukan 15 menit, keasaman umpan 0,5 M. Nilai koefisien distribusi yang diperoleh Y = 5,61; Dy = 2,06; Gd = 0,99. Efisiensi ekstraksi Y = 85,13%, Dy = 67,80%, Gd = 50,17% sedangkan faktor pisah Y-Dy = 2,7186 dan Y-Gd = 5,6861. ABSTRACTSeparation process of yttrium by extraction using TOPO solvents has been done. The purpose of this study is to  find out the optimum condition of the variation effect of extractant concentration, stirring time, and acidity of the rare earth feed and to determine the distribution coefficient, separation factor, and extraction efficiency (%), using the liquid-liquid extraction method. The feed used  were rare earth  elements of xenotime sand. The extractant used in the research were TOPO (tri-n-octylphosphine oxide). Concentration of yttrium (Y), disprosium (Dy), and gadolinium (Gd) were  determined using X-ray fluorescene spectrometer. Optimum conditions of the extraction process obtained from this study were: TOPO extractant concentration in kerosene 20%, stirring time 15 minutes, acidity of feed 0.5 M. Obtained value of distribution coefficient  Y = 5.61; Dy = 2.06; Gd = 0.99. For extraction efficiency Y = 85.13%, Dy = 67.80%, Gd = 50.17% whereas separation factor Y-Dy = 2.7186 and Y-Gd = 5.6861.
Geostatistics Application On Uranium Resources Classification: Case Study of Rabau Hulu Sector, Kalan, West Kalimantan Heri Syaeful; Suharji Suharji
EKSPLORIUM Vol 39, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.095 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2018.39.2.4960

Abstract

ABSTRACTIn resources estimation, geostatistics methods have been widely used with the benefit of additional attribute tools to classify resources category. However, inverse distance weighting (IDW) is the only method used previously for estimating the uranium resources in Indonesia. The IDW method provides no additional attribute that could be used to classify the resources category. The objective of research is to find the best practice on geostatistics application in uranium resource estimation adjusted with geological information and determination of acceptable geostatistics estimation attribute for resources categorization. Geostatistics analysis in Rabau Hulu Sector was started with correlation of the orebody between boreholes. The orebodies in Rabau Hulu Sectors are separated individual domain which further considered has the hard domain. The orebody-15 was selected for further geostatistics analysis due to its wide distribution and penetrated most by borehole. Stages in geostatistics analysis cover downhole composites, basic statistics analysis, outliers determination, variogram analysis, and calculation on the anisotropy ellipsoid. Geostatistics analysis shows the availability of the application for two resources estimation attributes, which are kriging efficiency and kriging variance. Based on technical judgment of the orebody continuity versus the borehole intensity, the kriging efficiency is considered compatible with geological information and could be used as parameter for determination of the resources category. ABSTRAKPada estimasi sumber daya, metode geostatistik telah banyak digunakan dengan kelebihan adanya alat atribut tambahan untuk mengklasifikasikan kategori sumber daya. Namun demikian, pembobotan inverse distance (IDW) adalah satu-satunya metode yang sebelumnya digunakan untuk mengestimasi sumber daya uranium di Indonesia. Metode IDW tidak memberikan tambahan atribut yang dapat digunakan dalam mengklasifikasikan kategori sumber daya. Tujuan dari penelitian adalah mendapatkan praktek terbaik untuk aplikasi geostatistik pada estimasi sumber daya disesuaikan dengan informasi geologi dan penentuan atribut geostatistik yang dapat digunakan untuk kategorisasi sumber daya. Analisis geostatistik di Sektor Rabau Hulu diawali dengan korelasi tubuh bijih antara lubang bor. Tubuh-tubuh bijih di Sektor Rabau Hulu merupakan domain individual yang selanjutnya dipertimbangkan memiliki domain tegas. Tubuh bijih-15 dipilih untuk digunakan pada analisis geostatistik selanjutnya karena distribusinya yang luas dan paling banyak dipenetrasi bor. Tahapan dalam analisis geostatistik mencakup komposit downhole, analisis statistik dasar, determinasi outliers, analisis variogram, dan perhitungan ellipsoid anisotropi. Analisis geostatistik menghasilkan kemungkinan aplikasi dua atribut estimasi sumber daya, yaitu kriging efisiensi dan kriging varians. Berdasarkan penilaian teknis kemenerusan tubuh bijih terhadap intensitas lubang bor, kriging efisiensi dipertimbangkan sesuai dengan informasi geologi dan dapat digunakan sebagai parameter untuk penentuan kategori sumber daya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8