cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Geosaintek
ISSN : 24609072     EISSN : 25023659     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal GEOSAINTEK adalah jurnal yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS dan Departemen Teknik Geofisika ITS. Terbit pada bulan Januari-April, Mei-Agustus, dan Septermber-Desember pada setip tahunnya. Jurnal Goeaintek mempublikasi dan menerbitkan hasil kajian, penelitian, penerapan ilmu pengetahuan serta teknologi di bidang kebumian. Terbuka bagi peneliti, praktisi, serta akademisi dari berbagai lembaga.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2017)" : 13 Documents clear
Magnetic Modelling to Predict Volume of Basin as A Preliminary Study in North Cirebon Fuad Aulia Bahri; Muhammad Arif Budiman
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.532 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v3i2.2969

Abstract

Salah satu metode eksplorasi hidrokarbon adalah metode magnetik. Metode magnetik berguna untuk mengetahui nilai anomaly magnetik batuan di bawah permukaan. Nilai magnetik yang digunakan adalah nilai magnetik yang disertai dengan nilai IGRF sehingga memiliki nilai anomaly magnetik yang dihasilkan oleh cekungan. Nilai anomaly magnetik rendah mengindikasikan terdapatnya cekungan dengan kisaran nilai 44.800 nt – 44.400 nt. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisa suatu cekungan serta mampu memprediksi besar volume basin berdasarkan peta anomaly magnetik. Metode penelitian ini dengan cara melakukan slicing 8 line pada peta anomaly magnetik sintetik yang diindikasikan sebagai cekungan. Hasil slicing diolah secara forward modelling pada software MAG2DC. Didapatkan nilai parameter berupa nilai bearing, pusat bodi, lebar maksimum, kedalaman, serta nilai susceptibilitas cekungan (-0,02). Lakukan semua pekerjaan hingga semua line. Data data yang didapat kemudian di integrasikan dalam Software AutoMAX3D / AutoCad3D. Kemudian dilakukan analisis cross section dari setiap line. Didapatkan bentuk cekungan secara 3D yang memiliki volume sebesar 0.146 triliar meter kubik.
Analisa Struktur Regional Penyebab Gempa dan Tsunami Berdasarkan Anomali Gravitasi dan Dinamika Lempeng Nur Rochman Muhammad; Wien Lestari; Firman Syaifuddin
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3583.392 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v3i2.2960

Abstract

Peristiwa gempa bumi dan Tsunami merupakan bencana yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat Indonesia sebagai negara yang terletak pada jalur tektonik aktif dunia. Akibat adanya pertemuan lempeng Indo-Australia pada daerah bagian Selatan Indonesia, menyebabkan kawasan ini memiliki nilai seismitas yang cukup tinggi. Salah satu kawasan yang sering terjadi peristiwa gempa dan Tsunami yaitu berada di jalur subduksi Sunda. Pada kawasan ini, terjadi beda densitas subduksi antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera akibat adanya perbedaan gaya kompresi pada kedua kawasan tersebut. Perbedaan densitas subduksi diketahui dari inversi data anomali gravitasi pada jalur subduksi Sunda untuk mengintepretasikan struktur regional pada area yang pernah terjadi gempa besar yang menyebabkan Tsunami. Setelah dilakukan inversi 2D terhadap data gravity pada tujuh lintasan yang searah dengan arah subduksi di jalur Sunda, dimana line 4 di daerah Jawa dan line 5 sampai 7 di daerah Sumatera. Didapatkan  beda densitas pada line 1 sebesar -0.24 ~ -0.26 g/cm3; line 2 sebesar -0.25 ~ -0.5 g/cm3 ; line 3 sebesar -0.3 ~ -0.5 g/cm3 ; line 4 sebesar -0.19 ~ -0.24 g/cm3 ; line 5 sebesar -0.3 ~ -0.55 g/cm3 ; line 6 sebesar -0.1 ~ -0.26 g/cm3 dan line 7 sebesar -0.05 ~ -0.2 g/cm3. Berdasarkan beda densitas ini, diketahui bahwa daerah Jawa memiliki beda densitas lebih besar karena laju subduksi lebih tinggi dibandingkan daerah Sumatera.
APLIKASI METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS UNTUK MENGETAHUI BAWAH PERMUKAAN DI KOMPLEK CANDI BELAHAN (CANDI GAPURA) rochman, juan gya
Jurnal Geosaintek Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v3i2.2917

Abstract

Gunung Penanggungan merupakan gunung yang memiliki sejarah yang tinggi di Jawa Timur. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya candi yang mengelilingi di komplek gunung ini. Setidaknya terdapat 116 yang ditemukan. Komplek Situs belahan merupakan  salah satu komplek bangunan candi yang besar. Candi Gapura merupakan bagian pintu masuk dari komplek bangunan ini yang sebagian bangunannya masih terpendam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi bawah permukaan di komplek candi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Geolistrik Tahanan jenis. Prinsip metode ini adalah menginjeksikan arus listrik ke permukaan tanah melalui sepasang elektroda dan mengukur beda potensial dengan sepasang elektroda yang lain. Metoda ini memanfaatkan sifat kelistrikan suatu material untuk mengetahui karakteristik dari suatu material. Jumlah lintasan yang digunakan  sebanyak 8 lintasan yang terletak di Candi Gapura A (4 lintasan) dan Candi Gapura B (4 lintasan). Dari pengkuran geolistrik didapatkan profiling resistivitas bawah permukaan tanah yang dapat mengetahui dugaan sebaran bangunan candi. Hasil intepretasi 8 lintasan secara umum dibagi dua lapisan. Pada kedalaman 0-4 meter nilai resitivitasnya 1-6 ohm meter diintepretaskan sebagai lapisan lempung. Pada lapisan ini juga terdapa nilai resitivitas 10-20 ohm meter diduga runtuhan batu bata candi. Pada  lapisan kedua dengan kedalaman lebih dar 4 meter dengan nilai resistivitas 100-150 ohm meter diduga lapisan kerkil (zona keras). Pada Batas lapisan ini (kedalaman 4 meter) diduga terdapat altar atau pelataran karena pada semua lintasan terdapat kontras nilai resitivitas tinggi dan rendah pada kedalaman yang hampir sama untuk tiap lintasan pengukuran.

Page 2 of 2 | Total Record : 13