cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Biopropal Industri
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2020)" : 7 Documents clear
POTENSI PIGMEN FIKOBILIPROTEIN SEBAGAI AGEN ANTIOKSIDAN DAN TOKSISITAS HAYATI DARI SIANOBAKTERIA Chroococcus turgidus (Potency of Phycobiliprotein Pigment as Antioxidant and Biological Toxicity Agents from Cyanobacteria Chroococcus turgidus) Noor Hidhayati; Ni Wayan Sri Agustini; Marsiti Apriastini; Claudia Margaretha
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5540

Abstract

Phycobiliprotein is a pigment-protein complex owned by cyanobacteria and exhibits a wide variety of biological activities. This study was aimed to determine antioxidant activity and biological toxicity of phycobiliprotein pigments from Chroococcus turgidus, extracted using various polar solvents, namely, water, calcium chloride and phosphate buffer. The antioxidant activity assay was analysed using the DPPH free radical reduction method while the biological toxicity assay was analysed using BSLT method. The results showed that the phycobiliprotein pigment was successfully extracted using three types of solvents. The best result was obtained by water solvent with pigment levels of 0.296 mg/mL. Based on the activity, the phycobiliprotein pigment extracted using a water solvent was active as an antioxidant with an IC50 value of 198.706 µg/mL, while the extraction results using calcium chloride and phosphate buffer were not active as an antioxidant with IC50 values were 1255.430 µg/mL and 1508.130 µg/mL, respectively. Toxicity assay showed that phycobiliprotein pigments extracted using water was non-toxic with LC50 values of 1920.430 µg/mL while pigments extracted using calcium chloride and phosphate buffer were toxic with LC50 values of 534.070 µg/mL and 221.050 µg/mL, respectively. The results of this study prove that phycobiliprotein pigment from C. turgidus can be used as a natural antioxidant. Its toxicity activity provides an overview for further study towards the potential and selection of anticancer compounds.Keywords: antioxidant, C. turgidus, phycobiliprotein, toxicityABSTRAKFikobiliprotein merupakan kompleks pigmen-protein yang dimiliki oleh sianobakteria dan menunjukkan berbagai aktivitas biologi yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan toksisitas hayati dari pigmen fikobiliprotein Chroococcus turgidus yang diekstrak menggunakan berbagai pelarut polar, yaitu air, kalsium klorida dan buffer fosfat. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode perendaman radikal bebas DPPH sedangkan uji toksisitas hayati dengan BSLT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pigmen fikobiliprotein berhasil diekstraksi menggunakan ketiga macam pelarut. Hasil terbaik dicapai oleh pelarut air dengan kadar pigmen 0,296 mg/mL. Berdasarkan uji aktivitas, pigmen fikobiliprotein yang diekstrak menggunakan pelarut air bersifat aktif sebagai antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 198,706 µg/mL, sedangkan hasil ekstraksi menggunakan kalsium klorida dan buffer fosfat tidak aktif sebagai antioksidan dengan nilai IC50 berturut-turut adalah 1255,430 µg/mL dan 1508,130 µg/mL. Hasil uji toksisitas menunjukkan pigmen fikobiliprotein yang diekstrak menggunakan air tidak bersifat toksik dengan nilai LC50 sebesar 1920,430 µg/mL sedangkan pigmen yang diekstrak menggunakan kalsium klorida dan buffer fosfat bersifat toksik dengan nilai LC50 berturut-turut sebesar 534,070 µg/mL dan 221,050 µg/mL. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pigmen fikobiliprotein sianobakteria C. turgidus dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan alami. Aktivitas toksisitas yang dimilikinya memberikan gambaran untuk pengujian lebih lanjut ke arah potensi dan seleksi senyawa antikanker.Kata kunci: antioksidan, C. turgidus, fikobiliprotein, toksisitas
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK COOKIES MOCAF DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TEMPE (Physicochemical and Organoleptic Characteristics of Mocaf Cookies with Tempeh Flour Additions) Dita Kristanti; Woro Setiaboma; Ainia Herminiati
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5354

