cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 38 No. 2 (2013)" : 7 Documents clear
Front Matter Vol 38 No 2 (2013) Acta Pharmaceutica Indonesia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antitumor Activity of Soursop (Annona muricata L.) Leaves On Prostate Cancer Cell Line Ade Zuhrotun; Rizky Abdullah; Meiliana Thamrin; Resti Febriliza
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soursop (Annona muricata L.) leaves were used as a traditional drug for many diseases such as cancer.  Statistical data from one cancer hospital in Jakarta in the period of 2005 and 2007 showed that prostate cancer has become one of ten common cancer cases in ambulatory patients. This research was conducted to investigate the potency of an herbal drug for prostate cancer. The soursop leaves were extracted by maceration and fractionated by liquid-liquid extraction. The activity of all samples was then tested by Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) and MTT assay using prostate cell line, LNCaP. The result showed that soursop leaves extract and all fractions had a cytotoxic activity to Artemia salina L. larvae (LC50<1000 ìg/ml). The MTT assay showed that soursop leaves extract, n-hexane and ethyl acetate fractions had a proliferative effect to LNCaP cell line (IC50<350 ìg/ml). Whereas, water fraction had no effect up to 400 ìg/ml. Ethyl acetate fraction showed the best antitumor activity because its LC50 and IC50 values were the lowest. It can be suggested that soursop leaves showed antitumor activity and had a prospective to be developed as herbal drug for prostate cancer therapy.Keywords: Soursop leaves, Annona muricata L., Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), LNCaP AbstrakDaun sirsak (Annona muricata L.) banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai macam penyakit seperti kanker. Berdasarkan data statistik dari salah satu rumah sakit kanker di Jakarta pada periode 2005 hingga 2007, menunjukkan bahwa kanker prostat telah menjadi 1 dari 10 macam kasus kanker yang umum diderita oleh pasien ambulatori. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki potensi dari obat herbal untuk kanker prostat. Daun sirsak diekstraksi dengan cara maserasi dan fraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Aktifitas dari keseluruhan sampel kemudian diuji menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) dan uji MTT dengan kultur sel kanker, LNCaP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak dan seluruh fraksinya memiliki aktifitas sitotoksik terhadap larva Artemia salina L. dengan LC50<1000 ìg/ml. Hasil dari pengujian MTT menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak dari fraksi n-heksana dan etil asetat memiliki efek proliferatif pada kultur sel LNCaP (IC50 < 350 ìg/ml). Sedangkan fraksi air dari daun sirsak hingga konsentrasi 400 ìg/ml tidak menunjukkan adanya efek yang sama. Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas antitumor yang paling baik karena memiliki nilai LC50 dan IC50 yang paling rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa daun sirsak menunjukkan adanya aktivitas antitumor dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat herbal untuk terapi kanker prostat.Kata kunci : Daun sirsak, Annona muricata L., Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), LNCaP
Isolation of Antioxidant Compounds from Ethanol Extract of Temu Kunci (Boesenbergia pandurata Roxb.) Rhizomes Lia Marliani; Dadang Juanda; Arif Rubianto
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temu kunci (Beosenbergia pandurata Roxb.) is traditionally used to treat various diseases, and antioxidants are one of their utilization. The aim of this study was to isolate and identify the antioxidant compounds of temu kunci rhizomes. Temu kunci rhizomes was extracted by maceration with ethanol 95%. Etanol extract was then fractionated by liquid-liquid extraction, vacuum liquid chromatography, and classical column chromatography. Monitoring and testing the antioxidant activity used thin-layer chromatography (TLC) with 0.2% DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) reagent. Purity test was performed by a single development TLC using three different kinds of mobile system and two-dimensional TLC. Isolate BP-1 was isolated from the ethanol extract and active as an antioxidant. Based on ultraviolet-visible and infrared spectrums, isolate BP-1 was identified as flavanone in the absence of hydroxyl groups at the ortho position (o-diOH), with substitution of -OH at C5 and C7.Keywords: Temu kunci, Boesenbergia pandurata, DPPH, Antioxidant. AbstrakTemu kunci (Beosenbergia pandurata Roxb.) secara tradisional digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit, salah satunya adalah sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi komponen antioksidan yang dimiliki temu kunci. Rimpang temu kunci diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan etanol 95%. Ekstrak etanol kemudian difraksinasi dengan ekstraksi cair-cair, kromatografi cair vakum, dan kromatografi kolom klasik. Aktivitas antioksidan kemudian dipantau dan diuji menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan reagen 0,2% DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Uji kemurnian dilakukan dengan pengembangan tunggal KLT menggunakan 3 macam fase gerak yang berbeda dan KLT dua-dimensi. Isolat BP-1 merupakan hasil isolasi dari ekstrak etanol dan aktif sebagai antioksidan.  Berdasarkan spektrum UV-Vis dan inframerah, isolat BP-1 teridentifikasi sebagai flavanone karena adanya gugus hidroksil yang hilang pada posisi orto (o-diOH), dengan substitusi "“OH pada C5 dan C7.Kata kunci : Temu kunci, Boesenbergia pandurata, DPPH, antioksidan.
