cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Biopropal Industri
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2018)" : 5 Documents clear
MIKROFILTRASI ISOLAT TEMPE KEDELAI (Glycine soja L.) DAN DISTRIBUSI PARTIKELNYA SEBAGAI SUMBER ASAM FOLAT (Soybean (Glycine soja L.) Tempe Isolate Microfiltration and its Particle Distribution as Folic Acid Source) Agustine Susilowati; Aspiyanto Aspiyanto; Muhammad Ghozali; Yati Maryati
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3393

Abstract

Soybean (Glycine soja L.) fermented (tempe) by Rhizopus oligosporus-C1 has potential as protein isolate of natural folic acid source. This study aimed to determine the differences in protein isolate particle characteristics and their composition. The research was done by smearing tempe on the ratio of 1 part tempe and 4 parts water, filtration escaped 80 mesh and purification through microfiltration system (MF) stirred cells. The results showed that MF system was capable of recovering folic acid, soluble protein, N-amino and total solids in consecutive concentrates 51.41; 73; 74.3 and 34.26%. The resulting MF concentrate drying process yielded smaller particle size powder, brighter color and evenly smoothness with Ø 0.4-100 μm (50.2%) while remaining part (49.8%) of particles measuring between 100-1000 μm with a total composition of 95.12% solids, dissolved protein 0.75 mg mL, N-amino 14.56 mg / mL and folic acid 299.66 μ/mL.Keywords: concentrate, folic acid, microfiltration (MF), particle size, tempeABSTRAKKedelai (Glycine soja L.) yang terfermentasi (tempe) oleh Rhizopus oligosporus-C1 berpotensi sebagai isolat protein sumber asam folat alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik partikel isolat protein dan komposisinya terutama asam folat dari bubur dan konsentrat bubur tempe. Penelitian dilakukan dengan melumatkan tempe pada rasio 1 bagian tempe dan 4 bagian air, filtrasi lolos 80 mesh dan pemurnian melalui sistem mikrofiltrasi (MF) sel berpengaduk. Perolehan bubur tempe dan konsentrat hasil MF selanjutnya dikeringkan dengan pengering vakum pada suhu 30°C dan tekanan absolut 22 cmHg selama 24 jam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pelumatan dan filtrasi meningkatkan asam folat, protein terlarut dan N-amino serta menurunkan total solid bubur dan filtrat. Sistem MF mampu memperoleh kembali asam folat, protein terlarut, N-amino dan total solid dalam konsentrat berturut-turut 51,41%; 73%; 74,3% dan 34,26% dibandingkan konsentrasi komponen-komponen dalam retentat dan permeat. Proses pengeringan konsentrat hasil MF menghasilkan bubuk dengan ukuran partikel lebih kecil, warna lebih cerah dan tingkat kehalusan lebih merata dengan partikel berukuran Ø 0,4-100 µm (50,2%) dan sisanya (49,8%) berupa partikel berukuran antara 100-1000 µm dengan komposisi total padatan 95,12%, protein terlarut 0,75 mg/mL, N-amino 14,56 mg/mL dan asam folat 299,66 µg/mL.Kata kunci: asam folat , konsentrat, mikrofiltrasi (MF), tempe, ukuran partikel
PENINGKATAN GALUR PADA BAKTERI PENGHASIL IAA YANG DIISOLASI DARI BINTIL AKAR TANAMAN TURI (Strain Improvement on IAA-Producing Bacteria Isolated from Root Nodules of Sesbania grandiflora (L)) Tiwit Widowati; Rahayu Fitriani Wangsa Putrie; Sylvia J.R. Lekatompessy; Harmastini Sukiman
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.816 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3809

