cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Kajian Budaya
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23032304     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
DISKURSUS FENOMENA HAMIL DI LUAR NIKAH DALAM PERTUNJUKAN WAYANG JOBLAR Kharisma Pradana, Gede Yoga
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Volume 01, Nomor 01, Desember 2012
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.4 KB)

Abstract

Unexpected pregnancy is a story in the performance of Wayang Joblar reflecting a social currently taking place in Denpasar City. As an innovative performance of leather puppets, Wayang Joblar narrates a story that Dewi Trijata is unexpectedly made pregnant by Jembawan who is disguised as Hanoman. It is narrated as the discourse of the phenomenon of unexpected pregnancy and offers a solution to it from the aspects of conformity and responsibility. By observing the text in a deconstructive manner, though the narrative components, it can be understood that the text contains general and particular truths. From the analysis of the phenomenon of the unexpected pregnancy presented in the form of the performance of wayang, it was found that there were three types of ideologies; they are sex ideology, gender ideology, and patriarchal ideology. The discourse of the phenomenon of the unexpected pregnancy presented in the performance of Wayang Joblar functioned as alternative amusement and moral education. The implications were that the established cultural order became torn and that the boundary between the high art and popular one became unclear. However, it could amuse, give solution to the current social problem which could enrich the Wayang Balinese performing art.
PITAMAHA: MIMICRY IN ARTS AND DESIGN DURING THE COLONIAL ERA Supir, I Ketut; Atmadja, Nengah Bawa; Mudana, I Gede
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Vol 9, No 1 (2016): February 2016
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

During the pre-colonial era the Balinese arts and design were dominated by the themes of puppetry which contained the Hindu religious teachings. When the Dutch colonial government controlled Bali, the Balinese arts and design changed. This present study is intended to explore the existence of the Pitamaha association and the attitude of the Pitamaha painters towards the domination of the modern arts and design taught by Spies and Bonnet. The qualitative method and the postcolonial theory combined with various other critical supporting theories were used in the present study. The result of the study shows that Pitamaha is the first modern association of arts in Bali. However, Pitamaha still integrated the pattern of the Balinese traditional association. In this association, the royal elites were involved as the mediators between Spies and Bonnet and the Balinese painters. Spies and Bonnet taught the modern arts which were different from and even contrasted with the Balinese arts and design. However, the Pitamaha painters welcome it. This could not be separated from the practice of teaching through hegemony and domination which contrasted with what had been desired by the Balinese painters who intended to maintain the Balinese arts and design. In such an ambivalent condition, they mimed the modern arts and design. The mimicry made was not intended to mime the modern arts and design; instead, the mimicry made was intended to interpret with reference to the norms of the Balinese arts and design.
PLURALITAS DAN HETEROGENITAS DALAM KONTEKS PEMBINAAN KESATUAN BANGSA Astra, I Gde Semadi
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Vol 10 No 20 (2014): Juli 2014
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.976 KB)

Abstract

Lewat pendekatan historis dan secara empiris diketahuibahwa wilayah Kepulauan Nusantara atau Indonesia padadewasa ini, adalah sangat kental dengan corak pluralitasdan heterogenitas, baik di bidang kultural maupunstruktur sosial masyarakatnya. Corak tersebut tidak dapatdilepaskan dari pengaruh berbagai jenis orang asing, baikdilihat dari dimensi etnik maupun ras, yang datang dansempat menjadi penghuni wilayah ini. Mudah dipahamibahwa selain memiliki sisi positif, corak pluralitas danheterogenitas itu tentu membawa serta sisi negatif sepertiberbagai konflik baik bersifat laten maupun manifes danpotensi-potensi pemecah bangsa lainnya. Dengan kata lain,bukan mustahil dalam masyarakat dan bangsa Indonesiasecara potensial ada tarik menarik antara kekuatansentripetal dan sentrifugal yang dapat menghambatterbentuk serta terbinanya kesatuan Indonesia yang betulbetulmasif. Bahkan, dapat menggagalkan terwujudnyakesatuan bangsa apabila kekuatan sentrifugal diberikesempatan berkembang secara bebas.Kekhawatiran yang telah digambarkan apabila bermaknakewaspadaan adalah wajar. Akan tetapi, kekhawatiran yangbermakna keputusasaan sudah tentu tidak patut dimilikioleh para penyelenggara negara Indonesia, apalagi olehseluruh bangsa ini. Dikatakan demikian, karena bangsaatau negara ini sesungguhnyalah telah memiliki berbagaisenjata ampuh untuk mengatasi dampak negatif kekuatansentrifugal itu, dan sekaligus berarti mengupayakanterwujudnya kesatuan yang kokoh. Di antara senjata senjata itu sebut saja misalnya ideologi negara yakniPancasila yang pada hakikatnya sejalan dengan pahammultikulturalisme yang berkembang belakangan ini,berbagai produk peraturan serta perundang-undangan, dankearifan-kearifan lokal di Indonesia yang dapat melandasipelaksanaan kewenangan para penyelenggara negara.Hal yang sesungguhnya masih sangat diperlukan adalahkemauan dan kemampuan memungsikan senjata-senjataampuh tersebut secara arif bijaksana dan tepat sesuaidengan konteks permasalahan yang dihadapi.
PERUBAHAN, KEBUDAYAAN, DAN AGAMA: PERSPEKTIF ANTROPOLOGI KEKUASAAN Sifatu, Wa Ode
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Vol 10 No 20 (2014): Juli 2014
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.065 KB)

