cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 23027274     DOI : -
Jurnal ini merupakan jurnal elektronik di bidang kimia terapan yang dikelola oleh Magister Kimia Terapan, Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Bali. Jurnal ini memuat artikel-artikel penelitian yang berhubungan dengan Kimia Terapan yang meliputi Kimia Analitik, Kimia Polimer, Biokimia, Kimia Bahan Alam, Kimia Fisik, Kimia Permukaan, Biomaterial,dan bidang-bidang terkait. Jurnal ini akan terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Pebruari dan September. Jurnal ini terbuka untuk diakses oleh semua kalangann(Open Access Journal)
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Volume 1, No. 2, 2013" : 5 Documents clear
KAJIAN INTERAKSI ION Co2+ DENGANSELULOSA DARI SERBUK GERGAJIKAYU Risfidian Mohadi; Nurlisa Hidayati; Adi Saputra; Aldes Lesbani
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Volume 1, No. 2, 2013
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.446 KB)

Abstract

Telah dilakukan pemisahan selulosa dari serbuk gergaji kayu dengan menggunakan metanol dan HCldengan konsentrasi1%, 3%, 7%, dan 11%(v/v) dalam waktu 3 jam. Selulosa hasil pemisahan dikarakterisasi dengan spektroskopi FT-IR untuk selanjutnya digunakan sebagai adsorben ion logam Co2+ dalam medium air. Proses adsorpsi dipelajari melalui berbagai waktu interaksi, variasi konsentrasi, dan desorpsi terpisah. Spektrum infra merah menunjukan bahwa selulosa hasil pemisahan dari serbuk gergaji kayu dengan konsentrasi asam 5% memiliki kemiripan dengan spektrum inframerah selulosa standar. Konstanta laju adsorpsi ion logam Co2+ pada selulosa hasil pemisahan sebesar2.10-4 denganenergy adsorpsi sebesar 31,54 kJ/molserta pada serbuk gergaji kayu sebesar 4.10-4 dengan energy adsorpsi31,00kJ/mol. Kapasitas adsorpsi ion logam Co2+pada selulosa hasil pemisahan sebesar 0,55 x10-4 mol/g dan 0,09 x10-4mol/g untuk serbuk gergaji kayu. Desorpsi terpisah ion logam Co2+ menggunakan H2O, Na-EDTA, Amonium asetat, dan HCl menunjukan interaksi yang kuat ion logam Co2+ pada selulosa dan serbuk kayu. Separation of cellulosefrom wood sawdust using methanol and hydrocloric acid in acid concentrations of 1%, 3%, 7%, dan 11%(v/v) for 3 hours has been carried out. The cellulose was characterized using FT-IR spectroscopy and used as adsorbent for Co2+ metal ion in aqueous medium. Adsorption process was studied by varying the interaction time, concentration of solution, and desorption. The FT-IR spectrum of cellulose obtained from wood using 5% HCl has similarity withFT-IR spectrum of the standardcellulose. The adsorption rate constant and adsorption energy ofCo2+on cellulose obtained from wood sawdustare 2.10-4 and31,54 kJ/mol respectively,meanwhile those values are4.10-4  and 31.00 kJ/mol respectively on raw wood sawdust.The adsorption capacity  of cellulose andof wood sawdust are 0,55 x10-4 mol/g and 0,09 x10-4mol/g, respectively.The separated desorption of Co2+ metal ion using H2O, Na-EDTA, Amonium acetic, and HCl showedthat Co2+wasstrongly bound to cellulose and wood sawdust.
Reaksi Antara Gliserol dan o-Metoksi Fenol Dalam Suasana Basa dan Asam Sebagai Upaya Pendahuluan Pemanfaatan Gliserol dari Produk Samping Produksi Biodiesel Untuk Pembuatan Obat Batuk Gliseril Guaiakolat Ritmaleni Ritmaleni
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Volume 1, No. 2, 2013
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.923 KB)