Antimicrobial Activity Comparison Profile of Piper betle L., Pluchea indica L. and Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle against Bacterial Isolates from Human Axillary Sweat with Odor Problem Nur Miftahurrohmah; Syarmalina Syarmalina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research to compare the antimicrobial activity profile of Piper betle L. leaf, Pluchea indica L. leaf, and Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle fruit against bacteria isolated from axillary sweat of six probandus having axillary odor problem had been done. Eight pure bacterial isolates came from this process, and then identified with Gram stain and several biochemical reactions. Staphylooccus aureus, S. epidermidis, and S. haemolyticus, known as bacteria that usually present in a large amount at human axilla skin with odor problem, were used also in this research. The tested plants were prepared with procedures that usually used by the Indonesian people as traditional home medicine to face the axillary odor problem. Furthermore, fucidic acid and potassium alumunium phosphate were used as reference drugs. Antimicrobial activity of all of the plants and the reference drugs against 11 bacteria were studied using agar diffusion method. The results showed that liquid extracted from Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle. fructus had the highest antimicrobial activity compared to the two other plants against bacteria isolated from axillary sweat with odor problem, which was equal with the antimicrobial activity of potassium alumunium phosphate 20% w/v solution. Antimicrobial activity of betel leaf and beluntas leaf were equal with the antimicrobial activity of 19.06 μg/mL of fusidic acid solution.Keywords: betel leaf, Piper betle L., beluntas leaf, Pluchea indica L., lime fruit, Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle, antimicrobial, axillary odor. AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk membandingkan aktivitas antimikroba dari daun sirih (Piper betle L.), daun beluntas (Pluchea indica L.), dan buah jeruk nipis (Citrus arantifolia [Christm.] Swingle) terhadap bakteri yang diisolasi dari keringat ketiak enam sukarelawan yang memiliki masalah bau ketiak. Delapan isolat bakteri murni didapat dari proses ini dan kemudian diidentifikasi dengan pewarnaan Gram dan uji-uji biokimia. Bakteri Staphylooccus aureus, S. epidermidis, dan S. haemolyticus yang umumnya terdapat dalam jumlah banyak di kulit ketiak yang berbau juga digunakan dalam penelitian ini. Tanaman-tanaman uji disiapkan dengan cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk mengatasi bau badan secara tradisional. Sebagai senyawa antimikroba standar, digunakan asam fusidat dan tawas (kalium aluminium fosfat) untuk dibandingkan aktivitasnya dengan tiga tanaman uji. Aktivitas antimikroba seluruh tanaman uji dan larutan senyawa antimikroba terhadap 11 bakteri diteliti dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil uji menunjukkan bahwa air perasan jeruk nipis memiliki aktivitas antimikroba terbesar dibandingkan dengan dua tanaman uji lainnya terhadap bakteri yang diisolasi dari keringat ketiak yang berbau, yang sebanding dengan aktivitas antimikroba larutan tawas 20% b/v. Aktivitas antimikroba daun sirih dan daun beluntas sebanding dengan aktivitas antimikroba larutan asam fusidat 19,06 μg/mL.Kata kunci: sirih, Piper betle L., beluntas, Pluchea indica L., jeruk nipis, Citrus aurantifolia [Christm.] Swingle, antimikroba, bau ketiak.