Abstract

Mocaf is used as an ingredient for cookies to reduce consumption and import of wheat flour in Indonesia, while tempeh flour as a protein source for milk substitute. The mocaf cookies in this research is made from gluten and casein free ingredients. The use of mocaf and tempeh flour will cause changes in the physical, chemical and organoleptic characteristics of cookies. This study was conducted to determine the composition of mocaf and tempeh flour which produces cookies that are preferred by consumers with a good nutrition. In this study there were 5 formulations with a ratio of mocaf and tempeh flour namely F1 (100:0), F2 (75:25), F3 (50:50), F4 (25:75), and F5 (0: 100) while F0 as a control using wheat flour. The results showed that the best formulation based on physical, chemical, and organoleptic characteristics was F2. The F2 cookies content of moisture (3,94±0,15%), protein (9,09±0,22%), fat (24,65±1,03%), ash (1,02±0,00%), carbohydrate (61,35±1,10%), iron (7,76±0,30 mg/100 g), zinc (1,10±0,01 mg/100g), calcium (2,97±0,02 mg/100 g), and magnesium (26,19±0,19 mg/100 g). The F2 cookies had a bake loss 15,25±0,40%, spread ratio of 7,89±0,10 mm, 2025,57±29,88 gForce of hardness, brittleness 20,84±0,15 mm, and consumers sensory perception of 26%.Keywords: casein free, cookies, gluten free, modified cassava flour (mocaf), tempeh flourABSTRAKPembuatan cookies dari tepung mocaf (modified cassava flour) dilakukan sebagai upaya mengurangi konsumsi dan impor tepung terigu di Indonesia. Tepung tempe ditambahkan pada pembuatan cookies sebagai sumber protein pengganti susu. Cookies mocaf ini merupakan produk yang dibuat dari bahan baku bebas gluten dan bebas kasein. Penggunaan tepung mocaf dan tempe akan menyebabkan perubahan karakteristik fisik, kimia dan organoleptik cookies. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan tepung mocaf dan tempe pada pembuatan cookies yang memiliki nilai gizi baik dan disukai konsumen. Pada penelitian ini terdapat 5 perlakuan dengan perbandingan tepung mocaf dan tepung tempe, yaitu F1 (100:0), F2 (75:25), F3 (50:50), F4 (25:75) dan F5 (0:100) serta F0 sebagai kontrol menggunakan tepung terigu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cookies terbaik berdasarkan karakteristik fisik, kimia dan organoleptik adalah F2. Cookies F2 memiliki kandungan air (3,94±0,15%), protein (9,09±0,22%), lemak (24,65±1,03%), abu (1,02±0,00%), karbohidrat (61,35±1,10%), besi (7,76±0,30 mg/100 g), seng (1,10±0,01 mg/100g), kalsium (2,97±0,02 mg/100 g), magnesium (26,19±0,19 mg/100 g), bake loss (15,25±0,40%), spread ratio (7,89±0,10 mm), hardness (2025,57±29,88 gForce), fracturabillity (20,84±0,15 mm) dan tingkat penerimaan sebesar 26%.Kata kunci: bebas gluten, bebas kasein, cookies, tepung mocaf, tepung tempe
ISOLASI DAN KARAKTERISASI ISOLAT BAKTERI INDIGENOUS PEMFERMENTASI PULP TIGA VARIETAS KAKAO (Theobroma cacao L.) (Isolation and Characterizations of Indigenous Fermenting Bacteria from Pulp of Three Cocoa Varieties (Theobroma cacao, L.)) Silmi Yusri Rahmadani; Periadnadi Periadnadi; Nurmiati Nurmiati
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5685

