cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 2 (2020): November 2020" : 8 Documents clear
Kajian Risiko Pajanan Sinar Gama dan Radon pada Pekerja di Area Terowongan Eksplorasi Uranium Remaja, Kalimantan Barat Tajudin Noor; Mila Tejamaya; Miki Arian Saputra; Tri Purwanti
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.5882

Abstract

ABSTRAK Kajian risiko pajanan radiasi gama dan gas radon dilakukan di area terowongan eksplorasi uranium dalam upaya melindungi pekerja dari bahaya radiasi pengion di tempat kerja. Pengukuran pajanan sinar gama dan konsentrasi gas radon dilakukan di dalam terowongan eksplorasi uranium Remaja dan sekitar kamp pekerja di daerah Kalan, Kalimantan Barat. Pajanan sinar gama diukur menggunakan surveimeter gama, sementara pajanan radon (222Rn/220Rn) menggunakan detektor pasif RADUET. Konsentrasi gas radon dan toron di dalam terowongan secara umum cukup tinggi, berkisar antara 188,84 hingga 495,86 Bq/m3 (rata-rata 375,80 Bq/m3) sementara toron berkisar antara 58,07 hingga 340,73 Bq/m3 (rata-rata 189,80 Bq/m3). Nilai tersebut berada di atas reference level radon (300 Bq/m3) yang disaranakan oleh International Commission on Radiation Protection (ICRP). Dosis efektif tahunan sinar gama mencapai nilai 147,88 mSv di dalam terowongan eksplorasi. Nilai tersebut berada di atas nilai batas dosis untuk pekerja, yaitu 20 mSv. Pengendalian pajanan sangat penting dilakukan dengan memenuhi prinsip “as low as reasonably achievable” (ALARA) dan proteksi radiasi eksterna untuk melindungi pekerja di dalam terowongan dari masalah kesehatan yang disebabkan oleh pajanan dari sinar gama, radon, dan toron.ABSTRACT A risk assessment of gamma radiation and radon gas exposure is carried out in the uranium exploration tunnel area to protect workers from the ionizing radiation hazards in the workplace. Measurement of gamma-ray exposure and radon gas concentrations were carried out in Remaja uranium exploration tunnel and around the workers camp in Kalan Area, West Kalimantan. Gamma exposure was measured using a gamma survey meter while radon (222Rn/220Rn) using RADUET passive detector. The concentrations of radon and thoron gas inside the tunnel generally are high, ranging from 188.84 to 495.86 Bq/m3 (375.80 Bq/m3 average) and 58.07 to 340.73 Bq/m3 (189.80 Bq/m3 average) respectively. These values are above the radon reference level (300 Bq/m3)which is recommended by the International Commission on Radiation Protection (ICRP). The annual gamma effective dose reaches 147.88mSv inside the tunnel. This value is exceeding the 20 mSv dose limit value for workers. It is necessary to control the exposure by fulfilled the principle of “as low as reasonably achievable” (ALARA) and external radiation protection to secure workers inside the tunnel from a health issue caused by gamma-ray, radon, and thoron exposures.
Peralihan Rezim Tektonik: Implikasinya pada Konsentrasi Torium di Mamasa dan Tana Toraja, Sulawesi-Indonesia Sugeng Purwo Saputro; Dwi Ratih Purwaningsih; Bambang Priadi
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6063

