Sawwa: Jurnal Studi Gender
Sawwa: Jurnal Studi Gender focuses on topics related to gender and child issues. We aim to disseminate research and current developments on these issues. We invite manuscripts on gender and child topics in any perspectives, such as religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, politics, and theology, etc. We look forward to having contributions from scholars and researchers of various disciplines
Articles
30 Documents
Search results for
, issue
"Vol 9, No 2 (2014): April 2014"
:
30 Documents
clear
PERAN KONSELING KELUARGA DALAM MENGHADAPI GENDER DENGAN SEGALA PERMASALAHANNYA
Maryatul Kibtyah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (273.798 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.641
Gender identik dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Permasalahan yang dibawa ke dalam proses konseling akan melibatkan seluruh anggota keluarga, karena pada dasarnya jenis kelamin laki-laki dan perempuan ini akan selalu hadir dalam sebuah keluarga manakala mereka sudah diikat oleh tali perkawinan yang syah. Oleh karena itu membicarakan gender secara otomatis akan berbicara juga masalah keluarga. Kompleksnya permasalahan yang diakibatkan oleh gender dalam sebuah keluarga, misalnya perbedaan pendapat tentang pentingnya pendidikan dalam keluarga, karir suami/istri, kepengurusan anak, kenakalan anak, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami istri/perempuan dan anak-anak, semua ini harus diselesaikan secara kekeluargaan dengan bantuan konselor yang memahami gender dengan segala permasalahan yang ditimbulkannya.
MENDUDUKKAN PERSOALAN ANTARA PERTAHANAN AJARAN AGAMA DENGAN HAK PENDIDIKAN ANAK
Moh. Rosyid
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (313.477 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.632
Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki setiap jiwa sejak dalam kandungan hingga mati. Naskah ini mendalami HAM bagi anak warga Samin di Kudus yang harus dilindungi khususnya aspek pendidikan formal. Dipilihnya komunitas Samin karena sebagian masih mempertahankan ajaran leluhurnya yang tidak mengenyam sekolah formal, wujud penolakan kebijakan Kolonial Belanda, meskipun kini sebagian sekolah formal dan mayoritas taat peraturan pemerintah lainnya. Fokus naskah ini pada hak anak Samin bila tidak sekolah formal dalam perspektif perundangan. Metode riset untuk mendapatkan data dengan wawancara dan observasi langsung dengan objek penelitian. Analisisnya deskriptif kualitatif. Kajian ditemukan: 1) harus disediakan guru agama Adam dalam proses pembelajaran pendidikan formal bagi warga Samin. Di sisi lain, negara beranggapan bahwa agama Adam bagi warga Samin dikategorikan aliran kepercayaan, 2) Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik terutama hak non-derogable (hak absolut) khususnya hak atas kebebasan beragama harus dipenuhi negara terhadap warga Samin. Hal ini sebagai modal untuk memahami ajaran agama warga Samin dalam wadah pendidikan formal, 3) Kemendikbud RI harus segera menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Sekolah Rumahan karena amanat UU Sisdiknas, 4) Bagi warga Samin yang anaknya tidak sekolah formal, pemerintah harus melakukan pendekatan persuasif agar menjadi warga yang taat peraturan di bidang pendidikan, sebagaimana amanat PP 48 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar Pasal 15 (1), (2), dan (3).
REVITALISASI PERAN ORANG TUA DALAM MENGURANGI TINDAK KEKERASAN TERHADAP ANAK
Evi Munita Sandarwati
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (247.716 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.637
Institusi keluarga dipandang sebagai sebuah lembaga yang paling berperan dalam kehidupan sosial yang sehat terutama terkait pembentukan pribadi anak. Sebagai lingkungan pertama dan utama tumbuh kembang anak, sebuah keluarga khususnya orangtua diharapkan mampu mengoptimalkan peranannya terutama dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak-anak mereka. Pola asuh yang sesuai serta pengajaran yang berorientasi pada kebutuhan dasar anak, selayaknya diupayakan tanpa melanggar hak-hak anak. Dalam hal ini, orang tua diharapkan bisa menjadi model dan teladan bagi anak serta bijaksana dalam memberikan sanksi bagi anak yang melakukan kesalahan dengan mempertimbangkan tindakan–tindakan yang sifatnya “ramah anak”. Menyikapi berbagai fenomena sosial terkait masalah anak yang rawan tindak kekerasan saat ini, penulis mencoba menggambarkan upaya–upaya revitalisasi peran keluarga khususnya orangtua dalam mengurangi tindak kekerasan terhadap anak.