Abstract

Production of the Indole Acetic Acid (IAA) hormone from bacteria can be increased by improving the quality of the strain. Increased strains can be done with chemical and physical mutations. The study aimed to increase the production of bacterial IAA isolated from turi plant root nodule through mutation of nitric acid and UV rays. The fresh, healthy and pink colored nodule have been isolated from Turi plant (Sesbania grandiflora (L)) root which obtained 15 bacterial isolates then tested their ability to produce IAA hormone. The results of colorimetric analysis showed that TC 4.3.1.2 had highest IAA (17.72 μg/ml) in cultures plus L-triptofan. Based on 16S rRNA gene analysis,  TC 4.3.1.2 isolate was identified as Rhizobium sp BGC8. The TC 4.3.1.2 isolates were tested by mutation treatment. The nitric acid mutant produced IAA hormones (20.31-24.48 μg ml) were higher than UV mutants (0.61-19.55 μg/ml).Keywords: bacteria, IAA, mutation, strain improvement ABSTRAKProduksi hormon Indole Acetic Acid (IAA) dari bakteri dapat ditingkatkan melalui peningkatkan kualitas galur. Peningkatan galur dapat dilakukan dengan mutasi kimia dan fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan produksi IAA bakteri yang diisolasi dari bintil akar tanaman turi melalui mutasi asam nitrat dan sinar UV. Bintil berwarna merah muda, sehat dan segar telah diisolasi dari akar tanaman Turi (Sesbania grandiflora (L)). Sebanyak 15 isolat bakteri telah diperoleh dan diuji kemampuannya dalam menghasilkan hormon IAA. Hasil analisis kolorimetri menunjukkan bahwa isolat TC 4.3.1.2 menghasilkan IAA tertinggi (17,72 μg/ml) dalam kultur yang ditambah L-triptofan. Berdasarkan analisis gen 16S rRNA, isolat TC 4.3.1.2 teridentifikasi sebagai Rhizobium sp. BGC8. Isolat penghasil IAA tertinggi diuji dengan perlakuan mutasi. Mutan asam nitrat menghasilkan hormon IAA (20,31-24,48 μg/ml) lebih tinggi dibandingkan mutan UV (0,61-19,55 μg/ml).Kata kunci: bakteri, IAA, mutasi, peningkatan galur 
KARAKTERISASI SENYAWA PENGHAMBAT POLIMERISASI HEME DARI BATANG BROTOWALI (Tinospora crispa (L.)) (Characterization of Inhibitor Compounds in Heme Polymerization from Brotowali Stem (Tinospora crispa (L.)) Lilik Sulastri; . Syamsudin; Partomuan Simanjuntak
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.283 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3778