Abstract

Berbagai kondisi reaksi basa dan asam termasuk penggunaan asam Lewis telah diaplikasikan pada reaksi antara gliserol dan o-metoksi fenol sebagai upaya dalam pemanfaatan gliserol dari hasil samping produksi biodiesel berbahan dasar minyak jelantah. Reaksi ini nantinya akan digunakan pada pembuatan obat batuk gliseril guaiakolat. Kondisi reaksi yang dilakukan belum menghasilkan suatu reaksi yang berjalan secara optimal sehingga masih diperlukan penelitian berikutnya. Some reaction conditions in basic and acid including Lewis acid have been applied on the reaction between glycerol and o-methoxy phenol. This study is an attempt to use glycerol as by-product of waste cooking oil-based biodiesel production. This reaction will be applied for synthesizing of cough medicine named glyceryl guaiacolate. Based on the results obtained, the reaction conditions applied were still not fit yet for optimum reactionand need to be found in the further study.
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS DISINFEKTAN KAPORIT, HIDROGEN PEROKSIDA, DAN PEREAKSI FENTON (H2O2/Fe2+) Didik Setiawan; James Sibarani; Iryanti E Suprihatin
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Volume 1, No. 2, 2013
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.833 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi optimum dan efektifitas hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton sebagai disinfektan dibandingkan dengan kaporit. Efektivitas disinfeksi ditentukan berdasarkan beberapa parameter yaitu: koefisien fenol disinfektan dan kualitas air yang dihasilkan yang diukur melalui pH, oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen), dan suhunya serta harga disinfektan itu sendiri. Analisis statistik ANOVA dua arah tanpa interaksi  pada tingkat kesalahan 0.01 dilakukan guna menentukan disinfektan paling efektif dan konsentrasi optimumnya. Uji koefisien fenol dilakukan dengan mencampurkan disinfektan dengan konsentrasi tertentu dengan bakteri Salmonella typhosa dan Staphyllococcus aureuskemudian membandingkan hasilnya dengan fenol.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa koefisien fenol dari kaporit, hidrogen peroksida, dan reagen Fenton berturut-turut adalah 4, 6, dan 6. Air yang dihasilkan oleh kaporit mempunyai pH, DO dan suhu berturut-turut adalah 10.07 - 9.2, 6.63-8.07 mgL-1, dan 28.5-28.13oC. Air yang didisinfeksi dengan hidrogen peroksida mempunyai pH,DO, dan suhu berturut-turut adalah 9.03-7.33, 6.93-9.40 mgL-1  , dan 28.5-28.03oC. Sedangkan air hasil didisinfeksi dengan reagen Fenton mempunyai pH, DO, dan suhu berturut-turut adalah 5.97-4.57, 7.40-8.57 mgL-1 , dan 28.47-28.07oC.Meskipun kaporit paling murah, namun dari segi kesehatan hidrogen peroksida merupakan reagen yang paling aman dan paling efektif karena dengan daya disinfeksi enam kali dibandingkan fenol, tidak meninggalkan residu yang membahayakan. Fenton, dilain pihak, meskipun mempunyai daya disinfeksi setara dengan hidrogen peroksida, namun menghasilkan ion Besi (III) dalam air sehingga memerlukan pengolahan lebih jauh.Dengan demikian, secara keseluruhan hidrogen peroksida merupakan disinfektan paling efektif dari ketiganya. The purpose of this study is to determine the optimum concentration and the effectiveness of hydrogen peroxide and Fenton reagent as disinfectants compared to chlorine. The most effective disinfectant is that having the highest phenol coefficient, and resulting good water quality with pH of 6.5-8.5, high dissolved oxygen (DO), and temperature close to ambient, and cheap. The three materials were tested on Salmonella typhosa and Staphyllococcus aureus and their minimum concentrations that kill the bacteria were compared to that of phenol to determine the phenol coefficients. The results show the phenol coefficients of chlorine, hydrogen peroxide, and Fenton are 4, 6, and 6 respectively. The pH of the water treated by the three disinfectants 10.07-9.2, 9.03-7.33, and 5.97-4.57 respectively. The disinfected waters have DO of 6.63-8.07 mgL-1, 6.93-9.40 mgL-1, and 7.40-8.57 mgL-1 respectively. The temperatures of the water are 28.5-28.3, 28.5-28.03, and 28.47-8.07 oC respectively. Chlorine is the cheapest in price, however, its residue may lead to the formation of the carcinogenic halomethanes in the drinking water, and its phenol coefficient is lower than both hydrogen peroxide and Fenton reagents. The last two disinfectants have the highest phenol coefficient, however, hydrogen peroxide is saver because it does not produce harmful chemicals whereas Fenton reagent results in the formation of residual Iron(III) in the water that needs to be treated further.  
PRODUKSI BIODIESEL MELALUI REAKSI TRANSESTERIFIKASI MINYAK JELANTAH DENGAN KATALIS CANGKANG KERANG DARAH (Anadara granosa) HASIL DEKOMPOSISI Aldes Lesbani; Risma Kurniawati M; Risfidian Mohadi
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Volume 1, No. 2, 2013
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.565 KB)