TRAFFICKING: SISI BURAM MIGRASI INTERNASIONAL
Thohir Yuli Kusmanto
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (474.341 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.633
Migrasi internasional akan selalu berlangsung sampai kapanpun. Modernisasi dengan kemajuan teknologi transportasi dan informasi berpengaruh sangat signifikan bagi meningkatnya volume migran. Banyak faktor yang mendorong orang untuk bermigrasi, diantaranya; politik, agama, pendidikan, psikologis dan ekonomi. Faktor ekonomi merupakan yang paling dominan. Kesejahteraan hidup merupakan tujuan utama mayoritas orang bermigrasi. Segala cara seringkali dilakukan para migran agar bisa mencapai daerah tujuan dan mendapatkan pekerjaan. Cara legal dan atau ilegal seringkali harus ditempuh. Mereka yang menggunakan cara legal akan merasa lebih aman dan nyaman di negara tujuannya. Namun demikian, mereka harus menempuh prosedur yang rumit dan biaya yang mahal. Kondisi ini membuat banyak orang yang menempuh cara-cara ilegal. Akibatnya banyak yang terjebak dalam mafia internasional yang meraup keuntungan dari semangat bermigrasi orang-orang yang tidak mau dan mampu menempuh cara legal. Mafia pekerja internasional seringkali mengarahkan migran masuk dalam pasar hitam dunia kerja. Mereka diperdagangkan (trafficking) untuk menjadi budak, bekerja secara sembunyi-sembunyi, pekerja seks komersial, dan pekerja anak-anak dengan resiko tinggi. Mafia kerja tersebut memanfaatkan kelemahan-kelemahan para migran, diantaranya: minimnya pendidikan, minimnya keterampilan, kelemahan fisik (karena perempuan dan anak), mereka yang terjebak utang dan lain-lain. Realitas ini menjadi setali tiga uang karena mayoritas pekerja migran adalah perempuan. Indonesia termasuk negara yang jumlah pekerja migrannya cukup banyak di dunia, dan pekerja migran perempuan selalu paling banyak setiap tahunnya.
KARAKTER ANAK DALAM NOVEL NEGERI LIMA MENARA: PERSPEKTIF NILAI AJARAN ISLAM
Novi Maria Ulfah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (294.798 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.638
Tulisan ini bermaksud mencari nilai-nilai karakter apa saja yang terkandung dalam novel Negeri Lima Menara. Novel Negeri Lima Menara merupakan novel yang terinspirasi dari kisah nyata dari sang penulis yaitu Ahmad Fuadi. Novel ini bercerita mengenai keseharian Ahmad Fuadi ketika menuntut ilmu di pondok modern gontor. Nilai-nilai karakter yang peneliti temukan kemudian dianalisis menggunakan kajian intertekstual. Kajian intertekstual dimaksudkan untuk menghubungkan nilai-nilai karakter tersebut dengan ayat al-Qur’an dan Hadits. Nilai-nilai karakter dalam novel Negeri Lima Menara antara lain: keikhlasan, patuh, giat belajar, kebersamaan, jujur, gigih, tawakkal, ikhtiar, optimis, sungguh-sungguh, setia kawan, qanaah, minta ampun, berani, persatuan serta pengorbanan. Nilai pendidikan tersebut mempunyai korelasi dengan beberapa ayat al-Qur’an dan al Hadits. Dalam kajian intertekstual, ayat al-Qur’an dan hadits merupakan hipogram atas nilai-nilai karakter tersebut.
WANITA: MENJADI ISTRI DAN PANGGILAN INDUSTRI
Lutfiyah Lutfiyah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (217.518 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.634
Dalam hubungan perkawinan suami dan istri adalah satu kesatuan dalam keluarga. Ada istilah ayah kepala keluarga, ibu kepala rumah tangga. Ini merupakan simbul baku dari sebuah pepatah yang sampai sekarang sulit untuk dirubah karena sudah terstruktur meskipun sebenarnya keadaan dalam keluarga bisa mengalami perpindahan posisi. Kesadaran dan penguasaan terhadap isu gender dan kesamaan gender ini tidak menyentuh masyarakat pedesaan. Takrif gender tidak mereka pahami apalagi diketahui. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga bukan masalah yang perlu dirisaukan, sehingga jika ada pekerjaan yang mereka bisa lakukan dan berhasil guna maka akan mereka laksanakan dengan senang hati. Jika ada pekerjaan di sekitar tempat tinggal yang bisa mereka lakukan, maka akan mereka lakukan. Misalnya usaha industri di dekan rumah seperti yang dilakukan oleh ibu rumah tangga di Desa Jambearum. Mereka tidak meninggalkan rumah terlalu jauh, bisa mengawasi ank-anak dan bahagia ketika menerima hasil keringatnya.
