cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Perpustakaan
ISSN : 08531544     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Perpustakaan merupakan sarana komunikasi informasi bagi pustakawan Universitas Islam Indonesia (UII) dan pustakawan dari luar UII. Media ini berfungsi untuk menampung, mendorong, melatih, mengembangkan pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan menulis bagi para pustakawan. Selain itu Buletin Perpustakaan ini juga berfungsi untuk mengembangkan perpustakaan yang bernuansa Islami dan berwawasan nasional.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan" : 7 Documents clear
KEMADIRIAN PROFESIONALISME PUSTAKAWAN Ismanto Ismanto
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pustakawan sebagai profesi hendaklah  memiliki kompetensi sebagimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Di dalam undang-undang ini menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Keberadaan pustakawan  di Indonesia baru diakui secara nasional dengan UU RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Pustakawan sebagai profesi mempunyai kemandirian dalam melaksanakan tugasnya. Dengan kemandirian inilah pustakawan dapat melaksanakan tugas pengelolaan dan pelayanan kepada pemustaka di perpustakaan. Pelaksanakan tugas pustakawan diantaranya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,dan Kepmenpan Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Pustakawan dan Angka Kreditnya dan juga diatur dalam SKKNI bidang Perpustakaan tahun 2012. Makna kemandirian dalam pelaksanaan tugas memang masih menjadi masalah bagi pustakawan dimana pustakawan itu bernaung, pustakawan Indonesia pada umumnya. Ada tiga konsep tentang makna kemandirian. Pertama, mempunyai kewenangan  tanpa diintervensi pihak lain. Kedua, mengelola dirinya dan mau bekerjasama secara team work. Ketiga, melaksanakan tugas sesuai dengan jenjang jabatan fungsionalnya.
PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN SECARA SELEKTIF AGAR RELEVAN DENGAN KEBUTUHAN PEMUSTAKA Winarno Budi Setyawan
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu unsur yang memang harus ada di dalam sebuah perpustakaan adalah koleksi bacaan yang baik dan juga memadahi. Faktor pengembangan koleksi sangat menentukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan tersebut. Koleksi bahan bacaan yang ada didalam perpustakaan dapat disimpan, dapat disajikan, maupun diolah agar menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi pemustaka. Ada beberapa kebijakan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan koleksi inti perpustakaan, koleksi – koleksi inti perpustakaan berupa buku referensi, buku teks, majalah ilmiah dan koleksi-koleksi yang terkait langsung dengan subjek kajian lingkup perpustakaan dan Lembaga induk perpustakaan, serta pustaka yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan oleh institusi atau secara insitusional. Untuk mewujudkan perpustakaan yang memiliki koleksi tepat sasaran yaitu pengguna perpustakaan maka proses seleksi seperti melalui pembelian hadiah, tukar menukar, maupun memesan dengan sendirinya. Disamping itu preservasikoleksi juga perlu untuk diperhatikan baik untuk koleksi tercetak mauun digital. Dalam hal ini perpustakaan memiliki tantangan untuk mengalih mediakan informasi ke file digital.
POTENSI IMPLEMENTASI INTERNET OF THINGS (IOT) UNTUK PERPUSTAKAAN Teguh Prasetyo Utomo
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masuknya Era Revolusi Industri 4.0 dimana keberadaan Internet of Things (IoT) menjadi salah satu ciri utamanya telah membuat perubahan yang sangat signifikan di berbagai sektor kehidupan. IoT dipandang sebagai sebuah solusi cerdas yang menjadikan manusia dan  berbagai benda; objek ataupun perangkat yang ada di alam nyata bisa saling terhubung dan saling berkomunikasi dalam sebuah sistem yang terintegrasi dengan menggunakan jaringan internet sebagai penghubungnya. Hal ini memiliki tujuan agar manusia penggunanya bisa mengambil informasi semua benda; objek; atau perangkat tersebut kapan pun dan di manapun, untuk kemudian bisa mengambil keputusan untuk melakukan suatu tindakan yang tepat berdasarkan informasi tersebut. Dalam bidang perpustakaan, IoT menjadi salah satu bentuk inovasi yang revolusioner. Perpustakaan yang semula hanya sebagai sebuah bangunan berisikan deretan buku-buku tecetak yang hanya berkutat pada penyediaan koleksi dan layanan perpustakaan, kini tidak lagi. Dengan mengimplementasikan IoT, perpustakaan mampu menjadi suatu institusi informasi yang tidak hanya menyediakan koleksi dan layanan, tapi juga memberikan nilai tambah bagi pemustakanya. Beberapa bentuk potensi dari implementasi IoT di perpustakaan antara lain adalah (1) Literasi Informasi, (2) Akses Terhadap Perpustakaan dan Koleksinya, (3) Manajemen Koleksi, (4) Layanan Rekomendasi, (5) Layanan Berbasis Lokasi, dan (6) Manajemen Peralatan.