Abstract

Biodisel telah diproduksi dari minyak jelantah melalui reaksi transesterifikasi menggunakan katalis hasil dekomposisi kerang darah. Kerang darah didekomposisi pada berbagai temperatur dimulai dari 600-1100oC pada kondisi udara terbuka menggunakan furnace.Produk dekomposisi dianalisa menggunakan difraktometer X-Ray.Hasil penelitian menunjukkan temperatur optimum dekomposisi kerang darah terjadi pada temperatur 900oC.Pola XRD produk dekomposisi pada 900 oC mirip dengan pola XRD kalsium oksida standar. Penggunaan katalis hasil dekomposisi untuk produksi biodiesel menghasilkan viskositas dan densitas biodiesel sebesar 5,81 mm2/s dan 0,87 g/cm3. Hasil ini sesuai dengan standar biodiesel dari SNI yakni viskositas dan densitas yang disyaratkan SNI sebesar 2,3-6,0 mm2/s dan 0,85-0,89 g/cm3. Biodiesel was produced from waste cooking oil by transestrification reaction using decomposed cockle shell as catalyst. Cockle shell was decomposed at various temperatures ranging from 600-1100oC in open air condition using furnace. The decomposed product was analyzed using X-Ray diffractometer. The results showed that the optimum temperature for decomposition of cockle shell was at 900 oC. The XRD pattern of decomposed product at 900oC was similar with XRD pattern of calcium oxide standard. The use of decomposed shell to produce biodiesel resulted viscosity and density of biodiesel 5.81 mm2/s and 0.87 g/cm3, respectively. These results are appropriate with biodiesel standard form SNI where the viscosity and density of biodiesel from SNI value were 0.85-0.89 g/cm3 and 2.3-6.0 mm2/s.
EFEKTIFITAS MEMBRAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG GALAH (Macrobanchium rosenbergii) UNTUK MENURUNKAN FOSFAT Ni Made Yunarsih; Manuntun Manurung; Ketut Gede Dharma Putra
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Volume 1, No. 2, 2013
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.228 KB)

Abstract

Penanggulangan terhadap pencemaran air limbah yang mengandung senyawa fosfat terutama yang berasal dari air limbah laundry dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi membran. Pada penelitian ini, membran dibuat dari bahan polimer alam yaitu senyawa khitosan yang diperoleh dari khitin yang terdapat di dalam kulit udang galah (Macrobanchium rosenbergii) melalui proses deasetilasi menggunakan NaOH 50%. Kualitas khitosan yang dihasilkan pada penelitian ini ditentukan dengan FTIR dan diperoleh derajat deasetilasi (DD) sebesar 66.27%.Khitosan dilarutkan dalam asam asetat 1% yang selanjutnya digunakan untuk membuat membran dengan variasi konsentrasi khitosan 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Membran tersebut digunakan untuk menurunkan kadar fosfat larutan standar KH2PO4 10 ppm dengan waktu kontak 30, 60, 90 dan 120 menit.Membran khitosan 3% dan waktu kontak p60 menit merupakan membran terbaik karena mampu menurunkan kadar fosfat larutan standar KH2PO4 10 ppm secara optimal. Kondisi ini diaplikasikan untuk menurunkan kadar fosfat total yang terdapat dalam air limbah laundry. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa membrane tersebut dapat menurunkan kadar fosfat total sampai 97.40% setelah dilakukan filtrasi sebanyak empat kali dan pH larutan berubah dari 9 menjadi 8. Countermeasures against pollution waste water containing phosphate compounds derived primarily from laundry wastewater can be performed using membrane technology. Membranes can be made from natural polymers that is compound chitosan obtained from chitin is in shrimp shells. Chitin obtained from prawn shell can be converted to chitosan by deacetylation process using 50% NaOH. The quality of chitosan obtainedin this study was determined by FTIR and the degree of deacetylation ( DD ) was calculated to be 66.27%. Further, the chitosan was dissolved in 1% acetic acid and then used to make membranes with various concentrations of chitosan 1%, 2%, 3%, 4% and 5%. Those membraneswere used to reduce the level of phosphate from standard solution of KH2PO4 10 ppm by varying the contact time from 30 up to 120 minutes.Membrane made from 3% chitosan with contact time of 60 minutes showed the best performance in adsorbing phosphate. These conditions were applied to reduce the level of total phosphate contained in laundry wastewater. The results showed that the levels of total phosphate decreased up to 97.40 % after fourth filtration and the pH of the solution changed from 9 to 8.

Page 1 of 1 | Total Record : 5