KESETARAAN GENDER DALAM PERSPEKTIF SEJARAH ISLAM
Viky Mazaya
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (322.814 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.639
Persoalan gender menjadi diskursus yang senantiasa menarik hingga saat ini. Dalam konteks sejarah, munculnya persoalan gender seringkali bermuara pada kisah penciptaan Adam dan Hawa. Sekalipun kisah tentang diciptakannya Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam telah banyak dikritisi, namun masih banyak yang memegang teguh kisah tersebut. Kedudukan dan peran wanita mengalami pasang surut sesuai dengan konteks masyarakatnya. Pada Masa Islam dikategorikan dengan tiga masa yaitu, kalsik, pertengahan, dan modern, yang masing memiliki karakteristiknya sendiri.
BABY SMOKER: PERILAKU KONSUMSI ROKOK PADA ANAK DAN STRATEGI DAKWAHNYA
Hasyim Hasanah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (330.168 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.635
Anak merokok merupakan fenomena yang dianggap wajar oleh sebagian besar orang tua. Anak merokok dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan karena banyak faktor, diantaranya faktor yang bersifat internal maupun eksternal, baik karena watak kebiasaan, maupun pengaruh dari lingkungan khususnya media massa. Pada beberapa kasus anak merokok memiliki dampak negative dalam perkembangan kehidupannya diantaranya efek berupa sakit fisik maupun psikologis, dan perilaku malasuai. Kondisi ini perlu diminimalisir agar perilaku merokok anak dapat diminimalisir. Salah satu upaya yang diduga dapat dilakukan untuk mengurangi peningkatan perilaku merokok adalah dengan upaya dakwah Islam dengan mengoptimalkan bentuk kegiatan dakwah yaitu irsyad, tabligh, tadbir, dan tathwir.
OPTIMALISASI PERKEMBANGAN ANAK DALAM DAY CARE
Siti Hikmah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (246.302 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.640
Pengasuhan anak menjadi salah satu persoalan yang banyak dialami terutama oleh para ibu yang bekerja di sektor publik. Kesulitan untuk mencari pengasuh (baby sitter) yang sesuai harapan menjadikan day care menjadi pilihan alternatif. Persoalannya tidak semua day care memenuhi harapan para orang tua. Memilih day care yang baik dan memenuhi standar menjadi sebuah keharusan bagi orang tua. Jika tidak, maka perkembangan psikologis anak menjadi taruhannya. Day care menjadi sebuah pilihan yang tepat apabila mampu memainkan perannya sebagai ‘pengganti orang tua’ dalam proses perkembangan anak dalam berbagai dimensinya baik perkembangan bahasa, fisik, sosial, emosi dan psikologisnya.
KONSEP-KONSEP TENTANG GENDER PERSPEKTIF ISLAM
Maslamah Maslamah;
Suprapti Muzani
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (255.513 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i2.636
Islam selalu menempatkan semua hal pada posisi yang seimbang. Islam juga menempatkan Laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang memiliki posisi seimbang dan sama. Meskipun demikian, masih banyak anggapan membedakan peran dan kedudukan laki-laki dan perempuan. Faktor penyebab pembedaan kedudukan ini diantaranya adanya kesalahan pemahaman dalam mengkonstruksi peran sosial antara laki-laki dan perempuan sebagai akibat dari interpretasi teks suci al-Qur’an secara particular dn terkesan tidak utuh. Hal ini tentu mengakibatkan terjadinya konsepsi-konsepsi yang tidak seimbang dalam menempatkan posisi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat. Islam telah meletakkan dasar filosofis dan argumentative dalam menempatkan kedudukan laki-laki dan perempuan secara seimbang. Oleh karenanya, meletakkan kedudukan laki-laki dan perempuan secara seimbang sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaan menjadi salah satu upaya jalan tengah yang harus ditempuh para Muslim dan Muslimat.