cover
Contact Name
Zuhri Humaidi
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
kenhumaidi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota kediri,
Jawa timur
INDONESIA
UNIVERSUM
ISSN : 19786948     EISSN : 25028650     DOI : 10.30762/universum
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2021)" : 4 Documents clear
COMMON LINK VIS A VIS GHARI>B NISBI> (Aplikasi Hadis tentang Wanita sebagai Sumber Fitnah) zidna zuhdana mushthoza
UNIVERSUM : Jurnal KeIslaman dan Kebudayaan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/universum.v15i2.3805

Abstract

This paper discussed the common link theory applied through the hadith about women as a source of slander which was considered false by Juynboll; associated with the discussion of the gharib nisbi hadith in the Muslim tradition. Common link, invented by Joseph Schact and developed by Juynboll, was interpreted as forgers or disseminators of hadith. Using theory of common link–the medium of criticism for sanad authenticity–that tended to claim the hadith was made by common link narrator, could be proved that one narrator was not always falsified the hadith. Therefore, future research was needed to investigate whether the narrator himself gets the hadith from his teacher indeed or not. In this case, this paper argued that common link theory was identical with gharib nisbi hadith in which a hadith initially narrated by some narrators, then narrated by one narrator in the middle of chain. Despite some hadith critics doubt about its validity, the discussion result was in line with al-Shafi'i who did not judge from the quantity of the narrators, but from the quality of the narrators.Tulisan ini membahas mengenai aplikasi teori common link melalui hadis tentang wanita sebagai sumber fitnah yang dianggap palsu oleh Juynboll dengan mengaitkan pada pembahasan hadis gharib nisbi dalam tradisi Muslim. Common link yang digagas oleh Joseph Schact dan dikembangkan oleh Juynboll secara sederhana dapat diartikan sebagai pemalsu atau penyebar hadis. Penggunaan teori common link sebagai media kritik otentitas sanad yang cenderung mengklaim bahwa hadis itu adalah buatan perawi common link dapat dijawab bahwa tak selamanya perawi tunggal itu memalsukan hadis. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut apakah perawi itu benar-benar sendiri ketika mendapatkan hadis dari gurunya. Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini berpandangan bahwa teori common link identik dengan sistem hadis gharib nisbi yaitu hadis yang pada awalnya diriwayatkan oleh beberapa perawi kemudian diriwayatkan oleh seorang perawi saja pada pertengahan jalur sanadnya. Meskipun beberapa kritikus hadis meragukan kevalidannya, hasil bahasan ini sejalan dengan pendapat al- al-Shafi'i yang tidak menilai dari kuantitas perawi, melainkan melihat dari kualitas perawi.
ANALISIS KONSEP HERMENEUTIKA HADIS PERSPEKTIF MUHAMMAD ARKOUN Andris Nurita; Masruhan Masruhan
UNIVERSUM : Jurnal KeIslaman dan Kebudayaan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/universum.v15i2.3424

Abstract

The formation of hadith text is a response to the existence of past realities, both micro and macro, so that the language contained in the text follows the context at the time of the formation of the text. The development of language and dynamics of life is increasingly significant, of course the text is not able to reach comprehensively when only based on textualist and dogmatic understanding. Because, the events behind the formation of the text are different from the reality that occurs at this time. Therefore, it takes a method that can break the freeze of the text to gain comprehensive and contextual meaning to the demands of the times. In this study, using qualitative method to analyze in the form of verbal narrative based on data facts that are rationalizm. Muhammad Arkoun as a neo-modernist thinker tried to interpret the concept of hermeneutics as a solution in solving the freeze of the text. The hermeneutic mindset of Arkoun focuses on philosophy as a dynamic thinking tool that is not limited to space and time. According to him, hermeneutics are inseparable from applied Islamology, semiotics and historical socio- The study of a diachronic and synchronic language becomes the main state of studying a text, resulting in a comprehensive thinking with critical reason based on phenomenological analysis.
RESEPSI HADIS DALAM DIALOG BUDAYA WAYANG KULIT KI SUPARNO HADI Fatimah Nurul Khoiriyah
UNIVERSUM : Jurnal KeIslaman dan Kebudayaan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/universum.v15i2.3519