Abstract

ABSTRAK Mamasa dan Tana Toraja secara geografis merupakan bagian dari lengan barat Pulau Sulawesi. Batuan-batuan mafik di daerah tersebut dan sekitarnya memiliki nilai laju radiasi tinggi dan anomali kandungan torium (Th). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme tataan tektonik yang berperan dalam peningkatan konsentrasi Th. Enam sampel batuan dianalisis menggunakan analisis petrografi dan geokimia (AAS, ICP-MS, NA, dan XRF), dilengkapi dengan pentarikhan umur menggunakan metode 40K-40Ar pada sampel batuan terpilih. Pengamatan petrografi memperlihatkan kehadiran mineral plagioklas, olivin, piroksen, hornblenda, nefelin, dan alanit pada batuan yang diidentifikasi sebagai nefelin-basanit, basalt, trakhibasalt, dan gabro. Sejumlah tekstur yang tampak pada batuan tersebut mengindikasikan kontaminasi dan perubahan kondisi tektonik. Analisis geokimia menunjukkan bahwa nefelin-basanit, basalt, trakhibasalt, dan gabro (absarokit) terbentuk pada batas kontinental aktif (ACM) yang sedang mengalami transisi dari subduksi aktif (penunjaman ke arah barat) menjadi post-subduksi. Perubahan tataan tektonik membuat magma membeku pada kondisi yang sangat ekstrim. Proses pembekuan magma diinterpretasikan terjadi pada umur sekitar 13,10-11,02 Ma. Mekanisme tersebut berperan penting terhadap terjadinya peningkatan konsentrasi torium di Mamasa dan Tana Toraja.ABSTRACT Mamasa and Tana Toraja geographically are part of the western arm of Sulawesi Island. The mafic rocks in these areas and their surroundings have high radiation dose rate and thorium (Th) anomaly content. This research aim is to determine tectonic setting mechanism which play the important role on the increasing of Th concentration. Six rock samples were analysed using petrography and geochemical analyses (AAS, ICP-MS, NA, and XRF) completed with the 40K-40Ar dating on selected rock samples. Petrography observations show plagioclase, olivine, pyroxene, hornblende, nepheline, and allanite minerals presence in the rocks which identified as nepheline-basanite, basalt, trachybasalt, and gabbro. Numbers of texture appearances in the rocks indicate contamination and changes on tectonic setting. Geochemistry analysis shows that nepheline-basanite, basalt, trachybasalt, and gabbro (absarokite) were formed at the active continental margin (ACM), which is undergoing active subduction (westward subduction) to post-subduction transition. The changing of tectonic setting made magma solidify in extreme conditions. The magma solidify process is interpreted to occur at the age of 13.10-11.02 Ma. These mechanisms play an important role for the increase of thorium concentration in Mamasa and Tana Toraja.
Fitoremediasi Limbah Radioaktif Cair Menggunakan Kayu Apu (Pistia stratiotes) Untuk Menurunkan Kadar Torium Prima Soheti; La Ode Sumarlin; Dany Poltak Marisi
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6092

Abstract

ABSTRAK Limbah torium (Th) merupakan limbah radioaktif pemancar alfa yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup sehingga perlu dilakukan pengolahan limbah yang efektif dengan fitoremediasi. Fitoremediasi adalah kemampuan tumbuhan untuk mengurangi bahan pencemar yang ada dalam lingkungan. Tujuan penelitian adalah menguji kemampuan tumbuhan kayu apu dalam menurunkan kadar Th dari limbah yang terkontaminasi Th. Kadar Th pada tumbuhan kayu apu dan limbah cair dianalisis dengan Spektrofotometer UV-VIS sementara radioaktivitasnya diukur dengan Ludlum Model 1000 Scaler. Parameter terjadinya fitoremediasi antara lain kondisi fisik tumbuhan yang menurun, pH limbah yang mendekati netral, dan suhu yang fluktuatif mengikuti suhu lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan biomassa tumbuhan kayu apu mengalami penurunan setelah fitoremediasi menjadi 96,2% dengan efisiensi remediasi sebesar 97,4% dari konsentrasi awal limbah radioaktif cair Th sebesar 10 ppm. Hal ini disebabkan karena terjadinya penyerapan Th sehingga mengakibatkan akumulasi Th pada tumbuhan kayu apu sebesar 4069,4 mg/kg. Tumbuhan kayu apu juga mampu menurunkan radioaktivitas limbah cair Th menjadi 0,631 Bq/L dari radioaktivitas awal sebesar 2,819 Bq/L. Tingkat radioaktivitas sudah di bawah Tingkat Klierens dan limbah dapat dilepas ke lingkungan dengan aman.ABSTRACT Thorium (Th) waste is an alpha-emitting radioactive waste that is harmful to the environment and living things so it is necessary to treat the waste effectively with phytoremediation. Phytoremediation is a plant ability to reduce pollutants presence in the environment. This research aim is examining apu wood plant ability to reduce Th contents from Th-contaminated waste. The UV-VIS spectrophotometer analysed Th level in apu wood plant and liquid waste while the Ludlum Model 1000 Scaler measured their radioactivity. The parameters for phytoremediation occurrence include the decreasing physical condition of the plants, the pH of the waste that is close to neutral, and the temperature that fluctuates with the ambient temperature. The results showed that the plant biomass of apu wood decreased after phytoremediation to 96.2% with a remediation efficiency of 97.4% from the initial concentration of Th liquid radioactive waste of 10 ppm. This is due to thorium absorption resulting in thorium accumulation in apu wood plants of 4,069.4 mg/kg. Apu wood was also able to reduce Th liquid waste radioactivity to 0.631 Bq/L from the initial radioactivity of 2.819 Bq/L. The radioactivity level is below the Klierens Level and it is safe to release the waste into the environment.
Peran Kontaminasi Kerak pada Diferensiasi Magma Pembentuk Batuan Vulkanik Sungai Ampalas, Mamuju, Sulawesi Barat Windi Anarta Draniswari; Sekar Indah Tri Kusuma; Tyto Baskara Adimedha; I Gde Sukadana
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6040

