cover
Contact Name
Y. Andi Trisyono
Contact Email
anditrisyono@ugm.ac.id
Phone
+62274-523926
Journal Mail Official
jpti.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
Jalan Flora No. 1, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : 14101637     EISSN : 25484788     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2015)" : 8 Documents clear
Intensitas Cemaran Jamur pada Biji Jagung Pakan Ternak Selama Periode Penyimpanan Destania Putri Indah Puspitasari; Ani Widiastuti; Arif Wibowo; Achmadi Priyatmojo
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.021 KB) | DOI: 10.22146/jpti.16066

Abstract

This research aimed to know the intensity of fungal contamination in maize grain cattle-feed during storage. Five kilogram of grain sample were collected from Klaten, Sleman, and Muntilan, then stored at CV. Ragil Jaya’s warehouse for two months. Every two weeks the water content were measured and the grain were tested using PDA and blotter methods. Incubation during isolation process were conducted for seven days at 12 hour darkness and 12 hour light. Results showed that dominant fungal contamination from Klaten, Sleman, and Muntilan wasAspergillus sp. As2 isolate with contamination intensity as much as 89% (blotter), 73% (PDA), and 44% (blotter). The results also showed that factors which influenced the intensity of fungal contamination in cattle-feed maize is the grain condition before storage such as broken grain, dirt, and insect; and not caused by the planting location.  INTISARIPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas cemaran jamur dominan pada biji jagung yang digunakan sebagai pakan ternak selama penyimpanan. Biji jagung pakan ternak dari Klaten, Sleman, dan Muntilan sebanyak 5 kg disimpan di gudang CV. Ragil Jaya, Magelang selama 2 bulan. Pengukuran kadar air dilakukan setiap 2 minggu dan kemudian diuji dengan metode PDA dan blotter untuk mengetahui cemaran jamur pada biji jagung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari sampel biji jagung pakan ternak yang berasal dari Klaten, Sleman, dan Muntilan, jamur cemaran yang mendominasi, yaitu Aspergillus sp. isolat As2 dengan intensitas cemaran jamur tertinggi di daerah Klaten 89% (blotter), Sleman 73% (PDA), dan Muntilan 44% (blotter). Hasil ini menunjukkan bahwa hal yang mempengaruhi intensitas cemaran jamur pada jagung pakan ternak adalah kondisi awal bahan yang disimpan yaitu ada tidaknya kerusakan, kotoran, dan serangga; bukan lokasi penanaman jagung.
Deteksi Penyakit Bacterial Fruit Blotch pada Melon Menggunakan ELISA Utik Windari; Tri Joko; Siti Subandiyah
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2733.632 KB) | DOI: 10.22146/jpti.16012

Abstract

Bacterial fruit blotch (BFB) caused by Acidovorax citrulli is a serious seedborne disease in Cucurbitaceae causing 90-100% yield losses. The aim of this study was to explore BFB symptom on melon and also to detect A. citrulli infection in commercial seed and symptomatic fruits from the field in Yogyakarta Special Region province and its surrounding using DAS-ELISA method. Samples include melon from Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, Magelang, Purworejo regencies while commercial seeds i.e. Action 434, Glamour and Mai 116 were collected. DASELISA detection method used reagent set from Agdia. Based on the field observation, this study found melon commercial fruit shares similar symptom with BFB, which showed discrete oily dark green spots, while the netting failed to develop over necrotic areas, resulting in smooth sunken spots. DAS-ELISA detection revealed that samples collected from Jetak village, district of Mungkid, Magelang and from Bligo village, district of Ngluwar, Magelang and in commercial seed Mai 116 were positively infected by A. citrulli.INTISARIBacterial fruit blotch (BFB) merupakan penyakit penting pada famili Cucurbitaceae yang disebabkan oleh Acidovorax citrulli. Penyakit ini dilaporkan dapat menurunkan hasil mencapai 90-100%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gejala penyakit BFB pada melon dan deteksiA. citrulli pada benih komersial dan sampel buah bergejala dengan metode DAS-ELISA di DIY dan sekitarnya. Pengambilan sampel dilakukan di kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, Purworejo dan Magelang. Selain dari lapangan, diuji pula benih melon komersial yaitu Action-434, Glamour dan Mai 116. Metode deteksi dengan ELISA menggunakanreagent set dari Agdia. Dari hasil pengamatan di lapangan ditemukan buah melon dengan gejala yang mirip dengan gejala BFB yaitu adanya becak berwarna hijau tua kebasahan pada permukaan buah, jaring tidak terbentuk sempurna dan pada bagian daging buah di bawah becak tadi membusuk. Hasil deteksi dengan DAS-ELISA mengindikasikan bahwa A. citrulli terdeteksi pada sampel yang berasal dari desa Bligo, kecamatan Ngluwar dan desa Jetak, kecamatan Mungkid, kabupaten Magelang, serta pada benih komersial MAI 116.
Increasing Soil Suppressivity to Fusarium Wilt Of Banana Through Banana Intercropping with Allium spp. Arif Wibowo; Aulia Rahman Alboneh; Medina Uli Alba Somala; Siti Subandiyah; Tony Pattison; Agustin Molina
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16344