Isolation of Flavonoid from Jackfruit Leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.) and its Antioxidant Activity Soraya Riyanti; Clara Sunardi; Sana Nurul Falah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The flavonoid compound was successfully isolated from jackfruit leaves (Artocarpus heterophyllus Lamk.). Extraction was done by maceration with methanol-water (9:1), followed by methanol-water (1:1) as a solvent. Hydrolyzed extract was obtained by adding of 2NHCl, then extracted with ethyl acetate and monitored by thin layer chromatography (TLC) with nhexane-ethyl acetate (3:5) as a mobile phase. Separation was performed by column chromatography, followed by preparativethin layer chromatography. Purity of isolates was determined by 2-dimensional thin layer chromatography. Characterization of isolate were carried out by ultraviolet-visible spectrophotometry and infrared spectrophotometry. The result showed a maximum absorbance of bands I at 328.4 nm and 271 nm for bands II. Characterization of isolate by infrared spectrophotometry showed the presence of functional groups OH, CH, C = C, C = O, CC, and CO. Based on the data, the isolate identified as a flavonoid compound. Antioxidant activity of ethyl acetate fraction and column fraction by 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH) assay showed EC50 at 60.53 mg/mL and 35.27 μg/mL respectively.Key words: Artocarpus heterophyllus Lamk., flavonoid, 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH), EC50. AbstrakSenyawa flavonoid berhasil diisolasi dari daun belimbing (Artocarpus heterophyllus Lamk.). Ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan metanol-air (9:1), diikuti dengan metanol-air (1:1) sebagai pelarut. Hasi dari ekstrak yang terhidrolisis didapatkan dengan menambahkan 2NHCl, kemudian diekstraksi dengan etil asetat dan diamati menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan campuran n-heksana-etil asetat (3:5) sebagai fase gerak. Pemisahan dilakukan menggunakan kromatografi kolom yang dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis preparative. Kemurnian dari isolat ditentukan dengan cara kromatografi lapis tipis 2-dimensi. Karakterisasi isolat ditunjukkan dengan spektrofotometer UV-Vis dan inframerah. Hasil spektrum menujukkan adanya absorbansi maksimum dari pita I pada 328,4 nm dan 271 nm untuk pita II. Karakterisasi dari isolat menggunakan spektrofotometer inframerah menunjukkan adanya gugus fungsional OH, CH, C=C, C=O, CC, dan CO. Berdasarkan data tersebut, isolat teridentifikasi sebagai senyawa flavonoid. Aktivitas antioksidan dari fraksi etil asetat dan fraksi kolom menggunakan pengujian 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH) menunjukkan EC50 pada 60,53 mg/ml dan 35,27 μg/mL.Kata kunci : Artocarpus heterophyllus Lamk., flavonoid, 1,1-difenil-2-pikril-hidrazil (DPPH), EC50
Antioxidant Activity and Antocyanin Derivatives Study of Red Katuk (Euphorbia cotinifolia L.) Leaves Ria Mariani; Iwang S. Soediro; Setiadi Ihsan; Sinta Eva; Desi Nuraisyah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this study, antioxidant activity and antocyanin derivatives study of extract of red katuk (Euphorbia cotinifolia L.) leaves was done. Antioxidant activity was done by DPPH (2,2-diphenyl 1-picrylhydrazyl) method using ultraviolet-visible spectrophotometer and thin layer chromatography. The result showed that methanol extract had antioxidant activity with IC50 value 33.13 μg/mL. Vitamin C as comparative substance had IC50 value was 5.24 μg/mL. From the acidified methanol extract, two anthocyanin derivatives have been isolated by preparative paper chromatography and characterized by ultraviolet visible spectrophotometry, which were supposed to be peonidin and cyanidin.Keywords: Euphorbia cotinifolia L, antioxidant, antocyaninAbstrakPada penelitian ini dilakukan pengujian mengenai aktifitas antioksidan dan turunan antosianin dari ekstrak daun katuk (merah Euphorbia cotinifolia L.). Aktifitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (2,2-diphenyl 1-picrylhydrazyl) menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penellitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki aktifitas antioksidan dengan nilai IC50 33,13 μg/mL. Vitamin C sebagai senyawa pembanding memiliki nilai IC50 5,24 μg/mL. Dari ekstrak metanol dalam suasana asam, terdapat 2 turunan antosianin yang berhasil diisolasi menggunakan kromatografi kertas preparatif dan dikarakterisasi dengan spektrofotometer UV-Vis, dimana kedua isolate tersebut diketahui sebagai peonidin dan sianidin.Kata kunci : Euphorbia cotinifolia L, antioksidan, antosianin