Abstract

ABSTRAK Anomali radiometri telah ditemukan di area Sungai Amplas pada bongkah batuan vulkanik. Nilai yang terukur dari spektrometer gama adalah 787 ppm eU dan 223 ppm eTh. Penemuan ini menarik untuk pengembangan eksplorasi. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui karekteristik batuan pembawa mineral radioaktif dari sampel in-situ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petrologi dan geokimia batuan vulkanik Ampalas sebagai studi awal untuk mengetahui proses akumulasi mineral radioaktif pada batuan vulkanik Ampalas. Metodologi yang digunakan meliputi pengamatan lapangan, pengambilan sampel batuan, analisis petrografi dan X-Ray Fluorescence (XRF). Batuan vulkanik ampalas tersusun atas ponolit, foidit, dan foid-syenit. Tekstur batuannya terdiri dari porfiritik, aliran, rim piroksen, zoning, pseudo-leusit, korosi, inklusi mafik, dan sieve. Karakteristik geokimia menunjukkan alkalinitas tinggi dan indikasi pengayaan mineral radioaktif yang tersebar dalam batuan. Proses magmatis yang berperan dalam pembentukan batuan vulkanik adalah fraksionasi kristal (fraksionasi leusit dan alkali felspar), asimilasi kerak kontinen, dan pencampuran magma. Interaksi antara magma dan kerak menyebabkan diferensiasi magma berkelanjutan yang menghasilkan akumulasi uranium dan torium lebih tinggi.ABSTRACT Anomalous radiometry has been found in Ampalas River Area on volcanic rock boulder. The values measured from gamma spectrometer are 787 ppm eU and 223 ppm eTh. This discovery is promising for exploration development. Further study need to figure the radioactive mineral bearing rock characteristic from in-situ samples. The research aim is to determine the petrology and geochemical characteristics of Ampalas volcanic rocks as preliminary study to find radioactive mineral accumulation process of Ampalas volcanic rocks. The methodologies are field observation, rock sampling, petrography, and X-Ray fluorescence (XRF) analyses. The Ampalas volcanic rocks consist of phonolite, phoidite, and phoid syenite. Their textures are porphyritic, flow, pyroxene rim, zoning, pseudo-leucite, corrosion, mafic inclusions, and sieve. The geochemical characteristics show high alkalinity and radioactive mineral enrichment disseminating on rock. The magmatic processes which play a significant role in radioactive mineral-bearing rocks formation are crystal fractionations (leucite and alkaline feldspar fractionations), continental crust assimilation, and magma mixing. Long interaction between magma and crust creates advanced magma differentiation causing higher uranium and thorium accumulation.  
Reduksi Torium Pada Limbah Cair Pengolahan Monasit Menggunakan Resin Penukar Anion Laili Hasna; Suci Amalia; Dany Poltak Marisi
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6006