Abstract

Fusarium wilt, caused by Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc), is one of the most destructive diseases of banana and has spread in many plantation areas in Indonesia. Until today, the effective ways to control banana fusarium wilt disease have not yet been found. Some studies indicated thatAllium spp. could be used to suppress plant diseases caused by Fusarium. Allium spp. are important horticultural crops which are generally cultivated in some areas in Indonesia. This research was conducted to determine the effect of several species ofAllium spp. intercropped with banana to improve soil suppressiveness against banana fusarium wilt disease. The results showed that up to 12 months after planting, from 3 species ofAllium spp. (A. tuberosum/ Chinese leek, A. fistulosum/ bunching onion, and A. cepa var. aggregatum/ shallot) intercropped with banana Ambon Kuning (AAA) cultivar, Chinese leek and shallot were able to suppress the incidence of fusarium wilt disease of banana by 46 and 33% respectively. Soil analysis on the rhizosphere of banana intercropped with Chinese leek and shallot had lower population of total Fusarium compared to the other treatments. Analysis of fluorescein diacetate (3’.6’-diacetylfluoerescein) or FDA also showed that total microbial activity in the rhizosphere of banana intercropped withAllium spp. was also lower compared to control treatment (without intercropping). The observation of the effect ofAllium spp. extracts on Foc showed that Allium spp. extracts were able to suppress the development of the colony and spore germination of Foc in vitro. INTISARILayu Fusarium, yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc), merupakan salah satu penyakit tanaman pisang yang paling merusak dan telah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sampai saat ini cara yang efektif untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pisang belum ditemukan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Allium spp. dapat dipergunakan untuk menekan penyakit tumbuhan yang disebabkan oleh Fusarium. Allium spp. adalah tanaman hortikultura penting yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh beberapa spesiesAllium spp. yang ditumpangsarikan dengan tanaman pisang untuk meningkatkan supresifitas tanah dalam menekan penyakit layu fusarium pisang. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sampai 12 bulan setelah tanam, dari 3 spesiesAllium spp. (A. tuberosum/kucai, A. fistulosum/loncang, dan A. cepa var. aggregatum/bawang merah) yang ditumpangsarikan dengan pisang kultivar Ambon Kuning (AAA), kucai dan bawang merah mampu menekan insidensi penyakit layu fusarium pisang berturut-turut sebesar 46% dan 33%. Analisis tanah rhizosfer pisang yang ditumpang sari dengan kucai dan bawang merah menunjukkan populasi total Fusarium yang lebih rendah daripada perlakuan lainnya. Analisis fluorescein diacetate (3’.6’-diacetylfluoerescein) atau FDA juga menunjukkan bahwa aktivitas total mikrobia pada rhizosfer pisang yang ditumpang sari dengan Allium spp. lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol (tanpa tumpang sari). Pengamatan pengaruh ekstrak Allium spp. terhadap Foc menunjukkan bahwa ekstrak Allium spp. mampu menekan perkembangan koloni dan perkecambahan spora Foc secara in vitro.
Pengelolaan Kutu Kebul (Bemisia tabaci Gen.) dengan Sistem Barier pada Tanaman Tembakau Tri Maruto Aji; Sedyo Hartono; Sri Sulandari
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16014