Abstract

Currently, obstacle in malaria treatment is the emergence of resistance to antimalarials. Brotowali (Tinospora crispa (L.)) is one of the medicinal plant which efficacious as antimalarials. This study aimed to obtain information on the structure prediction of chemical compounds that potential as antimalarials from F.EtOH.4 brotowali stems with heme polymerization inhibition mechanism using Huy method. F.EtOH.4 was fractionated using column chromatography with silica gel 60 as a stationary phase and dichloromethane-methanol eluent. F.EtOH.4.2.1.a has the highest heme polymerization inhibitory activity and chemical structure identification with UV spectroscopy, FTIR and LCMS. The IC50 value of F.EtOH.4.2.1.a was 253.46 ppm and IC50 from chloroquine sulfate was 178.74 ppm as a positive control. Identification of F.EtOH.4.2.1.a isolates based on MS spectrum was the possibility of borapetoside D compounds with molecular formula C33H46O16 and molecular weight of 698. FTIR spectrum results indicated aromatic and alcohol groups and UV spectrum results indicated chromophore groups.Keywords: borapetoside D,  heme polymerization, malaria, Tinospora crispa (L.) ABSTRAKMalaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium falcifarum dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Saat ini, kendala yang dihadapi dalam pengobatan malaria adalah timbulnya resistensi terhadap antimalaria sehingga mendorong penelitian untuk mencari antimalaria baru. Salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai antimalaria adalah brotowali (Tinospora crispa (L.)) dengan kandungan alkaloid, glikosida pikroretosid, pikroretin, berberin, palmatin dan kolumbin. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan F.EtOH.4 batang brotowali memiliki aktivitas penghambatan ß-hematin tertinggi dengan metode Basilico. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi prediksi struktur senyawa kimia yang berpotensi sebagai antimalaria dari F.EtOH.4 batang brotowali dengan mekanisme penghambatan polimerisasi heme menggunakan metode Huy. F.EtOH.4 difraksinasi menggunakan kolom kromatografi dengan fasa diam silika gel 60 dan eluen diklorometana-metanol. Hasil fraksinasi F.EtOH.4.2, F.EtOH.4.2.1 dan F.EtOH.4.2.1.a masing-masing dilakukan pengujian aktivitas penghambatan pelimerisasi heme. F.EtOH.4.2.1.a adalah fraksi yang mempunyai aktivitas penghambatan polimerisasi heme tertinggi dan dilakukan identifikasi struktur kimia dengan Spektroskopi UV, FTIR dan LCMS. Nilai IC50 dari F.EtOH.4.2.1.a sebesar 253,46 ppm dan IC50 dari klorokuin sulfat sebesar 178,74 ppm sebagai kontrol positif. Identifikasi isolat F.EtOH.4.2.1.a berdasarkan spektrum MS adalah kemungkinan senyawa borapetoside D dengan rumus molekul C33H46O16 dan bobot molekul 698. Hasil spektrum FTIR menunjukkan adanya gugus aromatik dan alkohol dan hasil spektrum UV menunjukkan adanya gugus kromofor.Kata kunci:          borapetoside D, malaria, polimerisasi heme, Tinospora crispa (L.)
KARAKTERISASI KOLAGEN GELEMBUNG RENANG TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DARI PERAIRAN MALUKU MENGGUNAKAN EKSTRAKSI ASAM (Collagen Characterization from Swim Bladder of Yellowfin Tuna (Thunnus albacares) from Maluku using Acid Extraction) Syarifuddin Idrus; Sugeng Hadinoto; Joice Kolanus
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.747 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.4020

Abstract

Swim bladders is part of byproduct from fish processing industry that contain high collagen protein. One effort to increase the added value of swim bladders is to process them into collagen extracts. The swim bladders was derived from yellowfin tuna (Thunnus albacares) as the dominant catch in Maluku. This research aimed to determine the characteristics of collagen extracts from the waste of swim bladders of yellowfin tuna which included proportion, chemical composition, amino acids and molecular weight. Swim bladders were extracted using 0.5 M and 0.75 M acetic acid. Waste swim bladders of yellowfin tuna has 0.35% of fish weights with 20.27% protein content. The acid extraction yielded collagen that identified as type I collagen with molecular weight between 130-145 kDa. Collagen extraction from swim bladders of yellowfin tuna gave best result using 0.5 M acetic acid which contains 456.40 mg/g proline, glycine 1175.05 mg/g and alanine 338.66 mg/g.Keywords: acetic acid, collagen, swim bladder, yellowfin tuna ABSTRAKGelembung renang merupakan bagian dari limbah hasil samping industri pengolahan ikan yang mengandung protein kolagen tinggi. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah pada gelembung renang adalah dengan mengolahnya menjadi ekstrak kolagen. Gelembung renang yang diteliti berasal dari ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) sebagai hasil tangkapan dominan di Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ekstrak kolagen dari limbah gelembung renang ikan tuna sirip kuning yang meliputi proporsi, komposisi kimia, asam amino dan berat molekul. Gelembung renang diekstraksi menggunakan asam asetat 0,5 M dan 0,75 M. Limbah gelembung renang ikan tuna sirip kuning memiliki proporsi 0,35% dari seluruh bobot ikan dengan kandungan protein 20,27%. Proses ekstraksi asam menghasilkan kolagen yang teridentifikasi sebagai kolagen tipe I dengan berat molekul antara 130-145 kDa. Ekstraksi kolagen dari gelembung renang ikan tuna sirip kuning memberikan hasil terbaik pada ekstraksi menggunakan asam asetat 0,5 M dimana kandungan prolin 456,40 mg/g, glisin 1175,05 mg/g dan alanin 338,66 mg/g.Kata kunci: asam asetat, gelembung renang, ikan tuna sirip kuning, kolagen
PENAPISAN ISOLAT KAPANG ENDOFIT LIPOLITIK UNTUK PRODUKSI LIPASE PADA AMPAS KELAPA (Screening of Lipolitic Endophyte Isolates for Lipase Production on Coconut Dregs) Ruth Melliawati; Nuryati Nuryati; Miftah Al Azizah
Biopropal Industri Vol 9, No 2 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.11 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i2.3954