Abstract

Perubahan, kebudayaan, dan agama, merupakan temayang menarik untuk dikaji secara antropologis mengingatmasyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)merupakan masyarakat majemuk dalam segala aspekkehidupan. Bagaimana perubahan, kebudayaan, dan agamamenjadi sumber konflik dalam kehidupan berasyarakat diIndonesia. Tulisan ini menelusuri kedudukan perubahan,kekuasaan, dan agama melalui penelusuran kepustakaanuntuk memahami nilai analitis yang bersifat heuristikdalam konteks antropologi kekuasaan.Sejak keberadaan manusia di muka bumi,manusia selalu bertanya tentang asal-usul keberadaannya,kehidupannya, dan keberadaannya nanti setelah kematian.Manusia berupaya menjawab pertanyaan tersebutmelalui berbagai cara di antaranya melalui agama danilmu pengetahuan. Namun agama menyediakan surgadan neraka, serta ilmu pengetahuan melahirkan berbagaikemudahan dan efek samping yang menimbulkan kerugianbagi manusia sehingga manusia selalu diselimuti olehperasaan takut. Dalam kondisi seperti itu, banyak pihakyang karena kekuasaannya mengklaim kelompoknyasebagai ahli surga sedangkan kelompok lain adalah ahlineraka.
DISKURSUS PENGEMBANGAN PARIWISATA DALAM MASYARAKAT Gusman, Dedi
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Volume 01, Nomor 01, Desember 2012
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.612 KB)