Abstract

Since 2009, the leaf curl disease was observed on tobacco plants grown under net shadow of PTPN X (Persero) and has caused yield losses up to 70%. The disease was likely to be associated with the existence of a high population of the sweet potato whitefly (Bemisia tabaci Gen.) and the symptoms resembled that reported for Begomovirus infection on eggplant and tomatoes. This study aimed to know the effectiveness of physical barriers in combination with a biological barrier to avoid B. tabaci in infesting the farm. The research was done by monitoring tobacco diseases to measure the diseases intensity. Research for the management of insect vectorsB. tabaci were done based on two pretexts: (1) physical barrier using the type of net; and (2) combinations of a net with a plant (corn belt). The result showed that an effective control was obtained using a net with higher mesh size rather than using a standard net with low mesh size which was presently used by PTPN X (Persero). Corn barrier did not effective to control B. tabaci except as a wind breaker.INTISARIPeningkatan populasi kutu kebul (B. tabaci Gen.) di daerah Klaten, Jawa Tengah pada tahun 2009 ternyata menjadi penyebab mewabahnya penyakit kerupuk pada tanaman Solanaceae di wilayah tersebut. Tanaman tembakau cerutu Vorstenlanden milik PTPN X (Persero) yang ditanam di area bawah naungan (TBN) yang berada di wilayah tersebut turut terjangkit wabah penyakit kerupuk setelah sebelumnya terindikasi terjadi peningkatan jumlah kutu kebul. Wabah penyakit kerupuk pada tembakau cerutu Vorstenlanden milik PTPN X (Persero) telah menurunkan hasil hingga 70%. Gejala penyakit pada tembakau berupa penyakit kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan barier fisik sebagai langkah awal untuk mengendalikan populasi kutu kebul pada pertanaman tembakau cerutu milik PTPN X (Persero). Penelitian dimulai dengan memonitoring populasi kutu kebul dan peningkatan intensitas penyakit kerupuk pada tanaman tembakau. Percobaan dilakukan secara demplot pada lahan pertanaman tembakau di wilayah PTPN X (Persero). Teknis budidaya tembakau seluruhnya mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) dari PTPN X (Persero), sedangkan untuk strategi pengendalian kutu kebul dilaksanakan dengan mengikuti 2 macam perlakuan yaitu ; (1) penerapan sistem barier tunggal berupa kelambu (bermesh rapat) dan kelambu standar dari PTPN X sebagai barier fisik (2) penerapan sistem barier ganda yaitu kombinasi barier fisik dan barier biologis berupa tanaman jagung penghalang. Hasil menunjukkan bahwa penerapan sistem barier baik tunggal maupun ganda dapat menekan populasi kutu kebul sehingga berdampak pada penurunan intensitas penyakit kerupuk pada tembakau.
Deteksi Pengimbasan Ketahanan Pisang terhadap Penyakit Layu Fusarium dengan Asam Fusarat Christanti Sumardiyono; Suharyanto Suharyanto; Suryanti Suryanti; Putri Rositasari; Yufita Dwi Chinta
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16345