Abstract

Cocoa fermentation is a biochemistry process that involving some potential indigenous bacteria found in pulp of cocoa. These indigenous bacteria utilize nutrients contained in cocoa pulp such as sucrose and other organic materials for its metabolism. This investigation was conducted to determine the characteristics of indigenous bacteria from pulp of three superior cocoa varieties in West Sumatera, namely TSH 858, ICS 60 and Scavina. In this study, the colony and cell morphology of the indigenous isolates were characterized, amylolytic and cellulolytic tests were also conducted. Results showed that nine isolates obtained were gram positive and negative bacteria, bacilli and cocci, with different colony morphology. Isolate C2 from ICS 60 variety showed the highest Amylolytic Index (AI) with the value of 24. Meanwhile, isolate C4 showed the highest Cellulolytic Index (CI) with the value of 10. Based on the index value and clear zone results, isolate C2 is the most potential isolate to become a starter that producing amylase.Keywords: amylolytic, celulolytic, cocoa, indigenous bacteria, pulpABSTRAKFermentasi kakao merupakan suatu proses biokimia yang melibatkan bakteri indigenous potensial pada daging buah atau pulp kakao. Bakteri ini memanfaatkan nutrisi yang terkandung pada pulp kakao seperti sukrosa serta bahan organik lain untuk metabolism hidupnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bakteri indigenous pada pulp tiga varietas kakao unggul di Sumatera Barat, yaitu TSH 858, ICS 60 dan Scavina. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi morfologi koloni, morfologi sel serta uji amilolitik dan selulolitik dari bakteri indigenous pemfermentasi pulp kakao. Sembilan isolat bakteri yang diperoleh merupakan kelompok bakteri gram positif dan gram negatif, berbentuk basil dan kokus serta morfologi koloni yang berbeda-beda. Pada pengujian indeks amilolitik (IA), isolat C2 dari varietas ICS 60 menunjukkan nilai IA tertinggi yaitu 24, sedangkan untuk pengujian indeks selulolitik (IS), isolat C4 menunjukkan IS tertinggi yaitu 10. Dilihat dari segi nilai indeks dan zona beningnya, isolat C2 merupakan isolat yang berpotensi untuk untuk dijadikan starter penghasil enzim amilase.Kata kunci: amilolitik, bakteri indigenous, kakao, pulp, selulolitik
PENGARUH FERMENTASI TERHADAP TOTAL FENOLIK, AKTIVITAS PENGHAMBATAN RADIKAL DAN ANTIBAKTERI EKSTRAK TEPUNG BIJI TERATAI (Effect of Fermentation on Total Phenolic, Radical Scavenging and Antibacterial Activity of Waterlily (Nymphaea pubescens Willd.) Nazarni Rahmi; Nadra Khairiah; Rufida Rufida; Sri Hidayati; Anton Muis
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5553

Abstract

Waterlily seed flour is made from mature grinded waterlily seed. The flour is commonly used as cake and local food ingredient of South Borneo. Waterlily seeds have antidiarrheal and other functional properties. This study aimed to determine the effect of fermentation on total phenolic, antiradical and antibacterial activity in waterlily seed flour. Seeds were grinded, sifted through 60 mesh screen and fermented using L. plantarum JBSxH.6.4, BIMO-CF and spontaneous fermentation for 48 hours respectively. The fermented products were drained, dried and extracted using ethyl acetate and water solution with 70:30 ratio. The extract obtained was evaporated and determined its total phenolic by the Folin-ciocalteu method, antiradical activity using 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) and antibacterial by agar diffusion method. Furthermore, they were compared with the unfermented one. The results showed the increasing of total phenolic from 70.52±0.53 to 99.82±0.60 mg/g GAE, antiradical activity from 80.37±0.89 to 87.64±0.68% and antibacterial activity which indicate by the inhibition of E. coli, Salmonella and S. aureus. Fermentation in waterlily flour increased the total phenolic content and its biological activity, so it has the potential to be used as functional food.Keywords: antibacterial, DPPH, fermentation, total phenolic, waterlily seedABSTRAKTepung biji teratai dibuat dari biji teratai matang yang dihaluskan. Tepung ini biasa digunakan sebagai bahan kue dan makanan lokal khas Kalimantan Selatan. Biji teratai mempunyai khasiat antidiare dan memiliki beberapa sifat fungsional lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh fermentasi terhadap total fenolik, aktivitas antiradikal dan antibakteri pada tepung biji teratai. Biji teratai dihaluskan, diayak dengan ayakan 60 mesh dan difermentasi menggunakan L. plantarum JBSxH.6.4, BIMO-CF dan fermentasi spontan, masing-masing selama 48 jam. Hasil fermentasi ditiriskan, dikeringkan dan diekstrak menggunakan pelarut etil asetat dan air dengan perbandingan 70:30. Ekstrak yang diperoleh diuapkan dan ditentukan total fenolik dengan metode Folin-ciocalteu, aktivitas penghambatan radikal menggunakan 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) dan antibakteri dengan metode difusi agar. Selanjutnya, hasil ini dibandingkan dengan perlakuan tanpa fermentasi. Hasil pengujian menunjukkan terjadi peningkatan kandungan total fenolik 70,52±0,53 menjadi 99,82±0,60 mg/g GAE, aktivitas penghambatan radikal 80,37±0,89 menjadi 87,64±0,68% dan aktivitas antibakteri yang ditunjukkan oleh penghambatan terhadap bakteri E. coli, Salmonella dan S. aureus. Fermentasi mampu meningkatkan kandungan total fenolik dan aktivitas biologis pada tepung teratai, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan pangan fungsional.Kata kunci: antibakteri, biji teratai, DPPH, fermentasi, total fenolik
OPTIMASI WAKTU INKUBASI PRODUKSI BAHAN MINUMAN PROBIOTIK DARI UMBI GARUT (Maranta arundinacea L.) OLEH Lactobacillus fermentum SEBAGAI ANTIHIPERKOLESTEROLEMIA Harry Noviardi; Sitaresmi Yuningtyas; Vira Yuniar
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5846