PELESTARIAN KOLEKSI LANGKA MELALUI RESTORASI Neneng Asaniyah
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Restorasi merupakan salah satu cara untuk melestarikan bahan pustaka. Pelestarian dengan restorasi dilakukan untuk buku yang telah rusak agar informasi yang terkandung didalam bahan pustaka tidak hilang dan tetap dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Koleksi buku langka terbuat dari bahan kertas yang dalam jangka waktu lama rentan mengalami kerusakan. Koleksi langka memiliki nilai sejarah dan informasi yang perlu dilestarikan. Koleksi langka merupakan koleksi yang sulit untuk didapatkan di pasaran karena sudah tidak diterbitkan lagi atau karena diterbitkan dalam jumlah terbatas, sehingga koleksi langka perlu untuk dilestarikan. Pelestarian koleksi langka dengan cara restorasi dapat menyelamatkan fisik bahan pustaka dan juga isinya. Langkah-langkah dalam melakukan restorasi adalah menambal kertas, memutihkan kertas, mengganti halaman yang robek, mengencangkan jilid buku yang rusak, memperbaiki punggung buku. Adapun kendala yang dialami pada saat restorasi koleksi langka diantaranya tingkat kerusakan koleksi langka, terbatasnya sarana dan prasarana, terbatasnya sumber daya manusia, dan keterbatasan anggaran. Tujuan restorasi agar koleksi langka tetap lestari sehingga koleksi tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh pemustaka. Restorasi perlu dilakukan agar koleksi langka yang masih dibutuhkan oleh pemustaka tetap terjaga kelestariannya.
PERPUSTAKAAN DIGITAL PENDUKUNG E-LEARNING DI ERA DISRUPSI Suharti AD
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era disrupsi saat ini mengakibatkan banyaknya berbagai inovasi dan kreativitas dalam segala bidang. Perpustakaan sebagai wahana penyedia informasi semakin dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih. Pola pendidikan yang berubah dari konvensional ke pembelajaran elektronik, sangat memerlukan informasi-informasi digital. Oleh karena itu perpustakaan sebagai unsur penunjang dalam dunia pendidikan, mau tidak mau harus ikut serta mempersiapkan sumber-sumber informasi yang digunakan sebagai materi dalam pembelajaran elektronik (e-learning). Sumber informasi di perpustakaan bisa berasal dari buku, jurnal, karya ilmiah, majalah, koram dan  sebagainya. Sumber-sumber tersebut harus disediakan dalam bentuk digital agar bisa digunakan sebagai materi e-learning.
KOMUNIKASI PERSUASIF SEBAGAI KETERAMPILAN SOSIAL PUSTAKAWAN DALAM MASYARAKAT Arif Cahyo Bachtiar
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pustakawan selain sebagai sebuah profesi yang bertugas melayanai pemustaka di dalam perpustakaan, juga merupakan seorang warga negara yang hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Sebagai makhluk sosial, pustakawan juga membaur dengan masyarakat sekitar, berinteraksi dan bekerjasama dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan masyarakat.  Peran seorang pustakawan sangat vital jika berada dalam lingkup kerjanya di perpustakaan, namun apakah seorang pustakawan juga dapat memiliki peran yang penting di luar lingkungan kerjanya, atau di tengah-tengah masyarakat. Jika dibandingkan dengan profesi dokter misalnya, di tengah-tengah masyarakat (di luar Rumah Sakit) profesi tersebut akan senantiasa melekat pada dirinya, bahkan masih tetap dipanggil dokter saat berada di rumah oleh masyarakat sekitar. Tulisan ini mencoba mengulas tentang keterampilan seorang pustakawan yang akan berguna bagi masyarakat sekitar.
PEMBINAAN KARIR PUSTAKAWAN MELALUI KOMITMEN, KOMPETENSI DAN INTRAPRENEURSHIP Sungadi Sungadi
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pembinaan karir pustakawan melalui komitmen, kompetensi dan intrapreneurship. Permasalahan yang dihadapi pustakawan UII pada umumnya sebagian besar berbasis pendidikan SLTA pada saat pertama kali diangkat sebagai pustakawan; tingkat kemandirian masih rendah; masih adanya ketidaksesuaian antara bidang tugas yang dikerjakan dengan kelompok jabatan pustakawan, sehingga ada beberapa pustakawan tingkat ahli yang mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis. Permasalahan lainnya adalah, pada umumnya pustakawan UII memiliki  kelemahan pada butir kegiatan pengembangan sistem kepustakawanan dan pengembangan profesi. Indikatornya adalah data di Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DPPM) UII menunjukkan bahwa, dari alokasi anggaran penelitian yang disediakan bagi pustakawan sebesar 10 paket per tahun hanya dimanfaatkan 2 paket saja (10%).Dari hasil pembahasan dapat diketahui bahwa, yang paling dibutuhkan terhadap pengembangan karir pustakawan adalah meliputi: pustakawan harus punya kemampuan menjalin kerja sama; memiliki kemampuan komunikasi secara baik; mempunyai komitmen tinggi; mempunyai visi dan pandangan luas untuk maju; dan istiqomah dalam membangun karir. Sementara pustakawan harus mampu mengatasi dan meningkatkan kinerja kepada hal-hal yang dapat menghambat pengembangan karir pustakawan serta perlu perbaikan antara lain: kemampuan melakukan penelitian; kemampuan melakukan analisis dan kritik terhadap karya-karya kepustakawanan; kemampuan membuat artikel ilmiah pada bidang kepustakawanan; kemampuan menerjemahkan dan menyadur bahan perpustakaan pada bidang kepustakawanan; kemampuan menyusunan buku panduan/petunjuk praktis pada kegiatan kepustakawanan; dan meningkatkan keaktifan dan perannya sebagai narasumber dalam pertemuan ilmiah (seminar, lokakarya, work-shop, dan yang sejenisnya). Pustakawan yang berjiwa intrapreneurship adalah pustakawan yang mampu menjalani karir secara disiplin dan konsisten, bekerja keras pantang menyerah, mampu mengambil setiap peluang yang ada, selalu up date pengetahuan melalui media belajar formal maupun informal.

Page 1 of 1 | Total Record : 7