Abstract

Fusarium wilt caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is the most destructive disease of banana. Until today this disease has not been successfully controlled. Fusaric acid is a toxin produced by Foc. Tyloses produced in xylem that caused wilting and yellowing of banana plants, inhibit soil nutrition and water stream. The study carried out previously showed that enriched fusaric acid in banana culture induced the resistance of banana seedlings against Foc. The signal of induced resistance increased the phenolic compounds. One of the phenolic compounds is salicylic acid. The aim of this study was to detect induced resistance of banana plant from tissue cultured enriched with fusaric acid. The experiment was done in the field highly infected with Foc. Observation of resistance was done by measuring disease percentage of yellowing and wilting leaves.Tyloses produced in xylem was observed microscopically from cross section of root. Root damage intensity was counted using tyloses score. Salicylic acid content of root was analyzed with phenolic compounds method using HPLC. The results showed that banana plants from enriched tissues culture with 1.165 ppm of fusaric acid increased the resistance against Foc, but salicylic acid was not detected. Salicylic acid was only detected at low concentration (2 ppb) in moderate resistant banana roots from induced plants with 9.32 ppm of fusaric acid. The chromatogram showed three peaks of unknown phenolic compounds. Tyloses intensity was not related with induced resistance of banana against fusarium wilt. Advanced research is needed with more plants samples. It was suggested to identify the phenolic compounds which were detected in induced resistant plant.INTISARILayu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) adalah penyakit yang sangat merusak pada pisang dan belum dapat dikendalikan secara tuntas. Gejala berupa kelayuan daun karena tersumbatnya xilem karena pembentukan tilosis yaitu pertumbuhan sel dalam jaringan xilem. Pengimbasan ketahanan diharapkan dapat menjadi salah satu cara pengendalian penyakit layu fusarium. Penelitian sebelumnya menunjukkan penambahan asam fusarat dalam kultur jaringan dapat mengimbas ketahanan bibit pisang terhadap penyakit layu fusarium. Asam salisilat adalah salah satu signal ketahanan yang akan meningkat kandungannya bila terjadi peningkatan ketahanan akibat pengimbasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi hasil pengimbasan ketahanan pisang dengan asam fusarat dalam kultur jaringan. Tanaman telah ditanam di lapangan yang terinfeksi berat oleh Foc. Intensitas penyakit di lapang diamati dengan menghitung persentase daun menguning dan atau layu. Intensitas kerusakan akar diamati dengan pembuatan irisan tipis dan pengamatan tilosis dengan cara skoring. Analisis asam salisilat dalam akar dilakukan dengan metode analisis senyawa fenol menggunakan HPLC. Hasil penelitian tanaman dari bibit yang diimbas dengan 1,165 ppm asam fusarat dalam kultur jaringan menunjukkan peningkatan ketahanan di lapang. Intensitas tilosis lebih rendah pada tanaman yang diimbas ketahanannya dibandingkan yang tidak diimbas. Asam salisilat dalam tanaman yang diimbas ketahannnya denga asam fusarat 9,32 ppm terdeteksi pada konsentrasi yang sangat rendah yaitu 2 ppb, dengan ketahanan moderat. Pada tanaman hasil pengimbasan yang menunjukkan kriteria tahan asam salisilat tidak terdeteksi, namun terdeteksi tiga puncak senyawa fenol yang belum teridentifikasi. Intensitas tilosis pada tanaman yang diimbas ketahanannya tidak menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tanaman yang tidak diperlakukan. Penelitian ini perlu dilanjutkan dengan sampel yang lebih banyak. Identifikasi jenis senyawa fenol perlu dilakukan dalam penelitian lanjutan. 
Keragaman Genetik Metarhizium anisopliae dan Virulensinya pada Larva Kumbang Badak (Oryctes rhinoceros) Aisyah Surya Bintang; Arif Wibowo; Tri Harjaka
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16015

