Articles
60 Documents
ANALISA TERMAL PADA STRUKTUR SATELIT NANO BRAZIL DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK THERMAL DESKTOP V.5.0
Ahmad Fauzi
ELECTRANS Vol 11, No 2 (2012): Volume 11, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Telah dilakukan analisa temperatur panas dan temperatur dingin orbital heating rates pada material body satelit nano Brazil, sebagai pengetahuan dan pembelajaran para engineer di LAPAN khususnya subsistem thermal. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui besaran temperatur dari material body satelit ketika mengalami pemanasan di orbit. Sedangkan untuk mencegah terjadinya temperatur yang lebih ekstrim maka digunakan material pelindung berupa MLI (multilayer insulation) pada material body berupa kapton film 2mil dengan ITO (indium tin oxide) dan material paint pada panel surya.2) Peralatan yang digunakan untuk menganalisa adalah perangkat lunak Thermal Desktop 5.0, sedangkan penghitungan temperatur menggunakan perangkat lunak Sinda/Fluint 5.0. Hasil yang didapat berupa grafik yang memperlihatkan besaran temperatur panas dan temperatur dingin yang terjadi pada material body dan panel surya satelit selama di orbit.
PENGONTROLAN ALAT ELEKTRONIKA MELALUI MEDIA WI-FI BERBASIS RASPBERRY PI
Maya Rahayu;
Arjuni Budi P;
Erik Haritman
ELECTRANS Vol 13, No 1 (2014): Volume 13, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada penelitian ini dirancang sebuah alat kontrol yang dapat digunakan untuk mengendalikanalat elektronika melalui media Wi-Fi berbasis Raspberry Pi.Metoda dalam perancangan alat ini adalah metoda eksperimen. Hasil menunjukkan bahwa alat dapat mengontrol 8 alat sekaligus, dan berfungsi dengan baik apabila Raspberry Pi menggunakan catu daya yang memiliki arus minimal sebesar 0,7 Ampere. Jarak maksimum antara pengendali dan alat adalah 400 meter dan berada pada suatu lingkungan yang berdekatan.Pengontrolan menggunakan laptop memiliki jarak kontrol yang lebih jauh dibandingkan dengan pengontrolan menggunakan smartphone.
Robot Cerdas Pemadam Api Menggunakan PING Ultrasonic Range Finder dan UVtron Flame Detector Berbasis Mikrokontroler ATMEGA 128
Fitria Suryatini;
Jaja Kustija
ELECTRANS Vol 12, No 1 (2013): Volume 12, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAKRobot bermanfaat untuk membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berbahaya contohnya pemadam kebakaran. Oleh karena itu perlu dikembangkan robot cerdas pemadam api yang mampu mencari sumber api dan kemudian memadamkannya. Penelitian ini bertujuan membuat rancang bangun robot cerdas pemadam api menggunakan mikrokontroler ATmega128 sebagai pengendalinya. Proses pencarian sumber api dilakukan dengan cara memeriksa tiap ruangan apakah terdapat sumber api atau tidak. Pencarian titik api dilakukan dengan mendeteksi pancaran sinar ultraviolet yang dipancarkan api dengan menggunakan sensor UVTron flame detector. Untuk memadamkan api digunakan kipas yang digerakkan oleh motor DC. Robot bergerak secara otomatis menggunakan aplikasi dari motor DC. Robot menggunakan sensor PING ultrasonic range finder untuk memandu navigasi robot dalam pencarian ruangan, menghindari halangan, mendeteksi arah gerak dan untuk kembali ke posisi start robot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa robot cerdas pemadam api dapat dibuat dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang dikontrol menggunakan mikrokontroler ATmega128. Dari pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa robot cerdas pemadam api ini dapat memdeteksi api hingga jarak 5 meter dan dapat memadamkan api dalam waktu rata-rata 38.6 detik.
OPERASI EKONOMIS PEMBANGKIT THERMAL SISTEM 500 KV JAWA–BALI DENGAN PENDEKATAN ALGORITMA FUZZY LOGIC
Riva Nihayatul Marifah;
Yadi Mulyadi;
Ade Gaffar Abdullah
ELECTRANS Vol 12, No 2 (2013): Volume 12, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Operasi ekonomis pembangkit merupakan aspek penting dalam manajemen sistem tenaga listrik. Penelitian ini membahas operasi ekonomis pembangkit thermal dengan menerapkan teknologi soft computing berbasis fuzzy logic. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penjadwalan unit pembangkit dengan mempertimbangkan biaya bahan bakar yang dikeluarkan sehingga diharapkan menjadi suatu solusi optimal yang mampu menjamin pengoperasian multi generator paling murah. Data yang diuji yaitu pembangkit thermal sistem 500 KV JawaBali menggunakan beban harian yang diperoleh dari PT. PLN (Persero) P3B Gandul-Depok. Kegiatan penelitian dimulai dengan melakukan studi pendahuluan terhadap biaya operasi pembangkit thermal yang dipakai oleh perusahaan listrik kemudian membuat suatu analisis terhadap pengembangan sistem berbasis fuzzy logic. Simulasi terus dilakukan dengan mencoba algoritma yang tepat untuk membuat model yang akurat dengan menggunakan perangkat lunak Matlab ver 7.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjadwalan unit pembangkit dengan pendekatan algoritma fuzzy logic memberikan hasil lebih ekonomis dibandingkan dengan data riil sistem.