Abstract

Arrowroot tuber is one of the potential plants that has a high nutritional content so it can be the source of nutrition for the growth of Lactobacillus fermentum bacteria  for probiotic drink production. Arrowroot fermentation  with L. fermentum is also known potentially reduce cholesterol level. The probiotics have the ability to absorb a number of cholesterol into cells. This research aimed to determine the optimum incubation time of the production of arrowroot tubers with antihypercholesterolemia activity for pribiotic drink. Arrowroot tuber fermentation was carried out using L. fermentum culture with varying incubation times of 4, 8 and 12 hours. The fermentation results were evaluated organoleptically (color, aroma, texture and taste), pH, total lactic acid, total lactic acid bacteria and alcohol content. In addition, anylisis of total cholesterol levels by in vivo were also tested. The decreasing of total cholesterol level by the fermented tuber with incubation time variations of 4, 8 and 12 hours, respectively, by 15.14%, 16.96% and 28.56%. The results showed that the highest reduction percentage of total cholesterol level is 12 hours incubation time with pH value of 5.25, total lactic acid bacteria 6.4 x 108CFU/mL. The total value of acquired lactic acid bacteria meets the standard for probiotic product. This indicates that the optimum incubation time for the production of probiotic arrowroot tubers as antihypercholesterolemia is 12 hours.Keywords: antihypercholesterolemic, arrowroot tuber, Lactobacillus fermentum, probioticABSTRAKUmbi garut merupakan salah satu tanaman potensial yang memiliki kandungan gizi tinggi sehingga dapat dijadikan sumber nutrisi bagi pertumbuhan bakteri Lactobacillus fermentum untuk pembuatan minuman probiotik. Fermentasi umbi garut dengan L. fermentum tersebut juga diketahui memiliki potensi untuk menurunkan kadar kolesterol. Hal ini disebabkan oleh kemampuan probiotik menyerap sejumlah kolesterol ke dalam sel. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu inkubasi optimum produksi bahan minuman probiotik dari umbi garut yang mempunyai aktivitas antihiperkolesterolemia. Fermentasi umbi garut dilakukan menggunakan kultur L. fermentum dengan variasi waktu inkubasi, yaitu 4, 8 dan 12 jam. Hasil fermentasi dievaluasi organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa), pH, total asam laktat, total bakteri asam laktat dan kadar alkohol. Selain itu, dilakukan juga analisis penurunan kadar kolesterol total secara in vivo. Nilai persentase penurunan kadar kolesterol total oleh hasil fementasi umbi garut dengan variasi waktu inkubasi 4, 8 dan 12 jam secara berturut-turut sebesar 15,14%, 16,96% dan 28,56%. Hasil fermentasi umbi garut dengan nilai persentase penurunan kadar kolesterol total tertinggi adalah waktu inkubasi 12 jam dengan nilai pH 5,25; total asam laktat 1,56%, total bakteri asam laktat 6,4 x 108 CFU/mL. Nilai total bakteri asam laktat yang diperoleh memenuhi standar untuk produk  probiotik. Oleh sebab itu, waktu inkubasi optimum produksi umbi garut probiotik sebagai antihiperkolesterolemia berada pada waktu 12 jam.Kata kunci: antihiperkolesterolemia, Lactobacillus fermentum, probiotik, umbi garut
PENGARUH JENIS BAKTERI ASAM LAKTAT DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP MUTU TEPUNG PISANG TANDUK (Musa corniculata) (Effect of Lactic Acid Bacteria and Fermentation Time on Quality of Tanduk Banana (Musa corniculata) Flour) Dewi Desnilasari; Syawaludin Akbar Kusuma; Riyanti Ekafitri; Rima Kumalasari
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5355