Abstract

Pengembangan kawasan wisata akan selalu mengalamipergulatan baik dalam tataran wacana maupun dalam tataranaksi. Sebagai sebuah realita dalam masyarakat, dalam setiappengembangan pariwisata semua komponen ikut bermain danmempunyai kepentingan sendiri-sendiri yang harus dipenuhi melalui diskursusnya masing-masing. Di dalam suatu pengembangan satu sisi ada pihak yang menginginkan perubahan akan tetapi, di sisi lain ada pihak yang masih tetap berpegang teguh pada nilai tradisi yang diwarisi oleh leluhur. Hal ini akan, menjadi diskursus dalam pengembangan pariwisata yang terus-menerus bertarung tiada hentinya antara setuju dan yang tidak setuju. Fenomena inilah yang terjadi dalam masyarakat saat sekarang ini hingga mengakibatkan suatu perubahan dan perkembangan multidimensional yangmeliputi, ekonomi, politik, sosial-budaya, yang berimbas kepada diskursus pengembangan pariwisata.Diskursus pengembangan pariwisata menghasilkan banyakmakna seperti makna yang menjurus kepada pemerintah, industri pariwisata, masyarakat dan kaum ekolog, baik berupa dari segi ekonomi, sosial-budaya, maupun kepentingan-kepentingan pihakpihak yang terlibat di dalamnya.
DECONSTRUCTING THE IDEOLOGY OF RESISTANCE SHOWN BY THE PEOPLE LIVING AT CANDIKUNING VILLAGE TO THE MANAGEMENT OF EKA KARYA BALI BOTANICAL GARDEN Sujana, I Wayan; Wirawan, AA Bagus; Sirtha, I Nyoman; Dhana, I Nyoman
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Vol 9, No 1 (2016): February 2016
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The people living at Candikuning Village are not involved in the management of the Eka Karya Bali Botanical Garden; however, they intend to enjoy the retribution which is received by the Botanical Garden, for which they show their resistance to the management. This article is intended to understand the ideology which has inspired the local people to argue that they are entitled to the retribution received by the Eka Karya Bali Botanical Garden.  The data were collected through in-depth interview, observation, and documentation techniques. The data were critically analyzed using the deconstruction method. Based on the analysis of the facts which had inspired the resistance shown by the local people living at Candi Kuning Village to the management of the Bali Eka Karya Botanical Garden, it could be understood that the geopolitical ideology was used as the basis of the resistance. Therefore, the management of the Bali Eka Karya Botanical Garden should give some of the retribution they received to the local people. The Botanical garden is located at Candikuning Village or part of the area of Candikuning Village. However, the village had never received any retribution from the Botanical Garden. The management should remember the proverb “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” (we should adjust ourselves to the environment where we stay), based on the philosophy of Tri Hita Karana, meaning that the management should give retribution to the temple located at the area of the Botanical Garden.
IDENTIFIKASI POLA SOSIO-KULTURAL NYEGARA GUNUNG DI BALI UTARA (DALAM PERSPEKTIF TRIHITA KARANA) Rai, I Made Pageh dan Ida Bagus
E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies) Vol 10 No 20 (2014): Juli 2014
Publisher : E-Jurnal Kajian Budaya (Online Journal of Cultural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.821 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasibudaya nyegara-gunung di Bali Utara, untuk dapatdijadikan payung penelitian, pengabdian masyarakat danpengembangan Lembaga Pusat kajian Budaya UndikshaSingaraja. Penelitian menggunakan pendekatan kajianbudaya (cultural studies) sehingga terasa mengigit danmungkin sangat berbeda dengan studi budaya yangmenggunakan pendekatan struktural fungsional dalamstudi budaya. Data dikumpulkan menggunakan langkahlangkahpenelitian ilmu sosial budaya, dianalisis dan dibuatfakta baru untuk menumbuhkan daya kritis di kalanganpembacanya. Teori “eko-sosio-relegius” (nyegara-gunungdan trihita karana) dikaitkan dengan sejarah dan kehidupantradisi yang menjadi pola budaya di Bali Utara.Hasil penelitian menemukan banyak pola budaya secarakritis dapat diteliti dan dijadikan tema penelitian untukmenghasilkan paket wisata nyegara-gunung di Bali Utara.Klasifikasi wilayah menggunakan pikiran Grader (1930-an) yang membagi Bali Utara menjadi tiga bagian yaituBuleleng Timur-Tengah dan Barat, dengan menjadikanPura Segara (Ratu Ayu Syahbandar) sebagai patokandikaitkan dengan derah hulunya dan daerah kekuasaannyasecara tradisional. Tampak pola budayanya terkait denganritual wali dalam tradisi nyegara gunung di Bali Utara,terutama di Buleleng Timur dan Tengah. Relasi kuasa dimasa lalu sangat kental dalam tradisi nyegara-gunung itu.Di Buleleng Barat ditemukan ada desa tanpa memilikipalemahan (Sumberklampok), dengan demikian dapatdijadikan kasus bahwa ada desa yang tidak berdasarkan Trihita Karana, karena tanahnya terkait dengan kontrakerfach zaman Belanda dan berlanjut sampai erakemerdekaan ini. Hutan Bali barat sebagai daerah HuluBuleleng Barat dan Negara sudah tidak dapat dikatakansebagai Taman Hutan Bali Barat lagi karena telah dirambaholeh manusia pascareformasi, yang butuh perhatian semuapihak. Identifikasi ini baru hanya yang terkait denganbudaya nyegara-gunung sehingga hanya sebagian kecilnyasaja, sedangkan tema yang lainnya masih butuh penelitianlebih lanjut. Besar harapan kami agar hasil penelitian inidapat dijadikan penelitian payung di Pusat kajian Budayadi bawah naungan Lemlit Undiksha.

Page 2 of 2 | Total Record : 17