ANALISIS KEKUATAN MEKANIS DARI KABEL POWER BAWAH LAUT
Sandy Bhawana Mulia;
Syarif Hidayat
ELECTRANS Vol 13, No 2 (2014): Volume 13, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kabel bawah laut (Submarine Cable) adalah salah satu jenis kabel yang digunakan untuk penyaluran tenaga listrik. Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga sangat cocok jika menggunakan kabel bawah laut. Kabel bawah laut didesain untuk melindungi bagian dalam dari air, tekanan tinggi, arus bawah laut, gelombang, dan kekuatan alam lainnya yang bisa mempengaruhi keadaan kondisi dasar laut dan air yang ada diatasnya. Alasan yang paling umum pada kegagalan kabel bawah laut adalah kerusakan eksternal. Statistik kegagalan kabel bawah laut menunjukkan resiko 3 sampai 5 kali lebih tinggi dibandingkan resiko kegagalan internalnya. Metode yang akan digunakan untuk menguji kekuatan dari kabel power bawah laut ini adalah uji tarik (tensile strenght). Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat. Sifat mekanis logam yang dapat diketahui setelah proses pengujian ini seperti kekuatan tarik, keuletan dan ketangguhan. Perhitungan penggelaran kabel bawah laut menggunakan slack positif dari kabel power dapat memberikan manfaat terutama untuk mengetahui kekuatan armor dari kabel tersebut. Dan hasilnya pun dapat tergambarkan setelah dianalisa bahwa pada kedalaman laut 150m-3000m merupakan jarak yang aman untuk proses penggelaran kabel power bawah laut karena armor kabel power mampu menahannya dan menunjukan performa terbaiknya selama proses tersebut.
KARAKTERISASI SENSOR GAS CO BERBASIS BAHAN SnO2 DENGAN METODA SOLGEL MENGGUNAKAN TEKNOLOGI FILM TEBAL
I Dewa Putu Hermida;
Driszal Fryantoni;
Gesi Soleha
ELECTRANS Vol 11, No 2 (2012): Volume 11, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sensor gas SnO2 termasuk sensor yang paling banyak digunakan dan dikembangkan di pasaran, tapi sampai saat ini belum bisa menghasilkan sensitivitas yang tinggi. Dalam penelitian ini dibahas mengenai karakterisasi sensor gas CO dengan teknologi film tebal yang berbahan SnO2. Penelitian yang berjudul “Karakterisasi Sensor Gas CO Berbasis SnO2 Dengan Metode SolGel Menggunakan Teknologi Film tebal” ini diharapkan agar bisa menghasilkan sensitivitas yang tinggi. Dari Hasil XRD didapatkan struktur dari SnO2 adalah rutile tetragonal . Dari pola difraksi terlihat puncak-puncak 110 dan 101 yang menunjukkan pola difraksi yang terbentuk adalah membentuk kristal SnO2. Dari hasil SEM ditunjukkan bahwa ukuran sensor berukuran mencapai 264 nanometer. Dari hasil EDS (Energi Dispersy X Ray spektrocopy) ditunjukkan bahwa lapisan sensor yang terbentuk memiliki komposisi O (Oksigen) dengan persen massa 21.23 %), Sn (Stanum) dengan persen massa 78.77%. Pengujian sensor dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan temperatur operasional dan konsentrasi gas terhadap resistansi sensor. Perubahan yang terjadi dalam sensor gas ini, berupa resitansi menurun dengan bertambahnya temperatur, nilai resistansi yang menurun seiring dengan bertambahnya konsentrasi gas CO. Dari hasil pengujian tersebut diketahui bahwa komponen-komponen penyusun sensor dapat merespon adanya gas CO. Nilai Sensitivitas yang baik didapat dari hasil pengujian untuk rentang konsentrasi gas 0 - 500 ppm adalah 9.10-3/ppm.
ANALISIS TEGANGAN TEMBUS KABEL INSTALASI LISTRIK
Zikra Rufina;
I Wayan Ratnata;
Hasbullah _
ELECTRANS Vol 13, No 1 (2014): Volume 13, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Makalah ini membahas tentang pengujian tegangan tembus pada bahan isolasi kabel listrik. Variabel yang diamati adalah nilai tegangan maksimum yang mampu ditahan isolasi kabel sampai terjadi tembus listrik (breakdown) dengan waktu pengujian 300 detik. Pengujian dilakukan di Laboratorium Tegangan Tinggi Universitas Pendidikan Indonesia dengan alat uji tegangan tinggi HV Test Transformer tipe HV 9105 dengan spesifikasi kapasitas maksimum tegangan sampai 100 kV. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur nilai tegangan uji normal bahan isolasi kabel apakah telah lolos uji atau tidak dari nilai standar yang telah ditetapkan oleh Standar Perusahaan Listrik Negara (SPLN), serta mengetahui sifat-sifat bahan isolasi kabel dan nilai tegangan minimum yang dapat menembus isolasi kabel serta besar arus bocor yang ditimbulkan. Pengujian dilakukan pada 11 sampel kabel tegangan rendah berisolasi PVC dan tegangan menengah berisolasi XLPE yang berlabel standar dan non-standar. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa kabel yang berlabel standar memiliki ketahanan isolasi yang baik karena mampu menahan tegangan yang lebih besar dari nilai pengenalnya dengan waktu tunda tembus lebih besar dari waktu kritis. Sedangkan kabel yang tidak standar memiliki ketahanan uji tegangan tembus isolasi kabel yang rendah.