Abstract

ABSTRAK Dampak dari pemisahan logam tanah jarang pada monasit adalah limbah cair yang mengandung unsur radioaktif torium yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup. Metode standar dalam pemisahan torium dari limbah cair adalah dengan menggunakan resin penukar anion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis resin penukar anion, massa resin, dan waktu kontak yang optimum untuk menurunkan kadar torium dalam limbah cair monasit. Hasil menunjukkan bahwa laju penukaran optimum terjadi pada resin Amberlite IRA402 dengan waktu kontak 60 menit dan massa 1 gram yaitu sebesar 57,7%. Sementara itu, pada resin Tulsion A23, laju penukaran optimum sebesar 50,7% terjadi pada waktu kontak 50 menit dan massa resin 1 gram. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan nyata pada variasi jenis resin dan waktu kontak yang menunjukkan nilai signifikan >0,05. Pada waktu yang sama, terdapat perbedaan nyata pada variasi massa resin dengan hasil nilai signifikan <0,05. Uji Duncan menyatakan massa resin kecil (0,25 dan 0,5 gram) cocok untuk Tulsion A23 dan massa resin besar (0,75 dan1 gram) cocok untuk resin Amberlite IRA402.ABSTRACT The effect of separating rare earths from monazite is wastewater containing the radioactive element thorium which is harmful to the environment and living things. A standard method of separating thorium from wastewater is with anion-exchange resin. This study determines the optimum type of anion-exchange resin, resin weight, and contact time to reduce thorium levels in monazite wastewater. The results showed that the optimum exchange rate that occurred in Amberlite IRA402 resin is 57.7%, at 60 minutes and 1 gram. Meanwhile, the optimum exchange rate for Tulsion A23 resin is 50.7%, at 50 minutes and 1 gram. The statistical test showed that there was no significant difference in the resin type and contact time variation, which showed a considerable value >0.05. At the same time there was a substantial difference in resin mass variation with a significant value <0.05. The Duncan test stated that lighter resin masses (0.25 and 0.5 gram) are suitable for Tulsion A23 and heavier resin masses (0.75 and 1 gram) are ideal for Amberlite IRA402.
Cover+Kata Pengantar+Daftar Isi+Indeks Isi Redaksi EKSPLORIUM
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover+Kata Pengantar+Daftar Isi+Indeks Isi Vol. 41, No. 2, November 2020.
Indikasi Mineralisasi Tipe Porfiri di Daerah Sumbersari, Kompleks Pengunungan Kulon Progo, Purworejo, Indonesia Okki Verdiansyah; Damas Muharif; I Gde Sukadana
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.5959

