cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Communique
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1 (2020)" : 6 Documents clear
NEGOSIASI MUKA PENGAJAR BERKEWARGANEGARAAN INDONESIA DALAM MENGATASI KONFLIK ANTARBUDAYA (Studi pada Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing di Universitas X) [ADVANCE NEGOTIATION OF INDONESIAN CIVICS TEACHERS IN OVERCOMING INTERCULTURAL CONFLICT (Study in the Indonesian Language Program for Foreign Speakers at X University)] El Chris Natalia
Communique Vol 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social and Political Science - Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Every individual has different identity and cultural background from other individuals. Regarding culture, face saving is a basic need for someone when interacting with others who have different cultures. In the context of education, especially in the Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) at University X, teachers who are Indonesian face many students from various countries. The existence of cultural differences does not rule out the possibility of conflict. Face negotiation can be a strategy in overcoming conflicts of cultural differences. This research uses a qualitative descriptive analysis method. In collecting data, this research uses in-depth interview and observation toward two teachers and four students in the BIPA Program as informants. The results showed that in dealing with language and cultural behavior constraints, teachers use different styles of managing conflict, namely dominating and compromising. Teacher who use a dominant style tend to show negative faces, whereas teacher with a compromise style show positive faces. Facework shown here are tact and solidarity facework.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Setiap individu memiliki identitas dan latar belakang budaya yang berbeda dengan individu lainnya. Terkait dengan budaya, menyelamatkan muka menjadi kebutuhan mendasar bagi tiap individu ketika berinteraksi dengan orang lain, khususnya saat individu menghadapi budaya yang berbeda. Pada konteks pendidikan, khususnya di Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) di Universitas X, staf pengajar yang adalah orang berkewarganegaraan Indonesia menghadapi banyak peserta yang berasal dari berbagai negara. Dengan adanya perbedaan budaya tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik. Negosiasi muka dapat menjadi strategi dalam mengatasi konflik perbedaan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Peneliti melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan dua staf pengajar dan empat peserta di program BIPA sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menghadapi kendala bahasa dan perilaku budaya, dua pengajar menunjukkan gaya menangani konflik yang berbeda, yaitu mendominasi dan kompromi. Pengajar yang menggunakan gaya mendominasi cenderung menunjukkan muka negatif, sedangkan pengajar dengan gaya kompromi menunjukkan muka positif. Facework yang ditunjukkan adalah tact facework dan solidarity facework. 
IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN KONTEN WEB “GENERAKSI.ORG” SEBAGAI PLATRFORM LITERASI MEDIA DAN POLITIK BAGI CALON PEMILIH PEMULA PEMILIHAN PRESIDEN RI 2019 Sigit Pamungkas; Agustin Diana Wardaningsih; Deborah Nauli Simorangkir
Communique Vol 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social and Political Science - Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSepanjang tahun Pemilihan Presiden Indonesia 2019, media sosial diramaikan dengan ‘perang’ kampanye politik antara pendukung Joko Widodo - Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Kampanye hitam, meme, dan fitnah terus menerus bermuncukan di media sosial. Fenomena serupa pernah juga terjadi pada 2014 ketika pendukung Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan pendukung Joko Widodo - Jusuf Kalla saling perang opini di media sosial. Sangat sedikit kampanye yang tidak menyerang pesaing, bebas ujaran kebencian, dan hanya fokus pada program masing-masing kandidat. Situasi ini membuat para pengguna media sosial, - terutama para pemilih pemula yang rujukan utama berita politiknya adalah media sosial - untuk membedakan antara berita politik yang benar benar dan salah (hoax). Para pemilih pemula juga akan kesulitan dalam menentukan dan menyatakan sikap politik mereka. Alhasil, banyak netizen yang harus berurusan dengan penegak hukum karena unggahan opini politik mereka dianggap melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik Indonesia. Hal ini dapat semestinya dapat dicegah jika pengguna telah ‘melek media sosial’, terutama dalam hal menyatakan sikap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran media sosial bagi pemilih pemula dalam menentukan dan mengekspresikan sikap politik terhadap pemilihan presiden Indonesia 2019. Survei dilakukan terhadap 100 siswa SMA Tanjung Pandan Belitung berusia 16-18 tahun yang memiliki hak pilih. pada pemilihan presiden 2019. Hasil penelitian menunjukkan peran media sosial bagi pemilih pemula sebagai sarana untuk memperoleh informasi, mengungkapkan sikap politik, atau menentukan sikap politik. Hasil survei juga akan dijadikan sebagai materi literasi media yang akan dipublikasikan melalui web generaksi.org yang merupakan salah satu luaran penelitian ini yang didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi pada periode 2018-2019.Kata kunci: Pilpres 2019, Media sosial, Literasi media, pemilih pemula, golputABSTRACTDuring