Analisis Audit Energi untuk Pencapaian Efisiensi Penggunaan Energi di Gedung JICA FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia
Yadi Mulyadi;
Anggi Rizki;
Sumarto Sumarto
ELECTRANS Vol 12, No 1 (2013): Volume 12, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tarif dasar listrik yang terus meningkat memaksa berbagai pihak berpacu untuk melakukan program penghematan, hal yang tepat untuk mengaplikasikan program penghematan tersebut adalah manajemen energi dan salah satu diantaranya adalah audit energi. Audit energi yang dilaksanakan dalam proyek tugas akhir ini adalah audit energi pada gedung FPMIPA JICA Universitas Pendidikan Indonesia. Audit energi tersebut dimulai dengan pengumpulan dan pengolahan data historis konsumsi energi gedung, kemudian menghitung Intensitas Konsumsi Energi (IKE). Dari hasil perhitungan intensitas konsumsi energi akan diketahui tingkat efisiensi penggunaan energi listrik pada gedung tersebut. Efisiensi konsumsi energi listrik pada gedung FPMIPA JICA Universitas Pendidikan Indonesia dapat ditingkatkan dengan mengganti lampu-lampu yang mati pada sejumlah titik cahaya serta pemasangan filter aktif maupun pasif pada alat-alat elaktronika non-liniear sehingga total distorasi harmonisa arus (THD I) dapat dikurangi.
Thermal Spherical-1 Satelit Nano
Ahmad Fauzi
ELECTRANS Vol 12, No 1 (2013): Volume 12, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sebuah satelit memerlukan sistem pengendalian yang berguna untuk menentukan setpoint agar satelit dapat beredar pada orbit yang telah ditentukan. Dengan adanya rotasi pada satelit, maka berpotensi terjadinya perubahan posisi satelit. Dalam merancang sistem engineering satelit, perlu dihitung masing-masing parameter orbit satelit untuk mengetahui besaran konsumsi energi satelit yang dibutuhkan. Analisa perhitungan matematis konsumsi energi yang dibutuhkan oleh satelit (dalam hal ini satelit nano), pada makalah ini dapat dihitung besarnya temperature maksimum dan temperature minimum dari masing-masing jenis material coating yang digunakan, dan juga dapat diketahui salah satu besaran nilai temperature tertinggi dan temperature terendah dari bahan material coating white paint berdasarkan ketinggian posisi satelit yaitu 26.69⁰C sampai 40.01⁰C dan -104.99⁰C sampai -83.01⁰C.
PEMANFAATAN TENAGA SURYA MENGGUNAKAN RANCANGAN PANEL SURYA BERBASIS TRANSISTOR 2N3055 DAN THERMOELECTRIC COOLER
Ima Maysha;
Bambang Trisno;
Hasbullah -
ELECTRANS Vol 12, No 2 (2013): Volume 12, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Panel surya berbasis transistor 2N3055 dan Thermoelectric Cooler (TEC) merupakan bahan dasar untuk mendesain pembangkit listrik alternatif. Dalam proses pembuatannya, panel surya ini memanfaatkan komponenkomponen bekas yang sudah tak terpakai, sehingga dapat digunakan menjadi teknologi tepat guna untuk menghasilkan suatu panel surya yang memanfaatkan energi matahari berupa cahaya matahari dan panas matahari. Dalam penelitian ini dilakukan juga eksperimen menggunakan komponen TEC dengan memanfaatkan sumber air panas. Hasil akhir dari eksperimen ini diperoleh bahwa besaran output energi listrik yang dihasilkan komponen TEC lebih besar dibandingkan solar cell pada umumnya (monocrystalline). Yaitu untuk satu keping solar cell monocrystalline dengan ukuran 118x63 mm menghasilkan energi listrik sebesar 5 volt 125 mA atau 0,625 VA, sedangkan dengan menggunakan 2 keping TEC ukuran 80x40 mm dapat menghasilkan energi listrik sebesar 5 volt dan ≈300 mA. Dari hasil penelitian ini diperoleh gambaran bahwa dengan menggunakan limbah TEC dan transistor 2N3055, perangkat panel surya menjadi lebih ekonomis dan dapat dikembangkan lagi mengingat energi yang dihasilkan TEC ini masih dapat menghasilkan energi listrik yang lebih besar lagi.