Abstract

Modification of banana flour by fermentation could change its quality. Fermentation of the whole banana could increase mineral content of banana flour. This research aimed to know the effect of the type of lactic acid bacteria and fermentation time on quality of whole tanduk banana flour. This research used completely randomized design with the treatments were control (without fermentation), spontaneous fermentation, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum for 24 and 48 hours. The result showed that fermentation by L. bulgaricus for 24 hours was optimum based on the number of lactic acid bacteria colony, pH and lactic acid contain. Modification of whole banana flour significantly increased the value of red/ green “a”color, but decreased ash content, protein and minerals compared to native banana flour. It also significantly increased amylose content in fermentation using L. bulgaricus. The solubility of modified banana flour was decreased, while the water absorption capacity was significantly increased compared to native flour. Pasting properties of modified flour using L. casei for 24 hours were significantly increased for the peak viscosity, breakdown, final viscosity, and setback, however the values of peak time and pasting temperature were reduced. This mean that the modification of whole banana flour has the potential to changed the characterictic of physicochemical, functional properties, and pasting properties of banana flour.Keywords: fermentation, lactic acid bacteria, modified banana flour, tanduk bananaABSTRAKModifikasi melalui proses fermentasi dapat merubah mutu tepung. Penggunaan pisang tanpa dikupas kulitnya dalam pembuatan tepung pisang dapat meningkatkan kandungan mineral. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis bakteri asam laktat (BAL) dan lama fermentasi pada mutu tepung pisang. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kontrol (tanpa fermentasi), fermentasi spontan, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum masing-masing selama 24 dan 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan proses fermentasi yang berlangsung dengan L. bulgaricus 24 jam memiliki total BAL, pH dan asam laktat yang optimum. Modifikasi tepung pisang utuh berpengaruh nyata terhadap peningkatan nilai warna merah/ hijau “a”, penurunan kadar abu, protein dan mineral jika dibandingkan dengan tepung pisang alami. Peningkatan kadar amilosa signifikan pada fermentasi L. bulgaricus. Kelarutan tepung pisang modifikasi menurun, sedangkan kapasitas penyerapan airnya meningkat nyata dibanding dengan tepung pisang alami. Profil gelatinisasi tepung modifikasi pada perlakuan fermentasi L. casei 24 jam dapat secara signifikan meningkatkan viskositas puncak, viskositas breakdown, viskositas akhir dan viskositas setback secara signifikan mampu menurunkan waktu puncak dan suhu pasting. Hal ini berarti bahwa modifikasi tepung pisang dengan kulit berpotensi untuk merubah karakteristik fisikokimia, sifat fungsional, dan karakteristik pasting dari tepung.Kata kunci: bakteri asam laktat, fermentasi, pisang tanduk, tepung pisang modifikasi
PENGAYAAN ANTIOKSIDAN UNTUK BERAS MERAH ARTIFICIAL DENGAN EKSTRAK PEWARNA MERAH ALAMI Rhoeo Discolor L. Her (Antioxidant Enrichment for Artificial Red Rice by Natural Red Pigment Extract From Rhoeo Discolor L. Her) Husniati Husniati; Junaidi Permana; Tati Suhartati
Biopropal Industri Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v11i1.5418

Abstract

Artificial rice is one of food diversification alternative from non-rice local carbohydrates. Generally, artificial rice is a flour based using cassava, tapioca, corn and sago from Indonesia as raw material, with additional of micronutrients such as mineral and vitamin. This research aimed to apply the red pigment anthocyanin which contain antioxidants for artificial red rice production. Red pigment was extracted from Adam hawa (Rhoeo discolor L. Her) leaves in acid water solvent and predicted as cyanidin-3-galactose or peonidin-3-glucose compounds. Artificial red rice was tested its color degree based on the CIE (Commission Internationale de I'Eclairage) Lab method and the result indicated the red color brightness and its color stability lighter than natural red rice.Keywords: Anthocyanins, antioxidants, artificial rice, Rhoeo discolor L. HerABSTRAKBeras artificial menjadi salah satu alternatif diversifikasi pangan berbahan baku karbohidrat lokal bukan beras. Umumnya, beras artificial menggunakan bahan baku berbasis tepung seperti singkong, tapioka, jagung dan sagu asal Indonesia, serta tambahan mikronutrien seperti mineral dan vitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan pewarna merah antosianin yang mengandung antioksidan untuk pembuatan beras merah artificial. Pewarna merah diekstrak dari bagian daun Adam hawa (Rhoeo discolor L. Her) dalam pelarut air (akuades) yang mengandung asam dan diperkirakan sebagai senyawa sianidin-3-galaktosa atau peonidin-3-glukosa. Produk beras merah artificial diuji derajat warnanya mengacu nilai Lab CIE (Commission Internationale de I’Eclairage) dan jika dibandingkan dengan beras merah alami maka beras merah artificial menunjukkan skala pembacaan warna merah, kecerahan, serta kestabilan warna merahnya ke arah lebih terang.Kata kunci: Antioksidan, antosianin, beras artificial, Rhoeo discolor L. Her

Page 1 of 1 | Total Record : 7