Abstract

Endophytic fungi are microbes that live in plant tissues. This research aimed to select endophytic fungi isolates that have lipolytic function for lipase production using coconut dregs medium. Twenty endophytic fungi isolates were selected to obtain lipolytic fungi. Three potential lipolytic fungi were used to ferment coconut dregs (with and without the addition of minerals) as an internal medium to produce lipase. The highest lipase was precipitated using ammonium sulfate at 80% saturation while TLC was carried out on the filtrate. Six endophytic fungi isolates were showed to have lipolytic activtiy (i.e. producing clear zones) during screening. Three isolates with highest clear zones were HL.104F.467, JB.79F.374, and R.6F.18; with lipase activity 128.39 μmol/mL, 123.83 mol/mL and 55.46 μmol/mL respectively. Crude lipase precipitation from isolate R.6F.18 showed 2.3 times greater activity while the others were not significantly different. TLC results indicated presence of galactose in crude enzymes (JB.79F.374 and R.6F.18) and compound or sugar outside standard.Keywords: coconut dreg, endophytic mold, lipase, TLC.ABSTRAKKapang endofit merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan tanaman. Kapang jenis ini terus digali pemanfaatannya untuk berbagai keperluan. Tujuan penelitian ini adalah menyeleksi kapang endofit yang bersifat lipolitik untuk digunakan dalam memproduksi enzim lipase pada medium ampas kelapa. Dua puluh isolat kapang endofit diseleksi pada medium selektif (media PDA yang mengandung 0,1% bromocresolgreen dan Tween 80) untuk mendapatkan kapang lipolitik. Selanjutnya, tiga isolat kapang lipolitik potensial hasil seleksi digunakan untuk memfermentasi ampas kelapa sehingga menghasilkan enzim lipase. Tahap fermentasi ini menggunakan dua perlakuan, yakni dengan penambahan mineral dan tanpa penambahan mineral. Enzim lipase tertinggi yang diperoleh selanjutnya diendapkan menggunakan ammonium sulfat pada 80% saturasi. TLC dilakukan terhadap filtrat (crude enzyme) untuk mengetahui jenis gula yang dihasilkan. Hasil penapisan menunjukkan bahwa dari dua puluh isolat terdapat enam isolat kapang endofit yang bersifat lipolitik (membentuk zona bening). Tiga isolat memberikan zona bening yang cukup luas (HL.104F.467; JB.79F.374 ; R.6F.18); dengan aktivitas lipase tertinggi masing-masing adalah 128,39 μmol/mL, 123,83 mol/mL dan 55,46 μmol/mL (lama inkubasi 96 jam). Pengendapan crude enzyme lipase dari isolat R.6F.18 menghasikan aktivitas 2,3 kali lebih besar, sedangkan dua isolat lainnya tidak berbeda nyata. Hasil TLC menunjukkan adanya galaktosa dalam crude enzyme (JB.79F.374 dan R.6F.18) dan senyawa atau gula lain diluar standar.Kata kunci: ampas kelapa, kapang endofit, lipase, TLC

Page 1 of 1 | Total Record : 5