Antidiarrheal Activity of Water Extracts of Guava Leaves (Psidium guajava L.) and Water Extracts of Green Tea Leaves (Camellia sinensis L.) Combination in Swiss Webster Mice Puspa Sari Dewi; Afifah B. Sutjiatmo; Arif Nurdiansyah
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 38 No. 2 (2013)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The antidiarrheal activities of water extracts of guava leaves (Psidium guajava L.) and water extracts of green tea leaves (Camellia sinensis L.) combination against castor oil-induced diarrhea and intestinal transit time method have been determined in Swiss Webster male mice. Twenty five male Swiss Webster mice weighing around 20-35 g were divided randomly into 5 groups for each method. The first group as a control was given gom 2% po, the second group was treated with loperamide hydrochloride 0.52 mg/kg body weight po. The third, fourth and fifth groups were treated with water extract of guava leaves (G) and water extract of green tea leaves (T) combinations i.e. (G : T) 112.5 : 110.55 ; (G : T ) 75 : 221.1 and (G : T) 37.5 : 331.65 mg/kg BW respectively. The results showed that all extract combinations had antidiarrheal activities, significantly differences in increased stool consistency, stool weight, onset and diarrhea duration, and intestinal transit time in mice that has been given extract compared to those of control group. Frequency of defecacy of mice administered by water extract of (G : T) 75 : 221.1 at minute 180-240 showed effects equal to the comparison group and significantly different compared to that of control group (p<0.05). Combination water extract of guava leaves 75 mg/kg BW and water extract of green tea leaves 221.1 mg/kg BW was the best combinations in this research.Keywords: intestinal transit time method, oleum ricini-induced, water extracts, guava leaves, green tea leaves AbstrakPada penelitian ini dilakukan penentuan aktifitas antidiare dari kombinasi ekstrak air daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan ekstrak air daun teh hijau (Camellia sinensis L.) dengan menggunakan metode induksi dengan minyak jarak dan melihat waktu singgah pada saluran cerna. Penelitian ini menggunakan 25 jantan galur Swiss Webster dengan bobot berkisar antara 20-35 g yang dibagi menjadi 5 kelompok untuk setiap metode. Kelompok pertama diberi gom 2% secara peroral (po) sebagai kelompok kontrol, kelompok kedua diberi loperamid hidroklorida 0,52 mg/kg berat badan secara peroral. Kelompok ketiga, keempat dan kelima masing-masing diberi kombinasi ekstrak air daun jambu biji (G) dan ekstrak air daun teh hijau (T) dengan perbandingan sebagai berikut (G:T) 112,5 : 110,55 ; (G:T ) 75 : 221,1 dan (G:T) 37,5 : 331,65 mg/kg BB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak memiliki aktifitas antidiare, terdapat perbedaan yang signifikan pada konsistensi feses, berat feses, onset dan durasi diare, dan pada waktu singgah saluran cerna antara mencit yang diberi ekstrak dan mencit pada kelompok kontrol. Frekuensi dari defekasi pada mencit yang diberi ekstrak air (G : T) 75 : 221,1 pada menit ke 180-240 menunjukkan adanya efek yang serupa dengan kelompok pembanding dan memiliki perbedaan yang bemakna dengan kelompok kontrol (p<0,05). Kombinasi antara ekstrak air daun jambu biji 75 mg/kg BB dan ekstrak air daun the hijau 221,1 mg/kg BB merupakan kombinasi yang paling baik dalam penelitian ini.Kata kunci : Metode waktu singgah saluran cerna, induksi oleum ricini, ekstrak air, daun jambu biji, daun teh hijau.

Page 1 of 1 | Total Record : 7