Abstract

Rhinoceros beetle (Oryctes rhinoceros) is one of the important pests of coconut tree. One of eco-friendly control applied for this pest is by using entomopathogenic fungiMetarhizium anisopliae. There is not much information about the variability and virulence of M. anisopliae toward O. rhinoceros. M. anisopliae isolates obtained from Biological Control Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada were cultured on PDA medium.M. anisopliae isolates was isolated from O. rhinoceros larvae (MaOr), Lepidiota stigma larvae (MaLs), Brontispa longissima beetle (MaBl).O. rhinoceros beetles were obtained from Kulon Progo, DIY. This study used molecular test, and virulence test toward 3rd stadium of O. rhinoceros larvae by using dipping method. Molecular test by sequence and phylogenetic analysis, showed that MaOr was located at different group (out group) with MaLs and MaBr. On the density 107 conidium/ml MaOr and MaLs were more virulent than MaBl towards 3rd stadium of O. rhinoceros larvae.INTISARIKumbang badak (Oryctes rhinoceros) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kelapa. Salah satu upaya pengendalian yang ramah lingkungan adalah dengan menggunakan jamur entomopatogen, yakni Metarhizium anisopliae. Belum banyak diketahui mengenai keragaman dan juga virulensi dari M. anisopliae terhadap O. rhinoceros. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik M. anisopliae dan virulensinya pada larva kumbang badak. Isolat yang digunakan berasal dari Laboratorium Pengendalian Hayati, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dalam bentuk kultur murni pada medium PDA. Isolat yang gunakan diisolasi dari larvaOryctes rhinoceros (MaOr), larva Lepidiota stigma (MaLs), dan kumbang Brontispa longissima (MaBl). Serangga yang diuji berasal dari daerah Kulon Progo, DIY. Pengujian secara molekuler dengan analisis sekuensing dan filogenetik, menunjukkan bahwa isolat MaOr terletak pada grup yang berbeda dengan MaLs dan MaBl berdasarkan pada urutan basa DNA. Pada kerapatan 107 konidium/ml isolat MaOr dan MaLs lebih virulen terhadap larva O. rhinoceros instar 3 dibandingkan dengan MaBl.
Obituari: Prof. Dr. Ir. Soeprapto Mangundihardjo Edhi Martono
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16346

Abstract

-
Identifikasi Fusarium dan Nematoda Parasitik yang Berasosiasi dengan Penyakit Kuning Lada di Kalimantan Barat Suryanti Suryanti; Bambang Hadisutrisno; Mulyadi Mulyadi; Jaka Widada
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 19, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16019

Abstract

Pepper (Piper nigrum), known as the “King of Spices” is one of the most important spices. In the international market, Indonesian pepper has high selling value, due to its flavor characteristics. Pepper yellowing disease is one of the most important disease that caused the decrease of pepper production and become the main problem in the cultivation of pepper in West Kalimantan. This research was conducted to determine the major causal agent of leaf yellowing disease of pepper. The Fusarium associated with diseased plant were isolated from the symptomatic plant and nematodes were isolated from the root with leaf yellowing symptom. The Fusarium isolates were cultured on agar medium, and the nematode was cultured on tomato plant. From diseased pepper in West Kalimantan, it was isolated 4 Fusarium isolates and plant parasitic nematode Meloidogyne. The result showed that H isolate of Fusarium was the most virulent isolate and identified asFusarium solani. The Meloidogyne was identified by the female perenial patern.The nematode was identified as Meloidogyne incognita.INTISARILada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu jenis rempah penting yang telah dikenal sebagai “King of Spices”. Di pasar internasional, lada Indonesia mempunyai daya jual tinggi karena cita rasanya yang khas. Salah satu kendala dalam budidaya lada adalah adanya penyakit kuning lada dan sampai saat ini menjadi masalah utama pada pertanaman lada di Kalimantan Barat. Informasi tentang patogen utama yang berinteraksi dengan penyakit kuning lada masih sangat terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen utama yang berasosiasi dengan penyakit kuning lada. Isolasi Fusarium dilakukan dari batang lada dan isolasi nematoda dilakukan dari akar lada yang bergejala penyakit kuning di Kalimantan Barat. Fusarium hasil isolasi dikulturkan dalam medium agar, sedangkan nematoda hasil isolasi dikulturkan dalam akar tomat. Dari hasil isolasi berhasil didapatkan empat isolat Fusarium dan nematoda Meloidogyne. Identifikasi Fusarium dilakukan secara morfologis dan molekuler, dan identifikasi Meloidogyne dilakukan dengan menggunakan irisan bagian posterior nematoda betina. Dari hasil identifikasi diketahui bahwa patogen yang berasosiasi dengan penyakit kuning lada adalah Fusarium solani dan Meloidogyne incognita.

Page 1 of 1 | Total Record : 8