Abstract

Hadis dalam tatanan aplikasinya merupakan sumber hukum yang menjadi penjelas bagi al-Qur'an. Dalam proses penyebarannya, hadis berkembang di Indonesia seiring dengan masuknya agama Islam di Nusantara. Adapun di daerah Jawa, Islam lebih dipopulerkan oleh Wali Sanga. Dan dalam menyebarkan agama Islam, para Wali Sanga mempunyai beragam cara penyebaran agama. Sebut saja Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang menggunakan metode budaya dalam penyebaran agama Islam, salah satunya adalah wayang kulit. Maka dalam penelitian ini, penulis akan membahas mengenai resepsi hadis yang juga merupakan sumber syariat Islam dalam pagelaran wayang kulit. Fokus penelitian ini pada Wayang Kulit Ki Suparno Hadi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosio-historis. Adapun teknik pengumpulan data, penulis melakukan observasi, dokumentasi, dan wawancara. Metode dekriptif-eksplanatif penulis pakai dalam menganalisis data yang terkumpulkan. Sedangkan teori yang ditawarkan oleh Geertz akan menjadi pisau analisis dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Ki Suparno Hadi tidak mempunyai kriteria khusus dalam meresepsikan hadis dalam pagelaran wayang kulitnya. Namun, dalam pagelarannya penulis merangkum setidaknya menjadi lima resepsi, yaitu: Resepsi Simbolis, Resepsi Filosofis, Resepsi Eksegesis, Resepsi Historis, dan Resepsi Estetis. Pertunjukan Wayang Ki Suparno Hadi dalam lakon Sena Babat terdapat 12 penggunaan hadis, dengan rician 9 adalah hadis sahih, 2 hadis hasan, dan satu hadis yang belum diketahui status kehujjahannya. Selain itu, penulis menemukan dua pola dalam penggunaan hadis dipagelarannya, yaitu pengutipan dan penjelasan. Kedua pola ini hampir penulis temukan dalam setiap pagelaran wayang kulit Ki Suparno Hadi yang penulis ikuti, terkhusus lakon Seno Babat yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini.
PEMBELAAN MUHAMMAD MUSTHOFA AZAMI DALAM PENULISAN HADIS QABLA TADWIN Moh Misbakhul Khoir
UNIVERSUM : Jurnal KeIslaman dan Kebudayaan Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/universum.v15i2.3531

Abstract

AbstrakPerbincangan seputar penulisan Hadis selalu menjadi hal yang menarik. Hal ini disebabkan adanya pandangan bahwa Hadis terlambat ditulis 1 abad lamanya pasca wafatnya Nabi. Ulama berpendapat bahwa pasca wafatnya Nabi sampai akhir abad 1 Hijriyah, Hadis hanya diriwayatkan secara lisan dari hafalan-hafalan. Kondisi demikian tentu sangat tidak menguntungkan bagi Hadis, sebab tanpa ada penulisan yang disiplin sebagaimana al-Qur’an, keotentikan Hadis menjadi sangat dipertanyakan. Di abad Modern ini, muncul ulama bernama M. Musthofa Azami. Ia melakukan penelitian yang mendalam seputar sejarah penulisan Hadis. Hasil penelitiannya, telah merubah pandangan sementara ulama yang menyatakan Hadis tidak tertulis 1 abad lamanya. Azami berkesimpulan, bahwa penulisan Hadis sebenarnya telah dimulai sejak jaman Nabi, dan terus berkembang sampai pada puncak keemasannya yakni abad 2 Hijriyah. Demikian ini karena banyaknya bukti kuat tentang hal tersebut. Bukti-bukti tersebut Azami jadikan argumen untuk mengkritisi pandangan ulama serta menyanggah tuduhan-tuduhan negatif yang dilakukan orientalis Barat terhadap Hadis NabiKata Kunci : M.M. Azami, Penulisan Hadis, Qabla Tadwin

Page 1 of 1 | Total Record : 4