Indonesia’s 2019 presidential election, social media was invigorated by a ‘war’ of political campaigns between the supporters of Joko Widodo - Ma’ruf Amin and Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Endless smear campaigns, memes, and slanders became viral on social media. Such phenomenon also occurred in 2014 when supporters of Prabowo Subianto - Hatta Rajasa ignited an opinion war on social media against supporters of rivals Joko Widodo - Jusuf Kalla. Very few campaigns refrained from attacking competitors and remaining free from hate speech. This situation made it difficult for social media users – especially first-time voters, whose main reference of political news is social media – to distinguish between true and false news (hoaxes), and to determine and express their political attitudes. Consequently, many netizens had to deal with law enforcers because of uploading political opinions that are considered illegal under Indonesia’s Electronic Information and Transactions Law. This could have been prevented had the users been ‘social media-literate’, especially when it comes to political behavior.This study aims to determine the role of social media for first-time voters in determining and expressing political attitudes toward Indonesia’s presidential election 2019. A survey was conducted on 100 Tanjung Pandan Belitung High School students aged 16-18 years who had the right to vote at the 2019 presidential election. Results indicate the role of social media for first-time voters as a means to obtain information, express political attitudes, or determine political attitudes. The survey results will also be used as media literacy material that will be published through the generaksi.org web, which is one of the outputs of this research funded by the Ministry of Research and Technology in the period 2018-2019.Keywords: Indonesian’s 2019 presidential elections, Social media, Media literacy, first-time voters, non-voters
KONSTRUKSI GENDER DALAM FILM (ANALISA FEMINISME LIBERAL FILM ALFRED HITCHCOCK PERIODE 1950-AN) Pandu Dewa Nata
Communique Vol 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social and Political Science - Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKonsep gender memiliki fokus pada perbedaan peran di dalam kehidupan sosial antara laki-laki dengan perempuan. Perbedaan peran ini merupakan hasil konstruksi yang berasal dari berbagai agen sosial. Film merupakan salah satu agen sosial yang berperan dalam melakukan konstruksi gender di dalam kehidupan masyarakat. Peran film sebagai agen pelaku konstruksi sosial mengalami perkembangan pada periode 1950-an. Salah satu konstruksi yang dibangun melalui film adalah feminisme liberal di dalam film-film Alfred Hitchcock pada periode 1950-an. Konstruksi feminisme liberal yang digambarkan oleh Alfred Hitchcock melalui film-filmnya pada tahun 1950-an serta perubahan nilai feminisme liberal melalui ciri khas karakter perempuan merupakan permasalahan utama yang akan dibahas di dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis isi (content analysis) semiotikadari Roland Barthes. Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan observasi (menonton) lima film Alfred Hitchcock pada peridoe 1950-an. Data sekunder didapatkan dari berbagai hasil penelitian dan jurnal yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hitchcock mengkonstruksikan feminisme liberal sebagai kemampuan perempuan untuk menjadi pelaku voyeurism, objek seksualitas, dan manifestasi maskulinitas laki-laki. Selanjutnya, berdasarkan konstruksi feminisme liberal ini, maka Hitchcock melakukan perombakan terhadap nilai-nilai feminisme yang dipahami pada periode 1950-an. Kata kunci: Gender, konstruksi sosial, feminsime liberal, film, Alfred Hitchcock, semotika, Roland Barthes, voyeurism, objek seksualitas, maskulinitas.Kata kunci: Gender, konstruksi sosial, feminsime liberal, film, Alfred Hitchcock, semotika, Roland Barthes, voyeurism, objek seksualitas, maskulinitas.AbstractGender focusses toward the role-differences between man and woman in the social life. These differences is a construction-based result carried out by social agent. Film is one of the social agent which carries out the gender construction in society. The role of film as a social-construction agent was developing in 1950’s. One of the construction carried out by film is a liberal feminism depicted in Alfred Hitchcock’s film in 1950’s. The construction of liberal feminism inside 1950’s Hitchcock films and the debunking of liberal feminism through the woman’s character traits are the two important problems addressed and analysed in this research. This theses uses the qualitative approach and semiotics research method of Roland Barthes. The primary data are obtained through watching the five of Hitchcock’s films released in 1950’s. The next step, every related scene that indicates the construction of liberal feminism will be Secondary data are obtained from previous research findings and related scientific journal. The result of this research shows that Hitchcock constructs the liberal feminism as the ability of women to become the perpetrator of voyeurism, the sexual object, and the manifestation of men’s masculinity. Based on this construction, it can be inferred that Hitchcock debunks the previous views regarding the liberal feminism circulated in 1950’s. Key words: Gender, social construction, liberal feminism, film, Alfred Hitchcock,semiotics of Roland Barthes, , voyeurism, sexual object, masculinity. 