Abstract

ABSTRAK Pegunungan Kulon Progo merupakan produk magmatisme Busur Sunda-Banda tersusun atas formasi andesit tua. Daerah Sumbersari merupakan bagian dari gunung api Gajah, batuan gunung api tertua Kulon Progo. Indikasi mineralisasi tipe porfiri ditemukan di daerah ini sehingga menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi keterdapatan mineral logam berharga (Cu-Au). Metode penelitian yang digunakan adalah pemetaan geologi, analisis petrografi dan mikroskopi bijih, serta analisis geokimia menggunakan XRF dan ICP-MS. Geologi daerah penelitian terletak pada fasies sentral-proksimal Khuluk Gajah, terususun atas intrusi mikrodiorit, mikrodiorit kuarsa, andesit, andesit basaltik-diorit, dan batugamping. Alterasi hidrotermal berkembang pada batuan beku diorit, mikrodiorit, dan sebagian pada andesit. Alterasi hidrotermal dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu ilit-serisit±biotit sekunder, epidot-aktinolit-kalsit±ilit, epidot-kalsit±ilit, dan ilit-serisit±kuarsa. Beberapa fase mineralisasi berkembang, antara lain fase epidot-aktinolit yang diikuti mineralisasi magnetit-kalkopirit, fase biotit-magnetit-kalkopirit-bornit, dan fase akhir serisit-mineral lempung-pirit menggantikan keseluruhan sistem. Analisis geokimia pada batuan teralterasi menunjukan indikasi mineralisasi Cu-Au dengan kadar 491–1447 ppm (0,14%) Cu dan 0,02–0,3 ppm Au dengan rasio elemen Cu:Au adalah 1,01. Karakter geokimia menunjukkan adanya korelasi kuat Cu terhadap Au.ABSTRACT Kulon Progo Mountain is Sunda-Banda Arc magmatism product composed of an old andesite formation. Sumbersari Area is part of the Gajah volcanic, which is the oldest rock of Kulon Progo volcanics. Indication of porphyry type mineralisation has been found in the area which makes the area interested for further research. The research methodologies are geological mapping, petrography and ore microscopy, and geochemical analysis using XRF and ICP-MS. Geology of the area located in central-proximal facies of Khuluk Gajah, consist of microdiorite, quartz-microdiorite, andesite, basaltic-dioritic andesite intrusions, and limestone. Hydrotermal alteration is developing into certain groups like illite-sericite ± secondary biotite, epidote-actinolite-calcite ± illite, epidot-calcite ± illite, and illite-sericite ± quartz. Some mineralisation phases are developed like epidote-actinolite followed by magnetite-chalcopyrite mineralisation, biotite-magnetite-chalcopyrite-bornite phase and the late phase of sericite-clay-pyrite replacing the entire system. Geochemical analysis on altered rocks show Cu-Au mineralisation indication ranging from 491-1,447 ppm (0.14%) and 0.02-0.3 ppm respectively, with Cu:Au ratio is 1.01. Geochemical characteristic shows strong correlation of Cu to Au.
Komparasi Geokimia Batuan Gunung Api Kuarter dan Tersier di Tepian Selatan Lampung Ronaldo Irzon
EKSPLORIUM Vol 41, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2020.41.2.6053

Abstract

ABSTRAK Keterdapatan batuan gunung api di Sumatra diakibatkan oleh penunjaman Lempeng Samudra India-Australia ke bawah Lempeng West Sumatra sejak Eosen. Tanggamus adalah kabupaten di ujung selatan Lampung dengan keterdapatan beberapa unit batuan gunung api berumur Tersier maupun Kuarter. Studi ini bertujuan untuk membandingkan komposisi geokimia batuan gunung api Tersier Formasi Hulusimpang dengan batuan gunung api Kuarter Gunung Tanggamus. Perangkat XRF dan ICP-MS dimanfaatkan untuk mengetahui kadar oksida utama, unsur jejak, dan unsur tanah jarang pada penelitian ini. Berdasarkan karakter geokimia, sampel dari Formasi Hulusimpang adalah batuan gunung api kalk-alkali, metalumina hingga peralumina, dan dalam rentang trakiandesit basaltik hingga riolit. Sampel batuan gunung api berumur Kuarter berada pada rentang kadar silika yang lebih sempit dan cenderung metalumina. Studi ini membuktikan bahwa kedua kelompok batuan berasal dari magma yang sama, tetapi dengan kontaminasi kerak selama diferensiasi. Proses pembentukan yang berbeda pada kedua kelompok batuan diperjelas oleh derajat kemiringan kurva diagram laba-laba UTJ dan jenis anomali Eu.ABSTRACT The presence of volcanic rocks in Sumatra is due to the subduction of the Indian-Australian Ocean Plate under the West Sumatra Plate since the Eocene. Tanggamus Regency situated at the southern edge of Lampung with the occurrence of several Tertiary and Quaternary volcanic rock units. The aim of this study is to compare the geochemical composition of Tertiary volcanic rocks from the Hulusimpang Formation and Quaternary volcanic rocks from Mount Tanggamus in the Tanggamus Regency. XRF and ICP-MS devices were used to determine the compositions of major oxides, trace elements, and rare earth elements in this study. Based on geochemical characters, samples from the Hulusimpang Formation are calc-alkaline volcanic rocks, metaluminous to peraluminous, and in the basaltic trachyandesite to rhyolite ranges. Quaternary samples are in a narrower range of silica content and tend to be metaluminous. This study proves that the two rock groups originate from the same magma but with crustal contamination during differentiation. The two volcanic should experience through different formation processes based on the slope of the heavy-REE and the type of Eu anomaly.

Page 1 of 1 | Total Record : 8