KONSTRUKSI PEMBERITAAN TENTANG HOAKS PADA LAPORAN UTAMA MAJALAH TEMPO Marganingsih Marganingsih
Communique Vol 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social and Political Science - Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Seiring dengan pertumbuhan media online, kepercayaan publik akan iklan produk di internet pun meningkat. Hal ini mendorong perusahaan untuk menggunakan iklan online sebagai salah satu strategi promosi. Advertorial adalah salah satu bentuk ‘iklan terselubung’ yang mulai banyak digunakan, karena penulisannya yang lebih mirip berita jurnalistik dan bukan komersial. Terutama untuk produk-produk kesehatan, yang umumnya memiliki banyak spesifikasi dan penjelasan sehingga lebih mudah diiklankan melalui advertorial, dibandingkan bentuk iklan cetak maupun TV Subjek dan Metode: Pembahasan akan dilakukan melalui studi literatur dan pengamatan kepada media online Kompas.com. Advertorial yang diamati adalah advertorial yang berada dibawah rubrikasi ‘Health’.Hasil: Terdapat 19 advertorial dibawah rubrikasi ‘Health’, namun terdapat beberapa advertorial yang diterbitkan lebih dari satu kali. Judul yang digunakan memang tidak serta merta menunjukkan bahwa pembaca sedang di persuasi oleh penulis advertorial (hanya menunjukkan suatu masalah, pengetahuan, atau sebuah penyelesaian masalah). Usaha persuasi umumnya dilakukan di akhir bagian dengan mencantumkan link website atau informasi perusahaan.Kesimpulan: Penggunaan strategi advertorial untuk produk kesehatan merupakan sebuah strategi persuasi dan pemasaran yang efektifKata Kunci: hoaks, konstruksi pemberitaan, naratif, karakter, struktur narasiABSTRACTNowadays, various hoax spreads across the internet. Mass media captured these realities and turns it into news. Tempo is one of the media which write about this phenomena in their magazine, specifically in Wabah Hoax edition. Tempo compiles their news in a narrative style story, having character and narrative structure, to construct the hoax spreading phenomena. The purpose of this research is to find the construction of news written by Tempo which depicted through structure and character in the narration.This research uses a qualitative approach with narrative analysis method. The data analysis technique used is the Vladimir Propp’s analysis of the narrative function in order to find characters that perform certain functions and analysis of narrative structure according to Nick Lacey Modified–Zvetan Todorov method to find the narrative structure on the news written by Tempo.The research shows that the construction of the news appears in the form of narrative news which has the stages of continuity of disruption and partial narration on narrative structure and villain-centric pattern to show the dominance of villain character in narration. Through the story’s narration, Tempo wants to construct the social reality about the significance of conflict and the magnitude of this phenomenon which opposed to humanism–the main value that Tempo holds in every news.Keywords : hoax, the construction of news, narrative, character, narrative structure
PERAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI GURU DAN MURID DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Carissa Imanuela; El Chris Natalia
Communique Vol 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social and Political Science - Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membahas mengenai komunikasi antarpribadi guru dan murid dalam membentuk karakter murid berkebutuhan khusus di SDLB/B Pangudi Luhur (PL), Jakarta Barat. Murid berkebutuhan khusus pada penelitian ini berfokus pada anak tunarungu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran komunikasi antarpribadi guru dan murid dalam membentuk karakter siswa-siswi tuli Sekolah Dasar di SLB/B PL, Jakarta Barat. Teori yang digunakan, antara lain Komunikasi Antarpribadi, Pembelajaran Sosial, dan Pendidikan Karakter. Pada penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif analisis deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah guru, murid, dan orang tua. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi antara guru dan murid berperan dalam membentuk karakter murid tunarungu, sehingga dapat membentuk rasa aman dalam diri murid dan muncul rasa percaya diri serta guru dapat menjadi role model bagi muridnya.Kata kunci: komunikasi antarpribadi, pembelajaran sosial, pendidikan karakter, anak berkebutuhan khususABSTRACTThis study discusses the interpersonal communication of teachers and students in shaping the character of students with special needs in SDLB/B Pangudi Luhur (PL), Jakarta Barat. Students with special needs in this study focus on deaf children. This study aims to determine the role of interpersonal communication between teachers and students in shaping the character of deaf students in SDLB/B PL, Jakarta Barat. Theories used in this study, include Interpersonal Communication, Social Learning, and Character Building. This study uses descriptive qualitative method with the subject of research are teachers, students, and parents. Data collection techniques are using interviews and document studies. The result of this study indicates that interpersonal communication between teachers and students play a role in shaping the character of deaf students, so that it can form a sense of security in students and self-confidence, also the teacher can become a role model for students.Keywords: interpersonal communication, social learning, character building, children with special needs
ANALISIS FRAMING TERHADAP PEMBERITAAN PELAKU KASUS PERUNDUNGAN AUDREY DI TRIBUNNEWS.COM DAN SUARA.COM Agata Fortuna
Communique Vol 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social and Political Science - Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKomunikasi yang berkembang seiring kemajuan teknologi turut mempengaruhi ritme kerja industri media. Pergeseran penggunaan media pun terasa dari jurnalistik cetak hingga jurnalistik yang mengalami konvergensi media dengan berkembangnya teknologi komputer dan komunikasi. Para jurnalis saat ini ditantang untuk menyaring informasi yang berasal dari media daring sebagai sumber informasi. Mereka juga ditantang untuk menyajikan informasi dengan elemen esensial jurnalistik secara cepat, menarik, dan interaktif. Kasus perundungan Audrey yang dimulai dari unggahan warganet yang kemudian mendunia pun menjadi tantangan para jurnalis Indonesia dalam pemberitaannya. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari sumber yang dipertanyakan kredibilitasnya, namun berasal dari subjek pemberitaan yang masih berstatus anak di bawah usia 17 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian analisis framing Robert E. Entman. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan data primer berupa studi dokumentasi dari portal berita Tribunnews.com dan Suara.com serta data sekunder berupa studi kepustakaan. Uji keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi wawancara tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tribunnews.com dengan bingkai kekerasannya, memandang para pelaku yang masih berstatus anak dibenarkan mendapatkan hukuman keras secara sosial dan pidana. Sementara itu, Suara.com dengan bingkai anti kekerasannya, memandang para pelaku yang masih berstatus anak dapat diberikan hukuman efek jera, namun mempertimbangkan masa depan mereka. Kata Kunci : Analisis Framing, Model Robert E. Entman, Kasus Perundungan Audrey, Para Pelaku Perundungan Audrey, Kekerasan.ABSTRACT Advancements in Communication and Technology has most certainly influenced the rhythm of the media industry and its workforce. A significant shift between media usage can be noticed, from print journalism to the media convergenced-journalism due to the development of computer technology and communication. Currently, journalists face new challenges involving the filtering sources of information from online media. Furthermore, they are challenged to broadcast the information with Journalistic essential element, in a fast, interesting, and interactive manner. Journalists faced a challenge, specifically in news broadcasting, take this case for example: The bullying of a certain Audrey sparked its first flames when Netizens uploaded the story into the vast internet. This challenge does not only come from the questionable credibility of the sources, but also from news subjects who are still children under 17 years of age. This study uses a qualitative approach with the Robert E. Entman framing analysis research method. The primary data collected was from documented study of tribunnews.com and suara.com, while secondary data was taken from literature reviews. Validity test of this research was using triangulation of interviews with public figures.The results showed that Tribunnews.com, with its violence frame, viewed the perpetrators who were still children as justified in getting harsh punishments socially and criminally. Meanwhile, Suara.com, with its anti-violence framework, views that perpetrators who are still children can be giv-en a deterrent effect, but consider their future.Keywords : Framing Analysis, Robert E. Entman model, Audrey’s bullying case, Audrey’s bullying perpetrator, violence

Page 1 of 1 | Total Record : 6